Raanjhana

Raanjhana
Part 16 : Om Dirga, I Love You



Dirga makin terbuai dengan permainan Diya. Sungguh ia tak ingin melepaskan istri kecilnya itu. Dirga makin menarik tengkuk Diya dan memperdalam ciumannya.


Dirga membawa Diya ke ruang pribadinya tanpa melepas tautan bibir mereka. Ketika nafas Diya mulai habis, Dirga melepaskan Diya.


"Om?" Diya mengernyit heran karena mereka kini tengah berada di sebuah kamar.


"Kenapa?"


"Kenapa membawaku kesini?"


Dirga tersenyum seringai. "Kau yang memulainya lebih dulu, sayangku."


"Aku hanya ingin wanita gatal itu pergi dari ruang kerja Om. Lagipula kenapa Om bekerja bersama dengannya. Sudah sangat jelas jika dia memiliki maksud tersembunyi, Om."


"Apa kau sedang cemburu?" Dirga menggoda Diya.


"Tentu saja! Memangnya aku tidak boleh cemburu?"


"Baiklah. Maafkan Om. Tapi Om dan dia tidak ada hubungan apapun selain pekerjaan."


"Tapi dia mengharap lebih dari Om. Apa jadinya jika aku tidak datang kemari. Apa Om dan dia akan...."


Dirga yang tak suka dengan cerewetnya Diya segera membungkam bibir mungilnya itu. Dirga membawa Diya ke atas ranjang di kamar itu.


Diya meronta dan memukuli dada Dirga. Tapi pukulan itu tak berarti apapun.


"Om! Lepas!" Diya mencoba menolak.


"Tidak akan kulepaskan! Kau yang lebih dulu membangunkan singa yang sedang tidur." Dirga membelai wajah Diya yang kini berada di bawah kungkungannya.


"Om, aku ada kuliah siang nanti." Diya memohon dengan manisnya.


"Tidak bisa. Om tidak ada meeting dengan siapapun setelah ini."


"Om! Please!!!" Diya kembali memohon.


"Tidak! Om tidak akan membiarkanmu keluar! Kita akan bermain disini, sayang." suara Dirga mulai parau menandakan jika dirinya sedang 'ON' sekarang.


Diya tak bisa berkutik lagi karena suami dudanya itu langsung memberikan kecupan-kecupan manis di leher dan seluruh tubuhnya. Diya mengeluarkan suara lembutnya saat Dirga mulai menyatukan tubuh mereka.


Peluh yang membasahi tubuh keduanya tak menyurutkan semangat Dirga untuk membawa Diya melayang jauh hingga ke langit ke tujuh.


"Om..." suara Diya mulai lemah karena tubuhnya mengalami kenikmatan yang dahsyat.


"Kita keluar sama-sama ya!"


Diya hanya bisa mengangguk. Tubuhnya bergetar hebat setelah dihentak oleh Dirga dengan kecepatan diatas rata-rata.


Mereka terkulai lemas setelah pergulatan panas selama dua jam. Ponsel Diya berbunyi dan tertera nama Echa disana.


Dirga melirik Diya yang sudah terlelap karena kelelahan. Dirga memutuskan untuk menjawab panggilan Echa.


"Halo..."


"Halo, Diya ada? Apa ini Om Dirga?"


"Iya. Sepertinya Diya tidak bisa berangkat kuliah hari ini. Diya sedang tertidur karena kelelahan."


"Eh? Oh begitu. Baiklah Om. Terima kasih."


Panggilan berakhir. Diya menggeliat dan mendengar suaminya bicara sendiri.


"Temanmu. Om bilang jika kau tidak bisa berangkat kuliah karena kelelahan."


Tangan Diya terulur memukul dada polos suaminya. "Dasar, Om!"


Dirga tertawa. "Tidurlah. Kau pasti lelah. Om ada rapat 30 menit lagi. Mungkin setelah rapat kita akan mengulangi permainan kita." Dirga mencium kening Diya.


Diya tak menjawab. Tubuhnya sudah amat lelah. Dirga turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.


...***...


Pukul tiga sore Diya terbangun dan tak mendapati suaminya berada dikamar itu. Diya ingat jika tadi Dirga berujar ada meeting. Diya bangun dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi. Ia tak mau jika Dirga datang dan kembali bermain dengannya. Ia sudah amat lelah. Tiap malam suami dudanya itu tidak pernah absen untuk menyatukan hasratnya.


Cukup lima belas menit Diya merapikan diri. Ia segera keluar dari kamar itu dan ternyata ruang kerja Dirga masih kosong.


"Huft! Aman! Itu berarti Om belum selesai rapat. Kalau begitu aku harus segera pergi sebelum Om Dirga datang."


Diya bergegas keluar dari ruangan itu dan secepat kilat berlari menuju pintu lift. Ia segera masuk kedalam lift dan menghilang.


Dari kejauhan, seorang pria muda nampak memperhatikan Diya. Ia mengerutkan keningnya karena merasa mengenal gadis yang baru saja memasuki lift.


"Apa mungkin itu...? Gadis itu tidak seperti pegawai di kantor ini." Pria muda itu menggeleng pelan.


"Tuan Fendi!" panggil Dirga.


"Oh, Tuan Dirga."


"Anda disini rupanya."


"Iya, saya baru dari toilet."


"Terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk datang ke perusahaan saya. Semoga kerja sama kita bisa terjalin dengan baik."


"Terima kasih, Tuan Dirga. Sungguh saya tidak meragukan keunggulan perusahaan Anda."


"Hahaha, Tuan Fendi bisa saja. Semangat Tuan mengingatkan saya dengan diri saya. Dulu saya juga sangat menggebu-gebu untuk mengembangkan perusahaan saya."


Setelah mereka berdua saling berjabat tangan, Fendi, si pria muda partner bisnis Dirga segera pamit undur diri.


Ketika tiba di lobi, Fendi mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan gadis di lift tadi.


"Tuan mencari siapa?" tanya Ahdan, sekretaris Fendi.


"Aku seperti melihat seseorang dari masa laluku, Dan. Coba nanti kau cari tahu."


"Hmm?" Ahdan mengernyit bingung.


Untuk apa Tuan masih mencari keberadaan gadis itu? Bukankah mereka sudah berpisah selama belasan tahun. Dan tidak mungkin gadis itu tiba-tiba ada disini. Batin Ahdan.


#bersambung...


*Genks, rekomendasi novel utk hari ini... Bergenre CEO alias berarti berbau romansa ya genks. berjudul Labuhan Cinta Sang Playboy.


gimana sih kalo playboy insaf dan melabuhkan hatinya pada gadis yg ternyata kekasih kakaknya sendiri? gimana perjuangannya dalam mendapat hati sang gadis pujaan?