Raanjhana

Raanjhana
Om Dirga, I Love You : 23. Musuh Dalam Selimut




Dirga memijat pelipisnya pelan. Ia membaca satu persatu berkas yang ada didepannya. Sesekali ia melirik kearah Alman yang berdiri didepannya. Wajah Dirga menunjukkan ketegangan. Ia melempar berkas-berkas itu keatas meja.


“Bagaimana ini bisa terjadi, Al?”


“Maaf, Tuan. Saya juga tidak tahu. Saham Agung


Group turun drastis dalam semalam. Pasti ada yang tidak beres,” jawab Alman.


“Apa ini ulah bocah itu?” Dirga menerka-nerka.


“Saya belum tahu, Tuan. Tapi, apa kita perlu menanyakan pada Nona Alexa? Bukankah dia bekerja sama dengan Tuan Fendi. Siapa tahu saja dia tahu rencana Tuan Fendi.”


“Hmm, ada benarnya juga. Coba kau temui wanita itu lagi. Dan ingat! Jangan sampai Diya tahu soal masalah ini.”


“Baik, Tuan.” Alman memberi hormat kemudian berjalan keluar dari ruangan Dirga.


Sepeninggal Alman, Dirga kembali memegangi kepalanya yang mulai pening. Ia pikir setelah kejadian kemarin, tidak akan ada lagi hal yang menghalangi hubungannya dengan Diya. Firasat buruk yang sempat terbersit dalam hatinya ternyata benar.


“Ya Tuhan! Semoga aku dan Diya bisa menghadapi ujian ini.” Dirga mengusap wajahnya.


...…***…...


Diya kembali tertegun kala Fendi lagi-lagi datang menemuinya setelah kelas kuliahnya usai. Diya sungguh ingin menghindar. Tapi lagi-lagi tak semudah itu ia pergi dari Fendi. Diya sangat paham sifat Fendi. Sejak dulu ia memang pemaksa dan tak bisa dibantah. Mungkin model-model pria kaya dan tampan memang seperti itu. Karena mereka merasa memiliki kekuasaan dan kekuatan untuk mendapat apa yang mereka mau. Awal mengenal Dirga, Diya pun merasa jika Dirga memiliki sifat yang hampir sama dengan Fendi.


Namun seiring berjalannya waktu, sifat Dirga berubah karena Diya mulai membuka hati untuknya. Lantas, apakah Diya juga harus melakukan hal yang sama pada Fendi? Tentu tidak, bukan? Diya telah menikah dan hatinya hanya tertambat pada satu orang, yaitu Dirga.


“Kak, kita mau kemana?” Tanya Diya karena lagi-lagi Fendi membawanya pergi.


“Aku ingin memberikan kejutan untukmu,” jawab Fendi sambil melirik kearah Diya.


“Kejutan?” Diya terlihat bingung. Ia berharap semoga saja Fendi tidak melakukan hal yang aneh.


Perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh. Sekitar 3 jam barulah mereka hampir tiba di tempat yang Fendi maksud.


“Ini ‘kan jalan menuju rumah lamaku?” batin Diya. “Untuk apa Kak Fendi membawaku ke desa yang telah lama kutinggalkan?” Diya melirik kearah Fendi yang masih tak mengatakan apapun.


“Bertanyalah sepuasmu jika kita sudah tiba nanti,” ucap Fendi seraya mengetahui isi pikiran Diya.


Diya kembali focus menatap jalanan didepannya yang kini sudah berganti dengan jalanan aspal yang halus. Seingatnya dulu jalanan ini masih berbatu dan belum diaspal. Sudah 15 tahun berlalu, tentu saja semua sudah berubah.


Akhirnya mereka tiba di sebuah desa yang sudah banyak mengalami perubahan. Rumah-rumah penduduk yang dulu kecil dan terkesan kumuh, kini berganti menjadi rumah-rumah mewah dan juga dijaga petugas keamanan dibagian depannya. Area itu bertuliskan Perumahan Mutiara Cahaya.


Diya berdiri mematung didepan sebuah rumah yang letaknya tidak asing. Diya memandangi rumah itu yang desain luarnya saja sudah terkesan mewah.


“Kak, ini…?” Diya menggantung ucapannya sambil jari telunjuknya mengarah ke rumah itu.


“Ini adalah rumahmu, Diya,” tutur Fendi.


“Hah? Rumahku? Tidak mungkin!”


“Tapi ini benar, Diya. Ayo masuk!” Fendi meraih bahu Diya dan membawanya masuk kedalam rumah.


Begitu memasuki ruang tamu, Diya tercengang karena melihat banyaknya foto dirinya terpasang di dinding ruang tamu itu.


“Kak…” Diya masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Bagaimana bisa kakak mendapatkan rumah ini? Bukankah rumah ini sudah…”


“Sssttt! Kau jangan memikirkan soal itu. Aku sengaja membeli rumah ini untuk kuberikan padamu.”


Tanpa aba-aba Fendi mendekat dan lolos mencium pipi kiri Diya.


“Kak!” Diya memekik dan memegangi pipinya.


“Bukankah kita sering melakukannya dulu, hmm?”


“Tapi, itu dulu, Kak. Sekarang aku sudah bersuami. Tidak seharusnya kakak menciumku sembarangan.” Sungut Diya karena merasa kesal dengan ulah Fendi.


“Baiklah, aku minta maaf.” Fendi mengalah.


“Sebaiknya kakak antar aku pulang! Perjalanan kembali ke kota cukup jauh. Pasti Om Dirga khawatir padaku jika aku tidak segera pulang.” Diya segera meraih ponselnya dan ingin menghubungi Dirga agar


tidak khawatir.


“Kak! Kembalikan ponselku!” kesal Diya.


“Hari sudah mulai gelap. Sebaiknya kita menginap disini saja.”


“Apa? Tidak! Aku tidak mau!” teriak Diya.


“Menurutlah, Diya!” Fendi mulai menggertakkan giginya karena Diya selalu berontak.


“Jika kakak tidak mau mengantarku, aku akan kembali sendiri. Permisi!” Diya segera melangkah keluar dari rumah itu.


Namun sebelum mencapai pintu, Fendi sudah meraih lengan Diya dan menariknya. Lalu menghimpitkan tubuh Diya ke dinding.


“Aw!” Diya memekik kesakitan karena Fendi membenturkan tubuhnya ke dinding dengan kasar.


Kini mata Fendi sudah berubah merah. Ia sudah dipenuhi amarah.


“Jangan kau pikir aku akan melepaskanmu dengan mudah, huh! Aku sudah mencapai titik ini dengan susah payah. Jadi aku tidak akan mengalah lagi.”


Diya meringis kesakitan karena Fendi mencengkeram


bahunya terlalu erat. Diya bisa melihat jika amarah Fendi sudah tak terbendung lagi.


“Kak, aku mohon jangan begini.” Diya mencoba bernegosiasi dengan Fendi.


“Kukatakan satu hal padamu. Suami tercintamu itu kini diambang kehancuran. Jika kau tidak menurut, maka aku akan benar-benar menghabisinya dan membuatnya kehilangan semuanya termasuk dirimu,” Fendi berujar dengan nada geram dan tegas.


Air mata Diya mulai lolos membasahi pipinya. Diya tak menyangka jika pria yang dikenalnya baik dan ramah kini berubah menjadi musuh dalam selimut untuknya.


“Jangan sakiti Om Dirga. Aku akan melakukan apapun asal kakak tidak menyakiti suamiku.” Ucap Diya dengan putus asa. Mungkin ini saatnya ia membalas semua kebaikan Dirga padanya.


“Baiklah. Kau janji akan menurut?”


Diya mengangguk.


“Good girl!”


Fendi segera mendekatkan wajahnya ke wajah Diya. Diya membulatkan mata kala wajah Fendi semakin mendekat padanya. Fendi berusaha meraih bibir Diya.


“Tidak, Kak!” Diya menggeleng dan


berusaha melepaskan diri dari Fendi.


Namun Fendi terus menuntut dan makin kalap. Diya menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri untuk menghindari ciuman Fendi. Hatinya amat sakit mendapat perlakuan kasar dari pria yang dianggapnya


kakak itu.


Fendi makin geram dan tak bisa menahan emosinya lagi.


“Brengsek!”


Fendi melayangkan tamparan keras ke pipi


Diya dan membuat Diya jatuh ke lantai. Diya menangis sejadinya sambil memegangi pipinya.


“Hentikan!!!” sebuah suara membuat Fendi menghentikan aksinya yang akan menarik lengan Diya.


...…***…...


#bersambung…


Coming Up story 👇👇



*genks, mamak Cuma mau ingetin kalo setelah cerita ini akan ada cerita baru yang berjudul ‘Trapped by CEO’ kisah si Grey abu-abu dari Takdir Cinta Nisha. kisah ini bergenre agak dark-romance ya genks, so jangan kaget jika beberapa adegannya agak kasar, karena utk settingnya kita ambil di luar negeri. Buat yg kurang nyaman dengan genre dark-romance, harap bijak menyikapi yak.


*sekedar info, utk Raanjhana mamak akan adakan giveaway sama seperti saat di novel RaKhania. Utk lebih jelasnya ikuti terus kisah ini ya genks.


*terima kasih atas dukungannya utk karya receh


mamak ini. lope lope yu pull…😘😘