
Diya mengurung diri di kamar usai bertemu dengan Fendi dan menyetujui perjanjian yang diajukan oleh Fendi. Sungguh Diya terpaksa menyetujui semua keinginan Fendi. Ia hanya ingin menyelamatkan suaminya dari kehancuran. Ingatan tentang berkas yang dibacanya tadi kembali menyeruak. Berkas-berkas tadi berisi informasi saham-saham Dirga yang sudah diambil alih oleh Fendi. Dan juga masalah kerjasama yang dulu pernah mereka berdua rencanakan akhirnya terhenti karena Fendi telah berbuat licik dengan mengubah berkas kontraknya dan membuat Dirga rugi hingga saham perusahaannya turun drastis.
“Maafkan aku, Om. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk membalas semua kebaikan Om padaku. Om sudah memberikan cinta dan kasih sayang yang begitu besar padaku. Aku tidak bisa melihat Om hancur hanya karena wanita sepertiku. Semoga Om bisa mengerti dengan keputusanku.” Diya menangis dalam diam sambil merapikan barang-barangnya kedalam koper besar.
Perjanjiannya dengan Fendi mengharuskan dirinya ikut pindah dan tinggal bersama Fendi. Sungguh berat memang. Diya tidak bisa hidup berjauhan dengan Dirga. Diya pasti akan merindukan sentuhan hangat Dirga dan juga malam-malam yang sudah mereka habiskan bersama.
Malam harinya, Dirga tiba di rumahnya dan langsung mencari keberadaan Diya. Dirga bertemu Esih dan bertanya padanya.
“Bi, dimana Diya? Apa dia sudah kembali?”
“Iya, Tuan. Nona sudah kembali. Tapi, sejak pulang Nona terus mengurung dirinya di kamar. Sebenarnya apa yang terjadi, Tuan?”
Dirga tidak bisa menjawab pertanyaan Esih. “Tenanglah, Bi. Semua pasti akan baik-baik saja. Kalau begitu, saya permisi dulu untuk menemui Diya.”
Dirga berjalan cepat menuju kamarnya untuk bertemu dengan Diya. Dirga tercengang karena melihat Diya sedang menutup koper besarnya lalu ia letakkan di pojok kamar.
“Sayang? Kenapa kau berkemas? Apa kau mau pergi?” Dirga memeluk istrinya sejenak kemudian menatap wajah Diya yang terlihat sembab.
“Om, maafkan aku. Kita harus berpisah.”
“Apa? Sayang, apa yang kau bicarakan? Kau pasti sedang bercanda, ‘kan?”
“Tidak, Om. Om, tolong mengerti. Aku melakukan semua ini supaya perusahaan Om tidak dihancurkan oleh Kak Fendi. Aku tidak bisa melihat Om kehilangan segalanya karena aku.”
Dirga menggeleng. “Jika ini yang Fendi inginkan, maka Om bersedia kehilangan segalanya. Tapi Om tidak rela jika harus kehilanganmu.” Dirga memeluk erat istri kecilnya.
“Percayalah, Om. Cinta Diya hanya untuk Om. Meski Kak Fendi pernah menjadi malaikat pelindung Diya.”
Dirga melepaskan pelukannya. Dirga mencium bibir Diya. Mereka saling menyapu dan menyesap pelan hingga saling memagut. Sungguh Dirga tidak bisa kehilangan wanita yang sangat ia cintai ini.
Dirga menuntun Diya menuju tempat tidur mereka. Menuju ranjang hangat yang menjadi saksi pergulatan panas mereka di malam-malam yang panjang. Diya pasrah saat Dirga menindih dan mengungkungnya lalu melepas satu persatu benda yang melekat pada tubuhnya.
Diya menatap wajah suaminya yang terlihat sendu. “Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja disana. Om juga harus menjaga diri Om dengan baik. Aku sangat mencintai Om…”
“Aakhh!” Diya melenguh pelan kala sesuatu milik Dirga mulai memasukinya. Diya memeluk erat suaminya yang bergerak teratur diatasnya.
“Hah, hah, hah,” nafas mereka terengah saat pergulatan mereka telah berakhir.
“Terima kasih, sayang. Om juga sangat mencintaimu. Om janji Om akan mencari cara agar membuatmu lepas dari pria itu.”
Diya mengangguk dan memeluk suaminya erat. Mereka tertidur sambil berpelukan sepanjang malam.
...…***…...
Pagi harinya, Diya sudah rapi dan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Waktu perpisahan mereka semakin dekat. Diya mencoba untuk tersenyum pada suaminya, meski hatinya begitu sakit.
“Selamat pagi, Om. Ayo sarapan dulu!”
“Sayang…” Dirga tidak menjawab sapaan Diya. Ia malah memeluk tubuh istrinya.
“Ehem! Maaf mengganggu kemesraan kalian.” Sebuah suara berat lain membuat Dirga melepaskan pelukannya.
“Kau!” Dirga meradang. Namun Diya memegangi lengan suaminya.
“Diya, apa kau sudah siap?” Tanya Fendi mengerling kearah Diya.
“Aku akan membalas semua yang kau lakukan ini, Fendi! Ingat itu baik-baik!” tegas Dirga.
“Sudah, Om. Maafkan Diya, ya. Diya harus pergi.” Diya mengecup bibir suaminya di depan Fendi.
Dirga tertegun melihat istrinya dibawa oleh Fendi. Esih juga bersedih melihat pasangan yang sangat saling mencintai ini harus berpisah.
.
.
.
Diya tiba di sebuah mansion yang cukup besar. Fendi mempersilahkan Diya untuk masuk.
“Kak, ini rumah siapa?”
“Rumahku. Tapi jarang kutinggali. Ayo masuk! Kau akan tinggal disini mulai sekarang. Anggaplah rumahmu sendiri.”
Diya mengangguk meski hatinya amat sakit. Diya menuju ke sebuah kamar yang berada di lantai dua. Diya memasuki sebuah kamar dengan diantar seorang asisten rumah tangga.
Usai menaruh barang-barangnya di kamar, Diya kembali menuju ke bawah dan bertemu dengan Fendi yang sedang berdebat dengan seorang gadis muda.
“Kak, ada apa?” Diya menghampiri Fendi.
“Tidak ada apa-apa, sayang. Dia adalah gadis yang akan menemanimu disini saat aku sedang bekerja.” Jawab Fendi.
Gadis muda itu hanya diam.
“Sayang, aku harus pergi ke kantor. Kau beristirahat saja disini. Jika kau butuh apa-apa, katakan pada Lily. Aku pergi ya!” Fendi berpamitan dan membelai wajah Diya.
Diya hanya diam dengan semua tindakan Fendi. Ia tak mau Fendi makin kalap dan marah lalu melampiaskannya pada Dirga.
“Kau! Jaga baik-baik wanita yang kucintai ini! Mengerti?” ucap Fendi pada gadis bernama Lily.
Sepeninggal Fendi, Lily menatap iba pada Diya. “Kak, maafkan Kak Fendi.”
“Tidak apa. Oh ya, ngomong-ngomong, kau siapa?”
“Aku adalah adik Kak Fendi.”
“Adik? Setahuku Kak Fendi tidak memiliki adik.”
“Adik tiri, Kak. Ibuku dan Ayah Kak Fendi menikah.”
“Oh, begitu.”
“Aku tidak menyangka Kak Fendi akan berbuat nekat seperti ini.”
“Tidak apa. Aku melakukan semua ini karena aku harus melindungi suamiku.”
“Astaga! Kakak sudah menikah? Tega sekali Kak Fendi melakukan ini.” Lily menutup mulutnya dan menggeleng pelan.
“Terima kasih, ya. Karena ada kamu, aku jadi memiliki seorang teman. Namaku Hanindiya, panggil saja Diya.” Diya mengulurkan tangannya.
“Aku Lily. Senang bertemu dengan kakak.” Lily menerima uluran tangan Diya.
#bersambung…
*hiks hiks hiks, Diya berpisah dengan Dirga. Simak kejutan selanjutnya ya genks. Kita lihat bagaimana perjuangan Dirga untuk mendapatkan Diya kembali.
Jangan lupa tinggalkan jejak untuk karya receh mamak yang satu ini. semoga kalian terhibur dengan cerita ini.
Terima kasih.