Raanjhana

Raanjhana
Om Dirga, I Love You : 21. Sisi Lain Diya



...Ehem! ada sedikit adegan dewasa dan kekerasan yes di part ini. Harap bijak menyikapi yak kesayangan akuh....


...Happy reading!...


...*...


...*...


...*...


Entah bagaimana ceritanya kini Dirga menarik tengkuk Alexa dan mulai mengikis jarak diantara mereka. Alexa tersenyum senang karena Dirga akan menyentuhnya lebih intim.


“Brengsek! Singkirkan tanganmu dari suamiku, dasar ja-lang!!!”


Alexa membulatkan mata melihat sosok Diya ada didepannya dan segera menarik lengannya agar menjauh dari Dirga.


“Dasar perempuan tidak tahu diri! Om Dirga adalah suamiku! Berani sekali kau menyentuhnya dengan tangan kotormu itu!”


Diya menampar wajah Alexa dan mendorongnya hingga terjerembab ke lantai. Alexa mengaduh kesakitan dan memegangi pipinya yang terkena tamparan Diya.


Tak sampai disitu, Diya kembali menarik lengan Alexa agar kembali berdiri. Diya kembali memukul Alexa dengan membabi buta. Sungguh tidak pernah terpikirkan oleh Alexa, Diya yang dianggapnya bocah ingusan ternyata memiliki tenaga yang luar biasa.


“Jangan lagi kau sentuh suamiku dengan tangan kotormu itu! Jika tidak, aku bisa saja membunuhmu!!!”


Mendengar keributan dari arah meja pojok, pengelola klab malampun datang dan melerai pihak yang sedang berseteru. Diya dengan lantang memberitahu jika Alexa adalah wanita ja-lang yang ingin menggoda suaminya.


Pihak pengelola hanya melerai dan meminta untuk tidak membuat keributan di klab mereka. Dari arah belakang munculah Alman dengan wajah penuh luka lebam dan kaki yang berjalan sedikit pincang.


“Alman? Kau tidak apa-apa? Perbuatan siapa ini? pasti wanita ini, bukan?” Diya menunjuk kearah Alexa.


“Enak saja! Kau jangan asal menuduh!” bela Alexa yang juga sudah babak belur karena ulah Diya.


Tak lama beberapa orang datang dan memberi hormat pada Alman. Tanpa mengucap sepatah kata pun para pria berpakaian serba hitam itu langsung memegangi lengan Alexa.


“Hei! Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!!!” Alexa meronta.


“Bawa dia ke markas!” perintah Alman.


Diya hanya membulatkan mata tak paham dengan apa yang terjadi. Diya tersenyum menang ketika melihat Alexa dibawa oleh orang-orang suruhan Alman. Sejenak ia lupa jika dirinya datang untuk menjemput Dirga.


“Nyonya tidak apa-apa?” Tanya Alman.


Diya tersenyum sangat manis. Sungguh berbeda dengan dirinya yang tadi menghadapi Alexa.


“Kau harus lebih memperhatikan dirimu lebih dulu dibandingkan orang lain. Lihatlah, kau terluka! Sebaiknya kau cepat ke rumah sakit untuk mengobati lukamu. Terima kasih karena sudah menghubungiku.”


“Saya bekerja untuk Tuan Dirga, sudah sepatutnya saya juga bekerja pada Nyonya. Kalau begitu saya permisi. Saya sudah menyiapkan mobil untuk Nyonya dan Tuan pulang ke rumah.” Alman memberi hormat kemudian berlalu dari hadapan Diya.


Kini Diya menatap miris kearah suaminya yang sudah tak sadarkan diri akibat pengaruh alkohol. Dirga benar-benar mabuk. Diya menggeleng pelan kemudian meminta tolong pada petugas klab untuk membawa tubuh Dirga ke mobil.


Tanpa Diya sadari, sepasang mata tengah menatapnya tajam dari lantai atas klab. Tatapan pria penuh dengan gemuruh amarah yang menekan sesak dihatinya.


“Sialan! Ternyata orang-orang Dirga tidak bisa dianggap remeh. Baiklah! Jika aku masih belum bisa memuluskan rencanaku, maka aku akan menyerang hatinya. Hanya itu yang bisa kuandalkan untuk saat ini.” sarkas pria yang tak lain adalah Fendi dengan melemaskan otot-otot jari tangannya.


...…***…...


“Astaga! Apa sih yang Om pikirkan hingga mabuk begini? Om hanya membuat semua orang repot. Lihat itu si Alman. Dia sampai terluka karena ulah Om.” Omel Diya sambil melucuti sepatu dan jas Dirga.


Dirga hanya menggumam pelan dan tak menggubris Diya.


“Anggap saja aku yang bodoh karena aku bicara pada orang mabuk. Apa Om tidak percaya dengan cintaku, hah? Aku tetap mencintai Om meskipun aku bertemu dengan Kak Fendi. Aku hanya butuh waktu untuk mencerna semua ini, menyelesaikan semua ini. Tidak bisakah Om menungguku? Baru sehari Om sudah bermain-main dengan janda gatal itu! Apa jadinya jika aku tidak datang? Om akan menghabiskan malam bersama dengannya, hah?!” Diya benar-benar kesal sekarang. Seharusnya Dirga lah yang marah karena Diya sudah menghindarinya. Namun apalah daya, ternyata keadaan berbalik dan justru menyerang Dirga. Tapi jika tidak ada kejadian hari ini, Diya tidak akan semudah itu bukan kembali pada Dirga? Diya pasti akan menemui Fendi lebih dulu untuk menyelesaikan masalahnya.


Diya duduk di tepi tempat tidur dengan mendengus kesal. Ia melirik sekilas kearah Dirga yang sudah terlelap.


“Sudahlah! Aku juga amat lelah hari ini. Sebaiknya aku membersihkan diri dan ikut tidur dengan Om Dirga.” Gumam Diya kemudian menuju ke kamar mandi.


Keesokan harinya, Dirga terbangun dan mendapati istri kecilnya masih terlelap disampingnya. Dirga mengucek matanya karena tidak percaya. Kemarin malam mereka tidur terpisah karena masalah Fendi. Dan kini mereka bersama kembali karena masalah Alexa. Ah, rumah tangga memang rumit, bukan? Mau yang sederhana? Yaa ke rumah makan, hehehe.


Dirga menatap setiap inci wajah istrinya dengan kekaguman. Sungguh ia tak ingin kehilangan Diya. Dirga mulai menciumi wajah sang istri yang masih terpejam. Ia sangat merindukan malam-malam hangat yang ia habiskan bersama sang istri. Tak hanya malam sih, siang pun jadi, hehe. Bahkan pagi ini pun Dirga merasa sudah ‘ON’ hanya dengan memeluk tubuh Diya.


Diya yang merasa tidurnya terusik segera membuka matanya.


“Om? Om sudah bangun?”


Dirga hanya tersenyum nyengir karena ketahuan sudah menyusupkan tangannya kedalam piyama istrinya.


“Kenapa? Apa Om merindukanku? Om ingin menghangatkan badan Om, begitu?” Tanya Diya dengan kerlingan menggoda. Entah dari mana keberanian itu muncul, kali ini Diya yang memulai menggoda Dirga.


Lelaki mana yang menolak jika disuguhi lahan hangat di pagi hari? Ibarat kucing pasti tak menolak jika diberik ikan. Dengan sigap Dirga menindih tubuh Diya dan menyambar bibir Diya. Semua rasa melebur menjadi satu dan semakin panas.


Diya terengah, begitu pula Dirga. Diya kembali mengedipkan mata kirinya.


“Om, bagaimana kalau kita memainkan sesuatu yang berbeda?”


“Hah? Apa itu?”


Karena tidak ada persiapan, tubuh Dirga kalah cepat dengan Diya yang segera membalikkan keadaan. Dengan sigap kini tubuh Diya telah berada di atas tubuh Dirga. Diya mulai memainkan perannya. Perlahan tapi pasti.


Diya bergerak lincah diatas Dirga dan membuat Dirga mengerang nikmat.


“Aaah, kau sangat pandai, sayang… Dari mana kau belajar seperti ini?”


“Sssttt! Diamlah dan nikmati saja!” ucap Diya sensual dengan masih menggoyangkan tubuhnya diatas tubuh Dirga.


#bersambung dulu ya genks


Terima kasih banyak atas dukungannya untuk karya mamak yg satu ini. semoga bisa menghibur kalian di masa2 pandemi dan PPKM ini.


Yuk mampir di karya mamak yg lainnya. Kali aja jatuh hati dan baper, hehehe.