
...MATURE CONTENT!!!...
...HARAP BIJAK MENYIKAPI...
...Sesuaikan dengan usia Anda...
...TERIMA KASIH...
...*...
...*...
...*...
Keesokan paginya, Diya terbangun karena merasakan sebuah tangan besar melilit ditubuhnya. Ia menggeliat untuk melepaskan diri. Namun ternyata begitu sulit.
Apa ini? Apa aku sedang bermimpi? Atau jangan-jangan aku mengalami apa yang orang-orang maksud dengan 'tindihan' oleh hantu?
Batin Diya masih menerka-nerka sementara matanya masih terpejam. Rasanya ia tidak ingin terbangun. Meski cekalan itu terasa berat, namun rasanya hangat dan menenangkan.
Diya masih terpejam kala sebuah tangan menerobos masuk kedalam piyamanya. Tangan itu sedikit me-re-mas dua benda kenyal milik Diya secara bergantian. Diya sedikit me-le-nguh karena merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Saat semua rasa membuatnya melayang, Diya membuka mata. Ia tersadar jika ini bukanlah mimpi.
"Om!!!" Diya memekik melihat tangan Dirga yang sudah nakal masuk tanpa permisi.
"Morning, baby..." tanpa rasa bersalah sedikitpun Dirga menyapa Diya.
Diya menghadapkan tubuhnya didepan Dirga.
"Apa aku bermimpi, Om?"
"Tidak, sayang. Kau tidak bermimpi."
"Aku masih tidak percaya jika Om..."
"Ssst, Om tahu. Maaf ya selama ini Om terlalu keras padamu. Om hanya berusaha meredam semua gejolak rasa dalam diri Om agar tidak menginginkanmu lebih."
Diya menautkan alisnya.
"Tapi sekarang Om tidak akan menahannya lagi. Om akan memilikimu seutuhnya. Om tidak akan melepaskanmu lagi."
"Hah?!"
Diya benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Dirga. Apa karena masih terlalu pagi, makanya Om-nya itu bicara melantur?
"Menikahlah denganku, Diya..."
Diya membulatkan mata. "Ish, Om apaan sih? Masih pagi jangan bercanda!"
"Aku serius! Apa aku pernah bercanda denganmu?"
Diya mencari jawaban dari tatapan Dirga padanya. Tatapan dingin itu sudah berubah hangat sejak semalam.
"Iya, Om. Aku mau..." Jawab Diya malu dengan wajah memerah dan menunduk.
Dirga meraih dagu Diya agar menatapnya. "Kalau begitu kita akan menikah hari ini juga."
"Hah?! Om ta..."
Diya tak bisa membantah lagi karena Dirga sudah membungkamnya. Ciuman dadakan itu nyatanya membuat Diya kembali terlena.
Diya tak menolak dan berusaha membalas meski masih kaku. Dirga tersenyum di sela ciumannya. Ciuman itu mulai berubah menjadi panas dengan Dirga yang tak lepas mengabsen setiap inci mulut Diya. Menyesap lebih dalam, me-lu-mat bahkan menggigit kecil, lidahnya masuk melesak membelit lidah Diya.
"Om..." Diya mendorong pelan dada Dirga kala nafasnya mulai habis.
Dirga mengusap bibir Diya yang sedikit basah dan bengkak karena ulahnya.
Rasanya ia tak rela jika harus menjeda bibir ranum itu. Tanpa melepas ciumannya, tubuh Dirga beralih menindih tubuh Diya. Melepas satu persatu kancing piyama Diya tanpa diketahui olehnya.
Dirga menyibak piyama Diya, tangannya mulai bergerilya diatas bukit kembar yang masih asri belum tersentuh oleh siapapun. Diya terkejut merasakan re-ma-san tangan besar Dirga di salah satu bukitnya.
Dirga kini beralih ke leher jenjang Diya.
"Om..." Diya tidak tahan dengan sensasi bibir Dirga yang menyentuh kulitnya. Ia memejamkan mata.
Dirga turun ke bagian dada Diya dan mengecupnya berulang kali, memberikan tanda bahwa semua ini hanya miliknya. Diya menjambak rambut Dirga pelan.
"Aah, Om..."
Dirga membuka segel bukit kembar itu tanpa melepas pengaitnya. Mengeluarkannya satu persatu dan menyesap pelan ujung kecoklatannya yang mencuat. Suara lenguhan Diya makin terdengar dan membuat Dirga makin bersemangat.
Diya memberanikan diri membuka mata dan melihat Dirga sedang me-nyu-su bak bayi besar yang kehausan. Mulutnya bergantian merasakan benda kenyal itu. Dan tangannya tak berhenti me-re-mas keduanya bergantian.
Diya merasakan sesuatu dalam dirinya akan keluar. "Om, aku..."
"Iya, sayang..." suara parau Dirga seakan sedang menahan hasratnya.
Dirga kembali meraih bibir Diya dan tangannya mulai masuk kedalam celana piyama Diya. Diya menepis tangan itu tapi lagi-lagi, Dirga memaksa masuk. Sentuhan Dirga begitu lembut dan membuat Diya tak menolak. Tanpa disuruh, Diya merentangkan kakinya seolah-olah mengijinkan Dirga untuk menjelajah lebih jauh.
Dirga memainkan biji kacang di area perbukitan bawah sana dan membuat Diya menggelinjang.
"Om... Tidak..."
"Kamu sudah basah, sayang..." bisik Dirga ditelinga Diya.
Jemari Dirga mulai melesak ingin masuk ke sebuah goa yang masih alami itu. Diya kembali memejamkan mata. Sungguh tubuhnya tak bisa menolak sensasi kenikmatan itu.
Diya menggigit bibir bawahnya, ia tak ingin bersuara lebih keras lagi. Dirga masih memainkan bukit kembar itu dengan mulutnya, sementara jemarinya menyodok keluar masuk kedalam goa milik Diya.
"Om, aku mau...pi..pis..."
"Keluarkan saja, sayang... Kita akan melakukan selebihnya nanti. Sekarang kau tahu betapa menyenangkannya ini, bukan?"
Diya mengangguk dan merasakan sesuatu dari dalam dirinya keluar membasahi jemari Dirga. Nafas Diya tersengal. Dirga kembali mencium bibir Diya, menyesapnya pelan dan kembali berubah panas.
Diya merasakan ada sesuatu yang mengeras dibawah sana. Ya, tentu saja adik kesayangan Dirga yang sudah lama menganggur begitu tergoda untuk melesak masuk ke peraduan yang masih sempit itu.
"Om..."
Diya menatap Dirga ragu.
"Apa kita... akan Melakukannya sekarang?"
Dirga tertawa. "Tidak, sayang. Kita akan melakukannya jika kau sudah siap. Sekarang sebaiknya kau bersiap. Kita akan pergi kesuatu tempat."
"Lalu itu..." Diya menunjuk ke bawah Dirga.
Dirga kembali terkekeh. "Dia masih bisa menunggu. Atau kau mau membantunya dengan tanganmu?" Dirga tersenyum nakal.
"Hah?!"
Dirga segera menarik tangan Diya dan membawanya masuk ke kamar mandi.
"Om!!!" Diya berteriak karena melihat sesuatu yang membuatnya terpana.
...***...
#bersambung...
*Jangan lupa dukungannya ya genks 😘😘
Love you...