
Bab 78
Gilang mengangguk lalu berucap "kunci-kunci itu aku simpan di apartemen. Jika sangat dibutuhkan aku bisa kesana mengambilnya"
"Tidak perlu. Aku juga harus buru-buru ke kampus, sudah tidak ada waktu lagi. Kalian Teruskan saja makannya aku pergi dulu"
"Tunggu dulu" ucap devano mengambil debitnya dan memberikannya pada Delia "Bawa ini. Bagaimana kau bisa ke kampus jika tak punya uang sepeser pun. Aku tahu kau tidak mungkin mempunyai uang cash sekarang"
"Tidak perlu kak. Aku bisa meminjam uang di kasir nanti. Aku pergi dulu"
"Biar ku antar" ucap Leon. Delia hanya mengangguk lalu beranjak pergi.
Delia dan Leon berada di dalam mobil, "dimana kampusmu" ucap Leon memasang sabuk pengamannya
"Jalan aja dulu. Nanti aku tunjukkin jalannya" ucap delia
"Baiklah" ucap Leon lalu menyalakan mobil.
"Kau sepertinya menghindar dari mereka. Kenapa? Apa ada masalah"
"Nggak"
"Kau tidak bisa berbohong. Terlihat jelas kau menjauhi mereka"
"Sebenarnya aku hanya ingin sendiri"
"Kau ada masalah" Delia mengangguk
"Aku juga sedang dalam masalah"
"Orang seperti kak Leon juga mendapatkan masalah"
"Kau pikir aku ini orang seperti apa, sehingga kau berpikir aku tak mungkin punya masalah"
"Aku lupaz Sehebat apapun seseorang mereka pasti mempunyai masalah"
"Ya, karena kita hanya manusia biasa" Delia hanya mengangguk
"Kak Leon ingin mendengar ceritaku"
"Aku bertanya, bearti aku ingin tahu"
"Aku sangat kesal, marah, dan kecewa. Hanya karena aku pergi menemui kakak, papa malah mau menjodohkanmu"
"Benarkah. Tapi bukankah itu bagus"
"Bagus dari mananya. Aku masih muda dan jikapun harus menikah aku ingin menikah dengan orang pilihanku sendiri"
"Kenapa tidak menikah dengan Gilang saja. Kalian terlihat cocok, lagi pula Gilang Sepertinya sangat mempedulikanmu. Terbukti dia langsung menyusul mu ke new York saat tahu kau menemuiku"
"Kakak sudahlah jangan bicara tentang dia"
"Kenapa, apa kalian bertengkar"
"Aku dan kak Gilang itu nggak ada hubungan apapun"
"Terus, kenapa kau sangat kesal mendengar namanya"
"Jelas aku kesal sama dia. Di saat papa mau menjodohkanku dengan orang lain, aku bilang bahwa aku pacaran dengan kak Gilang. Dan papa pun langsung menyuruh kami menikah,tapi kak Gilang malah menolaknya mentah-mentah"
"Kau marah karena Gilang tidak ingin menikahimu"
"Bukan seperti itu,maksudku kak Gilang terima saja dulu perjodohan kami di depan papa. Setelah itu kita cari cara untuk membatalkannya. Hanya pura-pura menerimaku agar aku tidak di jodohkan lagi, kak Gilang nggak mau. Padahal aku sudah membantunya dengan menjadi pacar pura-puranya di depan kak Lea. Dan sekarang, apa balasannya untukku. Dia bahkan tidak mau menolongku. Jika aku tahu dari awal aku akan di pojokkan seperti ini lebih baik aku tetap tinggal di London. Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk kakak-kakak ku agar mereka tidak berpisah. Tapi kenapa malah aku yang mendapatkan dampak buruknya" ucap Delia mengeluarkan unek-uneknya
"Mungkin saja Gilang mengira kau ingin dia benar-benar dia menikahumu. Lagi pula kau belum mendiskusikan hal semacam itu padanya"
"Di saat aku membantunya dengan menjadi pacar pura-puranya itu juga tanpa diskusi. Lagi pula waktu itu tidak ada waktu untuk berdiskusi"
"Kau peka terhadap keadaan. tapi Gilang dia tidak seperti itu"
"Sudahlah aku nggak mau membahas tentangnya lagi, kakak tentu saja membela kak Gilang. Karena dia mantan calon adik ipar kakak. bukankah kakak ingin kak Gilang kembali bersama kak Lea? Tentu saja kakak membelanya"