Raanjhana

Raanjhana
Trapped by Cold CEO : 05. Awal Dari Petaka



...



Perhatian: Cerita ini bergenre Adult-Romance...


...Harap Pembaca Bijak Menyikapi...


...Terima Kasih...


......***......


Grey melangkahkan kakinya cepat meninggalkan area pantai buatan itu. Nafasnya seakan memburu karena telah salah mengenali seseorang. Apakah dipikirannya hanya ada wanita bernama Nisha saja? Grey merutuki dirinya yang masih tak bisa melupakan Nisha.


"Tuan!" Black memanggil Grey yang sedang mengatur nafasnya.


"Ada apa, Black?"


"Apa terjadi sesuatu? Kenapa wajah Tuan pucat?"


"Tidak ada. Kenapa kau mencariku?"


"Maaf, Tuan. Sudah saatnya Tuan pergi ke klab. Ada seleksi yang harus Tuan lakukan."


Grey mendengus kesal. "Lagi? Kenapa makin banyak wanita yang ingin bekerja pada klab kita?"


Black mengedikkan bahunya. "Bukankah sudah jelas apa yang diinginkan oleh wanita-wanita diluaran sana?" batin Black yang tidak akan pernah berani ia ungkapkan.


"Baiklah, ayo berangkat. Apa aku perlu mengganti bajuku?"


"Aku sudah menyiapkan di klab. Tuan tinggal menggantinya disana."


"Baiklah." Grey segera melangkah cepat keluar dari resort.


Setibanya di klab, Grey menangkap pemandangan tak biasa dimana pria-pria berkumpul di sudut ruangan yang biasanya digunakan oleh para pelanggan VIP.


"Black, siapa mereka?" tunjuk Grey pada segerombolan pria yang sedang asyik bercumbu bersama wanita-wanita penghibur klab malam miliknya.


"Itu adalah Mike Lincoln. Dia adalah calon menantu keluarga Gerardo yang akan menikah besok. Tuan Lincoln menyewa tempat ini untuk melepas masa lajangnya." jelas Black.


"Oh begitu. Kau awasi mereka jangan sampai membuat keributan disini."


"Baik, Tuan." Black mengikuti langkah Grey menuju ruang VVIP andalannya.


Kembali Grey dihadapkan pada gadis muda yang melamar kerja di klabnya. Dengan pasrah Grey menyerahkan bibir tebal bagai candu bagi wanita-wanita yang melamar disana. Saat ini Grey sedang tak berselera karena bayangan Nisha tiba-tiba melintas. Grey mendorong gadis itu dan memerintahkan Black untuk menutup mata gadis itu.


"Tuan! Kenapa menutup mataku?" tanya gadis itu.


"Itu agar kau tidak perlu melihat sekelilingmu saat kau sedang bekerja. Kau harus fokus untuk memuaskanku!" ucap Grey yang kini perannya telah digantikan oleh anak buah Black.


Grey merebahkan tubuhnya di sofa. Ia bahkan tidak mempedulikan dua orang yang sedang bercumbu di ranjang ruangan itu.


"Sampai kapan aku harus melakukan hal seperti ini? Akankah ada yang menghentikanku? Sungguh aku ingin berhenti!" teriak Grey dalam hati.


Grey memejamkan mata dan memijat pelipisnya. Sekelebat bayangan gadis yang tadi ditemuinya tiba-tiba melintas.


"Sial! Siapa gadis itu? Kenapa dia sangat mirip dengan Nisha?" gumam Grey.


Ketika aktifitas si gadis pelamar dan anak buah Black telah usai, Grey masih terus melamun dan tak mempedulikan gadis itu. Ia hanya memberi instruksi lewat gerakan tangan jika gadis itu harus segera pergi dari sana.


......***......


Keesokan harinya, Ana sedang merias dirinya di depan cermin. Ia mematut diri agar tampil mewah di depan para tamu undangan. Terlebih hari ini adalah hari pernikahan sepupu tersayangnya. Meski semalam mereka melakukan hal gila, tapi semua itu akan Ana lupakan. Entah apa yang terjadi dengan penari pria itu. Karena saat Ana kembali, pria itu sudah tidak ada dan baju-baju milik teman-temannya berserakan di lantai. Ana tak berani bertanya karena itu adalah pribadi teman-temannya.


Jessline dan Mike akan menikah di tempat terbuka dekat pantai. Semilir angin pantai buatan di pagi hari membuat suasana semakin syahdu kala pengantin wanita mulai memasuki altar pernikahan didampingi oleh ayahnya.


Jessline tersenyum bahagia kearah Ana. Ana memberi kecupan jarak jauh seraya memberi ucapan selamat padanya. Sang pengantin pria telah menunggu dengan harap-harap cemas. Berkali-kali Mike mengatur nafasnya agar tidak terlalu gugup.


Janji pernikahan pun akhirnya menggema di tempat itu. Mike dan Jessline saling bertukar cincin dan melempar buket bunga kearah para tamu undangan.


Seorang pria dingin dan tampan ternyata mendapatkan buket bunga yang dilempar Jessline. Ana tercengang melihat pria penerima buket bunga yang adalah pria yang ia temui semalam.


"Dia? Jadi benar jika dia adalah tamu undangan pernikahan Jessline. Tapi siapa dia? Apa dia rekan bisnis Uncle Alonso?" batin Ana bertanya-tanya. Padahal sebenarnya Ana sangat ingin mendapat buket bunga itu. Tapi apalah daya ternyata buket bunga itu bukan miliknya.


Acara pesta pernikahan dilanjutkan dengan resepsi mewah di resort itu. Para pesohor negara itu berdatangan dan disambut oleh Alfonso juga Alonso. Kebanyakan yang datang adalah rekan bisnis keluarga Gerardo. Tidak banyak teman-teman Jessline yang datang.


Grey hanya berdiam diri di meja paling pojok dengan menyesap wine yang disediakan oleh si empunya hajat.


"Tuan, apa tuan tidak ingin mengucapkan selamat kepada kedua mempelai?"


"Jika kau ingin kesana, silahkan saja! Aku tidak berminat." jawab Grey santai.


Black memutar bola matanya malas. "Baiklah. Akan kusampaikan salam dari Tuan Alfred." balas Black kemudian berlalu dari hadapan Grey.


Grey kembali meneguk wine yang ada di mejanya. Matanya tertuju pada kehebohan yang dibuat oleh sang pengantin wanita dan teman-temannya. Grey tersenyum seringai kala melihat gadis yang semalam ditemuinya. Ternyata gadis itu adalah kawan si mempelai wanita, pikir Grey.


......***......


Keesokan harinya, Ana terbangun cukup siang karena semalam pesta pernikahan Jessline berlangsung cukup lama. Sebenarnya setelah menjelang malam, para tamu undangan mulai berpamitan pulang, namun apalah daya Ana, Jessline selalu punya cara untuk membuatnya terus sibuk dengan permainan-permainan konyolnya bersama si kembar.


Ana mengerjapkan mata merasakan sinar mentari lolos masuk ke jendela kamar hotelnya. Rasa bahagia karena telah melewai satu hari yang penting untuk orang yang ia sayangi. Baginya Jessline lebih dari seorang saudara, lebih dari seorang sahabat. Mungkin jika Ana harus kehilangan seluruh hartanya baginya itu tidak berarti apapun dibanding harus kehilangan seseorang seperti Jessline.


"Kak Ana!!!" pintu kamar Ana diketuk oleh Alvin.


Beruntung Ana baru selesai membersihkan diri. Ia segera membuka pintu.


"Alvin! Ada apa? Aku pasti akan datang untuk sarapan bersama."


"Kak... Ini bukan masalah sarapan."


"Eh? Ada apa?" Ana menangkap ekspresi panik di wajah adiknya. Ia segera menutup pintu kamarnya dan mengikuti langkah adiknya yang ternyata menuju kamar ayahnya.


"Dad? Ada apa?" Ana juga menangkap kecemasan di wajah ayahnya.


"Ana, kita harus segera pulang ke rumah. Seseorang sudah menunggu kita di rumah."


"Sudahlah, Kak. Sebaiknya bereskan barang-barang Kakak. Kita ke rumah sekarang!" Disaat begini Alvin bersikap dewasa.


Ana segera kembali ke kamarnya dan membawa tas besarnya keluar. Ia melihat sekeliling. Ia tak melihat keberadaan paman dan sepupunya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Ana.


.


.


.


Tiba di mansion keluarga Gerardo, beberapa orang telah berkumpul disana. Ana sama sekali tak mengenal orang-orang itu.


"Dad, siapa mereka? Kenapa mereka ada di rumah kita?" tanya Ana polos.


"Biar Daddy yang bicara dengan mereka." Alfonso menghampiri beberapa pria yang sudah duduk di ruang tamunya.


"Maaf, sebenarnya kalian siapa? Kenapa bertamu sepagi ini ke rumah kami?" tanya Alfonso dengan sopan.


Namun respon yang diberikan salah satu pria tidaklah yang seperti Alfonso kira.


"Kembalikan uang kami!" ucap pria bertubuh besar itu.


"Uang apa?" tanya Alfonso.


"Ini!" orang itu melemparkan sebuah berkas ke arah Alfonso hingga kertas-kertas itu berserakan di lantai.


"Hei, Tuan! Kau sangat tidak sopan!" kesal Ana karena pria itu tidak memiliki sopan santun kepada yang lebih tua.


Hampir saja Ana maju ingin melawan pria berbadan besar itu, namun ditahan oleh Alvin. Alfonso memungut berkas-berkas itu satu persatu.


"Apa ini?" tanyanya dengan mengibaskan satu berkas. Setelah membacanya Alfonso masih tidak mengerti.


"Dengar, Tuan Alfonso. Adik Anda, Tuan Alonso meminjam uang pada kami berjumlah puluhan juta Pounds. Dan sebagai jaminannya jika dia tidak bisa melunasi hutang adalah rumah Anda ini." jelas pria besar itu.


Bagai tersambar petir di pagi hari, Ana, Alfonso dan Alvin bergeming tak percaya.


"Tidak mungkin!!!" Alfonso menolak untuk percaya. "Untuk apa adikku melakukan semua ini, huh? Kalian jangan mengada-ada."


"Dengar, Tuan. Kau bisa memeriksa semua berkasnya di kantor kami."


"Tapi rumah ini adalah rumahku! Rumah anak-anakku!"


"Aku tidak mau tahu. Yang jelas sudah sah jika rumah ini menjadi jaminan. Anda bahkan membubuhkan tanda tangan Anda di surat ini." pria itu menyodorkan selembar kertas yang katanya terdapat tanda tangan Alfonso.


Alfonso segera merebut kertas itu dari tangan si pria besar. Alfonso sangat terkejut dengan apa yang dibacanya. Dadanya sesak dan nafasnya mulai tersengal.


"Daddy!!!" Ana segera memegangi ayahnya yang akan terjatuh.


"Kosongkan tempat ini segera! Jika tidak, kami akan berbuat kasar pada kalian!" setelah mengatakan apa yang perlu ia katakan, pria besar beserta beberapa anak buahnya segera angkat kaki dari rumah Ana.


Alfonso kini tak sadarkan diri. Ana berteriak agar menyiapkan mobil dan membawa ayahnya ke rumah sakit. Ana menangis ditengah usahanya membawa sang ayah. Alvin masih terdiam dan tidak memahami situasi yang terjadi.


"Dokter, tolong Daddy ku!!!" teriak Ana ketika tiba di lobi rumah sakit.


Beberapa perawat segera memindahkan tubuh Alfonso ke brankar rumah sakit dan segera memeriksanya. Sementara Ana dan Alvin menunggu di ruang tunggu. Ana memeluk tubuh adiknya.


"Kak, sebenarnya apa yang terjadi?" Alvin kini tak bisa menahan air matanya.


"Tenanglah! Kakak yakin semua akan baik-baik saja." Ana memeluk erat adiknya. Meski hatinya juga sangat gusar namun sebisa mungkin ia bersikap tegar untuk menguatkan hati adiknya.


Ana berjalan mondar mandir di depan ruang IGD namun tak satupun perawat atau dokter yang memberitahunya mengenai kondisi ayahnya. Hingga akhirnya satu dokter muda menemui Ana dan Alvin.


"Dokter, bagaimana kondisi Daddy?" tanya Ana tak sabar.


"Maaf, Nona. Ayah Anda mengalami serangan jantung dan juga ada gejala stroke."


"A-apa?" Ana menutup mulutnya tak percaya.


"Untuk beberapa hari kedepan, Ayah Anda harus dirawat di rumah sakit untuk mengetahui perkembangannya lebih lanjut. Kalau begitu saya permisi." Dokter itu pamit undur diri.


Ana menatap sendu adiknya.


"Kak, apa yang harus kita lakukan?"


"Kakak juga tidak tahu. Yang jelas, kita harus menyembuhkan penyakit Daddy lebih dulu."


"Lalu soal rumah kita? Kita akan tinggal dimana jika rumah kita disita?"


Ana baru ingat jika petaka di keluarganya mulai mencuat. Seorang perawat memberi tahu jika Alfonso sudah dibawa ke kamar perawatan. Alvin dan Ana mengikuti langkah perawat itu.


"Kau temani Daddy ya didalam. Aku akan pergi menelepon." ucap Ana.


"Iya, Kak." Alvin segera masuk kedalam kamar.


Sementara Ana membuka ponselnya dan menghubungi nomor Alonso.


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar servis area..."


"Apa ini? Kenapa nomor Uncle Alonso tidak aktif? Aku akan coba hubungi Jessline."


Dengan tangan gemetar, Ana mencari nama Jessline di ponselnya.


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar servis area. Cobalah beberapa saat lagi..."


Ponsel yang ditempelkan ke telinga Ana seketika luruh terjatuh bersamaan dengan tubuh Ana yang juga meringsut di lantai. Kepala Ana mulai berdenyut kencang. Semua rangkaian peristiwa membahagiakan yang terjadi kemarin terus terulang dalam pikirannya. Namun hari ini semua memori itu bagai hilang tak berbekas. Mata Ana terpejam karena merasa tubuhnya tak kuat lagi menahan rasa sesak di hatinya. Ana pun jatuh pingsan.


#bersambung...


*Ikutan nyesek pas bikin part akhir 😥😥😥


Jangan lupa jejak dukungannya ya genks. karena kaleyan adalah semangatku 😚😚😚