
"Kamu ngebiarin devano tinggal sama Lea, bagaimana kalo mama sama papanya devano tahu soal itu. Apa kamu nggak kepikiran kesana"
"Aku nggak kepikiran kesana tadi. Emosiku seketika meningkat mendengar Lea mau tinggal di rumahku. Devano ataupun Delia okelah tinggal rumah karena memang sejak kecil mereka sering nginap dirumah tapi Lea walaupun sudah berteman lama aku hatiku menolak untuk tinggal bersamanya"
"Itu sudah benar Syah, itu rumahmu terserah kamu mau mengajak siapa aja. Tapi ingat Syah kamu itu istrinya devano dan Lea itu kekasihnya devano, memang nggak seharusnya kalian tinggal bersama. Dan Aku juga tahu perjanjian kalian bertiga"
"Perjanjian apa yang kamu maksud"
"Perjanjian pernikahan satu setengah tahun"
"Kamu tahu dari mana"
"Dari Lea,kemarin malam dia mabuk, aku jagain dia semalaman dia terus berbicara dan mengatakan perjanjian itu.delia juga sudah mengetahui sandiwara kalian"
"Hanya itu hal yang terbaik untuk semuanya Rey"
"Jangan bodoh syah, pernikahan bukanlah permainannya"
"Pernikahan ini terpaksa terjadi. Dan kamipun tahu apa alasannya"
"Boleh aku mengemukakan pendapatku" resyah hanya mengangguk
"Kita sudah dewasa Syah, kita juga sudah mengerti artinya pernikahan. Jangan bermain-main di atas pernikahan Syah, atau kamu akan jatuh terjerat kedalamnya. Kamu sudah menikah dengan devano dan laki-laki itu pilihan kakekmu. Bearti devano adalah yang terbaik untukmu. Apapun alasan kalian berdua menikah itu sudah takdirnya Syah. Jangan gegabah mengambil tindakan, pikirkan dulu konsekuensinya. Jangan asal menyebutkan perceraian, seandainya kakekmu masih hidup dia akan sedih mendengar ini"
Resyah hanya terdiam mendengar ucapan Reyhan
"Devano itu sekarang milikmu. Amanat dari kakekmu, tetaplah bersamanya apapun yang terjadi. Ini bukan hanya soal cinta saja tapi amanat dari kekekmu, kepercayaan kedua orang tua devano padamu sebagai menantunya dan harapan-harapan mereka terhadap kalian berdua . Pikirkan secara menyeluruh baru mengambil keputusan. Aku yakin kamu pasti sudah tahu selama ini aku suka kamu walaupun nggak pernah aku ungkapkan"
"Kenapa kamu malah membicarakan hal itu"
"Karena dengan itu kau akan menanggapi perkataanku"
"Kenapa kamu malah ngungkapin perasaan setelah mengatakan banyak hal untuk mempertahankan devano"
"Karena aku ingin kamu tahu devanolah yang terbaik untukmu"
"Bagaimana kamu bisa yakin kalo dialah yang terbaik untukku"
"Kalian tumbuh bersama sejak kecilz dia selalu menjagamu, kakekmu tentu sudah mengetahui itu, dan mungkin banyak alasan-alasan lainnya kenapa dia ingin kalian menikah.pernakah kamu memikirkan hal itu." Resyah menggeleng
"Cinta itu tidak harus memiliki Syah, yang namanya cinta rela ngelakuin apapun demi orang yang dia sayangi bahagia. Tapi kalo Lea itu bukan cinta namanya tapi obsesi. Kita contohkan Gilang, saking cintanya dia sama Lea dia rela dibuang ketika mengetahui Lea menyukai laki-laki lain tanpa protes. Dan aku juga kan ngubur prasaan aku dalam-dalam sama kamu karena aku tahu devano lah yang terbaik untukmu"
Tiba-tiba ponsel resyah berdering dan yang nelpon adalah Delia
"Hallo, Delia. Ada apa"
"Kak resyah aku lagi Adain party, kakak buruan kesini"
"Party dalam rangka apa Delia, ulang tahunmu kan masih lama"
"Pokoknya kakak cepetan datang ke apartemenku aku ngak mau terima alasan apapun kali sampai kakak nggak datang"
"Iya iya kakak kesana sekarang"
" ajak kak Reyhan sekalian.kalo gitu aku tutup dulu telponnya byee"
"Bye. Rey kita putar balik"
"Mau kemana, nggak jadi kekantor."
"Bentar lagi juga udah jam pulang. Delia Adain pesta ntah dalam rangka apa anak itu Adain pesta kalo nggak datang bisa ngambek dia"
Reyhan hanya tersenyum lalu berucap "dia itu memang lucu. Kamu nggak lihat aja wajah takutnya ketika di godain gigolo"
"Maksud kamu"
"Iya,kemarin malam kita masuk club malam ngikutin Lea. Terus dia digodain gigolo mana mukanya lucu banget lagi"
"Hati-hati nanti suka lagi sama dia"
"Nggak mungkinlah bocah kayak gitu juga"
"Nggak ada yang nggak mungkin Rey"
"Tumben banget kamu ngomonnya penuh arti biasanya hanya hemm,oh,oke gitu doang"
"Rese' banget sih jadi orang" lalu mencubit perut Reyhan
"Ini pertama kalinya kamu ketawa sama aku dan banyak ngomongnya"
"Oh iya"
"Ya, karena kamu selalu bermuka dingin dan kalo di ajak ngomong balasannya singkat padat dan jelas"
"Aku nggak terlalu suka basa basi"
"Ya aku tahu. makanya selama ini aku nggak pernah ngomongin yang lain selain kerjaan sama kamu. Karena udah tahu kalo ngomnoy yang di luar kerjaan bakal di cuekin"
Resyah hanya tertawa terbahak-bahak.
"Akhirnya perasaan gue bisa lega, udah ungkapin perasaan gue selama ini. Walaupun nggak bisa bersama begini saja sudah sangat bahagia. Mengikhlaskan lebih damai rasanya dibandingkan harus memaksakan" batin Reyhan
Merekapun sampai di apartemennya Delia.
"Akhirnya kalian berdua sampai juga" ucap Delia lalu menarik resyah kesamping devano
"Katanya tadi buru-buru kekantor" ucap devano
Resyah hanya diam tak menanggapinya.
"Apa kakak belum sampai kekantor tadi" resyah menggeleng
"Hampir sampai. Tiba-tiba kamu nelpon jadi balik arah deh" ucap reyhan
"Apa kakak ada meeting? Apa aku ganggu waktu kakak"
"Nggak kok" ucap resyah
"Ada meeting pun bakalan dia batalin takut kamu ngambek katanya"
"Ishhh bisa diam ngak sih" ucap resyah pergi menghampiri Reyhan lalu mencubit pinggangnya lagi
"Au au au,,iya iya iya sakit. Tolong lepasin"
"Awas kalo ngomong macam-macam lagi" lalu melepaskan cubitannya
"Nggak,nggak bakalan terjadi lagi. Udah cukup dua kali terima cubitan maut kalo sampai ketiga kalinya aku yakin kulit di pinggang aku ini akan copot" resyah tertawa mendengar ucapan Reyhan begitu juga dengan Reyhan yang tesenyum memegang pinggangnya karena masih terasa sakit.
Sedangkan devano,Delia,Lea dan Gilang heran melihat kedekatan mereka.
"Kalian sejak kapan jadi dekat kayak gini" ucap devano
Resyah dan Reyhan tidak menjawab pertanyaan devano dan mengabaikannya.
"Wah setelah sekian lama, akhirnya aku ngeliat lagi senyum dan tawanya kak resyah" ucap Delia
"Karena biasanya dia masang wajah datar kayak jalan tol supaya orang takut ngomong sama dia"
"Jarang ketawa karena nggak ada satupun dari kalian yang lucu, tapi ntah kenapa orang ini menurutku sangat lucu hari ini" menunjuk kearah wajah Reyhan karena dia berdiri berhadapan dengan Reyhan. Reyhan hanya tersenyum manis lalu mamajukan wajahnya sehingga hidungnya mengenai jari resyah.
"Apasih yang kalian berdua tertawakan. Perasaan dari omongan kalian tadi nggak ada yang lucu deh." Ucap Lea
"Benarkah" tanya Reyhan
"Garing banget tau nggak"
"Itu karena lucu menurut versi orang itu beda-beda, benarkan?" Ucap resyah
"Tentu saja" jawab Reyhan cepat lalu tqngannya refleks ingin menyentuh kepalanya resyah. Dia lalu menarik tangannya kembali
"Kenapa" tanya resyah yang melihat Reyhan menurunkan tangannya
"Maaf hampir saja. Tadi itu refleks"
"Nggak apa-apa" lalu meletakkan tangan Reyhan dia atas kepalanya. Reyhan pun mengelus kepalanya
"CEO dingin yang manja"
"Kamu bilang apa tadi"
"Bukan apa-apa" ucap Reyhan
"Rese'." Reyhan hanya tersenyum melihat tingkah resyah yang menurutnya berubah 180 derajat.