
"Kita emang dari caffe. Kan, kak Rey minta buat aku juga ngurusin caffe. Pas mau anterin dia pulang nih anak malah ngebet mau ke sini" ucap Gilang
"Benar juga. Kak Rey kan minta kak Gilang bantuin aku ngurusin caffe. Tapi, kenapa kakak tadi di caffe nggak ngapa-ngapain? Malah sibuk ngurusin hotel lagi"
"Emang kamu lihat aku ngurusin hotel?"
"Kakak minjam laptop tadi kalo bukan ngurusin hotel, ngapain?"
"Ngecek perkembangan caffe"
"Udah-udah kok Kalian malah ribut sih?" Ucap Resyah
"Boss silahkan duduk" ucap Gilang beranjak berdiri mempersilahkan resyah duduk, karena bangku itu hanya muat untuk dua orang.
Resyah pun langsung duduk.
"Del, boleh nyicip nggak?" Ucap resyah yang juga menginginkan gulali
"Ihh, nggak boleh. Kalo habis gimana? Mana kak Gilang nggak boleh beli dua lagi"
"Kasih aja Del. Pelit amat, lagian kalo beli dua kebanyakan, ntar gigi sama perut kamu sakit. Terus, nggak bisa kerja. Dan semua kerjaan kamu harus aku yang urusin gitu?" Ucap gilang
"Ihh nyebelin banget" ucap Delia cemberut
"Kamu mau gulali?" Ucap devano. Resyah hanya mengangguk
"Kenapa nggak ngomong dari tadi?"
"Aku nggak punya uang cash"
"Terus kenapa nggak minta sama aku? Jangan kemana-mana aku akan membelinya. Gilang, jagain mereka bentar" ucap devano lalu beranjak pergi.
"Kak Gilang, habis ini aku mau naik roal coaster"
"Nggak boleh. Bahaya"
"Kalo gitu temanin,mau ya? Ya ya ya" rengek Delia
Devano datang membawakan gulali, "ini Syah" resyah mengambil gulali itu, laku memakannya antusias.
"Mau?" Tawarnya pada devano
"Nggak kamu aja. Lain kali, kalo mau sesuatu ngomong, sama aku. Aku ini suami kamu" ucap Devano mengelus-elus kepala resyah
"Nggak usah pamer-pamer kemesraan bisa nggak sih" ketus Delia
"Sensi banget sih!" Ucap devano
"Van, aku mau naik roal coaster boleh ya?"
"Katanya tadi kalo mau apa-apa ngomong sama kamu"
"Itu bahaya Syah, kamu lagi hamil lho"
"Tapi ini bawaan bayi Van. Heum, boleh ya" ucap resyah menggoyang-goyangkan tangan devano. Terlihat sangat manja, di tambah lagi ekspresi wajahnya yang memohon.
Devano, Gilang dan Delia yang melihat itupun syok . Bagaimana tidak? Wanita yang terlihat dingin dan mandiri seperti Resyah bisa merengek juga.
Devano sambil menahan tawanya karena gemas melihat resyah pun berucap "kok kamu kayak anak kecil gini sih Syah"
"Ayolah Van. Kali ini aja ya. Ya boleh ya? Please"
"Kalo kamu mintanya kayak gini, gimana bisa nolak coba"
"Yeayy" ucap resyah kesenangan lalu memeluk devano. Sambil memeluk dia juga terus memakan gulalinya.
"Astaga. Kenapa sikapnya berubah 180 derajat gini sih. Tapi, kalo dia terus kayak gini, ini bagus. Dia bisa bergantung sama aku" batin devano
"Peluk-pelukkannya udah kan? Kalo kak resyah boleh naik roal coaster bearti aku juga boleh dong" ucap Delia.
"Bahaya Del, aku nggak bisa jaga kamu. Aku harus jagain resyah. Tanya Gilang, jika dia mau naik kami boleh naik. Kalo nggak, ya nggak usah"
"Ahh, tapi dari tadi kak Gilang nolak Mulu. Nggak apa-apa deh kak, aku naik sendiri aja"
"Nggak boleh!"
"Please" ucap Delia menangkupkan kedua tangannya
"Nggak"
"Yaudah ayo naik" ucap gilang
"Benaran"
"Heum"
"Ayo cepat naik. Aku mau duduk di bagian depan" ucap Delia sambil berlari menarik Gilang menuju roal coaster.
Mereka berempat pun naik roal coaster.
Resyah dan Delia terus-terusan teriak karena kesenangan.
Sementara devano dan Gilang, mereka hanya menatap wanita di samping mereka lekat-lekat.
Baca terus kelanjutan ceritanya ya ☺️
DAN jangan lupa baca juga Karya author yang berjudul "COLD CEO IN LOVE" dan "SILENT DEADLY" ya reader's tercinta🙏🏻☺️