
Acara pernikahan Reza dan Lala pun digelar dengan mengganti dokumen yang ada pada petugas pencatat pernikahan dari nama Andreas Wijaya menjadi Reza Rahadian. Reza tidak menutupi statusnya yang duda dihadapan keluarga Lala. Toh itu bukan suatu aib yang memalukan. Duda mendapat perawan sudah tak asing lagi di mata masyarakat.
Acara demi acara pun di lakukan oleh Reza dan Lala. Mereka menyalami para tamu undangan yang hadir. Terlebih sepupu-sepupu Lala yang terus menggoda Reza karena Reza memakai setelan jas yang pas dengan tubuh kekarnya.
"Wah, kakak ipar, berapa lama untuk membentuk otot yang begitu seksi seperti ini?" tanya sepupu Lala bernama Lusi dengan memegangi lengan kekar Reza.
"Sepertinya malam ini Mbak Lala akan kewalahan nih tempur sama Mas Reza. Iya 'kan, Mbak?" goda sepupu yang lain.
Lala memelototkan matanya kearah sepupu-sepupu usilnya yang masih single.
"Jangan dengarkan mereka, Reza." ucap Lala salah tingkah.
"Tidak apa. Lagipula aku sudah mendengarnya. Kenapa memintaku tidak mendengarnya?" jawab Reza santai.
"Ya pokoknya begitu! Jangan banyak protes deh!" sungut Lala.
"Eh, Nduk. Yang sopan dong kalau bicara sama suami. Maafkan anak ibu ya, Nak Reza." lerai Sinta, ibunda Lala.
"Iya, Bu. Tidak apa. Mungkin Lala masih belum terbiasa."
Lala memutar bola matanya malas mendengar jawaban Reza yang menurutnya sok bijaksana.
Acara resepsi pernikahanpun telah usai. Para tamu undangan telah kembali ke rumah masing-masing. Reza melepas jas yang sedari tadi melekat pada tubuhnya dan juga dasi yang melilit lehernya.
"La, aku tidak bawa baju ganti. Bisa pinjamkan pada ayahmu?" pinta Reza.
Lala mendengus kesal. "Iya, nanti akan kupinjamkan pada ayah. Lagian salah kamu sendiri, kenapa juga mau jadi pengantin pengganti di pelaminan?"
"Jadi kamu senang jika pernikahan kamu batal dan kamu membuat malu kedua orang tuamu? Ini yang kamu sebut cinta? Lelaki pengecut yang meninggalkan wanitanya di hari pernikahan."
"Sudahlah! Aku malas berdebat denganmu." Lala melengos pergi meninggalkan Reza.
"Nak Reza, kemarilah." Broto memanggil Reza untuk duduk di sofa ruang keluarga. Reza menenteng jas dan dasinya lalu menggulung lengan kemeja putihnya hingga siku.
"Iya, Pak. Ada apa?" tanya Reza sopan lalu duduk berhadapan dengan Broto.
"Bapak hanya ingin ngobrol dengan Nak Reza. Kita 'kan belum saling mengenal." buka Broto.
"Oh, iya Pak. Silahkan saja."
"Jadi benar jika Nak Reza berstatus duda?"
"Iya, Pak. Saya pernah menikah namun kemudian bercerai. Kami juga tidak memiliki anak." jelas Reza.
Ada rasa lega dalam raut wajah Broto ketika Reza mengatakan tak memiliki darah daging.
"Sudah berapa lama Nak Reza menduda?"
"Umm, sekitar dua tahun, Pak."
Lala yang baru saja mengambil pakaian ganti untuk Reza, ikut bergabung dan mendengarkan cerita Reza. Lala juga ingin tahu seperti apa kehidupan suami barunya itu.
"Maaf Nak Reza. Kalau boleh Ibu tahu, kenapa dulu Nak Reza berpisah dengan istri Nak Reza?"
"Eh?"
"Sudahlah! Mengaku saja! Aku sudah tahu masa lalumu!" cegat Lala.
"Lala!" lerai Sinta.
"Umm, itu ... Istri saya mengkhianati pernikahan kami." jawab Reza ragu.
"Bohong! Pasti kamu 'kan yang mengkhianati pernikahan kalian!" sergah Lala.
"Lala! Jangan bicara tidak sopan pada suami kamu!" lerai Broto.
Seketika Lala menundukkan kepalanya.
"Tidak apa, Pak. Masa lalu saya memang sedikit kelam. Tapi, karena saya sudah menikah dengan Lala, maka mulai sekarang saya akan bertanggung jawab penuh atas Lala. Dan saya tidak akan memikirkan masa lalu."
"Terima kasih, Nak Reza. Sudah malam, sebaiknya kalian beristirahat."
Reza dan Lala berpamitan pada Broto dan Sinta lalu masuk kedalam kamar.
"La, aku mau mandi dulu ya! Mana baju gantinya?"
"Ini!" Lala menyerahkan pakaian ganti dengan wajah cemberut. Reza hanya bisa menggeleng pelan.
Usai membersihkan diri, Reza melihat Lala sedang menata bantal dan selimut diatas sofa.
"Untuk apa itu, La?" tanya Reza.
"Untuk kamu! Aku akan tidur di ranjang, dan kamu tidur di sofa." balas Lala ketus.
"Kenapa aku harus tidur di sofa?"
"Orang asing? Aku ini suami kamu, La. Kita sudah menikah!"
"Iya, aku tahu. Suami dadakan!" Lala tak ingin berdebat lagi dengan Reza. Ia naik keatas ranjang queen size nya.
"Ya sudah. Aku juga sangat lelah. Aku juga akan tidur." Reza merebahkan tubuhnya diatas sofa dan memejamkan matanya.
......***......
Pagi harinya, Lala merasa tubuhnya tertindih benda berat. Lala segera membuka mata. Ia melihat kaki besar berotot naik keatas kakinya. Dan sebuah tangan yang melingkar di perutnya. Lala membalikkan tubuhnya dan melihat wajah Reza yang begitu dekat dengan wajahnya.
"Kyaaaaa!!!!" Lala berteriak dan melepaskan diri dari Reza.
"Astaga, Lala! Pagi-pagi sudah berisik! Ada apa sih?"
"Apa yang kau lakukan di tempat tidurku, huh?! Kamu pasti mau mesum ya!"
"Ya ampun! Aku tidak berbuat apapun! Aku hanya tidur." bela Reza.
"Bohong! Kamu pasti sengaja peluk-peluk aku! Dasar mesum!" Lala memukuli Reza dengan bantal. Dan membuat seisi kamar heboh dengan suara teriakan Lala.
Sementara itu, Broto dan Sinta yang mendengar suara pertengkaran mereka hanya bisa menggeleng pelan.
"Semoga Lala bisa menerima Nak Reza sebagai suaminya ya, Pak."
"Iya, Bu. Kita doakan yang terbaik untuk mereka.
Usai perang bantal berakhir, Lala mengatur nafasnya karena kelelahan sudah memukuli Reza.
"Aku mendapat cuti selama 3 hari dari Pak Rocky. Kira-kira kamu ingin melakukan apa?" tanya Reza.
"Tidak ingin apa-apa. Sebaiknya kamu kembali saja ke Jakarta. Tidak perlu ambil cuti."
"Kenapa begitu? Itu berarti kamu juga harus ikut denganku."
"Tidak! Aku tidak akan ikut denganmu!"
"Aku sudah dengar dari Pak Zayn. Kamu sudah mengundurkan diri dari Zayn Building. Bukankah seorang istri harus mengikuti keinginan suami?"
"Itu suami normal. Kalau kamu suami dadakan! Mana bisa aku tiba-tiba pindah ke Jakarta." Lala tak mau kalah.
Reza menghela nafas. "Ya sudah. Kita pikirkan nanti saja. Cepat siapkan baju ganti untukku! Sepertinya aku harus membeli beberapa potong pakaian untuk beberapa hari ke depan. Tidak enak hati kalau harus meminjam pakaian ayahmu terus."
"Terserah kau saja!"
......***......
Lala mengantar Reza untuk membeli beberapa pakaian di sebuah pusat perbelanjaan di kota Semarang. Mereka berkeliling dari satu toko ke toko yang lain.
"Kamu tidak belanja, La?" tanya Reza.
"Tidak perlu. Bukankah hanya kamu saja yang butuh pakaian?"
"Hmm, baiklah."
Tiba-tiba netra Reza tertuju pada sebuah toko perhiasan. Ia menarik tangan Lala untuk datang kesana.
"Apaan sih? Jangan tarik-tarik dong!" Lala memekik kesal.
"La, aku belum membelikanmu cincin pernikahan. Jadi, silahkan pilih!"
"Eh? Apa?!"
"Pilihlah yang kamu suka!"
"Tapi, ini adalah berlian. Harganya juga sangat mahal. Dari mana kau punya uang sebanyak itu untuk membeli cincin berlian? Kau hanya seorang asisten CEO dan bukan CEO."
Reza sedikit tertampar dengan kata-kata Lala.
"Kau benar! Aku hanya seorang asisten CEO. Dulu pun aku tidak mendapat harta gono gini karena semua adalah milik mantan istriku. Aku adalah duda miskin, Lala. Jadi, apa kau menyesal sudah menikahi duda miskin dan bukan duda kaya?"
"Eh?" Lala merasa bersalah sudah mengatakan hal buruk pada Reza.
Raut wajah Reza yang biasanya penuh canda, kini berubah masam.
......***......
#bersambung
"Hayo loh, La. kenapa sih kamu nyakitin Reza?"
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya kesayangan. Jangan lupa mulai nanti jam 11 malam sudah bisa kasih VOTE loh.
kali aja ada yg mau sedekah VOTE biar mak thor makin semangat ngehalunya.
...thank you...