
Pagi harinya, Ana terbangun dalam keadaan polos dan saling berpelukan dengan suaminya. Ana tersenyum mengingat apa yang terjadi semalam. Meski ini bukan kali pertama untuk mereka, namun rasanya tetap seperti yang pertama.
Ana menatap pria yang telah memberinya kebahagiaan yang tak terkira. Meski awal pertemuan mereka tidaklah baik, tapi ternyata cinta memang mampu mengalahkan segalanya.
Si tuan hangat yang berubah dingin kini kembali berubah menjadi hangat. Ana bersyukur bisa melihat perubahan dari dalam diri Grey.
Ana mengangkat tangannya kemudian mengelus rahang kokoh Grey. Tangan hangat Ana membuat Grey terbangun dan membuka matanya.
"Selamat pagi, sayang..." sapa Grey.
"Kurasa ini sudah siang." Ana terkekeh.
Grey lega karena istrinya sudah bisa tertawa seperti dulu.
"Apa kau tidak ingin bangun?" tanya Ana.
"Tidak! Aku masih ingin disini bersamamu. Kehilangan dirimu selama satu hari seakan kehilanganmu selama satu tahun."
"Kau terlalu berlebihan." Ana memukul pelan dada polos Grey.
"Aku mencintaimu, Ana..."
"Aku juga..." Ana mendekatkan tubuhnya semakin dekat dengan Grey.
Tak ingin kehilangan istrinya lagi, Grey makin mengeratkan pelukannya. Hingga sebuah getaran dari ponsel Grey membuat mereka terpaksa saling melepaskan diri.
Sebuah panggilan dari Black. Grey segera menjawabnya.
Usai mengakhiri sambungan telepon bersama Black, Grey kembali mendekati Ana.
"Ada apa?" tanya Ana.
"Apa kau siap untuk menghukum mereka?"
Pertanyaan Grey membuat Ana mengingat kembali semua kenangan buruk yang terjadi padanya. Ana menggertakan giginya.
"Iya, aku siap!" jawab Ana mantap.
Grey tersenyum kemudian menggendong tubuh polos istrinya masuk kedalam kamar mandi. Mereka harus bersiap untuk bertemu dengan orang-orang yang sudah membuat Ana dan keluarganya menderita hingga kehilangan segalanya.
......***......
Ana tiba di sebuah tempat seperti gudang bersama Grey. Tangan Grey terulur mengenggam tangan Ana.
"Ayo!" Ajak Grey.
"Ya, kita akan melihat wajah orang yang sudah menyakitimu." lanjut Grey.
Ana menatap satu persatu wajah orang yang amat ia benci, Alonso dan Jessline.
"Ana... Tolong lepaskan kami." itu adalah suara Jessline.
Ana balik menatap Jessline dengan tatapan benci.
"Apa kau tidak punya malu hingga harus memohon padaku? Kau bahkan rela menjadi ja'lang demi melancarkan aksimu." seringai Ana dengan cukup mengerikan.
"Ana, maafkan Uncle. Uncle tidak bermaksud untuk menipumu dan ayahmu. Jika kau ingin menghukum kami, hukum saja Uncle dan tolong lepaskan Jessline." pinta Alonso yang tubuhnya sudah babak belur penuh luka. Alonso dan Jessline ditempatkan di sebuah jeruji besi yang terpisah.
"Kalian akan mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatan kalian!!" gelegar suara Ana membuat nyali Jessline dan Alonso menjadi ciut.
Ana segera pergi dari tempat itu. Ternyata Grey sengaja tidak mempertemukan Ana dengan Mike. Ia takut jika trauma yang semalam di rasakan Ana kembali terulang. Grey segera memerintahkan pada Black dan Simon untuk mengurus Alonso dan Jessline.
Ana mematung di luar gudang itu. Hatinya berkecamuk apakah ia akan sekejam itu untuk menghukum paman dan sepupunya itu.
"Sayang, ada apa?" tanya Grey.
"Apa aku terlalu jahat?"
Grey tahu jika Ana memiliki hati yang lembut. Ana tidak akan tega menyakiti Alonso dan Jessline meski perbuatan mereka sudah kelewat batas.
"Grey, katakan saja pada Black jika mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di penjara. Begitu juga dengan Mike. Aku tidak mau terlihat jahat juga seperti mereka. Biarkan hukum yang bicara." pinta Ana.
"Baiklah." Grey segera menghubungi Black.
Ana mengembangkan senyumnya setelah suaminya mengabulkan permintaannya.
"Ayo kita pulang!" ajak Grey merangkul bahu istrinya dan membawanya masuk kedalam mobil.
"Hmm,"
"Atau kau ingin pergi ke suatu tempat?"
"Kemana saja asalkan denganmu, aku tidak keberatan."
"Bagaimana jika setelah ini kita memikirkan tentang bulan madu?"
"Bulan madu?"
"Aku sangat ingin hanya berdua denganmu saja tanpa ada yang mengganggu." pinta Grey.
"Baiklah, akan kita pikirkan nanti, Grey."
"Kau ingin pergi kemana?"
"Terserah kau saja."
Dan obrolan suami istri itu terus berlanjut hingga mobil melaju kembali ke mansion milik Alfred.
......***......
"Belanda?" Ana tercengang mendengar penuturan Alfonso saat makan malam berlangsung.
"Iya, Nak. Daddy ingin tinggal disana. Daddy memiliki rumah yang Daddy siapkan untuk masa tua Daddy kelak."
Ana dan Grey saling pandang.
"Kalian tidak perlu khawatir. Kalian bisa mengunjungi Daddy saat kalian tidak sibuk."
"Tapi, Dad... Siapa yang akan menemani Daddy tinggal disana?" tanya Ana.
"Daddy bisa menjaga diri. Lagipula terapis yang dibayar Grey sangatlah bagus. Daddy sudah bisa sedikit menggerakkan kaki Daddy."
"Eh? Apa?" Ana dan Grey kembali terkejut.
"Iya, Nak. Sebentar lagi Daddy pasti akan bisa kembali berjalan seperti semula."
Ana menghampiri ayahnya dan memeluknya. Tangis Ana pecah karena terlalu bahagia.
.
.
.
Grey kembali ke kamar tidurnya usai membereskan beberapa pekerjaan yang tertunda. Ia melihat istrinya masih terjaga dan duduk sambil bersandar di kepala ranjang.
"Sayang, kau belum tidur? Ini sudah pukul satu pagi."
"Hmm, aku masih belum mengantuk."
"Ada apa? Apa ada hal yang mengganjal di pikiranmu?"
"Iya, begitulah."
Grey segera memposisikan diri duduk disamping istrinya.
"Apa ini tentang keputusan ayahmu?"
Ana mengangguk.
"Itu adalah keinginannya. Biarkan saja dia..."
"Tapi aku khawatir dengannya."
Grey menatap wajah istrinya itu.
"Lalu apa yang ingin kau lakukan?"
"Grey, bolehkah aku ikut dengan Daddy?"
"Eh? Kau ingin tinggal di Belanda juga?" Grey mengerutkan dahi.
"Iya. Aku tidak bisa meninggalkan Daddy sementara kondisinya belum pulih."
Grey menghela nafas. "Daddy mu itu keras kepala sekali. Dia belum pulih tapi sudah ingin pindah dari sini."
"Dia hanya merasa tidak enak hati, Grey. Dia merasa menjadi orang yang merepotkan untuk kita. Makanya dia..."
"Tapi tetap saja harusnya dia menunggu hingga kondisinya pulih. Aku tidak keberatan merawat dirinya."
"Kenapa kau menaikkan nada suaramu?" Ana mulai kesal pada Grey.
"Ana, aku tidak..."
"Iya, kau marah pada Daddy. Benar 'kan?"
"Tidak, bukan begitu."
Ana memalingkan wajahnya. Grey mendesah kasar.
"Aku ingin tinggal bersama Daddy. Kuminta kau mengijinkannya!"
"Sayang!!! Bagaimana dengan hubungan kita?"
"Kau bisa mengunjungiku dan Daddy jika kau tidak sibuk." jawab Ana enteng.
"Apa katamu?! Mana bisa suami istri hidup terpisah?"
"Bisa. Banyak pasangan menikah yang tinggal berjauhan tapi mereka tetap baik-baik saja."
"Tapi aku tidak bisa, Ana! Mengertilah!"
"Aku juga memintamu untuk mengerti, Grey. Apa kau tega membiarkan Daddy sendirian tinggal di Belanda?"
Grey mengacak rambutnya. Sepertinya perdebatan ini tidak akan berakhir dengan baik.
Ana melihat suaminya kesal karena permintaannya. Ia mulai merayu Grey.
"Sayang... Grey sayang..." Ana mengusap rahang kokoh Grey yang mulus. Ana memang tak suka dengan wajah yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
"Maafkan aku. Aku tahu aku salah. Kita akan membicarakan ini nanti ya."
Grey masih bergeming. Ia berpura-pura tak mendengar rayuan Ana.
"Grey... Kau benar-benar akan mengabaikanku? Baiklah. Sebaiknya aku tidur di kamar tamu saja jika suamiku sendiri tidak mau bicara denganku."
Ana segera menyibak selimut dan akan turun dari tempat tidur. Namun secepat kilat Grey menghentikannya.
"Jangan pergi! Aku tidak akan bisa hidup tanpamu."
Ana tersenyum. "Tentu."
Sejenak mata mereka beradu mencari kebenaran tentang siratan cinta dari masing-masing.
Entah siapa yang memulainya, mereka akhirnya kembali mereguk kenikmatan surga dunia disertai suara lenguhan Ana yang lembut dan erangan seksi dari bibir Grey.
......***......
#bersambung
"So sorry, semalam telat UP.😅😅😅
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘
👍LIKE
💋COMMENTS
🌹GIFTS
💯VOTE
...THANK YOU...