
Malam itu Sivia tak bisa memejamkan matanya. Ia terus memandangi cincin berlian yang diberikan Adniyan untuknya. Cincin berlian itu berkilau sangat indah.
"Ehem! Yang baru dilamar. Jadi gak bisa tidur nih?" Ledek Nisa.
"Iya nih. Aku jadi kepikiran, Nis."
"Kepikiran apa, Mbak?" Nisa penasaran.
"Menurut kamu terlalu berlebihan gak sih, aku dikasih cincin berlian?"
"Lah, kupikir kepikiran apaan. Berlebihan gimana sih mbak? Sekelas Mas Iyan gak mungkin lah dia kasih sembarang barang. Terus kapan Mbak Vi mau cerita ke Ibu?"
"Iya juga sih. Mas Iyan itu seleranya tinggi. Kata Mas Iyan, dia bakal ngomong sendiri ke Ibu. Setelah itu, baru deh mbak ketemu sama keluarganya Mas Iyan."
"Aku ikut senang dengarnya. Selamat ya, Mbak."
"Makasih, Nis. Udah yuk, kita tidur. Nanti kamu telat bangun lagi."
...***...
Saat di ruang kerjanya, Sivia juga memandangi cincin pemberian Adniyan terus menerus. Dalam hatinya ada yang masih mengganjal. Namun berkali-kali pula ia meyakinkan pada dirinya kalau ini memang yang terbaik.
^^^Adniyan Nugraha^^^
^^^Hari ini aku pulang cepat, nanti malam aku akan mampir ke rumah dan menemui Ibumu.^^^
Sivia memandangi pesan yang baru saja di terima di ponselnya. Ia menerawang jauh. Separuh dirinya seakan melayang jauh.
^^^Adniyan Nugraha^^^
^^^Vi... Lagi sibuk ya?^^^
Sivia tersadar dari lamunannya. Dengan cepat ia membalas pesan dari Adniyan.
^^^Sivia Dewi^^^
^^^Iya Mas, maaf lama. Semangat ya buat nanti malamπ^^^
Sivia mengakhiri percakapan. Ia tahu Adniyan orang yang sibuk, ia tak mau mengganggu waktu kerja Adniyan hanya untuk chatting tentang sesuatu yang tidak penting.
Ting (Notifikasi facebook)
Saat jam kerja, Sivia lebih suka login ke akun facebooknya melalui notebooknya. Ia bisa sekalian bekerja dan sesekali refreshing dengan melihat akun media sosialnya.
Sivia memegang mouse dan melihat notifikasi apa yang masuk di akun facebooknya. Ternyata sebuah notifikasi pada menu 'friend request'.
Sivia mendapat satu permintaan pertemanan baru. Namun ia tak sembarang menerima permintaan pertemanan, ia lebih suka menyeleksi siapa saja yang akan berteman dengannya di dunia maya. Karena banyak tindak kejahatan yang terjadi di dunia nyata bermula dari pertemanan di dunia maya.
Mata Sivia membulat sempurna ketika membaca siapa teman yang mengiriminya 'friend request' ini.
Sivia terbata ketika mengucapkan namanya.
"Ba-bayu De-dewa Hap...so..ro.." Sivia menutup mulutnya dengan tangan.
"Ti-tidak mungkin..."
Ditengah kekagetan dan kebingungannya, Rena mengetuk pintu ruang kerja Sivia.
"Mbak Vi, ada pelanggan mau potong rambut."
"Eh? Ah iya. Aku segera kesana. Thanks Ren..."
Sivia meninggalkan ruangan dan komputernya dengan masih mendiamkan 'friend request' dari teman lamanya itu.
...***...
Malam harinya, Adniyan datang ke rumah Sivia dan menemui Nila, Ibu Sivia.
Adniyan duduk berdampingan dengan Sivia, dan diseberangnya, Nila dan Nisa duduk bersebelahan.
Adniyan nampak gugup.
"Ada apa, Nak Iyan? Sivia bilang ada yang mau dibicarakan sama Ibu." Nila mengawali pembicaraan untuk mencairkan suasana.
"Umm, begini, Bu. Kedatangan saya malam ini, bermaksud untuk ... melamar putri Ibu, Sivia."
"Eh?" Nila terlihat kaget mendengar pernyataan Adniyan.
"Kemarin, saya sudah menyatakan niat saya ini pada Sivia, dan ... Sivia bilang ia setuju. Jadi, saya akhirnya memberanikan diri bicara pada Ibu."
Nila terharu mendengarnya. "Kalau Ibu sih, terserah Sivia saja. Lalu, bagaimana dengan keluarga Nak Iyan? Apa mereka sudah tahu mengenai hal ini?"
"Kalau Ibu setuju, maka saya akan mengajak Sivia untuk bertemu dengan keluarga saya." tegas Adniyan.
"Tentu saja Ibu setuju. Kalian sudah cukup lama saling mengenal. Ibu malah senang kalian memikirkan tentang pernikahan. Ibu pikir kalian hanya mau pacaran terus." Goda Nila.
"Ibu!!!" Sivia merajuk.
Nila memandang Sivia dengan senyum bahagia. "Makan malam sudah siap, mari kita makan bersama. Nak Iyan pasti lapar 'kan?"
"Nisa! Apaan sih kamu?!" Lerai Sivia,
"Gak apa, Vi. Dia benar kok. Aku emang gugup malam ini. Tangan aku sampai dingin gini, hehe." ucap Adniyan sambil menggaruk kepalanya.
...***...
"Vi...." panggil Nila saat Adniyan sudah pulang.
"Ada apa, Bu?" Jawab Sivia sambil mencuci piring kotor di dapur.
"Kamu sudah yakin 'kan dengan keputusan kamu?"
Sivia terhenti. "Maksud Ibu?"
"Kamu sudah yakin dengan Nak Iyan?"
"Kalo aku gak yakin, gak mungkin aku terima lamaran Mas Iyan, Bu."
"Syukurlah kalo kamu sudah yakin. Nak Iyan itu pria yang baik. Pekerjaannya juga bagus, sudah mapan. Tapi, apa keluarganya bisa menerima kamu yang dari kalangan biasa, Nak?"
"Ibu apaan sih? Barusan Ibu bilang kalo Mas Iyan orang yang baik. Tentu saja keluarganya juga baik dong, Bu."
"Begitu ya. Ibu ikut bahagia kalau begitu. Dan pesan Ibu, kamu jangan sampai menyakiti Nak Iyan ya. Dia sangat mencintai kamu."
"Ibu! Kok ngomong begitu?"
"Ya sudah. Ini sudah malam, kamu istirahat sana! Besok 'kan kamu harus ke salon."
"Iya Bu."
...***...
-The Jungle Cafe-
Hari ini Sivia berkumpul bersama teman-teman lamanya seperti biasa. Dan kali ini ia tidak terlambat datang. Tapi Raga yang terlambat datang.
"Sorry, gue telat." Raga langsung bergabung bersama yang lain.
"Tumben amat lo telat." Timpal Aryan.
"Iya nih, bos gue tadi abis meeting dadakan."
"Ya udah, jangan ngomongin kerjaan mulu. Kita kesini 'kan mau happy-happy." Balas Dina.
Dan mereka berempat berbincang santai sambil sesekali melempar candaan.
"Oh ya, si Bayu, dia nge-add gue di facebook. Kalian juga 'kan?" Celetuk Raga tiba-tiba.
"Iya, bener. Gue udah terima pertemanan dari dia. Tapi pas gue inbox dia gak balas." Balas Aryan.
"Lagi sibuk mungkin." Tambah Dina.
"Kemarin dia inbox gue. Dia bilang kalo Sivia belum approve friend request dari dia. Apa bener Vi?" Tanya Raga.
"Heh?" Sivia terkejut. Dia baru ingat jika beberapa hari lalu ada friend request baru dari Bayu, namun belum sempat ia terima.
"Ah iya, kayaknya belum." Jawab Sivia kikuk.
"Hmm pantes aja di sampai inbox gue. Buruan gih di approve. Kasihan 'kan si Bayu."
"Iya, Vi. Kalian kan berteman dari kecil. Pasti dia kangen sama lo." Lanjut Dina.
"Sekarang dia dimana, Ga?" Tanya Aryan.
"Gak tahu. Dia gak bilang apa-apa. Makanya lebih baik Sivia cepat approve dia, trus tanyain ke dia, sekarang dia ada dimana."
"Eh? I-iya nanti aku approve Bayu." Jawab Sivia diiringi senyum kikuknya.
Usai bertemu teman-temannya, Sivia pulang ke rumah menggunakan taksi. Kali ini Adniyan tidak menjemputnya. Ia maklum karena Adniyan adalah orang yang sibuk.
Sesampainya di rumah, Sivia membuka notebooknya. Masuk ke akun facebooknya. Dan mulai men-scroll mencari menu friend request. Ia memandangi lama nama Bayu disana. Sivia ragu.
Lalu dia ingat dengan pesan dari Raga. Ia harus menerima permintaan ini, karena ia harus bertanya pada Bayu dimana dia sekarang.
Apakah ini keputusan yang tepat? Untuk bertemu denganmu lagi?
Meski ada sedikit keraguan di hati Sivia, ia meng-klik tanda approve. Yap, dia sudah berteman dengan Bayu sekarang. Ia ingin melihat profil lengkap Bayu. Ia mulai membuka profil milik Bayu. Dibacanya dengan seksama. Tak ada informasi khusus disana. Profil Bayu masih belum dilengkapi.
Sivia menggerutu. "Apaan ini? Akunnya masih kosong kayak gini. Gak ada foto pula!!"
Karena kesal Sivia lalu me-klik tanda logout dari facebook dan menutup notebooknya.
......
"Duuuh, ternyata tulisanku jaman dulu lucu juga yak πππ
Semoga kalian tetap menikmati cerita receh ini ππ