
Fendi membawa Diya ke sebuah café bernama Chocolatte Lover. Diya turun dari mobil dan mengikuti langkah Fendi. Diya memperhatikan interior cafe yang cukup rindang dengan banyaknya tanaman hias dan juga bunga-bunga di mejanya.
Fendi mempersilahkan Diya duduk. Diya pun tersenyum pada Fendi.
“Ternyata Kak Fendi masih sama seperti dulu. Dia selalu ramah dan sopan,” batin Diya.
Seorang pramusaji menghampiri meja mereka. Ia menyodorkan menu pada Diya dan Fendi. Diya memandangi menu sekilas kemudian menatap Fendi.
“Kenapa?”
“Umm, kenapa kakak mengajakku kemari?” Tanya Diya ragu.
Fendi tersenyum manis. “Karena aku masih ingat semua kesukaanmu. Kau sangat suka coklat, bukan?”
“Kakak…”
“Akan kupesankan yang terbaik disini.” Fendi menutup buku menu dan memesan menu pada pramusaji.
Diya semakin merasa tidak enak hati pada Fendi. Pemuda itu ternyata masih mengingat tentang dirinya.
“Kenapa lagi? Apa suamimu mencarimu?”
Diya menggeleng pelan.
“Kau tahu, suamimu adalah rekan bisnisku.”
“Eh?”
“Aku tidak menyangka jika kau akan menikahi duda kaya seperti Dirgantara Agung.” Nada bicara Fendi mulai sarkastik.
“Kak?”
“Aku hanya mengutarakan isi hatiku, Diya. Selama ini aku mencarimu.”
“Heh?”
“Aku mencarimu bertahun-tahun namun tak mendapat jawaban. Suamimu sudah menyembunyikanmu dariku.”
“Apa maksud kakak?” Diya mengerutkan kening.
“Baiklah, sekarang akan kukatakan semuanya padamu. Kau percaya padaku, ‘kan?”
Diya menghela nafasnya. Di satu sisi Diya menghargai suaminya, satu sisi Diya ingin mendengar semua cerita Fendi yang memang selalu ditunggunya.
Sementara itu, Dirga menyiapkan pesta kejutan untuk istrinya. Ia akan bicara jujur pada Diya. Dirga meminta Esih untuk menyiapkan makan malam istimewa untuknya dan Diya.
Dirga menunggu dengan setia istri
kecilnya itu. Namun hingga pukul tujuh malam, Diya belum juga pulang. Kegelisahan dan kekhawatiran mulai menyelimuti hati Dirga.
Dirga menghubungi Echa untuk mencari tahu posisi Diya.
“Tidak, Om. Aku tidak bersama Diya. Apa Diya tidak bilang jika Diya pergi dengan pria yang bernama Fendi. Iya, benar. Diya memanggilnya dengan sebutan Kak Fendi.” Papar Echa di seberang telepon.
Dirga mematung mendengar nama Fendi. Seketika tubuhnya lemas.
“Ada apa, Tuan?” Tanya Esih yang melihat Dirga mematung.
“Bi, pemuda itu sudah menemukan Diya.” Ucap Dirga lirih.
“Hah? Pemuda siapa, Tuan?”
“Fendi. Dia … “ Dirga tak mampu
melanjutkan kalimatnya.
*
*
*
Diya terdiam selama perjalanan pulang ke rumahnya. Rumah Dirga pastinya. Selama ini Diya hanya menumpang, begitulah pemikirannya kini.
Diya tiba di rumah Dirga. Ia berpamitan pada Fendi. Diya melambaikan tangan begitu mobil Dirga mulai menjauh dari
pandangannya. Diya mulai memasuki rumah yang sudah ia tinggali selama 15 tahun ini.
Dengan langkah ragu Diya melangkah masuk. Diya disambut oleh Dirga dan Esih.
“Sayang, kau sudah pulang? Om sangat mengkhawatirkanmu. Echa bilang kau pergi dengan Fendi.” Dirga membawa Diya kedalam pelukannya.
Ketika mendengar nama Fendi dari mulut suaminya, Diya mulai melepaskan pelukannya.
“Jadi, semua itu benar?”
“Eh?”
“Selama ini Om sengaja menyembunyikan Diya agar Kak Fendi tidak bisa menemukan Diya. Kenapa Om? Kenapa Om melakukan itu?” mata Diya mulai berkaca-kaca.
“Om tahu ‘kan kalau Diya menunggu
kedatangan Kak Fendi. Diya bersedia tinggal dengan Om karena Om janji akan mempertemukan Diya dengan Kak Fendi. Diya yakin jika Kak Fendi pasti akan datang.”
“Diya…” Dirga meraih kedua tangan Diya.
“Maafkan, Om. Om tidak bermaksud
membohongimu. Om pikir selama bertahun-tahun kalian tidak bertemu, kalian akan saling melupakan. Saat itu kau juga masih terlalu kecil untuk bisa mengingat tentang Fendi.”
“Diya melupakan tentang Kak Fendi karena Om yang membuat Diya melupakannya.” Diya melepaskan genggaman tangan Dirga.
Dirga menggeleng pelan. “Tidak! Kau tidak boleh pergi, Diya! Om sangat mencintaimu.”
“Biarkan Diya sendiri dulu, Om. Maaf jika harus begini.” Diya melangkah pergi meninggalkan Dirga yang bergeming dengan mata memerah. Tubuhnya bergetar menahan tangis.
Esih menghampiri Dirga. “Tuan! Maafkan sikap Nona Diya. Nona masih terlalu muda. Pasti dia terbawa egonya. Tuan bersabarlah! Bibi yakin jika Nona pasti akan kembali pada Tuan. Toh Tuan dan Nona sudah
menikah. Ikatan cinta suami dan istri pastilah sangat besar dibanding dengan cinta monyet masa kecil.”
Dirga mengangguk paham. Ia akan
membiarkan Diya agar bisa berpikir jernih. Tidak mungkin bukan ikatan
pernikahan mereka hancur karena kedatangan seseorang dari masa lalu?
*
*
*
Fendi kembali ke rumahnya dan disambut oleh Ahdan yang sudah menunggunya. Ahdan membawa beberapa berkas yang harus
segera Fendi tanda tangani. Meski sudah bukan waktunya untuk bekerja, namun Fendi bukan orang yang suka menunda pekerjaan.
Ahdan merasa aneh dengan bosnya yang terus tersenyum bahagia. Bahkan saat menandatangani dokumen yang ia berikan pun, Fendi terus tersenyum.
“Apa ada hal yang membuat Tuan bahagia hari ini?” Tanya Ahdan dengan hati-hati.
“Tentu, Ahdan. Aku sangat bahagia hari ini. Aku berharap hari ini tidak segera berakhir.”
“Apa semuanya berjalan sesuai dengan rencana Tuan?”
“Yap, tentu saja. Aku yakin jika Diya
pasti akan membenci suaminya.”
“Tuan…”
“Apa?! Kau ingin menasehatiku, hah! Jangan sok pintar, Ahdan. Sudah kubilang aku tidak suka jika apa yang harusnya menjadi milikku dimiliki oleh orang lain.”
Ahdan hanya terdiam karena Fendi yang arogan kembali muncul. Sejak kematian ibunya, Fendi banyak berubah. Ia yang penuh perhatian berubah drastis menjadi pria pemberontak dan berbuat sesuka
hatinya. Entah apa yang akan ia lakukan pada Dirga jika ternyata cinta Dirga dan Diya tidak bisa terputus olehnya.
#bersambung…