COLD CEO IN LOVE

COLD CEO IN LOVE
BAB 154



Bab 154


Delia pulang ke mansion Dengan mood yang masih buruk. Karena masih kepikiran dengan Gilang yang terlihat masih menyukai Lea.


"Del, kamu nggak apa-apa kan?" Tanya resyah menghampiri Delia


"Emangnya aku kenapa kak?"


"Kamu nggak mau cerita sama kita kenapa kamu dan Leon putus"


"Nggak ada yang harus di ceritain, udahlah kak aku capek" ucap Delia melangkah menaiki tangga.


"Del, tunggu dulu" ucap devano menyerahkan keyra ke Resyah kemudian memeluk adiknya itu.


"Nggak apa-apa kalo nggak mau cerita sekarang. Mungkin kamu lagi butuh waktu sendiri. Tapi nanti, jika merasa udah lega kamu bisa cerita ke kakak ataupun ke kak resyah, kami akan siap dengarin curhatan kamu"


"Makasih kak"


"Udah, sekarang istirahat. Jangan terlalu di pikirin" Delia hanya mengangguk


Ke esokkan harinya...


Delia menyeret koper, masuk ke kamar devano dan resyah.


"Kak" panggilnya


"Del, masuk" sahut resyah yang berada di balkon sambil mengendong keyra


"Kak devano mana kak?" Ucap Delia berdiri di samping resyah


"Lagi mandi"


Delia hanya mengangguk, dia kemudian bercanda-canda Dnegan keyra.


"Ya ampun ponakan Tante kalo lagi ketawa cantik banget. Sama kayak tantenya"


"Makasih Tante" ucap resyah menirukan suara bayi


"Keyra cantik itu, karena ayahnya tampan dan ibunya cantik. Bukan karena kamu"


"Iya deh" ucap Delia memutar bola matanya


"Kamu kok nggak pakai baju kerja. Apa kamu nggak kerja hari ini?"


"Oh iya, kakak juga baru nyadar kamu nggak pakai baju formal Del" ucap resyah


"Aku mau ngasih tahu kalian. Kalo aku akan ke Paris, soalnya udah kangen banget sama mama papa. Sejam lagi aku waktu penerbangannya. Kalian tenang aja, semua pekerjaan udah aku selesaikan. Lagi pula, aku nggak lama kok di sana kan 5 hari lagi pernikahan kalian. Aku nggak mungkin nggak ada di pesta kalian nanti"


"Kok mendadak sih Del" ucap devano


"Usahlah Van biarin aja. Sekalian Delia refreshing , kan selama ini dia udah bekerja keras"


"Kalo gitu, kakak akan anterin kamu ke bandara"


"Nggak usah kak. Kakak di sini aja sama keyra dan kak resyah. Aku udah pesan taksi online, mungkin sebentar lagi taksinya datang"


"Kamu nggak pergi ke sana karena sakit hati kan? Ucap devano


"Vannn,,, kok ngomong kayak gitu sih" sahut Resyah


"Nggak kok kak, Lagain apa yang harus di sakiti coba"


"Ya kali aja kamu sakit hati karena putus sama Leon. Lagian, kalo masih sayang ngapain putus sih Del"


"Orang aku sayangnya sama kak Gilang" batin delia


"Van... Kamu nggak boleh kayak gitu. Ini tuh urusan pribadinya Delia, kita nggak boleh ikut campur" ucap resyah


"Udahlah kak, aku pergi dulu. Taksinya kayaknya udah ada di bawa"


Resyah dan devano mengantarkan Delia sampai Di depan mansion.


"Hati-hati di perjalanan. Hubungi kakak jika sudah sampai. Awas aja kalo papa bilang kamu nggak ada di Paris nanti" ucap devano


"Iya" ucap Delia dia lalu mencium keyra


"Aku pergi dulu" sambungnya kemudian masuk ke dalam taksi


Devano menghela nafas kasar melihat kepergian Delia


"Nggak apa-apa lah Van. Sekalian, Delia nenangin dirinya. Lagi pula mama sama papa juga ada di pariskan"


"Aku takut dia bukannya ke Paris tapi pergi ntah kemana Syah"


15 menit kemudian, Gilang sampai di mansion untuk menemui Delia. Karena Delia tidak membalas pesan ataupun mengangkat telpon darinya.


Saat Gilang ingin menekankan bel, devani dan resyah keluar dari mansion untuk berangkat ke kantor.


"Gilang? Ngapain di sini" ucap devano


"Mau ketemu sama Delia aja, sekalian mau bahas proyek sama dia. Soalnya ada meeting pagi ini, dan Delia juga nggak bisa di hubungi" bohong Gilang


"Lho, Delia nggak bilang sama kamu kalo dia ke Paris hari ini" ucap resyah


"Nggak dia nggak bilang apa pun sama aku"


"Delia sekitar 15 menit yang lalu berangkat ke Bandara" Ucap devano


"Aku pamit pergi dulu" ucap Gilang.


"Kok Delia nggak ngasih tahu Gilang kalo dia mau pergi" ucap resyah


"Ya, mana aku tahu Syah. Dia aja ngomong sama kita tadi pagi" ucap devano membukakan pintu mobil untuk resyah.


Gilang nancap gas kebandara. Karena macet, akhirnya Gilang memutar arah dan perjalanan makin jauh dari Bandara.


"Aku harus ketemu sama dia. Aku harus ungakapin perasaan aku ke dia" ucap Gilang menambah kecepatan motornya.


Karena ingin cepat sampai ke bandara, Gilang hilang keseimbangan dan hampir tabrakan dengan truk. Untungnya, dia sempat menghindar sehingga dia terlempar jauh.


Darah segar bercucuran dari kepala gilang, dan banyak luka-luka lainnya.


"Dek, maafkan saya. Kenapa adek bawah motor ugal-ugalan. Ayo saya antar ke rumah sakit" ucap supir truk


Gilang melihat motornya sudah hancur, dan tidak mungkin bisa di gunakan lagi.


"Tolong antarkan saya ke bandara" ucap Gilang berdiri sempoyongan dengan memegangi kepalanya


"Tapi dek, adek mengeluarkan banyak darah. Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang. Saya akan tanggu jawab dek, tenang saja"


"Nggak perlu. Saya yang salah, tapi saya mohon bawah saya ke bandara, karena motor saya sudah hancur" ucap Gilang


"Baiklah, mari saya bantu masuk ke truk"


Gilang pun ke bandara di anatr oleh supir truk. Sementara, baju kaos putih yang dia pakai sudah memerah. Walaupun Gilang memakai jaket, masih terlihat jelas noda darah di kaos putihnya.


"Dek, darahnya terus mengalir. Takutnya nanti adek kekurangan darah kalo nggak di bawa ke rumah sakit"


"Saya harus bertemu seseorang. Saya nggak bisa ke rumah sakit sekarang" ucap Gilang memegangi kepalanya yang terluka yang mana tangannya pun sudah darah semua.


"Apa dia kekasihmu?"


"Dia calon istriku"


"Dia sangat beruntung dek. Bisa di cintai lelaki seperti adek yang rela menemuinya dalam keadaan terluka parah"


"Terimakasih pak" ucap Gilang yang sampai di bandara


"Saya bantu kamu cari calon istrimu ya" ucap supir taksi itu memapah Gilang


"Nggak perlu saya bisa sendiri. Bapak pulang saja" ucap Gilang meninggalkan supir taksi itu.


Gilang memasuki bandara, ingin rasanya dia berlari mencari Delia, tapi kakinya bahkan susah untuk berjalan.


" 15 menit lagi penerbangan. Di harapkan bagi para penumpang untuk bersiap-siap" pengumuman dari bandara.


"Nggak, aku harus ketemu Delia sekarang" gumam Gilang terus memegangi kepalanya yang terasa ingin pecah itu


"Deliaaaaaaaaa" teriaknya, kemudian jatuh ke lantai karena sudah semakin lemah.


Semua orang yang ada di sana mengerumuni Gilang


Delia yang, yang tak jauh dari tampat Gilang pun mendengar teriakkan Gilang


"Kok aku kayak dengar suara kak Gilang ya. Tapi mana mungkin dia ada di sini, perasaan aku aja kali ya" ucap Delia. Tapi walupun begitu, matanya tidak bisa bohong mencari-cari sosok Gilang


"Mungkin emang perasaan aku aja" ucapnya. Delia melihat arah yang berlawanan dengannya, banyak ornag yang berkerumunan


"Ada apa ya" ucap delia mendekati kerumunan itu. Delia menyela-nyela orang agar bisa berada di depan untuk melihat apa yang terjadi.


"Dia kenapa" ucap Delia yang melihat laki-laki bersimbah darah tergeletak di lantai yang tak lain adalah Gilang.


Gilang yang mendengar suara Delia pun mendongakkan kepalanya "DELIAA" panggilnya pelan namun masih bisa di dengar oleh delia


"Kak Gilang! Kakak kenapa bisa kayak gini" Ucap Lea langsung meletakkan kepala gilang di pangkuannya