
Bab 28
"Kak, aku mau mandi. Badanku sudah sangat lengket rasanya.Kira-kira kamar mana yang harus kutempati nanti" ucap Delia yang sudah selesai membersihkan meja
"Kamu mandi saja di kamar kakak. Kamar-kamar lainnya yang ada disini belum dibersihin. Kakak belum sempat ngebersihinya"
"Mansion ini sangat besar, kamar-kamar disini juga sangat banyak. Apa nggak sebaiknya kakak cari pembantu saja"
"Kakak tidak suka ada orang asing di sekitar kakak. Apalagi memegang barang-barang kakak"
"Jika kakak yang mengurus segalanya, kakak akan kecapek'an nanti" resyah hanya tersenyum.
"Ayo kita ke kamar" ucap resyah yang sudah selesai mencuci piring. Merekapun pergi ke kamar resyah mengambil handuk dan piyama untuk Delia pakai.
"Ini dia baju ganti untukmu".
Delia yang melihat tidak satupun pakaian ataupun barang-barang devano dikamar resyah pun berucap "terimakasih kak. Tapi kok nggak ada satupun pakaian kak devano dilemari kakak dan nggak ada satupun barang kak devano di kamar kakak. Apa kalian tidak satu kamar"
"Oh, itu. Barang-barang kakakmu ada di kamar sebelah semuanya"
"Kenapa"
"Karena kamu bisa lihat sendiri lemari ini tidak cukup untuk pakaian kakakmu jadi untuk sementara waktu barang-barang kakakmu di kamar sebelah dulu" bohong resyah
"Kalau begitu kalian harus membeli lemari yang lebih besar"
"Tentu saja. Sudah cepatlah mandi kakak mau ngobrol dulu sama kakakmu" Delia hanya mengangguk lalu beranjak ke kamar mandi sementara resyah dengan tergesa-gesa menurini tangga menghampiri devano.
"Ada apa. Kenapa menuruni tangga secapat itu. Bagaimana kalau nanti kamu jatuh" resyah tidak menjawab pertanyaan devano dia memegang perutnya yang tiba-tiba terasa sakit.
Devano yang melihat resyah pun khawatir. "Kenapa, apa perutmu sakit"
Resyah mengangguk "tiba-tiba saja terasa sakit"
"Mau periksa ke dokter"
"Nggak perlu. Mungkin sakit karena akan menstruasi. Oh iya, sebaiknya kamu malam ini tidur di kamarku. Delia sudah curiga tadi kalau kita tidak tinggal di satu kamar"
"Astaga, aku lupa akan hal itu"
"Untungnya aku bisa memberi alasan yang membuatnya percaya. Nanti dia akan tidur dikamarmu. Karena kamar yang lain belum dibersihkan"
"Baiklah"
"Kalian sedang membicarakan apa. Apa membicarakan tentang akan hadirnya keponakanku" ucap Delia menuruni tangga kemudian duduk di sofa.
"Kamu masih kecil tidak usah berpikiran yang aneh-aneh" ucap devano
"Bukannya kakak bilang tadi aku sudah dewasa"
Devano hanya diam
"Kak resyah kenapa?dan wajah kakak juga sangat pucat"
"Kakak juga nggak tahu, mungkin karena akan menstruasi"
"Kalau begitu kakak istirahatlah. Kak devano bawa kak resyah ke kamar"
"Kamu juga masuklah ke kamar" Delia hanya mengangguk
"Ayo Syah aku bantu ke kamar" devano lalu memampah resyah menaiki tangga menuju kamar.
"Kamar kamu yang ini. Kalau ada apa-apa panggil kakak. Dan ya, nanti tolong antar laptop kakak yang ada di meja ke kamar kakak" ucap devano lalu masuk ke kamar. Sedangkan Delia masuk ke kamarnya dan mengambil laptop devano.
"Kak ini laptop kakak" ucap Delia memasuki kamar resyah. Devano lalu mengambil laptopnya
"Sudah larut, kau tidurlah lebih awal. Besok kau harus pergi kebandara pagi-pagi"
"Kalau begitu aku ke kamar dulu"
"Tutup pintunya" ucap devano Delia lalu beranjak pergi ke kamarnya.
"Apa masih sakit" ucap devano yang melihat resyah terus memegang perutnya.
"Aku akan mandi dulu" ucap resyah lalu beranjak ke kamar mandi. Sedangkan devano duduk di sofa mengecek pekerjaannya. Tak lama kemudian resyah pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan piyama.
"Apa kau akan tidur di sofa"
"Iya" ucap devano
"Tidurlah bersama denganku. Kalau Delia masuk ke kamar dan melihat kita tidur terpisah dia akan curiga"
"Kau tidak keberatan aku tidur di kasurmu"
"Bukankah waktu kecil kita sering tidur bersama disini"
"Tentu saja. Setiap liburan sekolah kita akan kesini untuk bermain-main" devano lalu duduk di ranjang di samping resyah.
"Nggak terasa kita sekarang udah dewasa" resyah hanya tersenyum.
"Apa perutmu masih sakit"
"Sudah lebih baik"
"Apa setiap menstruasi akan terasa sakit"
Resyah hanya mengangguk.
"Kalau begitu tidurlah" resyah mengganguk lalu berbaring memunggungi devano.
Jam menunjukkan pukul 1:15 malam. Resyah dan Lea sudah tertidur pulas. Tapi tidak dengan devano dia memikirkan masalah perusahaannya. Setelah memastikan resyah benar-benar sudah tertidur devano lalu beranjak ke luar kamar menelpon reyhan.
"Hallo Rey, maaf mengganggumu malam-malam. Aku hanya ingin menanyakan tentang mobil dan apartemen apa sudah ada orang yang ingin membelinya"
"Ada beberapa orang yang ingin membelinya namun dengan harga yang sangat murah. Tentu aku tidak bisa menjualnya dengan mereka. Kau tidak perlu khawatir aku akan mengusahakan ini sebaik mungkin"
"Kalau bisa usahakan dalam Minggu ini terjual."
"Baiklah, aku akan menghubungimu nanti jika ada pembeli dengan harga yang sesuai"
"Terimakasih kalau begitu aku tutup dulu" lalu mematikan sambungan telepon.
"Kau darimana" ucap resyah yang melihat devano mengendap-endap masuk kamar
"Kau bangun"
"Iya. Aku selalu bangun malam karena haus. Kau dari mana tadi"
"Ada klien nelpon. Karena takut menganggu tidurmu aku pergi keluar untuk menggakatnya"
"Klien nelpon malam-malam begini. Apa kau belum tidur dari tadi" devano menggeleng
"Kalau begitu tidurlah. Kemarin malam kau juga tidak tidur. Jangan sampai kau sakit lagi nanti" devano mengangguk lalu berbaring "kau tidurlah kembali" ucap devano lalu memunggungi resyah bergitu juga dengan resyah.
Resyah sudah bangun dan rapih. Dia membangunkan devano
"Devano bangun, ini sudah pagi" tapi devano belum juga bangun. Delia menguncang-guncang tubuh devano untuk membangunkannya. Tanpa sadar devano menarik tangan resyah sehingga resyah jatuh ke pelukannya.
Resyah yang kaget langsung memukul-mukul dada devano "devano, bangunlah apa yang kau lakukan" devano lalu membuka matanya. Dengan cepat dia melepaskan pelukannya kepada resyah dan berdiri
"M-maaf aku, aku" ucap devano terbantah-bantah
"Sudahlah, lupakan. Cepat mandi aku akan mengambil bajumu di kamar sebelah" lalu beranjak pergi memasuki kamar yang di tempati Delia. "Dia belum bangun" gumam resyah yang melihat Delia masih tidur lalu mengambil baju devano dan kembali lagi ke kamarnya.
"Devano, bajumu aku letakkan di atas kasur"
"Bisakah kau memberiku handuk. Aku lupa membawanya"
"Tunggu sebentar, akan aku ambilkan" lalu mengambil handuk dari dalam lemari dan berdiri di kamar mandi
"Ulurkan tanganmu". Devano lalu mengulurkan tangannya keluar dan resyah meletakkan handuk di tangan devano.
"Cepatlah bersiap-siap" lalu pergi ke ruang utama. Tak lama kemudian devano pun duduk disamping resyah
"Dimana Delia"
"Dia belum bangun"
" Apa? Dia seharusnya siap-siap kebandara sekarang"
"Aku nggak mau pergi kemanapun" ucap Delia dari atas tangga
"Apa maksudmu, sekarang cepatlah mandi dan bersiap-siap, jangan Sampai kau ketinggalan pesawat nanti"
"Aku nggak peduli. Lagi pula aku belum mengemasi barang-barangku"
"Jadi, kau berbohong. Tadi malam kau bilang sudah berkemas, jika tahu begini aku tidak akan membiarkanmu nginap disini"
Bel mansion berbunyi
"Aku akan membukakan pintu. Mungkin makanan yang ku pesan tadi sudah sampai" lalu beranjak pergi membukakan pintu. Dan yang datang adalah defra dan Sarah
"Mama, papa ayo masuk" ucap resyah kaget.
"Kami kemari mengantarkan barang-barang Delia dan ingin mengartarnya kebandara" resyah hanya mengangguk mereka kemudian masuk kedalam mansion.
Sarah yang melihat Delia belum mandi pun berucap "kau belum bersiap-siap sayang. Apa kau lupa hari ini kau akan berangkat ke London. Mana sudah mengemasi barang-barangmu papa juga sudah membeli tiket keberangkatanmu"
"Lihat, sekarang tidak ada lagi alasan untuk tidak pergi. Sekarang cepat mandi atau aku akan membawamu ke Bandara dengan keadaan seperti ini"