Raanjhana

Raanjhana
Meet Me on Facebook : 24. Cinta Datang Terlambat



Raga yang tak memiliki tempat tinggal akhirnya memilih asrama kantor yang biasa digunakan oleh para security sebagai tempat tinggal sementara. Ia masih sangat kesal pada Bayu dan Aryan. Setelah ia pergi dari apartemen, tak satupun dari mereka yang menghubunginya. Dan itu membuatnya makin kesal.


Namun hari ini, secara tiba-tiba Bayu menghubunginya dan meminta bertemu. Meski kesal, Raga tetap bersedia menemui Bayu. Bagaimanapun mereka masih berteman.


"Ada urusan apa lo mau ketemu sama gue?" tanya Raga tanpa berbasa-basi.


"Gue ... gue mau minta maaf sama lo. Gue tahu gue udah melewati batas."


"Bagus lah kalo lo sadar lo salah."


"Gue bakal balik ke Inggris. Dan gak tahu kapan bisa balik kesini lagi."


"Heh? Lo serius?"


"Iya, Ga. Gue gak mau gue pergi dengan perasaan bersalah, makanya gue minta ketemu."


Raga menarik nafas dan menghembuskannya kasar.


"Gue gak tahu harus bilang apa, tapi gue juga minta maaf. Gue rasa gue juga keterlaluan. Gue lebih membela bos gue, ketimbang lo sahabat gue. Gue minta maaf."


"It's okey. Gue bisa pahami itu."


Raga membalas dengan senyuman. Ada perasaan lega setelah bertemu dan saling meminta maaf.


Raga kembali ke asrama security dan ia dikejutkan dengan kehadiran Adniyan disana.


"Pak bos?! Sedang apa disini?"


"Akhirnya kamu datang juga. Saya dengar dari security katanya kamu tinggal disini. Ada apa dengan apartemen temanmu? Apa karena saya lalu kamu---"


"Bukan, pak bos. Ini keputusan saya sendiri. Saya memilih pindah dari sana."


"Lalu kenapa malah tinggal disini? Kamu bukan security, Raga. Kamu tidak pantas tinggal disini. Sebaiknya kemasi barang-barangmu dan ikut saya."


"Heh? Kemana pak bos? Bukankah pak bos sedang sibuk mengurus pernikahan, saya tidak mau merepotkan pak bos."


"Sudah jangan banyak bicara. Kemasi saja barangmu!"


Adniyan membawa Raga ke sebuah apartemen kosong.


"Ini apartemen saya. Saya membelinya hanya untuk berinvestasi saja. Tapi karena tidak ada yang menempati jadinya kosong. Sekarang saya serahkan ke kamu. Anggap saja sebagai rumah dinas untukmu."


"Rumah dinas? Saya rasa ini---"


"Jangan membantah! Kamu adalah sekretaris saya, dan saya berhak memberikan fasilitas yang layak karena pekerjaanmu sangat bagus."


"Pak Bos, terima kasih banyak. Saya merasa---"


"Kamu bukan hanya pegawai saya, tapi juga teman. Jadi, jangan sungkan bicara pada saya kalau kamu punya masalah."


"Terima kasih, pak bos. Sekali lagi terima kasih..."


...***...


-Satu Hari Menjelang Pernikahan-


Sivia disibukkan menyambut tamu-tamu yang datang ke rumahnya untuk mengucapkan selamat padanya. Malam ini adalah malam terakhir untuknya menjadi seorang lajang, karena besok ia akan resmi menyandang status sebagai istri Adniyan.


Malam ini, Sivia akan mengadakan pesta lajang bersama teman-teman wanitanya yang ia undang ke rumah. Bukan pesta lajang seperti di film-film, hanya berkumpul bersama dan saling bercerita. Sivia mengundang Dina dan Razona untuk datang. Juga beberapa karyawan salon. Dan untuk menambah kegembiraan, Sivia ingin memperlihatkan beberapa kenangan lama saat ia bersama teman-temannya dulu. Untuk itu, ia mencari sebuah kotak yang dulu ia gunakan untuk menyimpan barang-barang lamanya. Semua masih tertata rapi di gudang rumahnya.


Kotak itu berwarna merah muda. Sivia tersenyum sendiri saat berhasil menemukannya. Dengan bersemangat ia buka kotak yang berdebu itu. Dilihatnya beberapa foto-foto lama saat ia dan Razona masih kursus kecantikan bersama. Mereka masih kelihatan culun. Lalu makin kebawah adalah kenangannya bersama teman-teman masa kecilnya. Dina, Raga, Aryan dan juga---Bayu.


Sivia menatap lekat sebuah foto. Itu adalah foto Bayu dengannya. Foto saat mereka masih balita, saat SD, lalu SMP, dan beranjak dewasa ke tingkat SMA. Ada desir berbeda di hatinya ketika melihat fotonya bersama Bayu.


Sivia kembali mengingat semua kata-kata Bayu malam itu.


"Kamu mencintaiku, kan?"


Sivia meneteskan air matanya. Entah kenapa tiba-tiba saja ia merasa melankolis. Ia terus meyakinkan dirinya sendiri kalau ia tidak mencintai Bayu. Tapi kenapa hatinya terasa sakit ketika mengingat tentang Bayu?


Apa yang salah denganku? Aku tidak mungkin mencintainya. Dia adalah sahabatku. Dan akan selalu begitu.


Saat Sivia larut dalam kegalauannya, Nisa datang dan memberitahunya kalau teman-temannya sudah datang. Sivia segera menghapus air matanya dan membawa kotak penyimpanan itu bersamanya.


Kamar Sivia berubah menjadi sangat ramai dan penuh dengan tawa riang para gadis.


Mereka menertawakan betapa konyolnya tingkah mereka di masa lalu. Apalagi saat melihat foto lama yang membuat mereka terbahak-bahak karena penampilan yang masih culun dan lugu.


Hari mulai malam, dan beberapa gadis berpamitan untuk pulang. Hanya tinggal Dina dan Razona saja yang masih setia menemani Sivia.


"Perut gue masih sakit karena banyak tertawa." ungkap Dina.


"Iya. Kita gak pernah menyangka kalau kita pernah sekonyol itu." balas Razona.


"Vi, are you okay? Kok dari tadi lo diam?" tanya Dina.


"Mungkin Mbak Vi nervous, Mbak. Besok kan dia menikah." terang Nisa.


"Ada apa Vi? Kayaknya ini bukan sekedar nervous deh." imbuh Razona.


Tanpa menjawab pertanyaan dari kedua sahabatnya, Sivia tiba-tiba menangis. Dan itu membuat Dina dan Razona saling menatap.


"Lo kenapa Vi?"


Sivia mencoba mengatur nafasnya. Ia berusaha menenangkan diri dan mulai bercerita.


"Gue rasa ... gue gak bisa melanjutkan pernikahan ini."


"Hah?!?" Dina, Razona dan Nisa membulatkan matanya dengan mulut terbuka.


"Vi, jangan becanda deh. Pernikahan lo tuh besok ya. Besok!!!" ucap Dina.


"Gue tahu, Din. Tapi, entah kenapa gue ngerasa ini salah."


"Salah gimana?" Tanya Razona.


"Gue gak menjalani pernikahan ini dengan sepenuh hati. Gue ... gue gak benar-benar tulus mencintai Mas Iyan."


Kedua sahabat dan adiknya, mulai memegangi kepala mereka.


"Maaf kalo gue baru menyadarinya sekarang. Gue tahu ini udah terlambat. Tapi, gue belum menikah, jadi gue masih bisa membatalkannya."


"What?! Lo gila ya! Semua persiapan sudah selesai dan undangan juga sudah di sebar. Enteng banget lo ngomong mau ngebatalin!" Razona kembali naik darah mendengar pernyataan Sivia.


"Gue minta maaf, Raz. Tapi gue gak mau menikahi orang yang gak gue cintai..."


"Heh? Trus lo cintanya sama siapa?" Timpal Dina.


"Gue rasa ... gue jatuh cinta sama Dewa." Dan air mata Sivia kembali tumpah.


Ketiga orang yang ada dikamar Sivia hanya bisa terdiam melihat Sivia menangis tersedu-sedu. Mereka membiarkan Sivia mengeluarkan segala emosi didalam hatinya.


Setelah cukup tenang, Sivia kembali berkata.


"Kalian harus bantu gue! Gue harus pergi dari sini. Gue harus menemui Dewa. Gue bersalah sama dia, karena gue udah nolak dia."


"Trus Mas Iyan gimana, Mbak?" tanya Nisa.


"Trus nyokap lo? Mau bilang apa kita kalo dia nanya soal lo?" tambah Dina.


"Makanya itu gue minta bantuan kalian. Nis, tolong bantu Mbak. Mbak gak mau menyesal dikemudian hari karena udah melepaskan Dewa."


Mereka bertiga saling melempar pandang. Mereka melihat ada kesungguhan di mata Sivia.


"Raz..." Sivia memegang kedua tangan Razona dan memohon.


"Din..." kemudian Dina.


"Pergilah! Gue gak mau lo gak bahagia karena terpaksa menikahi Iyan. Gue yakin orang-orang akan mengerti." pungkas Razona.


"Kita akan cari cara supaya nyokap lo gak curiga. Pergilah! Kejar cinta sejati lo." imbuh Dina.


"Kalo memang Mbak mencintai Mas Bayu. Silahkan Mbak temui dia." tambah Nisa.



"Wah wah... Gimana ini? Jadi nikah gak ya?"