Raanjhana

Raanjhana
Trapped by Cold CEO : 07. Ketegaran Hati Ana




Ana kembali ke rumah sakit dengan langkah gontai. Ia mengatur nafasnya dan merapikan penampilannya. Ia tak mau terlihat kacau didepan adiknya. Ia harus saling menguatkan agar mereka bisa menghadapi ujian berat ini.


"Alvin! Kau sudah makan? Kakak bawakan ayam goreng Wac'D kesukaanmu," ucap Ana dengan menunjukkan bungkusan ditangannya diiringi senyum yang mengembang.


"Aku tidak lapar, Kak." jawab Alvin.


"Hei, jangan bicara begitu. Kita harus tetap makan agar kuat."


"Apa kakak sudah makan?"


"Iya, kakak sudah makan banyak hari ini." balas Ana dengan mengacak pelan rambut Alvin.


Usai menyantap makanan, Ana dan Alvin berbincang diluar kamar Alfonso.


"Kak, bagaimana? Apa kakak menemukan Uncle Alonso dan Kak Jessline?"


Ana menggeleng. Tidak ada gunanya membohongi adiknya. Alvin sudah beranjak dewasa dan Ana yakin bisa bertukar pikiran dengannya.


"Sudah kuduga! Sejak awal aku sudah curiga pada Uncle Alonso, Kak."


Ana tercengang. Ia menatap adiknya dengan sangat serius.


"Uncle Alonso sering datang ke rumah untuk meminta tanda tangan Daddy bahkan bukan di saat jam kerja. Tapi Daddy tidak curiga sama sekali padanya. Daddy hanya bilang itu adalah urusan bisnis. Sekarang semua terbukti jika Uncle Alonso hanya memanfaatkan Daddy."


"Tapi kenapa, Vin? Bukankah mereka kakak beradik? Dan Jessline? Dia baru saja menikah dan kini menghilang entah kemana." Ana semakin tidak mengerti dengan situasi ini.


"Kakak terlalu baik pada Kak Jessline. Padahal dilihat dari sisi manapun, dia itu selalu melihat Kakak dengan tatapan tidak suka. Dia iri pada kakak." terang Alvin. Akhirnya ia mengeluarkan semua kegundahan dalam hatinya.


"Apa? Itu tidak mungkin, Vin. Jessline bukan orang seperti itu."


"Sudahlah. Percuma saja aku bicara pada kakak. Meski sudah terbukti semua memang benar." Alvin kembali masuk ke dalam kamar.


"Alvin!!!" Ana memanggilnya namun Alvin tak menggubris. Ana mulai memikirkan kata-kata Alvin. Apa memang dirinya tidak peka dengan apa yang dirasakan Alvin?


Malam semakin larut. Alvin sudah tertidur di sofa ruang kamar itu. Ana memilih duduk di samping brankar dan memegangi tangan ayahnya. Beribu doa ia panjatkan agar ayahnya segera sadar. Tak terasa buliran bening kembali membasahi wajah cantiknya.


"Daddy... Bangunlah. Tolong bantu Ana untuk bisa menghadapi semua ini. Ana tidak kuat jika melihat Daddy begini." Ana menangis dalam diam. Ia tak mau mengganggu Alvin dan juga ayahnya yang masih terpejam. Lelah menangis, Ana pun terlelap dalam posisi duduk dan kepala yang ia sandarkan di tepi brankar.


......***......


Satu minggu kemudian,


Ana kembali menemui dokter dan menanyakan perihal kondisi ayahnya. Sudah seminggu namun ayahnya tak menunjukkan pergerakan apapun.


"Maaf, Nona. Sepertinya ayah Anda harus dipindah ke ruang intensif." ucap dokter yang menangani Alfonso.


"Apa, Dok? Ruang intensif? Tapi kenapa, Dok?"


"Nona sendiri tahu jika kondisi Tuan Alfonso tak merespon apapun. Bisa dikatakan jika beliau dalam keadaan koma."


Tubuh Ana melemas seketika. Air matanya sudah luruh sedari tadi tanpa suara. Hatinya begitu sakit melihat kondisi ayahnya.


Ana keluar dari ruangan dokter dengan tatapan kosong. Bahkan Alvin yang memanggilnya berulang kali sama sekali tak digubris oleh Ana.


"Kak!!!" Alvin mengguncang tubuh Ana. Dan barulah Ana sadar dari lamunannya.


"Alvin? Ada apa?" tanya Ana tanpa rasa bersalah.


"Harusnya aku yang bertanya. Apa yang dikatakan oleh dokter, Kak?"


"Tidak ada." jawaban Ana membuat Alvin semakin tidak mengerti dengan sikap kakaknya.


Ana seolah sedang berpikir keras. Ana kemudian menarik tangan Alvin lalu membawanya ke tempat yang sepi.


"Dengarkan kakak!" Ana memegangi kedua bahu Alvin. Alvin mendengarkan dengan seksama.


"Bukankah sudah waktunya pendaftaran universitas? Kau ingin menjadi Chef, bukan? Kalau begitu wujudkan mimpimu!" ucap Ana dengan nada tegas.


"Kak!"


"Kau harus menjadi orang yang sukses, Vin. Agar bisa membawa kita ke situasi yang lebih menguntungkan."


"Apa maksud kakak?"


"Dengar, kakak masih punya uang untuk mendaftarkanmu ke kampus favorit di Italia. Kau harus kuliah disana, Alvin."


Alvin menepis tangan Ana. "Apa kakak sudah tidak waras? Disaat Daddy masih terbaring lemah, aku harus kuliah? Tidak! Aku tidak mau!"


"Alvin! Dengarkan kakak. Hanya kau satu-sstunya harapan di keluarga ini. Kakak akan menjaga Daddy dengan baik. Dan kau! Lanjutkan cita-citamu. Kau mengerti?" Ana memohon dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi, kak..."


"Tidak ada tapi, Alvin. Kau harus tetap melanjutkan studimu. Kakak mohon!" Ana menangkupkan kedua tangannya dan memohon pada Alvin.


"Kak! Tolong jangan lakukan ini!" Alvin memeluk kakak semata wayangnya itu. Mereka pun terisak bersama di lorong yang sepi itu.


......***......


Ana mengemas barang-barang berharga miliknya dan juga ayahnya. Jangka waktu yang diberikan oleh lintah darat itu telah tiba. Ana dan Alvin kembali ke rumah mereka untuk berkemas. Meski belum tahu mereka akan tinggal dimana, tapi untuk sementara Ana memilih tinggal di rumah sakit.


Rencananya Ana ingin tinggal di kamar hotel yang ada di resort. Namun lagi-lagi Ana harus kecewa karena resort itu juga telah dijual dan bukan lagi milik keluarga Gerardo. Kini Ana mulai percaya dengan apa yang dikatakan Alvin padanya mengenai Alonso dan Jessline. Ana bertekad tidak akan melepaskan mereka walau mereka menuju neraka sekalipun. Ana ingin membalas semua penderitaan yang telah ia alami bersama ayah dan adiknya.


"Mike?" Ana mengernyit heran.


"Ana! Maaf aku baru sempat menemuimu. Perusahaanku pun mengalami masalah karena ulah Jessline dan ayahnya. Aku harus mengurus hal itu selama beberapa hari ini."


Ana menghela nafas. "Jadi, kau juga ditipu oleh mereka?"


"Yah, begitulah. Lalu, kau mau pergi kemana? Aku turut prihatin dengan apa yang menimpamu."


"Entahlah. Aku belum terpikir akan pergi kemana."


"Bagaimana kalau ke tempatku saja? Maksudku, aku memiliki flat yang tidak terpakai."


"Terima kasih, Mike. Tapi kurasa itu tidak perlu. Apa yang akan dikatakan oleh keluargamu jika kau menolongku? Mereka pasti membenci keluargaku saat ini."


"Yeah. Ayahku sangat marah saat tahu Jessline membawa kabur uang perusahaan. Tapi aku berusaha menutupinya agar tak beredar rumor yang berlebihan."


"Lalu, bagaimana dengan pernikahanmu?"


"Aku sedang mengurus pembatalan pernikahanku dengan Jessline. Tidak ada gunanya mempertahankan semua ini."


"Aku turut prihatin, Mike."


"Terima kasih, Ana. Kau memang wanita yang baik."


Sadar jika ada yang berbeda dalam tatapan Mike, Ana segera berpamitan. Ia tak mau berlama-lama bersama dengan mantan suami sepupunya itu. Untuk saat ini Ana juga tidak memikirkan tentang asmaranya. Ia hanya ingin fokus pada kesembuhan ayahnya.


Ana dan Alvin tiba kembali di rumah sakit. Kini Ana dan Alvin hanya bisa memandangi ayahnya dari luar kaca karena ruang intensif tidak memperbolehkan keluarga pasien untuk menemaninya meskipun ia sangat ingin berada disamping ayahnya. Ana menyewa sebuah rumah kecil dekat dengan rumah sakit agar bisa beristirahat saat malam hari.


"Apa semua barang-barangmu sudah kau kemas, Vin?" Tanya Ana.


"Sudah. Kak, apa perlu kita melakukan ini? Kurasa aku tidak perlu kuliah."


"Kau ini! Kakak sudah menyiapkan segalanya. Belajarlah yang rajin. Agar saat kau kembali nanti, kakak akan bangga padamu." Ana menepuk bahu Alvin.


"Terima kasih, Kak. Aku pasti akan membuat Daddy dan kakak bangga padaku. Tolong doakan aku!"


Setelah saling mengungkap rasa, Ana melepas kepergian Alvin yang akan menimba ilmu di Italia. Meski berat Ana berusaha tetap tegar dengan segala kondisi yang ada.


Ana tidak mengantar Alvin ke bandara karena ia takut tak bisa melepas adik semata wayangnya itu. Ana memilih kembali ke rumah sakit usai membersihkan diri. Mulai sekarang ia akan mulai mencari pekerjaan. Ana tak mau terus terpuruk dan larut dalam kesedihan.


Tiba di depan ruang intensif, Ana melihat kondisi ayahnya yang masih memejamkan mata. Ana hanya bisa memandanginya dari jauh. Hatinya sakit mengingat semua yang terjadi beberapa minggu ini.


Saat sedang meratapi kesedihannya, Ana dikejutkan dengan suara seseorang yang memanggilnya.


"Nona Ana!" suara berat seorang pria yang baru pertama kali ia dengar.


"Iya. Maaf, Anda siapa?" tanya Ana sopan pada pria yang memakai setelah serba hitam.


"Saya datang kemari untuk menyampaikan pesan dari bos saya."


"Siapa bos Anda?"


"Tuan Grey. Beliau adalah putra dari Alfred Ardana, rekan bisnis ayah Anda."


"Hah?!"


"Tuan Grey ingin bertemu dengan Nona."


"A-ada urusan apa bos Anda ingin bertemu denganku?"


"Nona sendiri sudah tahu apa urusan bos saya dengan Nona. Sebaiknya jangan mencoba untuk tidak datang. Ini!" Pria yang tak lain adalah Black memberikan kartu nama Grey pada Ana.


Ana membaca sekilas kartu nama itu. "The Devil Club?" gumam Ana.


"Nanti malam datanglah kesana. Jika tidak? Tuan Grey bisa melakukan apa saja kepada ayah Nona. Saya permisi!"


Ana hanya menatap nanar punggung pria yang baru saja menemuinya. Ana kembali menatap kartu nama itu. "Grey Ardana Putra?" Ana mengernyit.


"Astaga! Dia adalah orang yang dikatakan Cherly dan Celine saat malam itu. Apa yang dia inginkan dariku? Kenapa dia ingin menemuiku?" batin Ana dengan harap-harap cemas.


Pukul tujuh malam, Ana memutuskan untuk datang ke klab milik Grey. Ana menunjukkan kartu nama milik Grey pada penjaga didepan. Ana segera di arahkan untuk menemui Black.


Black yang menyadari kehadiran Ana segera menghampirinya. "Nona Ana! Mari ikuti saya!"


Ana hanya mengangguk. Sungguh ia tak menyangka jika isi dalam klab adalah seperti yang ia lihat saat ini. Banyak orang bercumbu tanpa takut rasa malu. Ya, tentu saja urat malu mereka mungkin sudah putus.


Ana diarahkan untuk memasuki ruang VVIP milik Grey. Ana sempat ragu. Tapi ia sudah tiba disini, tak mungkin juga ia mundur.


Ana mulai memasuki ruangan yang nampak redup itu. Terlihat sebuah ranjang di dalam kamar itu. Ana menutup mulutnya. Ia sangat ketakutan sekarang.


Tanpa Ana sadari, sepasang mata sudah duduk di sofa ruangan itu sambil terus menatap Ana. Ana yang mengira dirinya hanya sendirian di ruang itu, segera duduk di tepi ranjang. Area sofa tempat Grey duduk memang sengaja ia matikan saklar lampunya.


"Wah, wah, jadi kau sudah siap untuk bermain, Nona Anastasia Gerardo?" suara Grey membuat Ana terkejut dan memicingkan matanya.


Grey bangkit dari duduknya dan menghampiri Ana. Sontak Ana langsung berdiri ketika melihat seringai tajam dari wajah tampan Grey.


#tobecontinued


*Huft! Apa yang akan dilakukan Grey pada Ana? Tunggu kejutan berikutnya ya genks 😊😊😁😁


*Jangan lupa jejak dukungan untukku 😘😘