Raanjhana

Raanjhana
Trapped by Cold CEO : 34. Penolakan Alfonso



Ana kembali ke kamar ayahnya setelah mengantar Grey yang akan kembali ke kantornya. Sebelumnya Ana meyakinkan Grey jika dirinya akan bicara dengan ayahnya. Ia berharap Alfonso bisa menerima pernikahannya dengan Grey.


Ana melangkahkan kakinya dengan ragu. Sikap ayahnya benar-benar sungguh berbeda dengan yang biasa ia kenal. Ia memasuki kamar rawat ayahnya dengan mengembangkan senyumnya.


"Dad..." sapa Ana.


"Kau harus menjelaskan semuanya pada Daddy, Ana. Bagaimana bisa kau tiba-tiba menikah dengan putra Alfred? Bukankah kita memiliki banyak hutang pada perusahaannya? Kenapa kau menikah secara terburu-buru? Apa kau memiliki perjanjian dengannya?"


Ana tidak percaya jika ayahnya baru saja terbangun dari koma akan menanyakan banyak pertanyaan padanya.


"Dad..."


"Jelaskan, Ana!"


"Baiklah. Aku akan menceritakan semuanya pada Daddy. Awalnya aku memang memiliki perjanjian untuk menebus semua hutang keluarga kita padanya. Aku bekerja sebagai pelayan di rumah Grey. Lalu aku..."


"Pelayan? Putri Daddy menjadi seorang pelayan? Tega sekali dia memperlakukanmu seperti itu!" Alfonso menggeleng pelan.


"Dad, dengarkan dulu! Aku tahu awalnya Grey memang bersikap kasar padaku, tapi lambat laun dia mulai berubah. Aku..."


"Apa kau tahu bisnis apa saja yang digelutinya?" Lagi-lagi Alfonso memotong kalimat Ana.


Ana menghela nafas. Rasanya sangat sulit bicara dengan ayahnya saat ini.


"Aku tahu, Dad. Bukankah Uncle Alfred adalah sahabat Daddy?"


"Alfred dan putranya sangatlah berbeda. Grey tidak seperti yang kau lihat, Ana!"


"Dad..." Ana mendesah pelan.


"Kau tahu bisnis klub malamnya? Apa kau tahu seperti apa dunia malam di kota ini? Daddy sangat menjagamu agar tidak terjerumus kedalam hal buruk seperti itu." Alfonso memalingkan wajahnya. Ia amat kecewa dengan Ana.


Ana berlutut di samping brankar ayahnya.


"Aku mengerti Daddy kecewa denganku. Aku menikah secara diam-diam disaat Daddy terbaring koma. Aku tahu aku salah. Jika Daddy ingin menghukumku, maka hukumlah. Tapi tolong restui pernikahan kami. Aku mencintai Grey, Dad..." Mata Ana berkaca-kaca dengan wajah tertunduk.


Alfonso tidak tega menatap putrinya yang merasa bersalah.


"Daddy tidak akan menghukummu. Tapi Daddy minta padamu ... tinggalkan pria itu!"


"Dad!!!" Ana mendongak protes.


"Kau adalah putri Daddy yang penurut. Daddy tidak suka kau membantah perintah Daddy."


"Dad, please... Aku mencintainya dan dia juga mencintaiku."


"Apa kau sudah bercinta dengannya?" tanya Alfonso dengan senyum getir.


"Dad!!"


"Jawab, Ana!"


Ana menatap sendu kearah ayahnya.


"Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri, Dad."


"Kau!!! Sejak kapan kau jadi putri pembangkang, huh?!" Alfonso amat marah pada Ana. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Dad!!" seru Ana dengan memegangi tubuh Alfonso.


"Aarrgghh!!!" Alfonso mengerang kesakitan. Ana segera memanggil perawat.


Ana panik. Air matanya sudah mengalir deras.


"Nona silahkan tunggu diluar." perintah seorang perawat.


Ana pun menunggu di depan kamar rawat ayahnya. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Tangisannya pilu seiring dengan penolakan ayahnya terhadap Grey.


"Apa yang harus kulakukan?" batin Ana meronta mempertanyakan hal yang tak bisa dijawabnya.


......***......


Ana kembali ke apartemen dengan langkah gontai. Kondisi ayahnya sudah stabil namun tak bersedia ditemui oleh siapapun termasuk Ana. Kesedihan hatinya membuat Ana berjalan tak fokus dan hampir limbung.


Beruntung sebuah tangan kekar membantu Ana yang akan terjatuh.


"Ana? Ada apa?"


Ana mendongak mengenali suara yang menyapanya.


"Mike?"


"Wajahmu pucat. Kau baik-baik saja?"


"I-iya, Mike. Aku baik-baik saja."


"Pelu kubantu?"


"Tidak. Aku akan kembali ke kamarku saja. Sekali lagi terima kasih." Ana mohon pamit dari hadapan Mike.


Mike menatap kepergian Ana dengan seringai di wajahnya.


"Hmm, sepertinya Ana sedang tidak baik-baik saja. Apa hubungannya dengan si sombong itu mulai bermasalah? Ini bisa menjadi celah untukku." Gumam Mike.


Sementara itu, Jessline sudah tiba di London bersama Marc. Mereka menyewa rumah kecil di pinggiran kota London. Jessline tak ingin terlihat mencolok karena bisa saja itu membahayakan dirinya dan juga ayahnya.


"Apa kau yakin bisa tinggal di tempat seperti ini?" tanya Marc.


"Hmm, tempat ini lumayan, tidak terlalu buruk. Asalkan bersamamu tinggal dimana pun tak masalah."


Baru saja mereka pindah, Jessline sudah memberikan harapan-harapan untuk Marc agar pria itu tak mengkhianatinya. Marc tak tinggal diam. Ia selalu bisa mengimbangi gairah Jessline yang menurutnya berlebihan. Entah seperti apa hubungannya saat bersama Mike dulu. Sepertinya mereka selalu melalui percintaan yang panas tiap kali bertemu.


......***......


Grey pulang dari kantor dan disambut oleh senyum merekah Ana. Meski Ana bersedih dengan sikap ayahnya, tapi ia tak ingin Grey khawatir. Hubungan mereka akan tetap baik-baik saja meski Alfonso belum memberikan restunya.


"Kau pasti lelah, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu." ucap Ana.


"Bagaimana dengan ayahmu?" ternyata Grey masih memikirkan penolakan Alfonso terhadap dirinya.


"Jangan cemas. Daddy pasti bisa menerima pernikahan kita. Kita hanya harus bersabar dan berjuang saja." Ana merangkum wajah Grey.


"Sayang, itu artinya tadi kau tidak berhasil bicara dengan ayahmu?" tanya Grey cemas.


"Sudah kubilang jangan cemas. Aku tahu dengan baik siapa ayahku. Sudah, sebaiknya kau mandi dulu saja!" Ana mendorong tubuh Grey untuk masuk kedalam kamar mandi.


Ana kembali terdiam saat sosok Grey sudah menghilang dibalik pintu kamar mandi. Pikirannya masih tak tenang. Tapi sebisa mungkin ia akan mengontrol diri agar Grey tak curiga.


Ana sudah menunggu Grey di meja makan. Ia kembali mengembangkan senyum di depan suaminya.


"Aku masak makanan kesukaanmu." ucap Ana.


"Terima kasih. Kau pasti lelah setelah seharian berada di rumah sakit. Harusnya kau pesan makanan saja."


"Tidak. Aku mulai menyukai memasak. Apalagi jika memasak untukmu." imbuh Ana.


Tak ada percakapan berarti saat mereka sedang menikmati makan malam. Ana melihat Grey sangat menyukai makanan yang ia masak. Ana tersenyum bahagia karena bisa selalu bersama Grey.


Usai makan malam, Ana memilih untuk kembali ke kamar tidur, sedangkan Grey menuju ruang kerjanya untuk mengecek beberapa pekerjaan. Setelah menikah, Grey jarang pergi mengontrol klub malam miliknya. Ia meminta Black dan Simon untuk mengurus semuanya.


Ana berusaha memejamkan mata, namun rasanya masih berat. Kata-kata Alfonso yang memintanya untuk meninggalkan Grey tiba-tiba melintas.


Ana masih belum bisa jujur pada Grey. Ia takut kejujurannya akan membuat masalah menjadi runyam. Ia berguling ke kanan dan ke kiri untuk mencari posisi yang nyaman. Hingga akhirnya ia lelah dan terlelap dengan sendirinya.


Grey masuk ke kamar tidurnya dan melihat Ana sudah terlelap. Ia berasumsi jika ada yang disembunyikan oleh Ana. Ia akan menunggu hingga Ana bicara jujur padanya. Grey masuk kedalam selimut yang dipakai Ana dan memeluk tubuh istrinya itu. Ia memberikan kecupan-kecupan penuh cinta untuk Ana.


"Aku mencintaimu, Ana."


Ana yang merasa mendapat sebuah pelukan dan kecupan pun ikut melingkarkan tangannya ke tubuh Grey. Ia beringsut mendekap tubuh Grey mencari kenyamanan disana.


......***......


#bersambung...


*jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘😘


*Yuk mampir juga ke 👇👇👇