
Bab 150
Lea terkena tembakan polisi, yang mengira Lea ingin melarikan diri.
"Leaa!" Teriak frislya ketika melihat Lea sudah terkapar di jalanan.
Semua orang pun keluar dari mobil dan melihat Lea.
"Kak leaaa" gumam Delia yang melihat betis Lea terkena tembakan
"Kenapa kalian menembak adikku" emosi Leon memuncak dan menarik kerah polisi yang menembak adiknya itu.
"Leon, berhenti. Dan jangan buat masalah untuk saat ini" ucap Reyhan
Leon pun melepaskan kerah polisi itu.
Lea merangkak dan memegangi kaki Leon.
"Jangan pukul dia kak. Nanti kakak bisa terkena masalah, jangan sampai kakak masuk penjara gara-gara aku. Mereka nggak salah, aku yang memberontak dan kabur karena ingin bicara sama kakak. Mereka cuma melakukan tugasnya, mungkin mereka ngira kau ingin kabur".
Leon berjongkok, saat dia ingin bicara, Lea malah kehilangan kesadarannya.
"Kurang ajar! Aku cabut laporanku, atas nama adikku" teri Leon mengendong Lea ala bridge style dan memasukan Lea ke dalam mobil.
"Ayo Van, cepat ikutin mobil Leon. Dia pasti mau bawa Lea ke rumah sakit"
"Kita pulang ke mansion" ucap devano memasang belt Resyah.
"Tapi, Van. Kita harus liat keadaan Lea dulu"
"Cuma kaki yang ke tembak. Dia juga nggak akan mati kan!"
"Van!" Bentak Resyah
"Udah-udah kalian jangan bertengkar. Kak Resyah, apa yang di katakan kak devabo benar, lebih baik kalian balik ke mansion. Kakak baru ke luar dari ruang sakit, lebih baik kakak banyak-banyak istirahat. baby keyra juga sepertinya kegerahan" ucap Delia menengahi
"Gilanggggg!" Ucap devano yang melihat Gilang berada di sampingnya, karena kebetulan motor Gilang berdampingan dengan mobil devano
Devano membuka kaca mobil kemudian berucap "kamu mau ke caffe kan. Titip Delia ya,aku nggak bisa anterin dia ke sana sekarang"
"Kak devano apa-apaan sih. Kak Gilang mungkin mau ke rumah sakit liat kak Lea" batin Delia
"Yaudah, sekalian aja. Lagian satu tujuan juga"
"Tunggu apa lagi, cepetan turun. Udah di tungguin tuh sama Gilang" ucap devano
"Ishhh iya-iya. Kak Resyah ini baby keyra nya" ucap Delia memberi alih keyra ke gendongan Resyah kemudian keluar dari mobil.
Leon, frislya dan Reyhan berada di rumah sakit, menunggu Lea sadar.
Dokter keluar dari ruangan Lea "dokter adik saya baik-baik saja kan. Dia nggak sampai lumpuh kan dok" ucap Leon
"Untungnya peluru tidak masuk terlalu dalam, tapi membutuhkan waktu beberapa Minggu untuk dia bisa berjalan seperti semula" jelas dokter
"Syukurlah" gumam frislya
Leon kemudian masuk ke ruangan Lea, terlihat kaki adiknya itu di perban dan beberapa luka ringan di tangannya karena jatuh.
"Maaf, karena gagal jadi kakak yang baik buat kamu" ucap Leon mengenggam erat tangan adiknya itu.
"Kamu udah jadi kakak yang terbaik kok Yon buat Lea. Jadikan ini pelajaran buat kalian berdua, lain kali kamu jangan menghukum Lea terlalu keras" ucap frislya
"Aku harus ke perusahaan sekarang, maaf nggak bisa berlama-lama. Hubungi aku jika Lea sudah sadar" pamit Reyhan
"Makasih ya Rey. Oh ya, frislya kamu numpang Reyhan aja ke hotel" ucap Leon
Resyah dan devano berada di kamar mereka. Resyah membuat gorden dan berdiri di balkon sambil mengendong keyra. Balkon seolah-olah menjadi tempat favorit di mansionnya.
Devano memeluk Resyah dari belakang.
"Van, kamu apa-apaan sih. Lepasin nggak" protes Resyah
"Sebentar aja. Pleasee"
"Kalo kamu kayak gini, aku susah gerak. Aku takut key bangun ini"
"Devano, udah ah geli" ucap Resyah memukul devano dengan sikunya
"Aku mau jujur sama kamu"
"Jujur? Emangnya kamu pernah ngebohongin aku?"
"Maaf Syah, aku nggak bisa nyelamatin anak kita"
"Maksud kamu?. Aku nggak ngerti deh, key kan baik-baik aja"
"Ikut aku" ucap devano menarik Resyah ke halaman belakang mansion
"Kita ngapain di sini"
"Nanti kamu juga tahu"
Setelah sampai di makam, kayra devano lamgsung jongkok kemudian berucap "assalamualaikum dedek. Maaf ya baru bisa jengguk sekarang, lihat deh papa bawa mama sama kakak ke sini. Kamu pasti senang kan?" Ucap devano
Resyah membaca batu lisan itu, dia terkejut membaca nama yang tertera di sana.
"Van ini...."
"Putri kita kembar Syah. Tapi dedek udah pergi ninggalin kita sebelum dia lahir. Maaf Syah, aku nggak bisa nyematin kedua anak kita, bahkan keyra juga kritis selama 2 Minggu. Kamu bahkan mempertaruhkan nyawa kamu buat ngelahirin anak kita, tapi aku malah nggak bisa berbuat apa-apa"
"Jadi, anak kita kembar" tanpa terasa air mata menetes di pipi Resyah
Resyah juga berjongkok lalu mengelus-elus batu misan putrinya itu.
"Kenapa kamu baru cerita sekarang Van!"
"Aku nunggu waktu yang tepat Syah"
"Selama ini aku nggak pernah tahu kalo aku juga ngelahirin dia"
"Syah maafin aku ya, aku nggak bermaksud buat nyembunyiin ini dari kamu. Aku hanya nunggu keadaan kamu membaik.dan aku sengaja makamin dedek di sini, biar dia selalu dekat dengan kita"
MALAM HARI......
Lea tersadar, dia melihat Leon sudah terlelap tidur.
"Kakak" lirih Lea. Dia mencoba duduk dan tidak membuat pergerakkan, agar Leon tidak terbangun. Dia meringis karena kakinya terasa sangat sakit ketika di gerakkan.
"Kakak, maafin Lea ya. Lea selama ini hanya bisa nyusahin kakak dan buat malu kakak" batin Lea. Dia turun dari brankar, karena kakinya terasa sangat sakit dia menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara.
"Aku harus pergi, aku nggak boleh nyusahin kak Leon lagi" Lea berniat menyentuh kepala Leon, namun dia takut Leon terbangun. Dia akhirnya mengurungkan niatnya.
Lea berjalan dengan kaki pincang. Dan dengan perlahan-lahan menutup pintu ruangan.
"Sakit banget" ucap Lea terus melangkah dengan meraba-raba dinding untuk membantunya berjalan.
Resyah tidak bisa tidur, dia melihat keyra dan devano sudah tidur pun, Dengan langkah pelan berjalan menuju balkon.
Langit sangat cerah, sehingga bintang-bintang nampak bersinar indah.
"Keyra nalista Xander dan kayra nalista Xander" resyah tersenyum tipis setelah mengucap nama kedua putrinya itu.
"Kayra, maafin mama nggak bisa nyelamatin kamu. Kamu pasti tenang di sana kan? Sama Oma dan opa" ucap resyah, melihat bintang-bintang yang bersinar terang.
"Dan keyra, mama janji akan jadi orangtua yang baik buat kamu, mama akan lakukan apapun demi kebahagiaan kamu"
"Salah satu cara membahagiakan keyra adalah dengan melihat kedua orang tuanya terus bersama " ucap devano berdiri di samping resyah
"Kita sudah bersama"
"Maka dari itu, berhentilah membicarakan perceraian. Kamu ingkar janji sama aku Syah, kamu bilang nggak akan membahas perceraian lagi, tapi tadi? Kamu malah mau bilang pisah sama aku di depan Lea"
"Kita sudah lebih dulu buat janji dengannya Van. Jadi, kita harus menepatinya"
"Tapi, dia udah nggak mau lagi dengan janji itu. Dan emang sebaiknya dia seperti itu setelah semua yang dia lakukan kita. Kayra bahkan pergi gara-gara dia"
"Ini tuh udah takdir Van, mungkin kayra emang cuma di titipin sampai di perut aku aja"
"Oke, tapi aku minta sama kamu sekarang Berhenti berpikir tentang perceraian. Kasihan keyra jika kita sampai benar-benar bercerai. Dia pasti akan iri Dengan teman-temannya yang memiliki keluarga yang harmonis. Kamu ingin dia bahagia kan? Maka, kita tetap harus bersama. Dia butuh sosok ayah dan ibu dalam hidupnya, bukan salah satunya. Ayo, buat keluarga kita jadi keluarga yang harmonis, memberikan semua kasih sayang ke keyra, menjaga dan merawatnya sampai dia menikah nanti dan sampai akhirnya kita menutup mata untuk selama-lamanya"