Raanjhana

Raanjhana
Meet Me on Facebook : 19. Luka Lama



-Bayu PoV-


Kupandangi terus surat yang Sivia berikan untukku. Aku masih terus berpikir dimanakah dia sekarang? Sudah kucoba lacak, tapi ternyata hasilnya nihil.


Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Apakah dia mengalami pergolakan batin? Apa hubungannya dengan tunangannya itu tak berjalan baik?


Persiapan pernikahan mereka terus berlanjut tanpa kehadiran calon mempelai wanita. Itu yang aku dengar dari Raga. Dan entah mengapa aku merasa sikap Raga terhadapku mulai sedikit aneh. Apa dia menyalahkanku atas kepergian Sivia? Jelas itu tidak masuk akal.


Malam ini, aku terus merenung di balkon apartemen. Memandangi kelap kelip lampu kota yang sangat indah. Aryan pintar sekali memilih tempat. Dan kurasa harga apartemen ini cukup mahal.


"Bay--" Aryan menepuk bahuku. Dan itu membuatku sedikit berjingkat.


"Aryan? Ngagetin aja." balasku mencoba santai meski aku sebenarnya sangat terkejut.


"Lo gak usah mikirin si Raga. Gue tahu dia akhir-akhir ini kayak mengintimidasi lo gitu. Sejak dia bekerja jadi sekretaris si Iyan, dia memang banyak berubah. Dia sangat mengidolakan bosnya itu. Sampai kadang gue pikir, dia akan menikahi bosnya."


Aku tersenyum. "Thanks udah ngehibur gue."


"Never mind. Bay, gue yakin Sivia baik-baik aja. Dia hanya---ada di suatu tempat."


Tunggu!!! Suatu tempat? Aryan benar. Sivia ada di suatu tempat yang tak memiliki akses terhadap dunia luar. Dan hanya ada satu tempat yang pasti akan dia tuju.


"Ar, gue rasa gue tahu dimana Sivia."


"Heh?! Serius lo?"


Aku mengangguk mantap. "Gue akan kesana besok pagi."


...***...


-Sivia PoV-


Dan disinilah aku--- di tempat yang jauh dari hingar bingar kehidupan kota yang gemerlap.


Dingin--bahkan hatikupun ikut merasakannya. Disini semua adalah asing. Dan aku merasa lebih baik.


Kenapa aku harus pergi? Kenapa tidak kuhadapi saja semua masalahku? Tidak semudah itu Armando.


Aku memiliki alasanku sendiri. Aku merasa penat dengan yang terjadi.


Kadang aku berpikir kenapa takdir mempertemukanku dengan kerumitan ini? Apa ingin mengujiku? Seberapa besar nyaliku menghadapi ini. Aku tak cukup bernyali besar. Makanya aku memilih pergi untuk sementara.


Bayangan demi bayangan selalu hadir di tiap mimpiku selama aku disini. Seakan membuka luka lama yang sudah terobati.


Pagi ini aku terbangun, di hari kelimaku berada disini. Mimpi buruk. Lagi. Masih kuingat bagaimana Mbak Ninna memperlakukanku malam itu. Sebuah tamparan keras untuk hatiku.


Semua kata-katanya sama. Dia ingin aku mengakhiri semuanya. Dan beberapa malam terakhir mimpiku juga sama.


Aku mengusap wajahku. Aku akan keluar kamar kali ini. Aku harus menghadapi dunia.


"Pagi Nona Sivia---" Sebuah suara menyapaku dengan ramah.


"Pagi, Pak." jawabku sambil menunduk.


"Hari ini siap berkeliling?"


"Ya---begitulah." jawabku lagi diiringi senyum.


"Kalau begitu, selamat menikmati."


"Terima kasih, Pak."


Dia adalah---aku lupa namanya. Dia yang menyewakan tempat ini. Hanya dia saja yang mengelola tempat seperti ini disini.


Aku melangkahkan kaki menyusuri jalan bebatuan kecil yang cukup panjang. Kuhirup banyak udara sejuk disini. Sudah berhari-hari hanya kuhabiskan mengurung diri saja.


Ini tidak benar, Vi. Kamu tak boleh lemah sekarang. Dan dengan semangat menggebu kugertakkan kakiku dengan keras ke tanah dan terus melangkah maju. Kusemangati diriku sendiri sambil terus melangkah.


Aku berhenti di depan papan, yang bertuliskan 'Air Terjun'. Ada papan penunjuk arah yang akan mengantarkanku pada air terjun ini.


Sepuluh menit kemudian, aku sudah sampai di sebuah tepi bukit yang didepannya mengalir mata air tinggi yang mereka sebut 'Air Terjun'.


Di seberang bukit, Kulihat beberapa anak muda melompat ke bawah bukit dan berenang di bawah aliran air terjun. Itu---cukup menantang adrenalin. Karena tinggi bukit ke bawah adalah sekitar 30 meter.


Aku tersenyum bahagia dan puas melihat anak-anak muda itu bersenang-senang berada di bawah air. Mereka saling bercanda seolah tak punya beban. Andai saja aku bisa seperti mereka.


Aku melamun di tepi bukit dan terduduk. Sayup-sayup tak terdengar suara apapun lagi. Suara tawa anak-anak muda tadi sudah hilang. Dan itu menyadarkanku dari lamunan panjang.


Kulihat sekitar bukit. Mereka sudah tak ada disana. Mereka sudah pergi, dan kini aku sendiri lagi. Aku menatap kebawah bukit dan memandangi air terjun yang sangat indah itu. Air terjun itu berada tepat didepanku. Sesaat aku berpikir---bagaimana rasanya jika melakukan seperti apa yang mereka lakukan tadi? Terjun bebas ke bawah dan mandi dibawah air terjun.


Aku tersenyum menyeringai. Ya. Aku juga harus melakukannya. Untuk melepaskan beban. Jatuh ke bawah sambil berteriak sekencangnya.


Kubuka jaket tebalku dan sepatu bootsku. Kupandangi sekali lagi ke bawah bukit. Apakah aku bisa melakukannya?


Huft! Kutarik nafas panjang dan-----


BYUUUUUUUURRRRRRRR


OH My God!!! Aku tak percaya kalau aku akan benar-benar melompat. Air nya hangat disini. Air terjun ini mengalirkan hawa hangat di sekujur tubuhku.


Aku mulai menyeimbangkan tubuhku dan berenang menuju air terjun. Aku ingin membasahi tubuhku dengan hangatnya air terjun yang mengalir.


DEG.


Jantungku serasa akan terhenti.


Aaarrrrgggghhhhh, tidak!!!


Aku mengepakkan tanganku diatas air. Berharap untuk bisa bergerak menuju ke tepi. Aku harus segera keluar dari air. Atau aku akan mulai tenggelam.


"Arrrgghhhhhh!!! Tolooooooonngggg!!!!" aku berteriak sekencangnya.


Tidak!!! Tak ada yang mendengarku. Anak-anak tadi, kemana perginya mereka?


Aku terus berusaha sekuat tenaga untuk bergerak. Namun sekarang aku benar-benar sudah kelelahan. Kakiku tak bisa kugerakkan lagi.


Aku mulai terbatuk karena kemasukan air. Tubuhku mulai terbawa ke bawah air. Aku mulai tenggelam.


Tidak! Bagaimana bisa ini terjadi padaku? Apa aku akan mati sekarang?? Tidak!!!


Aku sudah pasrah sekarang. Nafasku mulai habis. Aku terombang ambing didalam air. Mataku mulai berat.


Dan ketika kumulai memejamkan mata ... potongan demi potongan memori di masa laluku mulai kulihat.


Semua hal yang terjadi enam tahun lalu... Hal yang pernah kulupakan. Kini di saat aku merasa ini adalah hari terakhirku, aku mulai mengingat semuanya. Luka lamaku kini tergores lagi. Dan rasanya, sangat sakit.


Aku sudah tak merasakan apa-apa lagi. Tubuhku terasa ringan dan melayang di air. Mungkinkah---aku sudah mati?


...***...


Sementara itu,


"Mau apa Mbak datang kesini? Kalau hanya untuk mencaci maki kakakku, sebaiknya Mbak pergi dari sini. Kami sudah cukup sedih dengan menghilangnya Mbak Vi."


Nisa menyambut kedatangan Razona dengan ucapan ketus saat Razona berkunjung ke rumahnya.


"Maafkan aku, Nis. Atas sikapku yang kurang baik beberapa hari lalu. Aku benar-benar minta maaf." Razona menunjukkan penyesalannya.


"Kalau Mbak sudah menyadarinya, baguslah. Apa ada lagi yang mau dikatakan?"


"Nisa, apa kamu tidak mempersilahkan aku masuk terlebih dahulu?"


"Kalau Mbak hanya akan membuat Ibuku bersedih, aku tidak akan mengijinkan Mbak masuk."


"Tidak! Kenapa kamu bicara begitu? Aku sangat menyesal. Aku ingin meminta maaf pada Ibu---"


"Suruh Razona masuk, Nis. Dia kan sudah seperti keluarga kita." Nila tiba-tiba keluar dari kamarnya.


"Terima kasih, Bu."


"Jangan berbasa-basi, ada perlu apa Mbak datang kemari selain untuk meminta maaf?" Nisa masih bernada ketus.


"Umm, aku hanya ingin tahu bagaimana kabar pencarian Sivia. Apa sudah ada jejak?"


"Belum. Tapi kami yakin akan segera menemukannya. Mas Bayu akan menemukannya." tegas Nisa.


"Eh?" Razona terkejut.


Nisa seperti sengaja mengatakan hal tentang Bayu pada Razona, karena ia tahu Razona kurang menyukai Bayu.


"Apa dia bisa menemukannya?" Tanya Razona tak yakin dengan kemampuan Bayu.


"Tentu saja. Mereka berteman sejak kecil, dan dia hapal semua hal tentang Mbak Vi."


Razona menghela nafas. Setelah beberapa lama mengobrol dengan Nila, Razona pun berpamitan pulang. Nisa mengantarnya sampai ke depan rumah.


"Nis, aku tahu aku sudah meminta maaf soal perkataanku yang lalu. Tapi, untuk kali ini, aku kurang setuju kalau si Bayu yang harus mencari Sivia. Kenapa tidak meminta Iyan yang mencarinya? Iyan adalah calon suami Sivia. Dia yang lebih berhak atas diri Sivia."


"Masih calon suami, Mbak. Belum jadi suami sah. Dan Mas Bayu--- dia sudah seperti keluarga. Sama seperti ibu yang menganggap Mbak Raz seperti keluarga. Aku tahu Mbak Raz tidak suka pada Mas Bayu. Tapi untuk kali ini, percayakan saja padanya. Aku yakin dia akan menemukan Mbak Vi."


Razona tidak mau berdebat lagi. Nisa masih terlalu muda untuk memahami situasi ini.


"Baiklah. Aku akan mempercayai Bayu. Kalau begitu, aku pamit." Razona masuk ke dalam mobil, dan melaju meninggalkan Nisa yang berdiri menatap kepergiannya.


...***...



.


.


.


.


Genks, mak thor so sorry karena sepertinya, kisah ini adalah yg terakhir di Raanjhana 🙏


Untuk kisah, Lili, Dewi, dan Cinta, akan dibuat terpisah. Pengennya sih dibikin novel sendiri. Tapi kalo tidak pun, akan aku masukkan dalam satu judul sama seperti model Raanjhana ini.


Rencana judulnya adalah Judaiyaan. kita intip covernya dulu ya genks😬😬



Semoga euforia nya akan sama seperti kisah Raanjhana ini ya genks, hehehe.


Mohon maaf dan Terima Kasih