Raanjhana

Raanjhana
Part 20 : Om Dirga, I Love You




Keesokan harinya, Diya banyak melamun saat berada di kampus. Ia sengaja berangkat lebih pagi untuk menghindari Dirga. Hatinya merasa dibohongi oleh suaminya itu. Bertahun-tahun ia mencoba melupakan kenangan masa kecilnya dengan Fendi. Sekarang kenangan itu kembali menyeruak.


“Apa yang harus kulakukan?” gumam Diya.


“Tentu saja kau harus memilih masa depan, Ya.” Tiba-tiba Echa datang dan membuyarkan lamunan Diya.


“Echa? Dari mana kau tahu soal…”


“Suamimu sangat mengkhawatirkanmu kemarin. Dia menghubungiku dan menanyakan tentang keberadaanmu. Tapi kau malah bersama dengan Fendi Fendimu itu ‘kan?”


Diya memalingkan wajahnya. Kata-kata Echa seolah menuduhnya telah berselingkuh dari suaminya.


“Kuberi saran untukmu.”


Diya kembali menatap Echa. Meski mereka seumuran, namun cara berpikir Echa jelas terlihat lebih dewasa dari Diya.


“Apa?” Diya terlihat antusias.


“Jika memang ada yang harus kau


selesaikan dengan Fendi, maka selesaikanlah. Dan setelah itu kau bisa kembali bersama Om Dirga. Dia sangat mencintaimu, Ya. Terlepas dari sifat posesifnya padamu, dia hanya mencintaimu.” Ujar Echa.


“Jadi, aku harus bilang apa pada Kak


Fendi?”


Echa menepuk keningnya. “Astaga, Nona! Katakan saja apa yang ingin kau katakan! Apa kau masih mencintainya? Cinta masa kecil? Cinta monyet? Kau masih mengingatnya? Aku bahkan tidak ingat siapa cinta pertamaku,


tapi yang jelas aku hanya akan mengingat cinta terakhirku.”


Diya terdiam. Sepertinya ia telah salah langkah dengan marah pada Dirga. Ia amat mencintai Dirga. Meski rentang usia memisahkan mereka, Diya akan tetap memilih Dirga.


“Terima kasih, sahabatku! Aku tidak akan melupakan ini!” Diya memeluk Echa kemudian segera berlalu.


Diya memanggil taksi dan akan menuju kantor Dirga. Diya melirik jam tangannya.


“Ini masih sore. Semoga saja Om Dirga masih ada di kantornya.” Diya tersenyum penuh keyakinan.


*


*


*


Di tempat berbeda, Fendi sedang menyusun rencana bersama dengan seorang wanita cantik yang usianya jauh diatasnya.


“Jadi, kau siap untuk melaksanakan


rencana kita?” Tanya Fendi.


“Tentu saja. Aku beruntung karena bertemu denganmu di saat yang tepat.” Seringai wanita itu.


“Baiklah. Sekarang bersiaplah! Aku sudah menyiapkan semuanya.”


“Sure. Dengan senang hati.” Kemudian wanita cantik yang tak lain adalah Alexa segera berlalu dari hadapan Fendi.


Alexa menuju ke klab malam yang sudah ia sepakati dengan Fendi. Ia sudah menghubungi Dirga dan ternyata Dirga setuju untuk bertemu. Alexa beralasan jika ingin membahas soal kerjasama bisnis mereka.


Dirga tiba bersama Alman. Alexa sedikit kesal karena pria itu tak pernah menjauh dari Dirga. Ia harus memutar otak agar Alman bisa sedikit menjauh dari Dirga.


“Tuan, apa Tuan yakin Nona Alexa ingin membahas soal bisnis? Di tempat seperti ini? Rasanya sangat mustahil, Tuan.” Bisik Alman di telinga Dirga saat mereka baru memasuki klab.


Alexa melambaikan tangan pada Dirga. Dirga segera menghampirinya. Tanpa rasa malu Alexa langsung memeluk Dirga dan mencium pipinya. Dirga tak sempat menolak karena Alexa menarik lengannya.


Alman memalingkan wajah ketika melihat adegan itu. Ia benar-benar tak nyaman berada di sebuah klab seperti ini.


“Mau minum apa, Ga? Akan kupesankan.” Tanya Alexa dengan suara mendayunya.


“Yang biasa saja.” jawab Dirga datar.


“Oke!” Alexa segera beranjak dari


duduknya dan menuju ke meja pemesanan. Tak lupa ia memberi kode untuk mendatangkan


wanita pelayan agar datang ke mejanya. Setelahnya Alexa tersenyum senang dan kembali ke mejanya.


Dari kejauhan Alexa bisa melihat jika


Alman berbisik pada Dirga. Alexa mendengus kesal karena Alman seakan mengetahui rencananya.


karena istrinya marah, hanya mengangguk paham dengan kata-kata Alman.


“Tuan, sekeras apapun hati Nyonya


Diya, saya yakin pasti masih ada cinta milik Tuan. Jadi, saya mohon Tuan jangan berbuat nekat,” ucap Alman.


Lagi-lagi Dirga hanya mengangguk. Alexa kembali dan duduk disamping Dirga. Karena tak ingin dianggap mengganggu, Alman pamit undur diri pada Alexa dan Dirga.


Alman menuju ke toilet. Disana tempatnya tidak terlalu bising untuk menelepon. Dengan sigap Alman menghubungi nomor ponsel Diya. Alman meminta Diya agar segera datang ke klab malam Miracle. Alman


tersenyum puas karena sudah menggagalkan rencana Alexa.


Ketika keluar dari toilet, Alman dihadang oleh dua pria berbadan besar yang menghalanginya keluar dari toilet.


“Mau apa kalian?” Tanya Alman sedikit gusar.


Tanpa menjawab dua pria itu meregangkan otot-otot tangannya dan menghampiri Alman. Alman yang tak siap hanya bisa menerima beberapa pukulan dari kedua pria besar itu. Tubuh Alman tergeletak di


toilet dengan bersimbah darah.


Sementara itu, Diya yang menerima telepon dari Alman segera menuju ke klab malam Miracle. Pikirannya sudah dipenuhi oleh hal-hal buruk tentang suaminya.


“Maafkan aku, Om. Aku sudah menyakiti Om. Kumohon jangan lakukan hal bodoh, Om!” Diya menautkan kedua tangannya dan


berdoa dalam hati.


Dua puluh menit telah berlalu dan Diya masih dalam perjalanan menuju klab. Ia terus meminta si supir taksi agar memacu mobilnya lebih cepat. Kini Diya sudah berurai air mata. Berkali-kali ia merutuki dirinya sendiri.


“Dasar bodoh kau, Diya! Bagaimana bisa kau marah hanya karena suamimu tidak ingin kehilanganmu. Kau memang bodoh, Diya! Bagaimana jika kau benar-benar kehilangan dia!” lirih Diya sambil


mengusap air matanya yang terus mengalir.


“Nona, apa nona baik-baik saja?” si supir taksi ikut khawatir karena melihat Diya yang terus menangis.


“Iya, Pak. Sekarang sebaiknya bapak jalan dengan cepat ya! Saya tidak mau terjadi sesuatu pada suami saya!”


Di dalam klab, Dirga sudah setengah mabuk karena terus diberi minuman keras oleh Alexa. Entah kenapa Dirga tidak menolak. Hatinya pasti amat sakit karena sikap Diya padanya.


Alexa tersenyum seringai. “Sebentar lagi kau akan menjadi milikku, Dirga!”


Dirga mulai meracau tak jelas. Alexa


mencoba menenangkan Dirga. Sebenarnya ia sangat marah karena Dirga terus mengucap nama Diya. Namun ia harus tahan karena dengan begini ia akan bisa memiliki Dirga.


“Tidak apa meski harus dijadikan istri


kedua, asalkan aku bisa memilikimu, Dirga,” ucap Alexa yang kini sudah mulai berani meraba dada bidang Dirga.


Dirga melenguh pelan karena menerima sentuhan tangan Alexa.


“Diya… Om sangat mencintaimu… Kau harus percaya itu!” racau Dirga.


Entah bagaimana ceritanya kini Dirga


menarik tengkuk Alexa dan mulai mengikis jarak diantara mereka. Alexa tersenyum senang karena Dirga akan menyentuhnya lebih intim.


“Brengsek! Singkirkan tanganmu dari


suamiku, dasar ja-lang!!!”


#bersambung…


*waow, sekeren apakah Diya memberi


pelajaran pada Alexa?


Jangan lupa dukungannya utk karya receh mamak yg satu ini. lope lope yu all genks…😘😘


*Yuhuuu mamak akan rekomendasikan novel keren utk kalian utk mengusir kegabutan di masa2 PPKM yg terus diperpanjang. Kali ini mamak akan rekomen novel dari sist Meylani Putri Putti,


judulnya Kenapa Harus Menikah Denganmu?


Diilihat dari judulnya aja kayaknya udah bikin deg2 ser ya genks. Ini cerita keren abis, mamak aja fans setianya babang Romeo sama Aldi loh. hehehe,


disini kalian akan dibikin baper, ngakak, ada sedih2nya juga dengan kisah Aira. buruan klik favorit ya! 😉


Thank U