Raanjhana

Raanjhana
Lala Love Song : 12. Jangan Ada Dusta diantara Kita



-Kantor Brahms Corp-


Reza datang ke ruangan Rocky untuk menyerahkan berkas yang harus di tandatangani oleh bosnya itu. Sambil menunggu bosnya selesai menandatangani semua berkas, Reza memikirkan cara untuk mengatakan soal kerjasama yang akan mereka jalin bersama Diva. Reza tak yakin jika kerjasama ini akan berjalan dengan baik.


"Ada apa, Reza?" tanya Rocky yang ternyata memperhatikan gelagat aneh asistennya itu.


"Ah, tidak ada, Pak." jawab Reza berbohong.


"Oh ya, bagaimana dengan pertemuan kemarin dengan calon klien kita?"


"Eh? Umm, itu..."


"Katakan saja! Kamu tahu 'kan saya tidak suka ada kebohongan."


"Begini, Pak. Klien kita kemarin adalah Diva Cosmetics yang ternyata dia adalah ... Diva mantan istri saya."


"Heh? Apa? Jangan bilang kalau..."


"Benar, Pak. Diva adalah sahabat istri bapak yang..."


"Sudah, sudah. Jangan membahasnya. Berarti sebaiknya kita membatalkan kontrak kerjasama dengannya. Atau ... akan kutanyakan dulu pada Visha apakah dia setuju atau tidak soal kerjasama ini. Kau boleh kembali ke ruanganmu. Dan sebaiknya kau juga tanyakan pada istrimu apakah dia setuju kau bekerja bersama dengan mantan istrimu atau tidak."


"Baik, Pak."


Keluar dari ruangan bosnya, Reza kembali berpikir.


"Benar juga apa yang dikatakan Pak Rocky. Aku tidak mungkin tega membuat Lala khawatir jika aku bekerja dengan Diva. Aku sangat mengenal Diva. Dia bukan wanita yang mudah menyerah sebelum apa yang diinginkannya tercapai. Bagaimana jika dia sengaja memilih perusahaan ini karena tahu Pak Rocky adalah suami Navisha?" batin Reza dengan menganggukkan-anggukan kepalanya.


......***......


Tiba di rumah, Rocky mencari keberadaan Visha, istrinya. Visha asyik bermain dengan Ali dan Alisa. Perut besarnya tak menghalanginya untuk tetap bermain bersama anak-anaknya.


"Sayang..."


"Eh, Mas? Kamu sudah pulang?"


"Iya. Sepertinya kamu sedang asyik bermain dengan anak-anak."


"Iya, Mas. Oh ya, Mas mau mandi? Aku siapkan air mandi dulu ya?"


"Tidak perlu. Kamu temani anak-anak saja."


"Hmm, baiklah."


"Anak-anak!!!" Seru Rocky memanggil anak-anaknya.


"Papa!!! Ali dan Alisa berlari memeluk Rocky.


Usai membersihkan diri, Rocky kembali menemui Visha yang ternyata baru keluar dari kamar Ali.


"Anak-anak sudah tidur?" tanya Rocky.


"Sudah, Mas. Mas mau makan malam?"


"Tidak perlu. Aku masih kenyang. Oh ya, sayang. Ada yang ingin kubicarakan denganmu."


"Soal apa?" Visha mengernyit.


"Kita bicara di kamar saja." Rocky menggamit tangan istrinya.


Sampai di kamar, Rocky meminta Visha untuk duduk di sofa.


"Ada apa sih, Mas? Sepertinya serius sekali? Jangan-jangan kamu mau ngaku kalau kamu selingkuh ya?"


"Astaga! Visha! Aku tidak akan pernah menduakanmu!"


"Lalu apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"


"Begini ... apa kau masih ingat dengan Diva?"


"Diva? Diva teman kuliahku?" tanya Visha dengan raut wajah tak percaya.


"Iya. Ternyata dia adalah calon klien perusahaanku. Bagaimana menurutmu?"


Visha nampak menghela nafas kasar.


"Jadi, Mas sedang meminta pendapatku?"


"Iya, sayang. Aku tahu kalian punya masa lalu yang buruk. Terutama Reza."


"Kalau begitu jangan! Jangan bekerjasama dengan Diva. Aku tahu seperti apa dia. Terutama dia harus bertemu langsung denganmu dan juga Reza. Aku yakin dia punya niat yang buruk. Aku kasihan dengan Lala jika Diva harus bertemu kembali dengan suaminya." ucap Visha dengan berapi-api.


"Iya, iya, tenanglah sayang! Aku tahu. Makanya aku bicara dulu denganmu. Aku juga tidak mau hubungan kita bermasalah karena wanita itu."


"Benar, Mas. Dulu kupikir Diva adalah teman yang baik. Tapi ternyata ... dia tega sekali menggoda Reza hingga mereka melakukan..."


"Sudahlah. Jangan mengingat masa lalu "


"Mas tidak marah 'kan?"


"Tidak. Reza adalah bagian dari masa lalumu. Dan yang kulihat, kau tidak mencintai Reza seperti kau mencintaiku."


"Ish, percaya diri sekali kamu, Mas!" Visha mengerucutkan bibirnya.


"Tentu saja aku percaya diri. Nyatanya bertahun-tahunpun kamu masih tetap mencintaiku." Rocky membawa istrinya itu dalam dekapan.


"Baiklah. Mungkin sebaiknya kamu tidak menerima kerjasama itu, Mas. Lagipula jika memang dia berani merebutmu dari Visha, tidak menutup kemungkinan jika dia juga berniat untuk merebutmu lagi dari sisiku." ucap Lala dengan menyilangkan tangannya.


"Terima kasih, sayang. Kini aku bisa tenang. Dan kuyakin jika Pak Rocky juga tak mendapat ijin dari Visha."


"Tentu saja. Para istri harus bersatu untuk memberantas pelakor." Lala pun tertawa. Sedetik kemudian Reza ikut tertawa lalu memeluk Lala dengan erat.


"Kita harus segera memiliki anak, La. Aku ingin kebahagiaanku menjadi lengkap karena ada anak diantara kita."


"Iya, Mas. Kita hanya bisa berusaha. Tuhanlah yang menentukan semuanya. Semoga kita cepat mendapat momongan ya, Mas."


"Bagaimana kalau kita menyicilnya lebih dulu malam ini?" Reza menaikturunkan alisnya


"Ish, kau ini! Minta jatah terus!" Lala memukul pelan dada bidang suaminya yang membuat Reza segera membopong tubuh Lala masuk kedalam kamar.


"Mas!!!" pekik Lala diiringi tawa renyahnya.


......***......


Siang ini rencananya, Rocky mengundang Diva untuk datang ke Brahms Corp. Ia akan mengutarakan maksudnya untuk membatalkan kerjasama mereka yang untungnya belum terjalin.


Diva mendatangi kantor Brahms Corp dan disambut oleh Reza yang menunggunya di lobi.


"Selamat siang, Nyonya Diva." sapa Reza sopan.


"Reza! Kau menyambutku? Duh, senang sekali rasanya." Diva tersipu mendapat perlakuan khusus dari Reza.


"Silakan, Nyonya. Pak Rocky sudah menunggu." Reza mempersilakan Diva untuk berjalan lebih dulu.


Diva merasa tersanjung dengan sambutan yang diterimanya. Ia tak tahu jika dibalik manisnya sambutan Reza ada racun yang tersembunyi didalamnya.


Tiba di ruangan Rocky, Diva kembali disambut hangat oleh Rocky.


"Silakan duduk, Nona Diva."


"Ah, jadi ini adalah Pak Rocky..." Diva memperhatikan penampilan Rocky dari atas kepala hingga ke bawah.


"Perfect!" gumam Diva lirih.


"Terima kasih, Pak Rocky." ucap Diva.


"Mau minum apa, Nona Diva?" tawar Rocky.


"Umm, apa ya? Teh saja. Jangan yang manis-manis."


"Baiklah. Reza, tolong ambilkan teh untuk Nona Diva." titah Rocky.


"Baik, Pak."


Reza segera undur diri. Kini di ruangan itu hanya Rocky dan Diva.


"Saya sudah sering mendengar soal Anda, Pak Rocky. Anda adalah pebisnis yang andal dan hebat. Anda berhasil merajai banyak bisnis." puji Diva.


"Terima kasih atas pujiannya, Nona Diva."


Reza kembali masuk dan menata teh diatas meja.


"Silakan diminum, Nyonya." ucap Reza.


"Terima kasih, Reza." balas Diva dengan menggoda Reza.


"Nona Diva, saya mohon maaf sebelumnya. Tapi, sepertinya kerjasama kita tidak bisa dilanjutkan," ucap Rocky.


"Uhuk, uhuk..." Diva tersedak saat meminum tehnya. Ia segera mengatur nafasnya.


"Apa maksud Anda, Pak Rocky?"


"Maaf, Nyonya. Kurasa bos saya sudah mengatakannya dengan jelas. Tidak akan ada kerjasama diantara kita." sahut Reza.


"Apa yang dikatakan suamiku masih kurang jelas, Diva?" Tiba-tiba Visha dan Lala masuk ke ruangan Rocky.


"Hah?!" Diva tercengang. "Visha?"


"Iya, aku Visha. Aku sahabatmu yang kau khianati. Dan aku tidak mau kau kembali mengkhianatiku dengan menganggu suamiku." Visha berdiri di samping Rocky dan mengalungkan tangannya pada lengan Rocky.


"Apa ini? Kalian sengaja menjebakku, huh!" kesal Diva.


"Maaf, Diva. Tapi memang sebaiknya kita tidak bertemu lagi." ujar Reza yang sudah memeluk Lala.


Karena merasa kesal dan dipermalukan, Diva segera keluar dari ruangan Rocky dengan menghentakkan kaki. Sementara, kedua pasangan itu malah terbahak karena melihat kekesalan Diva.


......***......


...#Bersambung...


"Yg mau tahu kisah Rocky-Navisha bisa mampir di "Labuhan Cinta Sang Playboy"



Coming UP story 👇👇👇


...*Meet Me on Facebook*...