
Ana menatap makanan yang sudah disiapkan oleh Mike tadi pagi. Hingga siang hari Ana belum menyentuhnya sama sekali. Namun lambat laun perutnya merasakan lapar. Otaknya mulai berpikir jika ia harus makan banyak agar bisa memikirkan cara untuk kabur dari tempat itu.
Ana menyuapkan makanan kedalam mulutnya hingga tandas. Ia juga meminum susu yang disediakan Mike.
"Dasar brengsek! Ternyata kebaikanmu adalah palsu. Kau sama saja dengan Jessline dan Uncle Alonso. Kalian akan mendapat hukuman yang setimpal untuk ini." sungut Ana dengan berapi-api.
Usai menyantap makanan, Ana merasa tubuhnya lengket. Ia menuju kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk merendam tubuhnya. Ia merebahkan tubuhnya didalam bathup. Bayangan wajah Grey melintas dalam benaknya. Air matanya tiba-tiba lolos mengaliri pipinya.
"Maafkan aku, Grey. Aku sudah salah menilaimu. Tapi, harusnya sejak awal kau jujur padaku jika kau ingin memberi pelajaran pada Jessline. Ini semua tidak akan terjadi jika kita saling jujur." gumam Ana disertai isak tangis.
Usai membersihkan diri, Ana menuju walk-in-closet yang ada di kamar apartemen itu.
"Sebenarnya ini dimana? Semoga ini masih berada di wilayah kota London." gumam Ana.
Ia memilih baju yang menurutnya sopan. "Ternyata si brengsek itu sudah menyiapkan semuanya. Dasar baji'ngan!!!" Ana benar-benar kesal terhadap Mike.
Setelah mengganti pakaian, Ana mencari sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai senjata. Ia menuju dapur dan mencari pisau atau apapun yang bisa ia gunakan sebagai senjata.
"Sial!!! Tidak ada apapun disini! Dia pasti sudah menyiapkan semua ini."
Ana kembali menggeledah semua tempat untuk bisa menemukan benda tumpul atau semacamnya.
"Aarrgghh!!!" Ana mengerang kesal karena tak bisa menemukan apapun. Ia melirik kearah balkon.
"Gila! Tinggi sekali! Aku bahkan akan mati lebih dulu jika melompat." Ana mendesah kasar.
"Grey! Kumohon temukan aku!" pinta Ana dengan sangat.
......***......
Grey memberi pelajaran pada pria tua yang ia sekap beberapa hari lalu. Jejak Alonso yang tengah berada di Maldive bisa diendus oleh anak buah Grey dan membawanya kembali ke London.
Dengan membabi buta Grey meminta anak buahnya untuk memukuli pria paruh baya itu agar membuat Jessline buka suara perihal keberadaan Ana. Namun ternyata Jessline bergeming dan hanya menatap nanar ayahnya yang sudah babak belur.
Bahkan Alonso memohon agar Jessline menyelamatkannya, tapi hati gadis itu sama sekali tak tergerak.
"Kau memang anak yang buruk, Jessline. Kau bahkan tak merasa kasihan pada ayahmu yang sudah terluka parah karena menolongmu." ucap Grey dengan menggeleng pelan.
"Seorang ayah yang tak bisa membahagiakan putrinya tidak pantas disebut ayah." Jessline berucap dengan nada bergetar.
Alonso menatap nanar putrinya itu.
"Apa yang sudah Daddy lakukan untukku, huh?! Daddy hanya bisa menjadi budak untuk kakak Daddy sendiri tanpa memikirkan perasaanku. Aku adalah putrimu, Daddy!" Teriak Jessline.
"Kau bahkan selalu membanggakan Ana dan tak pernah menganggapku ada. Aku hanyalah putri bayangan untukmu!" tangis Jessline pecah.
Grey hanya bisa menghela nafas. "Lalu, apa yang harus kulakukan dengan pria tua itu?"
Jessline menghapus air matanya kasar.
"Lenyapkan saja dia! Aku tak butuh ayah seperti dia!" ucap Jessline enteng.
Grey mengedikkan bahunya. Ia menghampiri Black dan menepuk bahunya.
"Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa dengan mereka. Kau lakukan saja apa yang menurutmu pantas untuk hukuman mereka." Grey berlalu dari tempat yang mirip dengan gudang tua itu.
Saat Grey akan memasuki mobilnya, seorang pria muda menghampirinya.
"Aku tahu dimana keberadaan Nona Ana." ucap pria itu.
Grey membulatkan mata. "Siapa kau?" tanyanya.
"Aku Marc. Aku adalah mantan kekasih Nona Jessline sekaligus supir pribadinya."
"Kau yakin kau tidak berbohong?" Grey menatap Marc kemudian menatap Simon.
Marc yang awalnya berada di sisi Jessline tiba-tiba berubah haluan saat Jessline berencana ingin menggoda Grey dan berencana tidur dengan Grey. Marc menghilang selama beberapa hari namun tetap mengawasi gerak gerik Jessline dan juga Mike. Marc tidak ingin melakukan kejahatan lagi. Ia ingin hidup dengan baik sebagai orang biasa yang tidak dikejar rasa bersalah.
Berbekal informasi dari Marc, Grey dengan membawa anak buahnya menuju tempat yang ditunjukkan Marc. Beruntung Mike membawa Ana ke sebuah apartemen yang masih berada di London.
Grey berjalan cepat menuju lantai yang dimaksud. Simon dan anak buahnya sudah siap untuk menghabisi anak buah Mike.
Sementara itu, Ana sedang meringkuk ketakutan karena seringai Mike yang mengerikan yang ingin menyetubuhi dirinya. Ana terus menghindar. Namun nahas, tubuhnya tak sekuat tubuh Mike untuk melawan lagi.
Ana pasrah saat Mike sudah mengungkungnya dan memberi beberapa tamparan di pipi Ana. Mike merobek baju yang dipakai Ana.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Ana tetap berontak dan mendorong tubuh Mike. Air matanya telah lolos sedari tadi.
"Hentikan, Mike! Kumohon jangan! Kau adalah orang baik!" Ana masih berusaha memohon.
"Menurutlah, Ana. Aku akan memuaskanmu malam ini. Aku yakin setelah ini Grey tidak akan mau lagi menyentuhmu. Jadi, kau hanya akan jadi milikku saja."
Ana meludahi wajah Mike dan membuat Mike makin brutal. Ia kembali menampar wajah Ana berulang kali hingga akhirnya Ana tak memiliki tenaga lagi untuk melawan.
Mike berusaha melepas sisa-sisa pakaian di tubuh Ana. Ana hanya bisa pasrah dan menangis dalam kepiluan.
Mike mencoba meraih bibir Ana namun Ana selalu menghindar. Hingga akhirnya Mike berhasil meraih leher Ana dan memberikan jejak disana. Mike merobek baju Ana hingga hanya menyisakan pelindung berenda di dada Ana. Mike kembali memberikan kecupan-kecupan paksaan yang membuat Ana berteriak. Sungguh ia merasa jika dirinya amat kotor sekarang.
Ditengah aktifitasnya melahap tubuh bagian atas Ana, Mike terkejut karena pintu kamarnya berhasil di dobrak oleh Grey dan Simon.
"Brengsek!!!" Grey segera menghampiri Mike yang sedang berada diatas tubuh istrinya. Grey memberikan pukulan membabi buta lalu melemparkan tubuh Mike pada Simon.
"Bawa dia dan berikan hukuman yang setimpal untuknya!" perintah Grey dengan mata memerah karena amarah yang memuncak.
Grey segera menyelimuti tubuh Ana yang hampir terekspos bagian atasnya. Grey memeluk Ana dan menenangkannya.
"Aku disini! Jangan takut! Aku ada disini!" Grey mendekap Ana yang tangisnya makin pilu. Sungguh ia tak sanggup mendengar tangisan wanita yang amat ia cintai itu.
Grey membawa Ana dari tempat itu dengan terus memeluknya erat. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah panggilan dari Alfred.
"Halo, Dad."
"..........."
"Iya, aku sudah menemukannya."
"........."
"Kami sedang menuju pulang ke rumah."
Panggilan berakhir. Grey kembali memberikan kecupan di puncak kepala Ana.
"Maafkan aku, Ana. Karena aku kau hampir saja dilecehkan oleh baji'ngan itu. Maafkan aku!" Grey memeluk Ana dengan erat dan tak akan melepaskannya lagi.
......***......
#bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘
👍LIKE
💋COMMENTS
🌹GIFTS
💯VOTE
...THANK YOU...