Raanjhana

Raanjhana
Takdir Cinta Nisha : 28. Pembuktian Cinta



Asha berada di rooftop sebuah gedung kantor sejak siang tadi. Ia bersembunyi disana agar tidak ada orang yang menemukannya. Hingga hari gelap, ia masih disana.


Ponselnya berkali-kali bergetar namun ia sama sekali tak menggubrisnya. Hatinya beku. Ia tak ingin mendengar kata apapun yang akan membela Nisha dan Hernan.


Ketika orang tuanya mulai putus asa, mereka mendatangi Dirga dan meminta Dirga untuk mencari putrinya. Dirga mengenal Asha lebih dari Hernan. Maka ia bisa menemukan Asha disana. Sedang berdiri dan memandangi gedung tinggi dan langit berbintang.


"Asha..." Suara itu membuyarkan lamunan Asha. Namun ia bergeming. Tak menoleh sedikitpun.


Dirga menghampiri Asha dan memeluknya. Pelukan hangat seorang sahabat yang pastinya di butuhkan Asha saat ini.


"Aku pikir tidak akan ada lagi orang yang peduli padaku."


"Aku memang tidak peduli. Tapi aku peduli perasaan kedua orang tuamu. Apa kau tidak kasihan pada mereka? Mereka menyembah kaki orang tuaku dan juga orang tua Hernan. Mereka menerima hukuman menggantikanmu. Apa kau tidak merasa bersalah?"


Asha melepas pelukan Hernan.


"Baiklah. Aku mengalah. Aku menyerah. Aku akan bertanggung jawab."


"Jadi?"


"Antarkan aku pulang, Dirga. Aku ingin pulang."


.


.


.


PLAAAAKKK!!!


Sebuah tamparan didapatkan Asha. Ayahnya begitu murka padanya. Harga dirinya sebagai orang kecil memanglah tidak sebanding dengan majikannya yang kaya raya. Tapi memiliki putri yang tak tahu adab membuatnya makin tak memiliki harga diri.


"Minta maaflah pada Tuan Hernan dan Nona Nisha. Sungguh ayah tidak pernah mengajarkanmu untuk berbuat hal kotor seperti itu!"


"Sudah, Ayah! Jangan pukul anak kita lagi." Ibu Asha terisak sambil memegangi tangan suaminya.


Dirga membawa Asha masuk kedalam kamarnya.


"Beristirahatlah! Besok akan kuantar kau menemui Hernan dan Nisha."


"Terima kasih, Dirga." Nisha tak menampakkan senyum sedikitpun diwajahnya.


.


.


.


Hidup Hernan kacau semenjak Nisha dibawa pergi oleh kakek dan ayahnya. Ia mengurung diri di kamar dan tak berangkat ke kantor.


Hari itu Dirga datang bersama Asha. Sahabat mereka melihat raut keputus asaan dari Hernan. Asha merasa amat bersalah. Namun semua sudah terlambat.


Asha dan Dirga memberanikan diri menemui Nisha di rumahnya. Namun hanya asistennya saja yang menemui mereka. Nisha tak diperbolehkan menemui siapapun.


Asha makin merasa bersalah. Dirga menenangkannya.


"Sebaiknya kita memberi semangat pada Hernan. Dia harus bisa membuatnya bangkit dan kembali mengejar cinta Nisha." ucap Dirga.


"Kau benar. Kita harus membantunya."


Berhari-hari Asha dan Dirga membantu Hernan kembali bangkit. Patah hatinya sangatlah parah. Dulu saat Asha tidak bisa menerima perasaannya, ia tidak sekacau ini. Tapi ini, hanya karena seorang Nisha yang baru dicintainya beberapa bulan, sudah membuatnya bak kehilangan dunianya.


Satu bulan telah berlalu, Nisha juga amat merindukan suaminya. Yah, bagaimanapun Hernan tetaplah suaminya. Ia ingin mendengar suara Hernan, memeluk tubuhnya, merasakan kehangatan yang mereka ciptakan. Bahkan setiap sentuhan Hernan sudah menjadi candu untuknya.


Hingga di hari itu, Hernan datang sendiri ke rumah keluarga Nisha dan memohon pada Haidar agar bisa bertemu dengan Nisha. Hernan bahkan berlutu di depan rumah agar Haidar menerimanya kembali menjadi cucu menantu.


"Kakek kecewa padamu. Kakek akan mencabut semua saham kakek yang ada di perusahaanmu." Haidar berkata dengan lantang.


Hernan mendongakkan kepala menatap sendu pada Haidar.


Haidar menghela nafas kasar. "Apa jaminan untukku jika aku mengijinkanmu menemui cucuku?"


"Jika aku mengulangi kesalahanku atau aku menyakiti Nisha lagi, maka... Kakek boleh menghukumku apa saja. Bahkan kakek boleh menjauhkan aku dari cucu kakek. Dan saat ini kakek juga boleh mengambil seluruh saham kakek dari perusahaanku." tegas Hernan.


Haidar tersenyum seringai. "Baiklah, kalau begitu kau tunggu saja disini." ucap Haidar kemudian pergi dari halaman rumahnya.


Hernan masih terus berlutut di tengah hari yang kian terik. Panasnya matahari tak menyurutkan niatnya untuk meminta maaf pada Nisha. Keringat mulai mengucur dari pelipis Hernan. Wajahnya mulai pucat. Matanya mulai berkunang-kunang.


Sore menjelang, dan tanpa diduga hujan turun membasahi bumi. Meski hujan turun, Hernan masih terus berlutut di halaman rumah Nisha. Tubuhnya yang sedari tadi terkena terik matahari, kini berganti basah terkena air hujan.


Dari dalam rumah, Nisha melihat suaminya masih terus berlutut. Ia meminta pada kakek dan ayahnya agar bisa menemui Hernan. Nisha menangis terisak melihat kondisi suaminya.


"Kakek... ijinkan aku menemui kakak... Aku mencintainya, Kek. Aku tidak bisa hidup tanpanya." Ucap Nisha sambil terisak. Sungguh ia tidak tega melihat suaminya kedinginan dalam hujan.


"Kak Hernan bisa sakit jika kita tidak menolongnya. Kumohon, Kek!" Nisha menangkupkan kedua tangannya dan memohon pada kakeknya.


Raihan menghampiri Nisha lalu berkata, "Pergilah, nak. Jika kau memang mencintainya, maka kejarlah dia."


Secepat kilat Nisha berlari keluar rumah dan melihat wajah Hernan sudah pucat pasi. Nisha makin terisak melihat Hernan menggigil di tengah hujan.


"Kakak!!!" suara Nisha terdengar lirih karena derasnya hujan.


Hernan berusaha berdiri karena melihat wanita yang dicintainya kini ada di depan mata. "Nisha..." lirihnya sambil tersenyum meski tubuhnya terasa akan ambruk.


Nisha berlari kearah Hernan kemudian memeluknya. "Kakak..." Nisha menangis dalam pelukan Hernan.


"Gadis kecilku. Kau datang. Akhirnya kau datang..."


Hernan menangkup wajah Nisha yang kini sudah ikut basah terkena air hujan.


"Aku mencintai kakak. Hiks hiks hiks. Aku tidak mau jauh dari kakak lagi."


"Aku lebih mencintaimu, gadis kecilku." Hernan menciumi wajah Nisha. Ia tak mau kehilangan gadis kecilnya lagi.


"Kakak... Kau kedinginan. Ayo kita masuk!"


Hernan mengangguk. Namun sebelum masuk ia mendaratkan sebuah ciuman di bibir Nisha. Mereka berciuman ditengah guyuran hujan. Terasa amat romantis meski tubuh mereka menggigil.


Mereka saling mengungkap rindu yang telah lama terpendam. Hingga akhirnya sebuah suara menghentikan kegiatan mereka.


"Masuklah! Kalian bisa sakit jika terus berada disana. Lanjutkan saja nanti saat di kamar." teriak Haidar.


Nisha dan Hernan saling pandang dan canggung. Nisha memapah tubuh Hernan memasuki rumah. Mereka menuju ke lantai atas ke kamar Nisha.


"Aku siapkan air hangat untuk kakak. Sebaiknya kakak mandi lebih dulu." ucap Nisha ketika tiba di dalam kamarnya.


"Tidak!" Hernan mencekal lengan Nisha.


"Kakak basah kuyup, jika tidak segera membersihkan diri kakak akan sakit nanti."


"Bukankah kau juga basah kuyup, sayang. Jadi, biarkan saja semuanya tetap basah."


Dahi Nisha berkerut. Ia tidak mengerti dengan maksud Hernan.


"Kau masih tidak mengerti juga?" Hernan mendekati Nisha kemudian meraih tengkuk Nisha. Kembali ia melanjutkan permainannya yang sempat tertunda tadi.


Mereka saling menyapu bibir masing-masing dengan irama teratur. Tangan Hernan mulai membuka bajunya yang basah. Begitu pula dengan Nisha yang membuka pakaiannya sendiri.


Nafas mereka memburu ketika sudah berada diatas tempat tidur. Hasrat yang sempat tertahan kini akhirnya telah tersalurkan. Desahan dan erangan memenuhi kamar Nisha. Ditambah lagi dengan cuaca yang mendukung. Membuat dua insan yang saling mengungkap rindu itu melakukan lagi dan lagi tanpa mengenal lelah.


.


.


#Bersambung,,,