Raanjhana

Raanjhana
Meet Me on Facebook : 04. Meet The Family



Malam ini Adniyan akan membawa Sivia untuk bertemu dengan keluarga besarnya. Adniyan adalah si bungsu dari empat bersaudara. Ia memiliki dua saudara perempuan dan satu saudara laki-laki. Namun sejauh ini, Sivia belum pernah bertemu dengan mereka. Papa Adniyan seorang pengusaha sukses di bidang konveksi pakaian. Dan sekarang posisi CEO di tempati oleh Adniyan sebagai pewarisnya. Sedang kakak laki-lakinya lebih memilih karir sebagai dosen di sebuah universitas dari pada mengurus perusahaan. Mama Adniyan adalah wanita sosialita kelas atas yang hanya berteman dengan wanita kelas atas juga.


Mobil Adniyan tiba dipelataran rumah mewah milik keluarga Nugraha. Adniyan membukakan pintu lalu Sivia muncul dari dalam mobil. Sivia sangat cantik hari ini. Ia memakai gaun yang tadi siang dikirimkan Adniyan untuknya. Adniyan ingin memberi kesan pertama yang bagus dengan menunjukkan kalau pilihan hatinya tidaklah salah. Meski Sivia berpoles dengan make-up sederhana, namun kecantikan alaminya tetap terpancar. Rambut sebahunya ia biarkan tergerai, karena memberi kesan anggun untuknya.


"Kamu cantik, Vi. Kamu baik-baik saja 'kan?" Tanya Adniyan karena melihat wajah tegang Sivia.


"Iya, aku baik kok. Gak apa."


"Ayo!" Adniyan meraih tangan Sivia dan membawanya memasuki rumah besarnya.


Sivia mulai memasuki rumah mewah itu. Rumah bergaya arsitektur mediterania itu benar-benar membuatnya takjub hanya dengan melihatnya dari luar.


Keluarga Adniyan sudah menunggu di ruang keluarga. Semua menatap kedatangan Sivia. Adniyan mulai mengenalkan satu persatu anggota keluarganya.


"Ini Kak Martha, dia putri tertua di keluargaku."


"Halo, jadi ini yang bernama...?"


"Sivia, Kak." Balas Adniyan. "Jangan menggodanya. Kakak 'kan sudah tahu namanya."


Martha memeluk Sivia dan bercipika-cipiki dengannya. Kemudian berlanjut pada kakak kedua.


"Ini Kak Yulia. Kak, ini Sivia, calon istriku."


"Cih, jangan menyebutkannya dua kali. Bukannya tadi sudah kamu sebutkan!"


DEG


Jantung Sivia berdegup kencang. Kakak kedua Adniyan ini sangatlah jutek dan dingin. Dia sangat berbeda dengan Kak Martha yang lembut.


Sivia melangkah lagi menuju kakak ketiga. Seorang laki-laki, namun disebelahnya ada wanita yang bergelayut manja di lengannya.


Mata Sivia membulat seakan tak percaya. Sivia mengenal orang itu.


"Vi, ini kakak laki-lakiku satu-satunya, namanya Kak Aditya. Dan ini adalah istrinya, Kak Nina."


Dan kali ini Sivia juga mendapat tatapan tak ramah dari sang kakak ipar wanita. Kaki Sivia makin lemas untuk melangkah.


Dan tibalah saatnya, Sivia bertemu langsung dengan kedua orang tua Adniyan, Bapak dan Ibu Nugraha.


"Pa, Ma. Kenalkan ini Sivia. Vi, ini adalah Papa dan Mamaku."


"Cantik. Kelihatan berkelas." ucap Rita, Mama Adniyan datar.


"Selamat datang di keluarga Nugraha. Kamu persis dengan yang diceritakan Iyan padaku." Haris Nugraha, Papa Adniyan meraih tangan Sivia.


"Jika kamu adalah pilihan Adniyan, maka tak ada alasan lagi untuk Papa tidak menyetujuinya. Mari silahkan, makan malam sudah kami siapkan untukmu." imbuh Haris.


Sivia tersenyum lega. Papa Adniyan menyukainya. Meskipun, beberapa wanita disana seakan memandang tak suka padanya.


...***...


Usai makan malam, seluruh anggota keluarga berkumpul dan saling bercerita. Martha, dia sudah bersuami namun tak tinggal bersama karena suaminya seorang diplomat dan tinggal di London.


Sedangkan Yulia, dia seorang janda cerai hidup. Suaminya berselingkuh darinya, dan mereka berpisah dengan memiliki satu anak perempuan bernama Thania.


Lalu Aditya, dia lah yang diceritakan Adniyan, seorang dosen, dan istrinya putri pengusaha kaya dari Kalimantan. Mereka menikah karena dijodohkan.


"Jadi, apa bisnis keluargamu?" Tanya Yulia sinis pada Sivia.


"Sivia menjalankan bisnis salon sendiri, Kak. Ayahnya seorang mantan pegawai negeri sipil, dan sudah meninggal. Sivia tinggal bersama Ibu dan adiknya." Jawab Adniyan.


"Cih, aku gak nanya kamu, Iyan. Aku nanya dia." ketus Yulia.


"Sama aja 'kan, Kak." Jawab Adniyan diiringi senyum manisnya.


"Jadi, kamu memiliki salon kecantikan?" Tanya Martha antusias.


"I-iya, kak." Kali ini Sivia menjawab.


"Kapan-kapan aku datang kesalonmu boleh 'kan?"


"Boleh, kak."


"Kenapa hanya Kak Martha saja yang ditawari?" Timpal Yulia.


"Kalo kamu mau ikut juga boleh kok, Yul. Iya 'kan Vi?"


"I-iya, kak." jawab Sivia gugup.


"Kalo gitu aku juga. Aku akan ikut dengan kalian." Sahut Nina.


"Kalian jangan memojokkan Sivia begitu dong. Kasihan 'kan dia, jadi tegang begitu. Jadi, kapan kalian akan bertunangan?" Tanya Haris.


"Eh? Tunangan? Secepat itu, Pa?" Tanya Adniyan kaget.


"Enam bulan, Pa." Jawab Adniyan lagi.


"Itu sudah cukup untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya."


"Enam bulan? Kau bercanda? Itu waktu yang terlalu singkat, Pa!" Protes Nina.


"Untuk apa berlama-lama pacaran, Kak! Malah aku inginnya langsung menikahi Sivia." timpal Adniyan.


"Menikah? Jangan gila kau! Apa kau benar-benar yakin dengan wanita ini?" Sahut Yulia tetap dengan kesinisannya.


"Sudah, sudah. Jangan berdebat! Yang berhak memutuskan semua ini adalah Iyan dan Sivia. Kalian tidak perlu ikut campur. Kalian berdua, silahkan tentukan tanggal pertunangan kalian."


"Eh?" Adniyan dan Sivia saling pandang. "Bagaimana kalau dua minggu lagi saja, Pa?" Usul Adniyan.


"Hmm, baiklah. Bisa. Iya 'kan, Ma?" Haris melirik Rita.


"Terserah Papa saja. Lagipula sepertinya Papa sangat senang memiliki menantu idaman seperti dia."


"Jangan begitu, Ma. Sivia 'kan menantu Mama juga."


Sivia memandang Adniyan kemudian saling berbalas senyum.


...***...


Selama perjalanan menuju rumah, Sivia hanya terdiam. Adinyan melirik kearahnya beberapa kali. Adniyan meraih tangan Sivia.


"Vi... Maaf ya soal kakak-kakakku tadi. Mereka kadang suka begitu."


"Gak kok. Mereka ramah padaku. Maksudku, mereka menyambutku dengan baik."


"Setelah bercerai, Kak Yulia memang jadi sedikit pemarah. Emosinya gampang meledak. Tapi kamu tenang aja, aku akan melindungimu dari mereka."


Sivia tertawa. "Apa sih kamu? Aku bukan anak kecil. Aku bisa jaga diri."


"Nah gitu dong! Dari tadi aku gak ngelihat senyum manis kamu."


"Aku terlalu gugup tadi. Tapi sekarang sudah lega. Karena Papamu menerima aku dengan baik."


"Papa adalah yang terbaik. Ia tak pernah menolak permintaanku."


"Benarkah? Enaknya jadi kamu..."


.


.


.


.


Sementara itu,


"Papa yakin menerima gadis itu jadi bagian keluarga kita?"


"Apa boleh buat, Ma! Iyan menyukainya. Dan dia sangat serius."


"Tapi Pa. Apa kata orang nanti kalo tahu keluarga Nugraha menerima gadis biasa seperti Sivia sebagai menantu? Kita bakal malu, Pa!"


"Jangan berpikir terlalu jauh, Ma. Sivia itu tidak buruk kok. Dia cantik, dan dia mandiri."


"Tapi tetap saja, wanita macam dia tidak cocok dengan keluarga kita, Pa!"


"Papa tahu. Tapi Mama juga tahu 'kan, kalo Papa menentang keinginan Iyan, dia bisa pergi dari kita. Hanya dia satu-satunya harapan Papa untuk meneruskan perusahaan."


"Hmmm!!! Ini seperti karma untuk kita. Dulu Papa tidak menyetujui Aditya menikahi gadis biasa. Lalu sekarang, kita tidak bisa berbuat apa-apa karena Iyan juga memilih gadis biasa. Harusnya dari awal kita jodohkan saja Iyan dengan Natasha dari Grup SJ."


"Iyan gak akan setuju. Mama tahu 'kan dia gimana. Dia tidak bisa dipaksa. Sudahlah, kita istirahat saja. Besok Mama harus mulai menyiapkan persiapan pesta pertunangan mewah untuk Iyan dan Sivia."


.


.


.


.


Malam ini, Sivia tak bisa memejamkan mata. Bukan karena senang karena keluarga Adniyan menyukainya. Bukan juga karena indahnya cincin berlian yang tersemat dijemarinya. Ia memikirkan seseorang yang baru saja ditemuinya. Bukan Adniyan. Tapi orang lain. Orang yang pernah mengisi hatinya beberapa tahun silam.


Kenapa? Kenapa harus begini? Kenapa dia adalah kakak Mas Iyan? Dan kenapa aku tak pernah mengetahuinya? Tuhan!!! Setelah ini, semua akan makin sulit untukku. Meski jalan sudah terbuka lebar, namun mengapa ada lubang besar yang menganga diantaranya? Aku harus bagaimana?


......


"Sampai disini lumayanlah, hahaha. Semoga kalian masih menyukai kisah masa lalu ini, wkwkwkwkwk"