Raanjhana

Raanjhana
Trapped by Cold CEO : 21. Kedatangan Alfred



"Todd, cari keberadaan gadis itu!" perintah Alfred.


"Hah?!" Grey terkejut dengan perintah ayahnya.


"Baik, Tuan." jawab Todd.


"Dan kerahkan seluruh anak buah terbaikmu untuk mencari keberadaan Alonso dan juga putrinya. Mereka harus mendapat balasan atas apa yang sudah mereka lakukan."


"Baik, Tuan."


"Kau boleh kembali ke ruanganmu, Nak."


"Eh?" Grey nampak tidak fokus dengan perintah ayahnya. Hingga Black harus turun tangan dan membisikkan sesuatu ke telinga Grey.


Sepeninggal Grey dan Black, Alfred kembali bertanya pada Todd.


"Katakan apa yang sebenarnya terjadi, Todd? Kau tahu aku tidak suka dengan kebohongan. Dimana Alfonso dan anak-anaknya? Kau pasti tahu sesuatu, bukan?"


Todd nampak berpikir sejenak.


"Todd, kau bekerja padaku bukan pada Grey. Jadi, kau tidak perlu takut apapun. Katakan yang sejujurnya!"


"Di hari Tuan Alonso menghilang, Nona Ana pernah datang menemuiku saat aku sedang mengurus proses akuisisi GD Group. Setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Kudengar seluruh hartanya habis."


"Apa Grey mengambil tindakan terhadap Ana?"


"Itu... aku tidak tahu, Tuan." jawab Todd sedikit ragu.


"Lalu dimana Alfonso?"


"Tuan Alfonso mengalami serangan jantung dan hingga sekarang masih belum sadarkan diri."


"Ya Tuhan! Malang sekali nasibnya. Dimana dia dirawat?"


"Tuan Alfonso dirawat di rumah sakit pusat kota, Tuan."


Alfred mengusap dagunya dan nampak berpikir.


"Todd, jangan katakan apapun pada Grey ataupun Black. Aku akan mengurus semua ini. Ingat, Todd! Kau bekerja untukku, bukan untuk Grey."


"Iya, Tuan. Aku mengerti."


"Sekarang kembalilah bekerja."


Todd memberi hormat kemudian keluar dari ruang kerja Alfred.


Sementara itu, Grey mondar mandir didalam ruangannya. Ia khawatir jika ayahnya akan mengambil tindakan yang lebih ekstrem dari dirinya.


"Apa yang Daddy bicarakan dengan Todd?" gumam Grey.


"Tenanglah, Tuan. Bukankah Todd tidak tahu jika Tuan yang sudah membawa Nona Ana?"


"Cepat kau hubungi Todd dan cari tahu apa saja yang Daddy rencanakan!"


"Tuan, Todd mengirim pesan jika dia tidak bisa mengatakan apapun pada Tuan. Todd juga meminta maaf." terang Black.


Grey mendesah kasar. Bayangan wajah Ana menghiasi fikirannya.


......***......


Ana tiba di rumah sakit bersama Simon. Seperti biasa Ana bertandang ke tempat perawat terlebih dahulu. Ia menanyakan perihal kondisi ayahnya.


Ana tahu jika hasilnya masih sama dan belum ada perubahan yang signifikan dari kondisi ayahnya. Namun tetap saja Ana ingin memastikannya.


"Terima kasih," ucap Ana sebelum keluar dari ruang perawat.


Ana berjalan gontai menuju ruang intensif. Ia kembali memandangi ayahnya yang tak kunjung bangun.


"Daddy, kumohon bangunlah!" ucap Ana lirih dengan wajah sedih.


"Ana!" suara berat pria memanggil nama Ana.


Ana pun menoleh. Seorang pria paruh baya berdiri disamping Ana.


"Akhirnya aku menemukanmu." ucap pria paruh baya itu.


"Tu-tuan siapa?" tanya Ana gugup.


"Kau pasti sudah lupa padaku. Aku Alfred Ardana. Aku adalah sahabat sekaligus rekan bisnis ayahmu."


"Alfred Ardana?" gumam Ana.


"Apa?! Jadi pria ini adalah ayah Tuan Grey? Apa yang dia lakukan disini? Apa dia juga ingin menagih hutang padaku? batin Ana.


"Bisa kita bicara?" tanya Alfred.


Ana mengangguk. Mereka duduk di bangku panjang rumah sakit.


"Aku turut prihatin atas apa yang menimpa keluargamu."


"Terima kasih, Uncle. Dan juga aku minta maaf atas kerugian yang diderita perusahaanmu." balas Ana tertunduk.


"Nak, jangan memikirkan itu. Aku dan ayahmu sudah saling mengenal sejak lama. Aku tahu bukan ayahmu yang sudah melakukan semua ini. Kau jangan khawatir."


"Eh?" Ana mengernyit bingung. "Jadi, Uncle tidak ingin menagih semua kerugian yang diderita oleh Julies Corp?"


Alfred tertawa kecil. "Tidak, Nak. Uncle tahu itu bukan nominal yang kecil. Tapi, persaudaraan diantara aku dan ayahmu lebih penting dari sekedar uang ratusan juga Pounds."


Sebuah senyum terbit di wajah Ana.


"Alvin sudah aku kirim kuliah di Italia, Uncle. Lalu aku..."


"Tidak mungkin 'kan aku bilang jika aku tinggal di tempat putranya? Ya Tuhan! Aku harus menjawab apa?"


"Aku tinggal di rumah dekat sini, Uncle." bohong Ana.


"Oh, begitu..."


Sementara itu, Simon baru saja kembali dari membeli sebungkus rokok untuk menemaninya saat berjaga di mansion Grey. Ia berjalan santai ingin menemui Ana. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti karena melihat Ana sedang bersama ayah tuannya.


"Ya Tuhan! Itu adalah Tuan Alfred! Kenapa ia bisa ada disini?" gumam Simon yang kemudian menyembunyikan diri agar tidak dilihat Alfred.


Simon membuka ponselnya dan menekan nomor Black.


"Halo, Black."


"Ada apa, Simon?"


"Black, aku ingin memberi kabar jika Tuan Alfred sedang berada di rumah sakit dan bicara pada Nona Ana."


"Apa?! Lalu apa yang mereka bicarakan?"


"Aku tidak mendengarnya. Posisiku terlalu jauh dari mereka."


"Ya sudah. Kau awasi saja terus mereka."


"Baik, Black."


Panggilan berakhir.


......***......


Grey tidak tenang setelah mendapat kabar jika ayahnya menemui Ana. Ia takut jika ayahnya malah memberi beban untuk Ana. Padahal selama ini ia juga telah memberi kesedihan untuk Ana.


Sungguh Grey ingin menebus semua kesalahannya terhadap Ana. Ia tak ingin menjadi pengecut yang tak memiliki tanggung jawab pada orang yang ia cintai.


Cinta? Apa benar Grey jatuh cinta? Atau hanya sebagai pelarian saja?


Ponsel Grey bergetar. Sebuah panggilan dari ayahnya. Dengan malas, Grey menjawab.


"Ada apa, Dad?"


"Kau ada dimana?"


"Aku di kantorku."


"Nanti malam pulanglah ke mansion utama. Daddy ingin makan malam denganmu."


"Hmm, baiklah."


Panggilan berakhir. Grey mengacak rambutnya pelan.


"Aku yakin pria tua itu ingin membicarakan tentang Ana!" gumam Grey.


"Aku akan melindungi Ana jika pria tua itu mengungkit tentang uang. Bila perlu aku akan menyerahkan seluruh perusahaanku untuk menebus hutang keluarga Ana." ucap Grey yakin.


Setelahnya terdengar bunyi ketukan di pintu ruang kerjanya. Black masuk dan memberitahu Grey jika meeting akan segera dimulai. Dengan merapikan sedikit penampilannya, Grey berjalan tegap diiringi Black yang setia menemaninya.


Malampun menjelang. Selama perjalanan menuju mansion utama, Grey terus memandangi ponselnya. Ia memandangi foto Ana yang ia ambil secara diam-diam. Grey tersenyum sendiri mengingat memori kebersamaan mereka yang baru tercipta.


"Tuan!" panggil Black.


"Hmm," seperti biasa Grey hanya menjawab dengan dehaman khasnya.


"Kita sudah tiba di mansion utama."


"Oh, sudah sampai ya?" Grey segera turun dari mobil.


Black memutar bola matanya malas. "Sebenarnya apa yang dia pikirkan? Sejak pagi tingkahnya aneh." gumam Black.


Memasuki mansion utama milik ayahnya, Grey disambut hangat oleh Alfred.


"Nak, kau sudah datang. Mari kita ke ruang makan." Alfred merangkul bahu Grey.


"Ada urusan apa Daddy ingin makan malam denganku?" tanya Grey saat mereka sudah duduk berhadapan di meja makan.


"Kau ini. Ayah dan anak makan bersama apa perlu alasan? Daddy dengar selama Daddy tidak ada, kau tidak tinggal disini. Apa itu benar?"


"Hmm, begitulah. Bukankah Daddy tahu jika aku memiliki apartemen di kota." balas Grey santai dengan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Oh ya? Apa kau yakin kau tidak membeli mansion secara diam-diam yang jauh dari kota?"


"Tidak ada hal seperti itu, Dad." bohong Grey.


"Kau tahu, Nak, ternyata tidak sulit untuk menemukan Ana, putri dari Alfonso. Daddy bertemu dengannya di rumah sakit tempat Alfonso dirawat dan kami berbincang sebentar. Daddy dengar dia tinggal sendirian. Jadi, Daddy mengajak Ana untuk tinggal bersama kita."


"Uhuuuk, uhuukk." Grey tersedak saat mendengar pengakuan ayahnya.


......***......


#bersambung


*Babang Grey sepertinya kau harus lebih dekat dengan ayahmu 😬😬 kau terlalu khawatir berlebihan


Tinggalkan jejak ya kesayangan 👣👣💋💋 thank You