Raanjhana

Raanjhana
Trapped by Cold CEO : 01. Grey Ardana Putra




Halo genks, ketemu lagi dalam cerita yang baru lagi ya. Cerita ini ratenya DEWASA ya genks. Ada beberapa part yang mengandung adegan 21+ dan juga kata-kata kasar. Bagi yang belum cukup umur jangan mendekat. Dan untuk pembaca harap bijak menyikapi. Jangan lupa beri dukungan untuk karya receh yg satu ini. Terima kasih.


......***......


Satu Tahun yang Lalu,


London, Inggris.


Seorang pria muda baru saja turun dari pesawat dan disambut oleh beberapa orang yang sudah menunggunya di bandara.


"Selamat datang kembali, Tuan Muda Grey." sapa seorang pria muda bernama Todd Candler, asisten ayah Grey.


"Hmm, Todd. Bagaimana kabarmu?"


"Baik, Tuan. Mari silahkan, Tuan Besar sudah menunggu kedatangan Tuan.


Pria muda bernama Grey hanya mengangguk patuh. Keputusannya untuk meninggalkan Indonesia memanglah cukup berat. Namun karena permintaan ayahnya ditambah lagi dengan baru saja ia merasakan patah hati yang


amat dalam, membuatnya bertekad lebih baik menjauh dari pada harus melihat kebahagiaan wanita yang dicintainya.


Perjalanan menuju ke sebuah gedung tinggi bertuliskan Julies Corp tidak memakan waktu lama. Grey memandangi gedung-gedung tinggi yang berjejer rapi itu. Sudah lama ia tidak kemari sejak memutuskan untuk mengambil


studi di Indonesia.


"Tuan, sudah sampai," ucap Todd.


Grey seketika kembali ke alam sadarnya. Ia


lebih banyak melamun selama perjalanan. Grey mengangguk kemudian turun dari mobil.


Grey memasuki gedung pencakar langit berlantai lebih dari 50 lantai itu. Ayahnya berhasil membangun gedung yang lebih besar


dari sebelumnya.


"Cih." Grey berdecih.


Todd menekan angka 40 dimana ruangan ayah Grey, Alfred Ardana, sudah menunggu kedatangan putra tunggalnya itu. Tiba di lantai


40, Todd mempersilahkan Grey untuk memasuki sebuah ruangan yang cukup besar


dari ruang yang lainnya.


"Silahkan, Tuan. Tuan Alfred sudah menunggu," ucap Todd.


"Kau tidak ikut masuk?" tanya Grey.


"Tidak, Tuan."


"Ayolah. Aku malas bertemu berdua saja dengan pria tua itu."


Todd tertawa. "Pria tua itu adalah ayah Anda, Tuan."


Grey melotot kearah Todd.


"Baiklah. Saya akan menemani Tuan. Mari!"


Todd berjalan di depan diikuti dengan Grey.


Todd mengetuk pintu terlebih dahulu kemudian masuk ke ruangan itu.


"Selamat siang, Tuan Alfred. Tuan Grey sudah datang," ucap Todd.


"Hmm." Seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu segera menutup berkas di mejanya dan menghampiri dua pria muda yang masuk ke ruangannya.


"Grey! Akhirnya kau kembali juga, Nak. Daddy sangat merindukanmu." Pria paruh baya bernama Alfred itu memeluk Grey.


Grey hanya memutar bola matanya malas.


"Dengar, Nak. Hari ini kau tidak perlu melakukan apapun. Kau istirahat saja di mansion utama. Besok Daddy akan mulai memberitahu apa saja yang harus kau lakukan disini."


"Dad, aku masih harus melanjutkan pendidikanku. Bisakah aku tetap berkuliah?"


"Sure. Kau bisa tetap berkuliah sambil mengurus bisnis. Tidak sesulit yang kau bayangkan, Grey. Dan nanti Daddy akan


mempekerjakan satu orang untuk menjadi asistenmu."


"Siapa dia? Aku ingin orang itu juga memiliki kompetensi yang bagus seperti Todd."


"Tenang saja. Kau mengenalnya, Grey."


Grey mengernyitkan dahi. "Siapa?"


"Jacob Black. Kau masih ingat tentangnya?"


"Yeah, tentu saja. Dia orang yang sangat


kompeten seperti Todd. Thanks, Dad."


.


.


.


Keesokan harinya, Grey sudah bersiap dan


bersama ayahnya menuju ke sebuah tempat yang belum pernah ia kunjungi. Grey menautkan kedua alisnya.


“Dad, tempat apa ini?”


“Ini adalah usaha tersembunyi Daddy.”


“Maksud Daddy?”


“Masuklah dulu! Kau akan lihat betapa besarnya uang yang mengalir disini.”


Grey memasuki sebuah gedung yang pintu depannya bertuliskan ‘The Devil Club’. Grey masih tidak mengerti dengan apa yang


diinginkan ayahnya.


“Selamat pagi, Tuan Alfred, Tuan Grey.” Seorang


pria muda bernama Jacob Black menyapa Grey dan Alfred.


“Selamat pagi, Black. Grey, kau masih ingat


dengannya, bukan? Dia asisten terbaik dari yang terbaik sama seperti Todd.”


“Yeah. Aku tahu.” Sahut Grey datar.


“Mari silahkan masuk, Tuan.”


Black mengajak Grey dan Alfred berkeliling. Lebih tepatnya Greylah yang harus memahami semua celah tempat ini. usai berkeliling,


Alfred membawa Grey masuk kedalam ruang kerjanya.


“Apa ini, Dad?”


“Ini adalah klab malam terbaik di London, Nak. Ini adalah bisnis terselubung kita.” Balas Alfred.


“Apa? Apa Daddy sudah gila? Kenapa Daddy


membuka klab malam seperti ini? bukankah Mom akan kecewa jika tahu akan hal ini?”


“Son, Mommy mu pasti mendukung apapun keputusan Daddy.”


“Jadi ini alasannya Daddy memintaku kembali?”


“Benar. Kau masih muda dan sangat cocok untuk memegang bisnis ini.”


“Tidak! Aku tidak bisa. Aku ingin memulai


bisnisku sendiri. Dan bukan di bidang hiburan seperti ini.”


“Son, kau akan tahu betapa menyenangkannya


mengelola bisnis ini. lahan hijau untuk menghasilkan uang dengan cara cepat


adalah cara ini.”


Grey sama sekali tidak mengerti dengan


pemikiran ayahnya. Namun bagaimanapun juga ia tak bisa menolak keinginan ayahnya.


“Baiklah. Akan kucoba.”


“Good. Carilah inovasi terbaru dan ide cemerlang agar tempat ini makin maju.” Alfred menepuk pelan bahu Grey.


ingin bekerja disini. Kau harus mempekerjakan hanya yang terbaik.”


Grey kembali bingung. “Maksud Daddy?”


Alfred mengarahkan bibirnya ke telinga Grey. “Pelacur yang bekerja disini adalah yang terbaik di kota ini. kau harus bisa


mempertahankan itu.”


Grey berjingkat kaget. “Gila! Ini benar-benar


gila!” batin Grey.


...…***…...


Masa sekarang,


Grey baru saja turun dari pesawat yang


membawanya dari Italia. Ia baru saja mengurus beberapa bisnis ayahnya yang berada disana. Kini ia kembali ke London dan harus segera berkutat dengan bisnisnya.


Sudah satu tahun sejak kepindahannya ke London. Dalam enam bulan Grey berhasil mendirikan perusahaannya sendiri di bidang


desain interior yang ia beri nama GAP Design.


Di ruang tunggu bandara, Black sudah menanti


kedatangan tuannya itu.


“Selamat malam, Tuan.” Sapa Black.


“Selamat malam, Black. Apa jadwalku malam ini?”


Grey sangat tidak suka menunda pekerjaannya. Satu tahun berada di kota ini tidak bisa membuatnya bersantai dan berhura-hura. Yang


dilakukannya hanyalah bekerja dan bekerja.


“Kita akan langsung ke klab, Tuan.”


Grey menarik nafas dan menghembuskannya kasar. Pekerjaan yang awalnya paling ia benci kini mulai mendarah daging.


“Baiklah. Pastikan kau memilih yang terbaik.”


“Tentu saja, Tuan. Tuan bisa memeriksanya


sendiri nanti.”


Grey hanya mengangguk paham.


.


.


.


Sekitar satu jam perjalanan, Grey akhirnya tiba


di klab malam yang kini menjadi miliknya. Beberapa pria berbadan besar menyapa


Grey dan juga Black. Disini Black sudah seperti Grey yang harus dihormati juga. Black adalah tangan kanan Grey.


Mereka berdua berhenti di depan ruang VVIP


milik Grey.


“Apa mereka sudah siap?” Tanya Grey.


“Tuan masuklah dulu. Aku akan panggilkan


mereka.”


Grey mengangguk kemudian masuk dan merebahkan tubuhnya di sofa empuk dalam ruangan itu. Satu botol wine dan sebuah gelas


sudah tersedia disana. Grey segera menuangkan wine kedalam gelas dan menyesapnya perlahan sambil memejamkan mata merasakan lembutnya rasa wine dalam lidahnya.


Tak lama seorang wanita berpakaian minim


mengetuk pintu dan masuk menyapa Grey.


“Selamat malam, Tuan Grey.” Sapa wanita itu


dengan suara yang dibuat semerdu mungkin untuk menarik perhatian Grey.


“Selamat malam.” Grey menjawab datar dan melihat wanita didepannya dari ujung rambut hingga ujung kaki.


“Apa kau sudah berpengalaman?”


“Tentu saja, Tuan.”


Grey tersenyum seringai. "Baiklah. Lakukan keahlianmu, ja-lang."


Wanita itu tersenyum getir karena Grey menyebutnya ja-lang, meski semua itu memang benar. Wanita itu segera menghampiri Grey dan duduk di pangkuan Grey tanpa ragu dan malu.


Wanita yang berpakaian minim itu sengaja menggesekkan tubuh bagian bawahnya pada paha Grey. Tak lupa ia juga mencondongkan tubuhnya ke dada bidang Grey hingga benda kenyal miliknya menempel pada dada Grey.


Grey tersenyum sinis melihat aksi wanita yang melamar kerja di klab miliknya ini. Sesuai keinginan ayahnya, Grey sendiri yang harus menyeleksi wanita yang akan melayani pria-pria pelanggan klabnya. Grey hanya memilih yang terbaik dari kualitas yang baik juga. Masa lalu wanita yang akan bekerja juga di selidiki terlebih dulu oleh anak buah Grey.


"Untuk permulaan kau lumayan juga. Berapa usiamu?" tanya Grey melihat wanita itu dengan tatapan jijik.


"Sembilan belas tahun, Tuan."


"What?! Kau masih semuda itu dan ingin menjajakan tubuhmu?"


"Aku tidak punya pilihan lain, Tuan. Hanya dengan cara ini aku menghidupi keluargaku. Kumohon terima aku bekerja disini, Tuan." Wanita itu berbisik tepat di telinga Grey dan menggigit sedikit cuping Grey untuk membuatnya bergairah.


"Ck, kau masih bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dari ini."


Wanita itu tersentak. "Tuan, apa Tuan ingin menceramahiku? Tuan sendiri memiliki klab seperti ini yang membuat kami berpikir pendek dengan menjual tubuh kami. Tuan yang sudah memfasilitasi kami."


Grey mendengus kesal. Apa yang dikatakan wanita itu benar juga.


"Baiklah. Puaskan aku! Kau akan lolos dan diterima bekerja disini jika kau bisa memuaskanku."


Wanita itu tersenyum senang. Ia serasa mendapat rejeki nomplok bisa memuaskan pria setampan dan sedingin Grey.


"Dengan senang hati, Tuan."


Wanita itu segera melahap habis bibir Grey. Bibir mungil wanita itu bermain liar disana. Tak lupa tangannya mulai bergerak lincah diatas tubuh Grey. Posisi mereka masih sama. Wanita itu duduk dipangkuan Grey.


Tak ada respon sama sekali dari Grey. Ia hanya sesekali membalas ciuman wanita itu. Wanita itu tak mau kalah. Meski masih muda ia sangat hapal bagaimana membuat pria bergairah.


Lama kelamaan Grey mulai membuka akses untuk wanita itu masuk kedalam pusaran gairah. Wanita itu dengan lincah membuka sendiri dress mini yang ia kenakan. Ia juga mulai membuka jas milik Grey.


"Aarrghhh!" Grey mulai terbawa suasana.


Wanita itu tersenyum karena berhasil menguasai Grey. Ia terus melanjutkan aksinya. Suara saling menikmati mulai terdengar menggema di ruangan itu.


"Aaahh, aaahh..." wanita itu terus bergerak diatas tubuh sang pria.


"Tuan... Kau sangat... Aaahh..." wanita itu tak mampu berkata-kata.


"Kau yang harus memuaskanku. Jangan lemah, ja-lang... Bergeraklah terus..."


Satu jam telah berlalu setelah pergulatan panas yang terjadi di ruang itu.


"Haaahh," Grey menarik nafas dan menyesap wine nya.


"Bagaimana, Tuan? Apa tuan menerima wanita ini? Dia bernama Daisy." ucap Black.


Grey melirik kearah wanita itu yang masih berada di atas ranjang. Pastinya wanita itu lelah karena terus bergerak aktif.


"Hmm, lumayan lah. Besok mulai pekerjakan dia." Grey meletakkan gelasnya ke meja kemudian merapikan jasnya dan bergegas keluar dari ruangan itu.


"Bersihkan ruangan itu dan suruh wanita itu pulang." perintah Grey.


"Baik, Tuan." Black menunduk hormat kemudian kembali masuk kedalam ruangan itu.


"Hei, ja-lang. Bangunlah!" Black menggoyang tubuh Daisy.


Daisy mengerjapkan matanya. "Bagaimana Tuan? Apa aku diterima?"


"Iya. Mulai besok kau bisa bekerja disini. Sekarang kau pulanglah. Ruangan ini akan dibersihkan."


Daisy mengangguk paham kemudian mengambil pakaiannya yang berserakan dilantai.


#bersambung...