
Bab 147
Leon dan frislya sudah sampai di depan ruangan Lea.
"Ayo masuk," ucap frislya
"Aku tunggu di sini, kan kamu yang mau ketemu dia"
Lea menghela nafas kasar kemudian masuk ke ruangan Lea.
Sementara Leon hanya mendengar pembicaraan mereka dari balik pintu
Frislya yang melihat Lea tertidur, dia pun mengelus wajah Lea pelan, dan berlih menggenggam tangan Lea.
Walaupun pergerakan frislya pelan, namun berhasil membuat Lea terbangun.
"Lho? ngapain di sini?"
"Maaf ya, aku ganggu istirahat kamu"
"Dimana kak Rey? Dari mana kamu tahu aku ada di sini?"
"Reyhan ada di luar. Tadi, Reyhan nelpon Leon dan bilang kamu ada di sini"
"Apa kak Leon ada di sini"
"Heum. Dia juga ada di luar"
"Kenapa dia nggak masuk. Aku sangat merindukannya, aku juga nggak bakalan minta dia buat bebasin aku lagi. Aku benar-benar ingin ketemu dan meluk dia. Selama ini aku nggak sadar gimana pentingnya kakakku di kehidupanku. Tapi, selama kau di penjara akhirnya aku sadar, bahwa tanpa kakakku aku bukan apa-apa. Kakak pasti sangat membenciku, karena telah membuatnya kecewa"
Leon yang mendengar ucapan adiknya itu pun meneteskan air mata, kemudian beranjak pergi dari sana, yang di susul oleh reyhan
"Nggak kok, nggak kayak gitu. Kakak kamu itu sayang banget sama kamu. Buktinya, selama satu Minggu dia terus minum dan mabuk-mabukan, agar dia bisa menenangkan pikirannya karena telah melaporkan kamu ke polisi"
"Kakak jangan bohong, jika kak Leon melakukan itu buat apa dia melaporkan aku.dna dia juga bilang memutuskan hubungan persaudaraan kami"
"Dia pasti punya alasan untuk itu. Lagi pula, persaudaraan itu bukan di putus melalui perkataan. kalian memiliki hubungan darah, jadi sampai kapanpun kalian akan tetap bersaudara"
Leon pergi ke kantin membeli minum, dan menenangkan pikirannya. Reyhan ikut duduk di kursi berhadapan dengan Leon.
"Kamu nggak mau lihat Lea?"
Leon menggeleng
"Dia butuh kamu, Yon. Aku rasa dia juga sudah berubah dan menyesali kesalahannya. Apa nggak sebaiknya, kamu cabut laporannya"
"Itu belum cukup Rey, kita nggak tahu dia hanya berpura-pura atau benar-benar menyesalinya"
"Tapi, aku lihat dia sepertinya benar-benar menyesal"
"Biarkan seperti ini dulu Rey, biar dia jera dan nggak ngelakuin hal bodoh lagi"
-----------------------
Devano berada di kantor, sedari tadi dia mencoba untuk fokus ke pekerjaannya. Tapi, ada sesuatu yang menganggu pikirannya.
Devano membuka hpnya, dia melihat-lihat foto kebersamaannya dengan resyah waktu mereka SMA dulu.
"Sudah 2 bulan Syah, dan kamu masih tetap nggak mau buka mata kamu" lirihnya.
Panggilan masuk dari dokter Renata, devano pun langsung menjawabnya.
"Devano cepat ke rumah sakit, keadaan resyah semakin melemah" ucap dokter Renata di seberang sana
Tanpa menunggu jawaban dari dokter Renata, Leon langsung berlari keluar dari ruangannya.
Reyhan yang melihat devano berlari dari ruangannya pun, langsung mengejar devano tanpa tahu apapun. Sayangnya, devano sudah keburu masuk masuk lift
"Pasti terjadi sesuatu. Aku harus ikutin devano" gumam reyhan
Devano sudah berada di dalam mobil, dia menghubungi Delia, ketika panggilan terhubung dia pun berucap "KERUMAH SAKIT SEKARANG!" Dan tanpa menunggu jawaban dari Delia devano melempar hpnya ke samping.
"Kak Gilang, ayo kita ke rumah sakit sekarang"
"Tjnggalin dulu" ucap delia menarik-narik tangan Gilang
"Tenang dulu, sebenarnya ada apa?"
"Aku juga nggak tahu. Tadi kak devano nyuruh ke rumah sakit, tapi dari nada ngomongnya dia kayak lagi ke panikan gitu"
"Kita ke rumah sakit sekarang" ucap Gilang. Memasang kembali jaketnya
Semua orang sudah berada di depan ruangan resyah, termasuk frislya dan Leon.
Dokter viola menggendong keyra dan memberinya pada devano.
"Dokter, kenapa bawa nalista ke sini"
"Satu Minggu ini keadaannya sudah sangat baik, dan normal seperti balita pada umumnya. Jadi, dia sudah di perbolehkan pulang"
Devano mengambil alih keyra yang tengah tertidur pulas itu.
"Sabar ya devano, kita do'a kan yang terbaik untuk resyah"
"Terimakasih dokter"
Devano menghujami puluhan kali ciuman pada keyra. Dia tidak tahu harus sedih atau sennag sekarang. Sedih karena keadaan resyah yang semakin melemah atau senang karena keyra sudah membaik
Delia memeluk kakaknya itu, dia mengerti bagaimana perasaan kakaknya sekarang.
"Kak resyah pasti baik-baik aja kak" ucapnya menenangkan
6 JAM BERLALU.....
ntah berapa kali dokter keluar masuk di ruangan resyah. Sementara yang lainnya hanya, menunggu dengan wajah khawatir di bangku tunggu. Kecuali devano yang terus saja berdiri memperhatikan dari jauh bagaimana usaha dokter untuk menyelamatkan resyah.
"Bertahanlah Syah, aku mohon..." Gumam devano
Delia mendekati kakaknya itu, "kak, sini biar aku gendong keyra. Kakak pasti capek berdiri terus dari tadi sambil gendong dia" ucapnya
"Kakak nggak apa-apa kok. Lagi pula keyra masih kecil, gendong dia itu nggak berasa"
Delia hanya mengangguk kemudian kembali duduk.
"Duduk dulu Van, kita tunggu dokter sama-sama di sini" ucap Reyhan
Ketika devano ingin menjawab, dokter Renata keluar dari ruangan resyah.
"Dok, gimana keadaan resyah? Dia baik-baik aja kan" ucap devano
"Maaf devano, kami sudah berusaha melakukan yang terbaik...."
"Nggak dokter, jangan bilang kayak gitu"
"Kita tidak bisa meneruskannya, lebih baik kita lepas saja alat-alatnya agar resyah tidak merasa kesakitan lagi"
"Apa maksud dokter? Kalo alatnya di lepas, resyah bakalan pergi untuk selamanya"
"Tapi, jika terus-terusan seperti ini, kita malah menyiksanya Van"
"Nggak dok, nggak. Pleasee, aku mohon selamatin resyah"
"Van, sabar Van. Sebaiknya kamu lihat sendiri keadaan istri kamu di dalam, setelah itu tentukan pilihan kamu" ucap Reyhan menepuk-nepuk pundak devano
"Nggak ada pilihan lain rey, aku mau resyah selamat dan selalu berada di samping aku. biar kita bisa ngejaga dan ngerawat nalista Sampai dewasa"
"Masuk aja dulu ya" ucap Reyhan yang sebenarnya juga lagi menahan tangisnya.
Devano masuk dengan terus menggendong keyra.
Sementara Delia dan frislya terisak menangis. Gilang mengelus-elus bahu Delia, begitupun dengan Leon yang mencoba menenangkan frislya.
Sedangkan Reyhan, dia memandang sayu resyah yang berbaring lemah di dalam sana.
"Aku sudah ikhlasin kamu sama devano, walaupun sebenarnya aku nggak pernah jujur tentang perasaan aku sama kamu Syah. Walaupun berat, aku harus rela. Karena memang devanolah yang terbaik buat kamu. Tapi, jika kamu meninggalkan kita dengan cara ini, aku sangat nggak ikhlas Syah. Ayo Syah, berjuang sekali lagi anak kamu butuh kamu, begitu juga dengan devano dan kita semua di sini. Aku tau kamu kuat Syah, bertahanlah Syah.... Aku mohon" batin reyhan