COLD CEO IN LOVE

COLD CEO IN LOVE
Membantu Malah Merepotkan



"Apa" ucap Delia dan Reyhan bersamaan.


"Ma, jangan ngadi-ngadi deh.kenapa harus kak Rey coba" ucap Delia


"Kamu ngomong kayak gitu, emangnya kamu pikir Reyhan bakal mau sama cewek. Selera reyhan itu bukan spek cewek kayak kamu" ucap devano


"Kalau aku saranin lebih baik Delia fokus kuliah saja untuk sekarang. Dan kalaupun Delia mau menikah biarkan dia menikah dengan orang pilihannya" ucap resyah


"Resyah kok ngomong gitu. Apa dia mulai suka sama Reyhan. Karena akhir-akhir ini mereka sudah mulai dekat" batin devano


"Mama hanya ingin yang terbaik untuk Delia. Tapi itu juga terserah Delia"


"Ya apapun itu kita pasti ingin yang terbaik dan selalu dukung kamu Delia" ucap resyah


"Terimakasih kak"


"Berhentilah bicara. Sekarang habiskan makanan kalian" ucap Sarah. Merekamakan tanpa berbicara lagi


Tak lama kemudian mereka selesai makan


"Delia bantuin mama beresin meja, mama mau cuci piring dulu"


"Nggak usah mah, biar aku saja nanti yang beresin semuanya"


"Baiklah. Kalau begitu kita pergi dulu. Kalian berdua kalau ada apa-apa langsung kabari mama oke" resyah hanya mengangguk dan tersenyum.


"Biar aku antar kalian keluar" ucap devano. Lalu mengatar Delia dan Sarah keluar pintu,lalu kemudian kembali menghampiri resyah. Sementara resyah sibuk membereskan meja makan.


"Biar aku yang beresin,Kamu cuci piring saja biar cepat selesai pekerjaannya" resyah hanya menggangguk kemudian beranjak ke wastafel mencuci piring.


Disaat membersihkan meja devano tidak sengaja menyenggol gelas sehingga pecah.


"Ada apa" ucap resyah menghampiri devano yang membersihkan pecahan gelas


"Aku tidak sengaja menyenggol gelas"


"Biar aku yang bersihin"


"Ngak apa-apa aku bisa. Kamu lanjutkan saja mencucinya"


"Kalau begitu hati-hati" kemudian kembali mencuci.


Sementara itu devano membuang pecahan gelas ke tempat sampah. Saat membersihkan kembali meja makan kakinya menginjak pecahan gelas.


"Ahhhh" teriak devano kesakitan. Resyah pun berlari menghampiri devano.


"Ada apa"


"Sepertinya kakiku menginjak pecahan gelas"


"aku udah bilang tadi hati-hati. Kenapa nggak hati-hati"


"Aku tadi nggak ngeliat pecahan gelas itu Syah"


"Biar aku lihat kakimu" lalu duduk berlutut melihat keadaan kaki devano.


"Masih ada pecahan gelasnya. Kita kerumah sakit biar dokter cabutin pecahan gelasnya dari kaki kamu"


"Pelan-pelan aja Syah"


"Ngak usah, aku bisa cabutin sendiri"


"Ahhh" teriak devano saat berhasil mencabut pecahan gelas di kakinya.


"Apakah sangat menyakitkan"


"Rasanya sangat perih".


"Biar kulihat" ucap resyah kemudian meniup-niup luka di kaki devano. Sedangkan devano hanya terdiam dengan perlakuan resyah.


"Dibalik sifat dinginmu ternyata ada sisi lain yang jarang terlihat" ucap devano.


"Apakah sudah lebih baik"


"Sudah tidak terlalu perih. Terimakasih"


"Tunggu sebentar aku akan mengambil obat untuk mengobati kakimu".


Tak lama kemudian resyah pun kembali membawa plaster dan obat merah.


"Pakai obat merah dulu biar lukanya cepat mengering"


"Bukankah akan terasa perih"


"Aku akan meniupi lukanya biar tidak terasa perih oke" devano hanya mengganguk kemudian resyah dengan cepat mengoleskan obat merah ke kaki devano lalu meniupnya dan menutupi luka itu pakai perban.


"Ternyata kau cukup berbakat membaluti luka" ucap devano yang melihat resyah membaluti lukanya pakai perban


"Aku rasa juga begitu"


"Tapi aku rasa lebih baik pakai plaster saja untuk menutupi luka, lagian lukanya juga kecil"


"Lukanya memang kecil tapi cukup dalam. Kau duduklah dulu disofa. Biar aku saja yang membereskan semuanya"


"Maaf sekali lagi merepotkanmu. Awalnya aku ingin membantantumu agar pekerjaanmu cepat selesai tapi malah memperlambat pekerjaanmu"


"Sudahlah tidak apa-apa. Ayo, aku bantu kamu duduk di sofa atau kamu mau langsung ke kamar"


"Disofa saja". Resyah lalu memapah devano berjalan kesofa.


"Duduklah disini. agar tidak bosan menonton tv saja"


"Aku akan menyelesaikan pekerjaanku saja" Lalu membuka laptopnya yang berada diatas meja dan mulai menyelesaikan pekerjaannya sedangkan resyah kembali mencuci piring dan membereskan meja makan. Setelah selesai dia pun duduk di dekat devano


"Ya. Bagaimana dengan pekerjaanmu"


"Tidak terlalu buruk. Bukankah kamu yang mengerjakannya sebagian tadi malam"


"Aku hanya ingin membantumu"


"Boleh aku pinjam laptopmu untuk mengirim beberapa email penting untuk rapat ke lea.soalnya laptopku sudah hampir kehabisan daya"


"Tentu, aku akan ambilkan dulu di kamar" lalu beranjak ke kamar mengambil laptopnya. Kemudian memberikan kepada devano.


"Apa passwordnya" ucap devano


"Tanggal meninggalnya kakek"


"Itu bearti tanggal nikah kita juga"


"Hem"


"Password kita sama kalau begitu"


"Hem"


"Aku sepertinya menyukai tanggal itu"


"Kenapa"


"Mudah di ingat 080822 tanggal yang cantik. Apa kau tidak menyukainya"


"Tidak"


"Aku mengerti" ucap devano lalu mengirimkan email.


"Selesai terimakasih" resyah hanya mengangguk.


"Oh iya, apa kau melihat hp ku"


"Tidak, kenapa"


"Aku lupa meletakkannya dimana"


"Mungkin ada dikamar"


"Tidak ada disana aku sudah melihatnya tadi"


"Coba kamu ingat-ingat lagi dimana kamu meletakkannya"


"Terakhir kali aku megang hp itu dua hari yang lalu untuk menelponmu. Terus aku hanya berbaring disini menunggumu pulang"


"Kalo begitu, hpnya mungkin terselip-selio di sofa.biar aku telpon kalo ada disini akan pasti ada suaranya" resyah pun menelpon hp devano dan tidak aktif.


"Tidak aktif. Mungkin kehabisan daya .ayo kita cari".ucap resyah. Mereka berduapun mencari hpnya di seluruh sofa namun tidak ketemu


"Apa kamu yakin terakhir kali kamu menggunakan hpmu disini"


"Ya, aku tidak kemana-mana lagi waktu itu.karena kepalaku pusing"


"Tapi kok tidak ada"


"Sudahlah Syah jangan cari lagi. Mungkin memang tidak ada disini"


"Di hpmu pasti banyak nomor-nomor klien dan data-data penting"


"Kamu tenang saja Syah, tidak ada yang penting di hp itu. Masalah Nomor-nomor klien Lea juga punya nomor mereka. Dan masalah data-data penting aku tidak pernah menyimpannya di hp"


"Baguslah kalau begitu"


Lalu kembali duduk disamping devano.


"Syah"


"Kenapa? Kamu haus"


"Tidak, bukan itu*


"Lalu?"


"Apa kamu masih ingin bercerai dengaku setelah kejadian malam itu"


"Ya, itu sudah perjanjian kita dari awal"


"Apa kau benar-benar yakin"


"Aku yakin, kita tidak mungkin akan selamanya seperti ini. Kasihan Lea dia harus terluka karena pernikahan kita. Dia juga sangat menantikan hari pernikahan kalian. Dan kejadian malam itu, lebih baik kita lupakan dan anggap saja tidak pernah terjadi. walaupun kita melakukannya dalam keadaan mabuk itu tetaplah salah kita. Kita sudah melanggar janji pada Lea dan kalau dia tahu Masalah ini dia akan benar-benar hancur. Jujur saja setelah kejadian malam itu aku benar-benar kecewa pada diriku sendiri."


"Bagaimana kalau nantinya kamu hamil"


"Aku tidak pernah memikirkan hal itu"


"Kenapa tidak. Itu mungkin saja terjadi"


"Sudahlah jangan berpikir terlalu jauh. Aku yakin itu tidak akan pernah terjadi"


"Bagaimana jika itu benar-benar terjadi. Apakah kau masih ingin bercerai"


"Jika itu benar terjadi, kita akan bercerai setelah anak itu lahir.kamu tidak perlu khawatir aku akan menjaga dan mengurusnya dengan baik. Kamu bisa tenang hidup bersama Lea"


"Kau ingin memisahy aku dari anakku"


"Sudahlah itu belum tentu terjadi. Jangan berpikir terlalu jauh"