
...Perhatian:...
...Kisah ini bergenre Adult-Romance...
...Harap Pembaca Bijak Menyikapi...
...Terima kasih...
......***......
Grey menatap kepergian Ana dengan tatapan dinginnya. Sungguh ia tidak akan memberikan ampun meski Ana telah memohon padanya. Todd dan Black kembali ke ruangan itu dan menemui Grey.
"Tuan... Apa yang terjadi dengan Nona Ana?" Todd memberanikan diri bertanya.
"Keluarga penipu tetaplah penipu, Todd. Beruntung aku ada disini dan dia tidak menemuimu. Aku yakin kau pasti akan tersentuh dengan permohonan manisnya dan kau tertipu olehnya." ucap Grey mengepalkan tangan.
"Tuan jangan berlebihan. Nona Ana bukan orang yang seperti itu. Dan sejujurnya aku kurang setuju jika kita membebankan semuanya pada Nona Ana dan ayahnya. Mereka tidak bersalah, Tuan. Jika Tuan Alfred tahu mengenai masalah ini, beliau pasti tidak akan setuju dengan apa yang Tuan lakukan pada Nona Ana."
"Cukup, Todd!!! Kau tidak berhak menentukan apa yang harus aku lakukan dan apa yang tidak. Ini adalah bisnis. Meski ayahku berteman baik dengan ayah Ana, tetap saja itu tak bisa dibenarkan. Sebaiknya kau tetap menuruti perintahku jika kau masih menyukai pekerjaanmu." Grey berlalu pergi dari ruangan itu bersama dengan Black.
Sementara itu, Ana berjalan gontai setelah menemui Grey. Hatinya begitu sakit dengan penghinaan yang dikatakan Grey padanya.
"Daddy... Bagaimana ini? Katakan aku harus bagaimana?" Ana menangis jatuh tersungkur begitu tiba di rumahnya. Ana menangis sekencang-kencangnya. Ia ingin menumpahkan semua kesedihan dalam hatinya.
Setelah puas menangis, Ana kembali termenung. Memikirkan satu demi satu hal yang akan dilakukannya di keesokan hari. Ana memilih membersihkan dirinya di kamar mandi. Penampilannya kacau dengan mata sembab akibat menangis.
Usai membersihkan diri, Ana menatap dirinya didepan cermin. Bisa dibilang Ana memiliki wajah yang cantik. Bahkan tanpa sapuan riasan wajahpun ia tetap cantik. Dan bentuk badannya, juga termasuk body goals meski ia tidak memiliki tinggi yang semampai bak model papan atas.
Ana memegangi wajahnya. Ia mengingat apa yang ditawarkan oleh Grey tadi.
"Daddy... Apa aku harus menerima tawaran Tuan Dingin itu? Aku harus merelakan masa mudaku untuk bekerja di klab malam. Apa Daddy setuju?" Ana tersenyum getir. Ia bermonolog didepan cermin.
Air matanya sudah tak keluar. Sudah cukup banyak ia menangis hari ini. Ia tak boleh menangis lagi. Kepingan memori kebersamaannya saat bersama Jessline dan si kembar kembali terlintas. Rumor tentang Tuan pemilik klab malam The Devil mengisi ingatan Ana kali ini.
Ana membulatkan tekadnya. Ia bicara pada dirinya sendiri. "Maafkan Ana, Dad. Ana harus melakukan ini untuk kita. Ana harap Daddy tidak akan kecewa pada Ana saat bangun nanti." Ana memejamkan matanya. Ia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo, Nona. Apa kau sudah membuat keputusan?"
"Iya. Aku bersedia menerima tawaran Anda."
"Baiklah. Kutunggu kedatanganmu di klab malam ini. Jika kau tidak datang, bersiaplah untuk tak pernah bertemu lagi dengan ayahmu."
Telepon terputus.
Ana menghela nafas kasar. Ia kembali memantapkan hatinya. "Ini adalah yang terbaik. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk keluargaku." ucap Ana penuh keyakinan.
......***......
Dan disinilah Ana berdiri. Menatap bangunan yang dijaga oleh pria-pria bertubuh besar dan tampang yang seram. Ana mengatakan maksud dan tujuannya datang ke klab. Penjaga bertubuh besar itu memberi tahu jika Grey sudah menunggunya.
Dengan langkah hati-hati, Ana kembali bertemu dengan Black. Pria itu segera membawa Ana untuk bertemu dengan Grey.
Ana terkejut ternyata Black tidak membawanya ke ruang yang kemarin. Sebuah ruangan yang agak jauh dari hingar bingar suara dentuman musik dipilih Grey untuk malamnya bersama Ana.
"Silahkan masuk! Tuan Grey sudah menunggu didalam." ucap Black.
Ana mengangguk paham kemudian mengetuk pintu lalu masuk kedalam ruangan yang lebih besar dari sebelumnya. Ana melihat Grey sedang duduk di sofa dengan menyesap wine.
"Kau sudah datang rupanya. Kemarilah!" Grey menepuk sofa disebelahnya.
Ana mendekat dan duduk disamping Grey.
"Kau tahu, semua gadis yang melamar disini harus melewati tahap seleksi yang tidak biasa."
"Hah?!" Ana tertegun karena Grey tidak berbasa-basi lebih dulu.
"Kau pasti sudah mendengar rumornya. Benar 'kan?"
Ana mengangguk pelan. Sungguh ia tak ingin berada di situasi yang seperti ini.
"Sesuai dengan peraturan disini, maka kau harus bisa memuaskan diriku terlebih dahulu sebelum kau memuaskan para pria kaya itu."
"Kau bersedia, bukan?" Tanya Grey menatap Ana dengan masih sama dingin.
"I-iya, aku bersedia. Tapi...."
Grey mengerutkan kening.
"Aku memiliki syarat." ucap Ana dengan susah payah.
"Apa syaratnya? Kurasa kau harusnya tahu kau tidak dalam posisi untuk mengatur.
"Aku ingin Tuan membayar biaya tambahan untuk ini karena aku masih perawan." ucap Ana tegas.
"What?! Are you serious? Mana ada gadis masih bersegel di jaman sekarang ini?"
"Ada! Akulah gadis itu!" tegas Ana lagi. "Aku ingin selain Tuan menganggap hutang ayahku lunas, aku juga minta kompensasi dari apa yang telah kulepaskan."
Grey berdecak kesal. Ia bangkit dari duduknya dan memijat pelipisnya pelan. "Berapa yang kau minta?"
"100 juta Pounds," tegas Ana lagi.
Grey tersenyum seringai. "Baiklah. Apa jaminannya jika yang kau katakan itu tidak benar?"
"Aku berani bersumpah! Kau bisa membunuhku jika aku berbohong."
"Cih, aku bukan malaikat pencabut nyawa, Nona. Baiklah. Aku setuju! 100 juta Pounds jika terbukti kau masih perawan." Grey mengulurkan tangan kearah Ana yang masih duduk di sofa.
Ana segera bangkit dan menerima uluran tangan Grey. Sejenak mata mereka beradu. Ada sedikit rasa tak biasa saat Grey menatap wajah teduh itu.
"Baiklah, lakukan bagianmu, Nona." titah Grey.
"Eh?" Ana sedikit bingung dengan kalimat Grey namun sejurus kemudian ia mulai memahami apa maknanya.
Ana memulai dengan melepas kancing jas milik Grey. Tatapan tajam menghunus kearah Ana. Ana tahu jika Grey memandanginya amat intens. Ia terus menunduk untuk mengusir kegugupannya.
Setelah melepas jas milik Grey, Ana beralih ke kemeja putih yang di kenakan Grey. Dengan tangan gemetar Ana melepas satu persatu kancing kemeja itu. Grey hanya diam melihat aksi Ana yang menurutnya aneh itu.
Ana menelan saliva melihat tubuh kekar itu tanpa balutan kain sama sekali. Ana mengatur nafasnya yang amat gugup untuk melangkah lebih lanjut. Mereka saling berhadapan namun Ana masih tak bisa menatap wajah tampan Grey.
Hingga akhirnya keberanian untuk segera menyudahi permainan ini menyeruak dari dalam hati Ana. Ana mendongak menatap mata Grey yang juga sedang menatapnya.
Dengan keberanian yang berhasil ia kumpulkan, Ana mendekatkan wajahnya dengan wajah Grey. Ana sedikit berjinjit untuk bisa meraih sesuatu yang merekah disana.
Ana menyentuhkan bibirnya ke bibir Grey. Sejurus kemudian buliran bening lolos dari sudut mata Ana. Sejenak Grey merasakan gelenyar aneh saat bibirnya bersentuhan dengan bibir Ana.
Ana mencoba memberikan sentuhan pada bibir Grey. Ia tak pernah melakukan ini sebelumnya, tapi ia pernah menonton beberapa adegan film yang menampilkan scene berciuman. Ana mencoba menggerakkan bibirnya dan menyapu bibir Grey dengan gerakan lambat.
Grey masih mematung dan tak memberikan respon atas apa yang dilakukan Ana. Ia hanya berpikir jika gadis ini memang masih amat polos. Grey mulai menikmati sentuhan yang diberikan Ana meski gerakannya masih kaku.
Entah apa yang ada di pikiran Grey, untuk pertama kalinya ia mulai memiliki minat terhadap makhluk bernama wanita. Grey menarik tengkuk Ana lebih dekat dengannya. Ia membalas setiap sapuan yang dilakukan bibir Ana padanya. Justru kini Grey mulai menunjukkan kuasanya atas Ana.
Grey melahap habis bibir tipis Ana dan menyesapnya dalam, melu'mat dan mengeskplor lebih dalam ciuman yang mulai terasa panas itu. Grey menggiring tubuh Ana hingga sampai di atas ranjang dan membuat tubuh Ana kini berada dalam kungkungannya.
Mata Ana terpejam merasakan sentuhan Grey yang begitu dalam dan penuh hasrat. Air matanya terus mengalir di sela-sela aktifitas Grey yang kini mulai turun ke leher jenjang milik Ana. Menyesapnya pelan dan meninggalkan jejak disana.
Tangan Ana me'remas sprei dengan erat kala tangan Grey mulai menyingkap dress yang Ana pakai. Ya, Ana memakai dress berlengan pendek dengan panjang selutut dan bukan termasuk gaun seksi.
Grey merasa hawa panas merasuki tubuhnya. Ia ingin memiliki tubuh gadis ini untuk dirinya. Ia amat berselera malam ini. Tangis Ana terdengar pilu kala Grey mulai membuka resleting gaun yang ia pakai. Dan akhirnya menampakkan tubuh putih mulus Ana yang kini hanya berbalut kacamata hitam berenda dan segitiga pengaman dibawah sana.
Grey meraih gundukan kenyal yang masih padat dan banyak memberikan tanda disana. Grey berbisik dengan suara parau. "Kau yakin tidak akan pernah menyesal melakukan ini, Nona?"
Ana tak menjawab. Ia hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Grey kembali mencium bibir mungil Ana sambil tangannya bergerilya dan me'remas bukit kembar kenyal milik Ana.
Grey mulai mendengar isak tangis dari bibir mungil Ana. Seketika ia tersadar telah melakukan hal gila. Grey segera menarik diri dari tubuh Ana dan berjalan mengambil kemejanya lalu memakainya.
"Tidak! Ini tidak mungkin! Bagaimana bisa aku melakukan ini?" Grey merutuki dirinya sendiri. Ia segera keluar dari ruangan itu meninggalkan Ana sendiri yang tengah menangis pilu diatas ranjang.
#bersambung...
๐ฅ๐ฅ๐ฅberuntung Ana masih selamat...
*See you again tomorrow genks ๐๐๐