
Bab 140
Dokter viola keluar, Dnegan seorang dokter mendorong box kaca yang berisi anak pertama devano itu.
"Dokter, tunggu. Bayi ini, apa bayi mereka juga" ucap Gilang
Semua orang yang awalnya fokus ke devano, sekarang mengalihkan pandangannya ke arah dokter viola.
"Benar, bayi ini adalah Puti pertama mereka. Tapi dia saat ini sedang krisis, dan harus di letakkan di ruang khusus. Sebaiknya, salah satu dari kalian ikut Dengan saya"
"Jadi, keponakan saya kembar dok" tanya Delia
"Begitulah"
"Van, ayo kita makamkan dulu putrimu" ucap papa devano
"Papa di sini aja, jagain resyah dan putri kami. Aku akan mememakamkannya di halaman belakang mansion" ucap devano beranjak pergi dengan langkah lemah
"Pa, cepat kejar devano. Mama takut dia kenapa-napa kalo nyetir sendirian" ucap mama devano
"Om, Tante. biarkan saya saja yang menemani devano" ucap Gilang
"Terimakasih" ucap mama devano
"Pergilah" ucap papa devano
Gilang pun mengejar devano, ke parkiran.
"Biar aku yang nyetir, kamu tidak bisa menyetir sambil memeluk putrimu"
Devano tidak menjawab apapun, dia pun beranjak pergi ke tempat duduk samping pengemudi.
Delia dan Leon melihat keyra dari luar ruangan.
"Kenapa jadi kayak gini sih? Kenapa rencana yang gue buat, agar mereka terus bersama dan bahagia. malah buat mereka menderita kayak gini. Dan kak resyah, bahkan nggak tahu bisa selamat atau nggak" Isak Delia menatap sayu, keponakannya itu.
"Ini bukan salah kamu Del. Rencana kamu semestinya berjalan lancar, kalo nggak Lea nggak berbuat nekad. Aku minta maaf atas nama Lea, ke kamu dan keluarga besarmu Del. Aku bahkan malu, jika berada di dekat kalian" ucap Leon
"Kenapa kakak minta maaf atas kesalahan orang lain, dan kenapa kakak harus malu. Kakak nggak salah apapun, kak Lea lah yang harus minta maaf ke kak devano dan kak resyah, tapi walau bagaimanapun dia meminta maaf, itu nggak akan mengubah apapun. Atau mengurangi rasa penderitaan mereka"
-------------
Kayra selesai di makamkan di halaman belakang mansion, dengan bantuan Gilang yang membantu menggali kuburannya.
Sudah 30 menit, devano menatap batu nisan putrinya itu, tanpa bicara apapun dan yang terus-menerus membasahi pipinya.
"Sabar Van, kamu nggak boleh lemah kayak gini. Resyah dan anak pertama kalian, membutuhkan kamu di rumah sakit. Jika kamu melemah seperti ini, siapa yang bakalan support mereka berjuang untuk bertahan hidup. Mereka perlu kamu Van" ucap Gilang menepuk-nepuk bahu devano
"Mereka akan selamatkan Lang?" Ucap devano
"Jika kamu kuat, mereka juga akan kuat. Resyah wanita yang tangguhkan? Dia pasti bisa bertahan. Dan putrimu lahir dari ayah dan ibu yang hebat, dia juga pasti bisa bertahan"
Devano mengangguk kemudian berucap "kamu benar, aku harus kuat. Terimakasih, Lang untuk semuanya"
"Sama-sama. Aku memang nggak tahu gimana rasanya berada di posisi kamu, tapi aku yakin, kamu dan boss bisa melewati semua ini. Kamu nggak sendirian Van, ada orangtua kamu, ada Delia, kak Rey, kak Leon dan aku yang bakalan support kalian"
Frisilya baru sampai di rumah sakit, dia melihat Delia dan Leon duduk di kursi tunggu pun menghampiri mereka.
"Delia, gimana keadaaan resyah?" Uacap frislya duduk di samping sekian. Delia hanya menggeleng pelan sebagai jawaban
Sementara Leon, larut dalam kemarahan, kekesalah dan rasa bersalahnya.
"Leon terlihat sangat sedih, sepertinya dia sangat dekat dengan keluarga devano. Ah, sudahlah mereka kan akan menikah jadi wajar saja jika mereka dekat" batin silya
Beberapa saat kemudian, devano dan Gilang datang. Devano tidak langsung duduk, dia menghampiri ruangan resyah, dan melihat resyah dari kejauhan.
"Kakak..." Ucap Delia memeluk devano dari belakang. Dia sangat perihatin dan sedih melihat keadaan kakaknya sekarang. Dan ada rasa bersalah di hatinya.
Devano membalikkan badannya, dan memeluk adik satu-satunya itu.
"Dimana mama dan papa" ucap devano mengelus-elus rambut Delia
"Di ruangan baby keyra"
"Pulanglah, kau terlihat sangat lelah"
"Udah, nggak apa-apa. Jangan sedih kayak gini"
"Kakak, Kak resyah dan baby keyra akan baik-baik aja kan?"
Gilang menarik Delia dari pelukan devano, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, agar Delia tidak melanjutkan ucapannya.
Gilang duduk di samping frisilya, dan delia kembali duduk di tempatnya semula. Sementara devano tetap setia berdiri dan memandangi resyah di balik pintu.
"Kamu dari mana Lang? Kok baju kamu tanah semua" tanya frislya
"Habis nemanin, devano makamin anaknya"
"Anak mereka meninggal? Bukannya kritis?" Ucap frislya kebingungan
"Mereka kembar, dan satunya nggak bisa di selamatkan"
Frisilya memejamkan matanya, dan membuang nafas kasar.
2 jam kemudian,,,, reyhan dan Lea sampai di rumah sakit. Karena Delia telah memberitahu alamat rumah sakit dan nomor ruangan resyah.
Lea menghentikan langkahnya, ketika mereka sudah dekat Dengan ruangan resyah.
"Kenapa?" Tanya Reyhan
"Aku takut kak"
"Nggak apa-apa. Aku ada di samping kamu"
Reyhan berjalan mendekati devano, sementara Lea berhenti di dekat Gilang.
"Van, yang sabar" ucap Reyhan menepuk-nepuk bahu devano
Sementara devano hanya membalas Dnlengan anggukan. Tanpa melihat Reyhan
Gilang yang sedari tadi menunduk, dia mendongakkan kepalanya, karena mencium bau farpum yang dia hafal betul siapa pemiliknya.
"Leaaa" ucap Gilang yang terkejut melihat Lea
Semua mata pun tertuju melihat Lea. Dengan segala amarahnya, devano mendekati Lea dengan tatapan tajam.
Sementara Leon, hanya berdiri dan menonton apa yang akan terjadi. Dia tidak mungkin membela Lea karena kesalahannya.
"Lho puas sekarang? Inikan yang lho mau. Resyah koma, putri pertamaku kritis dan putri kedua ku meninggal. PUAS LHO SEKARANG HAH!" bentak devano mencengkeram kedua bahu Lea
"M...MAAF Van, gue nggak bermaksud. Itu semua gue lakuin karena gue cinta da. Kecewa sama lho Van"
"Maaf lho bilang? Lho pikir dengan kata maaf lho itu bisa buat resyah sembuh? Bisa buat anak pertama gue sehat dan ngehidupin kembali anak kedua gue HAH!"
"Gue nggak tahu kalo resikonya akan seperti ini. Gue hanya bermaksud untuk buat resyah keguguran, itu aja Van"
"Itu aja lho bilang! Lho berniat ngebunuh kedua anak gue? Dan kau bangga sekarang karena kau berhasil hah"
"Nggak Van, aku kesini benar-benar mau minta maaf. Dan mau ketemu sama resyah"
"Lho pikir, gue bakalan ngebiarin istri gue ketemu kayak penjahat kayak lho, gitu. Nggak akan, gue nggak bakalan ngebiarin lho ngedekatin dia, bahkan melihatnya dari jauh sekalipun"
"Van aku mohon"
"PERGIIIII!" Ucap devano menyeret Lea menjauh, kemudian mendorongnya
"Van...gue tahu gue salah. Please maafin gue"
"Pergi sebelum kesabaran gue habis. Dan laporin lho ke polisi"
"Van..." Isak tangis Lea memegang kaki devano
"Lepas, LEPASSS!. gue nggak mau di Sentuh wanita penjahat dan nggak punya hati kayak lho"
"Van..."
"KAUUU" devano sudah terlalu emosi dan ingin menampar Lea, namun di tahan oleh reyhan