
Bab 82
Delia lalu mengambil dompet yang di tendangnya tadi. Dia mengambil foto frislya, lalu meletakkan dompet dan kartu akses Leon di meja, samping Leon tidur.
Delia menyobek-nyobek foto frislya lalu membuangnya ke tong sampah.
"Orang seperti dia, tidak usah di ingat-ingat lagi kak Leon" ucap Delia lalu menatap Leon yang tertidur pulas. sesaat kemudian, dia mematikan l kemudian menghidupkan lampu tidur di sebelah Leon. Saat ingin keluar dari kamar itu, Delia menekan saklar memberikan lampu di kamar Leon.
Sehingga Leon tidur hanya di terangi lampu tidur. Delia keluar dari hotel, Gilang yang menunggunya sejak tadi di parkiran langsung menghampiri Delia dengan motornya.
"Naik. Aku antar pulang"
"Nggak perlu"
"Jangan keras kepala, ini sudah sangat larut. Naiklah akan ku antarkan pulang"
"Jika ingin pulang ya pulang saja. Tidak perlu repot-repot mengurusi orang lain"
"Kau ini kenapa. Seharusnya aku yang marah, karena kau mengatakan kita mempunyai hubungan dengan orangtuamu. Dan hampir saja kita dinikahkan"
"Ya, ya, ya. Itu kesalahan ku. Aku minta maaf untuk itu. Aku hampir lupa, bahwa kau belum bisa move on dari kak Lea. Makanya kau sangat takut jika di nikahkan denganku. Lagi pula aku tidak benar-benar berniat untuk menikah denganmu. Itu hanya alasan supaya papaku tidak menjodohkanku dengan anak rekan kerjanya itu. Tapi sudahlah, itu tetap salahku. sekali lagi aku minta maaf yang sebesar-besarnya" ucap Delia menangkupkan kedua tangannya.
Gilang hanya terdiam mendengar ucapan Delia dan ada rasa bersalah di hatinya.
"Jika tidak ada lagi yang ingin dikatakan, saya pergi dulu" ucap Delia beranjak pergi
Gilang langsung turun dari motornya
"Tunggu" ucap Gilang memegang tangan Delia
"Kenapa, kau tidak puas dengan ucapan maafku. Atau kan ingin memarahiku, lakukan saja. Akan lebih baik kau marah kau juga boleh memukulku Karena semua ini memang salahku, aku akan menerima konsekuensinya. Bukankah kau yang mengatakan harus bertanggung jawab atas kesalahan yang ku lakukan. Anggap saja ini sebagai bentuk pertanggung jawaban ku. Atau apapun yang kau inginkan akan aku lakukan. Tapi setelah itu, saya mohon jangan ganggu saya lagi"
"Baiklah, aku tidak akan memarahimu ataupun memukulmu. Aku hanya ingin kau kembali seperti dulu"
"Kau mengerti maksudku, jadi jangan berpura-pura bodoh"
Delia hanya tersenyum sinis, dia lalu beranjak pergi tidak ingin berdebat lagi dengan Gilang.
Tapi dengan cepat Gilang menahannya.
"Kak Gilang, lepasin tangan kakak aku ingin pulang"
"Aku sudah bilang, biar ku antar"
",Aku nggak mau. Lepasin atau aku gigit tangan Kakak" Gilang tidak menjawab dia malah menatap Delia dalam-dalam.
Delia yang kesal pun mengigit tangan Gilang sekuat yang dia bisa. Tapi Gilang tetap tidak ingin melepaskan genggamannya.
Frustasi karena Gilang tidak melepaskan genggamannya Delia pun berucap "mau kakak apa sih"
"Sudah selesai. Jika sudah, ayo pulang" ucap Gilang menarik tangan Delia tapi Delia menahan tubuhnya
"Delia kau sudah dewasa. Dan jangan memancing-mancing kesabaranku"
"Aku tidak memancing-mancing kesabaran kakak. Jika kakak ingin pulang aku sudah bilang pulang saja dan jangan mengurusiku"
"Kakimu terluka, dan harus kerumah sakit. Jika kakimu tidak terluka aku tidak akan memaksamu untuk ikut denganku"
"Aku sudah bilang itu bukan urusan kakak"
"Kau adiknya bossku. Disini tempat aku bekerja jadi aku merasa punya tanggung jawab atasmu"
"omong kosong"