Raanjhana

Raanjhana
Trapped by Cold CEO : 22. Penyesalan Si Tuan Dingin



Grey keluar dari mansion utama pukul 10 malam, ia mengendarai mobilnya menuju mansionnya sendiri yang jauh dari kota. Selama perjalanan, Grey banyak memikirkan apa yang dikatakan oleh Alfred, ayahnya. Terutama cerita tentang kisah ayahnya dan ayah Ana, Alfonso.


Grey mengusap wajahnya kasar setelah mengetahui kisah ayah Ana dan ayahnya. Ia ingat benar semua kata-kata Alfred.


"Jadi, Daddy tidak akan menagih kerugian kita pada keluarga Gerardo?" tanya Grey saat ia dan Alfred minum bersama di mini bar mansionnya.


"Tidak, Nak. Daddy bisa seperti sekarang adalah berkat bantuan dari Alfonso."


"Eh?" Grey tertegun.


"Dulu perusahaan Daddy tak sebesar sekarang. Alfonso adalah pebisnis yang ulet dan memiliki tekad yang besar untuk sukses. Dia merantau kemari dari Mexico untuk mengubah nasibnya bersama dengan adiknya, Alonso. Berkat usaha kerasnya, ia bisa membangun GD Group dan bekerja sama dengan beberapa perusahaan besar."


Grey mendengarkan dengan seksama semua kisah ayahnya dan ayah Ana. Sungguh ia tak pernah tahu jika ayahnya memiliki kisah yang panjang bersama ayah Ana.


Setelah ibunya meninggal, Grey lebih memilih tinggal bersama neneknya di Indonesia dan tidak mengetahui perjalanan bisnis ayahnya yang cukup panjang dan melalui jalan yang terjal.


"Maafkan aku, Dad..." ucap Grey penuh sesal.


"Tidak apa, Nak. Daddy mengerti kenapa kau bersikap begini. Kau merasa jika Daddy tidak peduli padamu dan juga ibumu."


Grey memeluk ayahnya. "Jika saja waktu bisa kuulang, aku akan lebih bersikap baik pada Daddy."


Alfred menepuk pelan punggung putranya. "Kau adalah anak yang baik. Daddy tahu itu."


Mata Grey menghangat mendengar kata-kata Alfred.


"No, Dad. Aku bukanlah anak yang baik. Aku putra yang jahat."


"Kau bisa memperbaiki diri mulai dari sekarang. Tidak ada kata terlambat jika kau ingin berubah."


Grey mengangguk. Bahkan diusianya yang menginjak 23 tahun, ia malah terlihat seperti anak kecil yang sedang dinasehati oleh ayahnya.


"Dan satu pesan Daddy. Jika kau bertemu Ana, maka perlakukan dia dengan baik. Dia gadis yang sangat baik dan lembut. Jangan menambah beban untuknya. Masalah kerugian perusahaan, kita bisa mencari solusi selain harus membebankan ini kepada Ana."


Grey memukul kemudinya dengan kesal. Ia kesal pada dirinya sendiri. Ia bahkan ingin menjadikan Ana sebagai pekerja di klab malamnya. Ia sungguh manusia berhati jahat.


"Aaaarrrgggghhhh!!!" Grey berteriak untuk meluapkan kekesalannya.


"Maafkan aku, Ana. Maafkan aku!" Grey merasa dirinya amat bodoh sudah membuat gadis sebaik Ana menderita dan selalu menitikkan air mata.


"Aku tidak pantas dimaafkan, Ana. Tidak! Kau tidak perlu memaafkanku!" gumam Grey berkali-kali dengan frustasi.


......***......


Grey tiba di mansionnya pukul 12 malam. Ia segera mencari sosok Ana yang pastinya sudah terlelap ke alam mimpi. Grey masuk ke kamar Ana yang redup. Ana memang lebih suka memakai lampu tidur agar lebih nyenyak ketika beristirahat.


Grey membuka jasnya dan menggulung kemejanya. Ia juga membuka dua kancing atas kemejanya lalu merebahkan diri di samping Ana.


Ia menatap wajah teduh Ana yang tetap cantik meski sedang tertidur.


"Maafkan aku, Ana." lirih Grey yang tak mungkin didengar Ana.


Grey mengecup puncak kepala Ana berkali-kali. Ia memeluk Ana dengan hati-hati. Ia tak mau mengganggu waktu tidur Ana. Sudah cukup penderitaan yang selama ini ia berikan pada Ana. Grey mengeratkan pelukannya dan mengikuti jejak Ana menuju alam mimpi yang indah.


Keesokan harinya, Ana terbangun karena merasakan deru nafas di ceruk lehernya. Ia tahu siapa pemilik deru nafas itu. Ana tersenyum dan menghadap Grey yang masih terpejam.


"Kau disini rupanya! Pulang jam berapa semalam?" Ana bertanya tanpa meminta jawaban. Ia mengusap wajah tampan dengan pahatan sempurna milik Grey.


Ana beranjak dari tempat tidur setelah memberikan kecupan pagi di pipi Grey. Ia tak ingin dianggap agresif jika ia mendaratkan ciuman di bibir Grey. Entah hubungan macam apa yang sedang mereka jalani ini.


Ana membersihkan diri kemudian turun kebawah untuk menyiapkan sarapan. Ia membuat menu simpel untuk hari ini.


Saat sedang memasak, Grey datang dan langsung memeluk Ana dari belakang.


"Morning, babe. Kenapa tidak membangunkanku?"


"Ish, kau ini! Bersihkan dirimu dulu baru datang kemari. Kau bau alkohol! Apa semalam kau minum?"


"Hmm, Daddy mengajakku minum. Hanya sedikit. Karena aku harus menyetir, bukan?"


"Baiklah. Sekarang mandilah dulu! Setelah itu baru sarapan."


"Siapkan air mandi untukku!"


Ana memutar bola matanya malas. "Iya, baiklah."


Ana menuju ke kamar Grey. Ia menyalakan kran air dan mengisi bathup. Grey memperhatikan Ana dari ambang pintu.


"Kenapa menatapku begitu?" tanya Ana.


"Entahlah. Aku merasa kau adalah gadis yang sempurna."


Ana terkekeh. "Tidak ada manusia yang sempurna, Tuan. Aku hanya berusaha menjadi orang yang baik."


Grey makin merasa bersalah pada Ana.


"Mandilah! Aku tunggu di meja makan!" Ana melewati Grey dan keluar dari kamar Grey.


Grey keluar kamar dalam keadaan sudah rapi dengan setelan kemeja dan celana kain. Ana tersenyum saat melihat Grey mendekat.


"Duduklah! Aku membuat scramble egg. Sebenarnya aku tidak begitu pandai dalam memasak. Aku hanya bisa memasak menu simple saja." tutur Ana.


"Aku menyukai masakanmu. Kau cukup pandai dalam memasak."


"Benarkah? Tidak perlu memujiku." Ana mengibaskan tangannya.


"Ana..."


"Maafkan aku!"


"Kenapa meminta maaf?"


"Aku hanya ... ingin meminta maaf. Itu saja."


"Syukurlah jika kau menyadari kesalahanmu," ucap Ana sambil membawa piring kotor ke tempat cucian.


Grey mengikuti Ana dan memeluknya. Ana merasa ada yang aneh dengan sikap Grey.


"Ada apa? Apa kau bertengkar dengan ayahmu?"


"Tidak! Aku tidak bertengkar dengan Daddy. Justru aku berdamai dengannya."


Ana membalikkan badan dan menatap Grey. "Benarkah?" tanya Ana sumringah.


"Iya. Daddy bahkan bercerita tentangmu. Dia bilang dia mengajakmu untuk tinggal bersama kami. Dan kau menolaknya."


"Iya, itu benar."


"Kenapa? Kau tidak ingin tinggal bersama denganku?"


"Ish, kau ini! Bukan begitu. Aku hanya tidak mau dicap sebagai orang yang memanfaatkan keadaan. Semua orang tahu jika keluargaku sudah membuat kerugian besar pada perusahaan ayahmu. Lalu tiba-tiba aku tinggal dengan kalian, itu sangat tidak lucu. Jangan khawatir. Meski aku tidak tinggal disini, aku bisa menjaga diriku..."


Tanpa persiapan, Grey memeluk tubuh Ana. Ia mengungkapkan lewat sebuah pelukan hangat betapa ia sangat menyesal sudah berlaku kasar pada Ana.


"Mulai sekarang aku akan menjagamu," ucap Grey.


"Tidak perlu. Aku bisa menjaga diriku sendiri."


Grey melepas pelukannya. "Jangan membantah!"


"Kau masih saja menunjukkan sifat pemaksamu!" kesal Ana.


"Baiklah, maaf."


"Sudah berapa kali kau mengucap kata maaf hari ini? Kau sangat menggemaskan!" Ana mencubit kedua pipi Grey.


"Aku akan menebus semua kesalahanku padamu, Ana."


Ana mengernyit bingung. "Baiklah. Sekarang lebih baik kau segera berangkat ke kantor."


"Umm, ada hal yang ingin kutanyakan. Apa kau memberitahu ayahku dimana kau tinggal?"


Ana tertawa. "Tentu saja tidak. Aku tidak ingin ayahmu berpikir macam-macam tentangku."


Grey tersenyum manis. Sangat manis hingga bisa membuat orang yang melihatnya terserang Diabetes.


"Ada apa?" Tanya Ana karena melihat senyum yang terbit di wajah Grey.


"Kurasa ... aku mulai jatuh cinta padamu."


Ana tercengang mendengar kalimat jujur Grey. "Terima kasih," balas Ana.


"Hanya terima kasih?" Grey mendesah lesu.


"Memangnya apa lagi?"


"Berikan balasan yang lain."


Ana menarik kerah kemeja Grey dan mulai mengikis jarak diantara mereka.



Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Grey. Ana menatap kedua manik Grey yang menyiratkan sebuah penyesalan dan juga cinta.


Grey tak ingin semuanya berlalu begitu cepat. Kini giliran dirinya yang menarik Ana untuk mendekat. Merasakan aroma manis yang selalu membuatnya ketagihan.


Mereka saling mendamba dan saling mengungkap rasa. Ana melingkarkan tangannya ke leher Grey dan Grey menarik pinggang Ana menempel pada tubuhnya. Sebuah ciuman panjang terjadi dan belum terjeda.


Satu menit,


Dua menit,


"Nona Ana, apa kau membuat... Astaga!!! Maaf!!!" Suara Simon membuat Ana dan Grey segera saling melepaskan diri.


Grey menggeram menatap Simon dengan tatapan dinginnya.


"Tuan!!! Aku benar-benar minta maaf. Aku permisi!!" Simon segera pergi dari area dapur.


Ana menutup wajahnya karena sangat malu. Grey mendekatinya dan memeluknya.


"Maaf ya. Aku sudah membuatmu malu." ucap Grey.


Ana memukul pelan dada bidang Grey. Sedetik kemudian mereka berdua tertawa kala mengingat apa yang baru saja terjadi dengan mereka.


......***......


#bersambung...


*Duh Simon koplak ada2 ajah πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


*Oh ya, mau sedikit cerita. Awal aku mau bikin kisah Ana dan Grey ini, kan aku sempat bilang jika ceritanya model dark-romance gitu. Tapi ternyata dalam kenyataannya aku gak setega itu bikin dark-romance πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†karena basicnya aku lebih ke sad-romance sih. Mungkin karena eke orangnya melow kali yak. Tapi meski melenceng dari planning awal, kuharap kalian masih menikmati kisah Ana & Grey ini.


...Terima Kasih ...