
Sudah hampir satu minggu Sivia hilang tanpa kabar. Adniyan mulai khawatir. Namun ia bingung karena tak tahu harus bercerita pada siapa. Raga yang setiap hari bersama dengannya mulai merasa kalau ada yang aneh dengan bosnya.
Raga juga mulai curiga karena secara tiba-tiba Bayu juga ikut menghilang. Saat bertanya pada Aryan, dia menjawab kalau dia tak tahu kemana Bayu pergi. Tapi kali ini, Raga tak akan diam saja. Dia akan menanyai Aryan sekali lagi.
"Gue yakin kalo lo tahu sesuatu. Kemana Bayu? Ponselnya tidak bisa dihubungi." Raga mencecar Aryan.
"Gue gak tahu, beneran Ga! Gue juga berkali-kali hubungin dia tapi tetap gak aktif ponselnya."
"Apa dia bersama Sivia? Mereka pergi berdua? Iya kan?"
"Jangan gila, Ga! Ini gak masuk akal."
"Sivia sudah bertunangan. Lo harus sadar itu! Tunangannya berhak tahu tentang hubungan mereka. Please!! Kasih tahu dimana Bayu?"
"Gue beneran gak tahu. Tapi, Bayu yakin kalo Sivia ada disuatu tempat. Itu yang terakhir dia bilang sebelum pergi."
"Suatu tempat? Dimana?"
"Mana gue tahu!! Sumpah demi apapun gue gak tahu Bayu ada dimana!!"
Dan perdebatan merekapun berakhir dengan Raga mengalah dan meninggalkan Aryan.
...***...
Sore ini Sivia kembali ke penginapan. Seharian ini cukup melelahkan untuknya dan Bayu.
"Kamu yakin sudah baikan?" tanya Bayu untuk yang kesekian kalinya.
"Yakin. Jangan cemas. Aku beneran udah gak apa."
"Oke. Istirahatlah. Nanti malam kita ke acara api unggun."
"Api unggun?" Sivia mengernyitkan dahi.
"Iya. Alam mengundang kita untuk datang nanti malam."
"Alam?" Sivia tambah bingung.
"Umm, sorry. Aku belum cerita ke kamu. Dia adalah orang yang menolongmu tadi."
"Aah, begitu. Baiklah."
.
.
.
Malam harinya,
"Kamu yakin kita beneran boleh datang di acara ini?" tanya Sivia.
"Boleh. Alam sendiri yang mengundang kita."
"Tapi, acara api unggun ini kan---biasanya hanya untuk warga asli sini saja."
"Iya. Tapi, untuk kita, itu pengecualian." bisik Bayu di telinga Sivia.
Sivia mengernyitkan dahi. "Are you serious?"
"Udah, ikut aja." Bayu meraih tangan Sivia.
Acara Api Unggun di Desa Selimut, adalah acara tahunan yang diadakan oleh Kepala Desa untuk mengumpulkan warga, lalu menceritakan legenda Desa Selimut kepada generasi muda yang mulai tumbuh remaja.
Biasanya acara ini tidak pernah dihadiri oleh orang luar. Namun malam ini, terasa berbeda karena Sivia dan Bayu diundang untuk mendengarkan legenda desa yang sangat rahasia.
Selama Kepala Desa bercerita, Sivia dan Bayu mendengarkan dengan seksama. Mereka sangat serius. Dan mereka juga disumpah terlebih dahulu, tidak akan menceritakan kisah ini pada orang lain yang tidak terpilih.
Kepala Desa bilang, kalau Sivia dan Bayu adalah orang-orang terpilih yang boleh mendengarkan cerita legenda Desa Selimut. Terbukti dengan kedatangan mereka yang bertepatan dengan digelarnya acara Api Unggun tahunan.
Pukul sembilan malam, acara Api Unggun usai. Sivia dan Bayu berjalan kembali ke penginapan. Ditengah perjalanan Sivia menghentikan langkah.
"Ada apa?" tanya Bayu.
"Aku gak nyangka ternyata banyak sekali rahasia yang disimpan Desa ini. Aku bangga bisa mendengarkan legendanya."
"Hmm, aku pikir ada apa." Bayu memutar bola matanya.
"Jadi, sekarang giliranmu." ucap Sivia.
"Heh? Giliranku? Untuk apa?"
"Untuk menceritakan kenapa kamu pergi enam tahun lalu tanpa adanya sepatah katapun."
"Vi---"
"Ka-ta-kan!!! Dengan jujur!" Ucap Sivia sambil menghentakkan jari telunjuknya di dada Bayu.
"Baiklah. Akan kukatakan." Bayu menghela nafas. "Aku pergi karena aku harus menggantikan pekerjaan ayahku."
"Apa? Maksudmu jadi tentara?" Sivia menyela kalimat Bayu.
"Dengar dulu, Vi. Jangan menyelaku."
"Sorry--"
"Pekerjaan ayahku bukanlah seorang tentara. Dia ... adalah seorang agen. Lebih tepatnya, kami bekerja di bidang intelijen. Pekerjaan kami bukanlah pekerjaan mudah. Karena kami harus menyembunyikan identitas kami yang sebenarnya. Kami dibayar oleh negara untuk mengawasi beberapa kasus yang melibatkan beberapa negara luar."
"Aku tidak paham."
"Aku tahu. Ini sangat sulit untuk dimengerti oleh orang awam."
"Apa kamu ... seperti Ethan Hunt atau James Bond?"
"Tidak bisa dibilang begitu juga. Tapi hampir mirip."
"Oke. Aku mulai paham. Jadi, pekerjaanmu sangatlah rahasia. Seperti desa ini."
"Iya. Karena aku gak mau orang-orang yang aku sayangi terlibat dalam bahaya."
"Apa ibumu tahu soal ini?"
"Tentu saja. Makanya aku menyembunyikan dia di suatu tempat."
"Apa? Kamu menyembunyikan Tante Nancy?"
"Itu untuk kebaikannya."
"Lalu, sekarang aku tahu soal pekerjaanmu. Apa kamu akan menyembunyikan aku juga?"
"Kamu bukan siapa-siapaku, Vi. Dan kita tak punya hubungan apapun. Jadi---"
"I know." Sivia menyela dengan cepat.
Tiba-tiba suasana mulai kikuk karena ucapan terakhir Bayu. Dan Siviapun mulai kembali melangkahkan kakinya.
Lalu sampailah mereka di depan kamar Sivia. Mereka berdua masih diam.
"Terima kasih untuk malam ini," ucap Sivia.
"Iya. Sama-sama. Oh ya, Vi, bukankah sekarang harusnya giliranmu?"
"Eh? Giliranku?"
"Hu'um, kamu harus mengatakan yang sebenarnya."
"Tentang apa?"
"Alasanmu kenapa bisa ada disini."
"Itu..." Sivia ragu untuk menjawab lebih lanjut.
"Katakan saja! Kamu selalu bisa bercerita apapun padaku. You can trust me!"
Sivia berpikir sejenak. Kegalauan hatinya selama berhari-hari ini, haruskah dia ungkapkan sekarang pada Bayu?
"Baiklah. Akan kukatakan. Aku datang kemari karena ingin menenangkan diriku. Dan juga hatiku. Ada beberapa hal rumit yang sedang kuhadapi."
"Tell me!"
Sivia menatap masuk ke dalam mata Bayu. Ada kesungguhan dan kepercayaan disana. Sivia harus menceritakan kegalauan hatinya pada Bayu.
Sudah ada beberapa orang yang tahu soal ini. Tidaklah buruk menambah satu orang lagi untuk tahu. Batinnya.
"Aku ... dan Mas Iyan. Tidak! Maksudku ... calon kakak iparku ... adalah mantan kekasihku.
"What?!" Bayu tercengang.
"Maksudmu kakaknya tunanganmu adalah---mantan pacarmu, begitu?"
"Ya begitulah."
"Wow!!! It's so complicated, Vi."
"Yeah, I know." Sivia tersenyum getir.
"Entahlah..." Wajah Sivia nampak terlihat bingung.
"Sebaiknya aku masuk. Ini sudah malam. Kamu juga sebaiknya istirahat." Imbuh Sivia.
Sivia melangkahkan kakinya dan membuka pintu kamarnya.
"Tunggu, Vi!"
Sivia kembali berbalik. "Ada apa?"
"Ada yang harus kusampaikan."
"Soal apa?"
"Soal perasaanku---"
Suasana menjadi hening kembali. Sivia mulai bersikap canggung.
"Vi---" Bayu meraih tangan kanan Sivia dan menaruhnya di dada kirinya.
Bayu menatap Sivia lekat.
"Aku minta maaf, karena pergi tanpa pamit padamu. Sudah sangat terlambat memang. Tapi, aku tetap harus minta maaf padamu. Aku---sudah membuat lubang luka yang besar untukmu. Aku tidak pantas untuk dimaafkan."
Sivia mulai berkaca-kaca.
"Hari itu, aku memintamu untuk menungguku di taman belakang sekolah. Karena ada hal yang ingin kukatakan. Aku menyayangimu, Vi. Bukan hanya sekedar sebagai sahabat. Aku merasakan ada yang lain dihatiku. Selama enam tahun ini, aku tidak bisa melupakanmu. Aku hidup dengan terus merasa bersalah padamu."
Sivia menghela nafas. Ia memutuskan untuk tetap terdiam dan mendengarkan semua kalimat Bayu. Tangan kanannya masih berada di dada Bayu.
"Pasti sudah sangat terlambat untuk mengatakannya sekarang. Sudah enam tahun berlalu, tapi perasaanku masih sama seperti dulu. Kamu bisa merasakannya 'kan? Detak jantungku yang berdegup kencang saat bersamamu. Kamu dengar itu kan?"
"Dewa----"
"Aku tahu aku sudah terlambat. Karena sebentar lagi kamu akan menikahi orang lain. Tapi, aku masih berharap kamu akan memikirkannya kembali. Terlalu rumit jika kamu bersama dengannya."
"Dewa---"
"Aku mohon, Vi. Pikirkanlah kembali."
Sivia menarik tangannya dari dada Bayu.
"Maaf..." Sivia berbalik badan namun dengan cepat Bayu kembali menarik lengan Sivia hingga tubuhnya menabrak dada bidang Bayu.
"Dewa!" pekik Sivia.
"Aku akan melakukan apa yang harusnya kulakukan enam tahun lalu."
Bayu menarik tengkuk Sivia dan mulai mengikis jarak diantara mereka. Bayu mendaratkan bibirnya di bibir Sivia.
Sivia menolak. Namun Bayu semakin mendekapnya erat. Malam itu semakin hangat dengan sebuah kecupan panjang yang diberikan Bayu untuk Sivia.
Sivia tak lagi menolak. Ia justru terhanyut dan mulai membalas.
Bayu melepas tautannya. Di satukannya kening miliknya dan Sivia.
"Kamu tidak menolak, Vi. Itu artinya kamu juga merasakan hal yang sama."
Dengan mata berkaca-kaca, Sivia menatap Bayu. Bayu mengusap bibir Sivia yang bergetar. Sivia tak mampu menjawab apapun.
Bayu membawa Sivia kedalam pelukannya.
"Kita akan menghadapi ini bersama. Percayalah padaku!" ucap Bayu.
...***...
Tok
tok
tok
"Vi...!!!"
Tok tok tok
"Ayo bangun!!"
Sivia yang merasa baru terlelap sebentar akhirnya menyeret tubuhnya yang masih lunglai untuk membuka pintu.
"Apaan sih? Pagi-pagi udah berisik aja!"
"Cepatlah mandi! Kita akan pergi ke suatu tempat."
"Kemana? Aku masih ngantuk."
Bayu mengacak pelan rambut Sivia.
"Setelah tahu kamu gak akan ngerasa ngantuk lagi. Percaya deh!"
Bibir Sivia mengerucut. Dan itu membuat Bayu tersenyum lebar.
"Ayo cepat! Kamu gak akan menyesal sudah kubangunkan."
Tanpa kalimat bantahan lagi Sivia kembali masuk ke kamar dan bersiap-siap.
"Jangan lupa pakai baju hangat dan sepatu bootsmu!!" teriak Bayu dari luar kamar.
*
*
Bayu mengajak Sivia berkeliling desa. Lebih tepatnya seperti mendaki gunung. Menatapi pemandangan desa yang sejuk dan masih segar dengan pohon-pohon tinggi dan hijaunya dedaunan. Mereka mendaki untuk mencapai puncak paling tinggi. Dari atas bukit akan nampak pemandangan yang sangat indah. Semua terasa kecil saat sudah berada di atas.
Berkali-kali Sivia berdecak kagum akan keindahan alam ini. Meski udara dingin menusuk, semua bisa terkalahkan karena melihat keindahan alam ini.
"Kok kamu bisa tahu bukit ini?" tanya Sivia.
"Alam yang memberitahuku."
"Beneran? Seberapa dekat kamu sama dia sekarang?"
"Yaaa hanya sebatas itu saja. Dia orang yang ramah."
"Oke. Akan kuanggap kalian berteman baik."
"Ciyee! Kamu cemburu ya?"
"Dih, No way! Masa iya cemburu sama cowok!" Sivia kembali melangkah.
Bayu segera menyusulnya. "Kalo sama cewek, berarti kamu bakal cemburu dong!"
Sivia diam. Apa ia berhak untuk cemburu?
"Kurasa aku tidak berhak cemburu!" ucap Sivia datar.
Bayu menarik tubuh Sivia kedalam pelukannya. "Kamu berhak cemburu."
Sivia masih diam. Bayu merenggangkan pelukannya.
"Kamu berhak cemburu karena kamu adalah cintaku..."
Lagi, Bayu mengikis jarak diantara mereka. Hingga beberapa saat mereka saling menyesap rasa dengan hati yang berbunga-bunga.
"Ini ... adalah ciuman pertamaku." ucap Sivia tersipu malu.
"Benarkah? Dan aku yang mendapatkannya?"
Bayu tersenyum puas. "Aah! Aku sangat bahagia, Vi."
Bayu kembali meraih sesuatu yang terus menggodanya. Mereka saling memagut pelan hingga tak sadar ada sepasang mata yang melihat.
"Akhirnya mereka saling mengungkap rasa. Semoga setelah ini kalian bisa menghadapi ujian cinta kalian." ucapnya kemudian berlalu.
*
*
*
Setelah dua jam menelusuri desa dan mendaki gunung, Sivia dan Bayu kembali ke penginapan. Mereka nampak bahagia dan terus tertawa. Selama mendaki bukit mereka bernostalgia tentang masa-masa kecil mereka yang bisa dibilang konyol dan lugu.
"Vi..."
Sebuah suara membuat tawa Sivia dan Bayu langsung terhenti. Mata mereka membulat melihat sosok yang ada di depan mereka.
"Mas Iyan...?!"
...***...