Raanjhana

Raanjhana
Takdir Cinta Nisha : 12. Pesta Ulang Tahun Hernan



Nisha sampai dikampusnya bersama Hernan. Namun sebelum Hernan pergi, Nisha berpesan jika ia akan pulang sendiri ke rumah dan tidak


perlu dijemput oleh Hernan. Hernan hanya menyetujuinya. Nisha melambaikan tangan ketika mobil Hernan mulai menjauh dari kampusnya.


“Ciye, ciye, pengantin baru kita, mesra amat sih. Bikin iri deh!” teriak Dewi.


Nisha melotot ke arah Dewi dan segera menghampiri kedua


sahabatnya. “Sudah kubilang jangan berteriak begitu. Kau ini benar-benar ya!”


“Sudahlah, Sha. Mau sampai kalian menyembunyikan pernikahan


kalian? Nanti lama-lama orang juga bakalan tahu.”


“Ah, kalian malah merusak suasana hatiku saja.” Nisha melangkah meninggalkan Dewi dan Lala.


“Eh, Sha. Kau sudah menyiapkan kado untuk Kak Hernan?” Tanya


Dewi yang menyusul langkah Nisha.


“Hmm, belum.”


“Bagaimana jika nanti sepulang kuliah kita beli kado? Kebetulan


aku juga belum membelinya.” Ucap Dewi.


“Iya, baiklah. Aku ikut mobilmu ya?” Nisha meringis.


“Aku juga. Titip kado untuk Kak Hernan ya!” sahut Lala.


Sepulang kuliah, Nisha dan kawan-kawan menuju ke sebuah pusat perbelanjaan. Nisha bingung harus membelikan apa untuk Hernan. Dewi membelikan sebuah kaus untuk Hernan, sedangkan Lala membeli kaca mata hitam.


“Mereka sepertinya sudah sangat mengenal Hernan. Hanya aku


saja yang terlihat seperti orang asing untuk suamiku sendiri…” gumam Nisha.


Lalu matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah dasi yang menurutnya cocok untuk Hernan. Nisha mendekati dasi itu dan meminta seorang SPG untuk membungkus dasi itu.


“Benar, setiap hari dia ‘kan memakai dasi saat ke kantor. Ini untuk menambah koleksinya saja.” Lirih Nisha sambil mengangguk yakin dengan kado yang dibelinya.


.


.


.


.


.


Sabtu malam pun tiba, musik yang cukup keras terdengar di salah satu ballroom Royale Hotel yang terkenal itu. Nisha masuk bersama Dewi,


karena Hernan ternyata sudah berangkat lebih dulu dengan Dirga.


Nisha melihat sekeliling dan mencari keberadaan Hernan. Nisha melihat Hernan sedang bersama dengan teman-temannya dan tertawa sangat gembira.


Nisha melambaikan tangan kearah Hernan sambil tersenyum. Ia ingin


Hernan mengenalkannya pada teman-temannya juga. Namun apa yang diinginkan Nisha tidak terwujud. Hernan malah memalingkan wajahnya, dan kembali berbincang


bersama teman-temannya yang terutama adalah Asha. Gadis itu ternyata sedari tadi berdiri di samping Hernan dan memeluk lengan Hernan.


Nisha merasa dadanya sesak melihat Hernan bersama Asha. Bahkan jika dirinya tidak dianggap oleh Hernan, itu masih lebih baik daripada harus


melihat Hernan bersama dengan Asha. Sudah sangat jelas jika Asha adalah wanita istimewa dihati Hernan. Nisha sadar itu.


Buliran bening mengalir tanpa Nisha minta. Dengan cepat ia menyeka air matanya. Nisha merasa jika dirinya bukanlah tamu di acara ini. Ia segera


berlari kecil meninggalkan ballroom hotel tanpa mempedulikan apapun lagi.


Nisha berdiri di depan lobi hotel dan berpikir akan pergi kemana dia dengan gaun pesta seperti ini? Ia memanggil taksi dan melaju entah


kemana.


“Maaf, nona. Kita mau kemana?” Tanya si supir taksi.


“Jalan saja dulu, Pak.” Perintah Nisha.


“Baik, nona.”


Ketika supir taksi menanyakan kembali kemana mereka akan


pergi. Nisha berpikir sejenak, dan…


“Ke taman kota saja, pak.”


Entah kenapa Nisha memilih tempat ramai seperti ini. Meski hatinya makin sesak karena melihat banyak pasangan bersama di taman itu, namun itu akan lebih baik dari pada ia harus menyendiri.


Sementara itu, pesta ulang tahun Hernan sudah mencapai puncaknya. Dirga mempertanyakan keberadaan Nisha pada Hernan. Namun Hernan


hanya mengedikkan bahunya.


“Apa yang kau pikirkan, Hernan? Dia itu istrimu. Bagaimana bisa kau tidak mencarinya?” Tanya Dirga yang sepertinya makin kesal dengan sikap Hernan.


“Biar aku yang mencarinya, kak.” Ucap Dewi.


“Aku juga akan mencarinya.” Ucap Dirga.


Dirga dan Dewi mencari ke seluruh ruangan ballroom namun tidak menemukan Nisha. Dirga bahkan mencari hingga keluar hotel. Namun ia juga tidak menemukan Nisha.


Dirga kembali kedalam ballroom dan mengabarkan pada Hernan. “Nisha


tidak ada dimanapun.”


“Mungkin saja dia sudah pulang ke rumah. Sudahlah, dia sudah besar. Kalian jangan mengkhawatirkannya.” Jawab Hernan enteng.


Dirga hanya bisa menggeleng dengan sikap sahabatnya itu. “Aku yakin kau akan menyesal, Hernan!” tutup Dirga sebelum akhirnya meninggalkan


Hernan dan juga pesta itu.


Pestapun usai, Hernan kembali ke rumah bersama Asha. Sebelum


masuk ke rumah, Asha memberi Hernan sebuah kado untuknya.


“Selamat ulang tahun, Hernan. Semoga kau selalu bahagia di


usiamu yang semakin matang.”


“Terima kasih, Asha. Kalau begitu kau masuklah. Ini sudah malam.”


Asha melambaikan tangan dan masuk ke rumah Dirga. Hernan pun


masuk ke dalam rumahnya yang berhadapan dengan rumah Dirga. Ia langsung menuju kamarnya dan melihat sekeliling kamar.


“Gadis itu belum pulang? Lalu kemana dia? Apa dia pulang ke


rumah orang tuanya? Bisa gawat kalau begitu.” Hernan menghubungi ponsel Nisha namun tidak dijawab.


Hernan mendengus sebal karena panggilan darinya tidak juga diangkat. Lalu ia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Malam sudah semakin larut. Nisha masih duduk di bangku taman kota. Ia memandangi lampu-lampu jalanan yang seakan menemaninya malam ini. Ia melirik ponselnya yang ia matikan deringnya. Ia melihat beberapa panggilan tidak terjawab dari Hernan.


Nisha kemudian tersadar jika ia sudah pergi sangat lama. Ia segera


pergi dari taman kota yang sudah mulai sepi. Ia memanggil taksi dan segera pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, ia segera menuju ke kamar Hernan. Dilihatnya


Hernan sudah tertidur di sofa. Nisha mendekati Hernan yang terpejam. Ia duduk berjongkok agar bisa melihat wajah Hernan. Ia meletakkan sebuah kotak kado miliknya di atas meja, kemudian berucap lirih.


“Selamat ulang tahun, Hernan. Aku rasa aku adalah orang terakhir yang mengucapkannya padamu meski aku adalah istrimu. Maaf ya.”


Nisha segera beranjak dan hendak melangkah. Namun secara tiba-tiba tangannya tercekal oleh tangan seseorang yang tak lain adalah Hernan.


“Dari mana saja kau?” suara berat itu membuat Nisha menelan salivanya.


Nisha enggan membalikkan badan menatap Hernan. Rasanya hatinya


masih sakit dengan perlakuan Hernan padanya di pesta tadi.


Nisha menepis tangan Hernan. “Aku lelah. Aku ingin tidur.” Nisha kembali melangkah dan menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi, tangisnya


kembali pecah. Ia menutup mulutnya agar suara isakannya tidak didengar oleh Hernan.


#bersambung…