
Bab 138
"Nggak apa-apa kok Van. Kayaknya aku lagi ngidam rujak deh" ucap resyah langsung mengubah ekspresi wajahnya dan tersenyum manis kearah devano.
"Kebiasaan nih ya adek, kalo lagi pengen sesuatu pasti bikin mamanya kayak kesakitan terus. Nggak boleh gitu ya dek, papa khawatir tahu" ucap devano bicara di depan perut resyah
"10 menit lagi kelasnya selesai. Nanti, kita langsung cari rujaknya ya" ucap devano mengacak-acak rambut resyah
Sementara resyah, hanya mengangguk dan tersenyum manis.
Setelah kelas bayinya selesai, devano langsung mencari penjual rujak dengan melihat-lihat ke arah jalanan yang mereka tempuh.
Lain halnya dengan devano, Resyah mengelus-elus perutnya "mama nggak tahu, apakah mama bisa melihat wajahmu nanti atau nggak. Tapi, mama berharap, walaupun mama nggak bisa bertahan nantinya mama ingin melihat wajahmu sekali saja" batin Resyah
"Kenapa? Kok sedih gitu mukanya?" Ucap devano
"Nggak apa-apa, aku cuma lagi mikir Aja, gimana wajah anak kita nanti setelah lahir" ucap Resyah tersenyum manis
"Kamu nggak penasaran apa Syah, sama jenis kelamin anak kita. Gimana kalo kita USG untuk liat jenis kelaminnya. Jadi, kita bisa membeli peralatan bayi yang sesuai"
"Nggak ah Van. Aku maunya, dia lahir dengan kejutan. Kali kita udah tahu lebih dulu jenis kelaminnya, kan nggak seru. Benar-benar nggak sabar nungguin dia lahir"
"Kalo aku sih tahu nggak tahu pun jenis kelaminnya, nggak ngurangin rasa ku nungguin dia lahir"
"Kamu bakalan selamatin dia kan Van?"
"Kalian pasti selamat. Dokter Renata dari LA akan ke sini bulan Devan, dia akan menjaga dan merawat kamu sampai lahiran. Kamu tenang aja ya,semua pasti baik-baik saja" ucap devano tegas, walaupun sebenarnya hatinya juga tidak yakin dengan apa yang dia ucapkan
"Apapun yang terjadi, dahulukan keselamatannya. Bisa akan Van?"
"Iya, tenang aja. Kalian pasti akan selamat dan sehat. Kita akan merawat anak kita dan mendidiknya menjadi orang yang hebat" ucap devano meyakinkan Resyah dan hatinya
Devano dan Resyah akhirnya menemukan penjual rujak, setelah hampir satu jam mencari.
Resyah dan devano duduk di tempat yang telah di sediakan. Sesaat kemudian, penjual rujak pun mengatar rujak pesanan mereka.
Resyah mencoba rujak buah itu satu gigitan, kemudian dia memuntahkannya.
"Kenapa?" Ucap devano memijak tengkuk Resyah, kemudian memberikan air untuk resyah
"Kamu aja yang makan, aku udah nggak mau" ucap Resyah menggeser piring rujak itu ke depan devano
"Lah kok nggak mau sih. Tadi katanya mau makan ini"
"Tapi, aku mual makannya"
"Yaudah deh iya. Aku yang bakalan habisin rujaknya" ucap devano geleng-geleng kepala.
Karena, selama ini apa saja yang Resyah inginkan, Resyah tak pernah memakannya sampai habis. Dia hanya memakan, makanan itu sedikit, kemudian menyuruh devano untuk menghabiskannya, dengan alasan, bayi mereka menginginkan Devano untuk memakannya juga.
Devano percaya-percaya saja, dan menuruti perkataan Resyah. Dia tidak curiga sedikitpun.
Padahal, Resyah hanya berbohong dengan mengatakan ingin makan sesuatu. Dia hanya mengalihkan perhatian Devano dengan itu. Agar Devano tidak terlalu berfokus padanya, dan mencari apa yang dia inginkan.
Resyah selalu mengatakan ingin sesuatu dengan alasan ngidam. Padahal, dua ingin Devano pergi, agar Devano tidak melihat dia yang tengah kesakitan.
Seringkali perutnya terasa sakit, Resyah selalu berbaring di ranjangnya dan terkadang pingsan karena sakit yang tak tertahankan. Devano yang kembali dari membeli apa yang Resyah inginkan, selalu beranggapan bahwa resyah ketiduran menunggunya.
----------------
2 Minggu kemudian.....
Walaupun devano dan mertuanya tidak memperbolehkannya bekerja untuk sementara waktu, mengingat kehamilannya yang semakin membesar, dan mengkhawatirkan keadaannya. Resyah tetap memilih bekerja
"Van, devano. Bangun ini udah pagi"
"Heum" ucap devano menggeliat
"Ih, Van cepetan bangun. Ntar telat kerjanya. Kalo kamu nggak bangun juga, aku berangkat ke kantor sama Delia aja"
Mendengar ucapan resyah, Devano langsung bangun dan menuju kamar mandi. Dengan rasa kantuk yang teramat, karena semalam dia lembur.
"Tunggu bentar, berangkat kerjanya barengan Aja" ucap Devano membuka pintu kamar mandi
"Van..."
"Heum" sahut Devano setengah sadar itu
Resyah lalu mendekati devano dan memeluknya erat. Seketika, rasa kantuk devano langsung hilang. Devano pun membalas pelukan resyah
"Kenapa heum? Tumben banget kamu mau meluk aku"
"Ya nggak apa-apa, kepengen aja meluk kamu. Mungkin, bawaan dari baby"
"Kalo gitu aku mandi dulu ya, abis itu kamu boleh peluk aku sepuasnya"
"Yaudah, gih mandi" ucap resyah mendorong devano masuk ke kamar mandi
Resyah berdiri di balkon kamarnya, bukan untuk melihat pemandangan, tetapi dia tengah memikirkan sesuatu, yang selama ini merasuki pikirannya.
"Kamu harus selamat dan sehat. Mama mungkin nggak bisa ngerawat kamu bahkan mama juga nggak yakin bisa ngeliat wajah kamu. Apakah akan tampan seperti papamu atau akan cantik seperti mama" gumam resyah sambil tersenyum
"Tapi, satu yang pasti dan mama sangat yakin. papamu akan menjagamu dan mendidikmu dengan baik. Maka dari itu, jadilah anak yang baik jika sudah lahir dan jangan terlalu merepotkan papa ya sayang" sambungannya, tanpa terasa air mata menetes
Devano keluar dari kamar mandi. Dia yang melihat resyah di balkon pun langsung memeluknya dari Belakang.
"Van, ihhh apaan sih. Pake dulu bajunya" protes resyah karena devano hanya menggunakan handuk dan rambut yang masih basah
"Katanya tadi baby-nya mau di peluk" ucap devano mengeratkan pelukannya
"Iya, tapikan tadi udah"
"Kayak gini dulu, bentar aja" ucap devano menempelkan wajahnya di bahu resyah
"Kamu ngapain di sini?" Sambung devano
"Liat-liat pemandangan aja. Udah sana, pakai bajunya, kalo nggak kita bakalan tekat nanti"
"Iya-iya" ucap devano dengan berat hati melepaskan pelukannya dan berganti pakaian
Hubungan mereka tampak seperti suami istri yang saling mencintai, selama Lea pergi dan tidak mengganggu mereka.
Apakah ada cinta di antara keduanya, ntahlah. Karena, memang dari kecil devano selalu menjaga dan perhatian ke resyah. Terlebih lagi, mereka sudah sahabatan belasan tahun lamanya. Sehingga, keduanya bisa nyaman hidup bersama.
Tiba-tiba perut resyah tersa sangat sakit. Sakitnya bahkan berkali-kali lipat, dari sakit yang biasa dia rasakan.
Resyah merosot ke lantai sambil terus memegangi perutnya.
"Aakhhhhh" rintihnya.