
-Sivia PoV-
Setelah malam itu, aku belum bertemu kembali dengan Dewa. Saat itu aku tahu sebenarnya dia ada disana. Dia ingin menemuiku. Namun disatu sisi, aku harus memilih. Aku memilih Mas Iyan. Karena dia adalah tunanganku, calon suamiku.
Aku berharap kalau Dewa akan kembali menemuiku, namun nyatanya tidak. Dia tiba-tiba menghilang. Lalu aku ... aku disibukkan dengan persiapan pernikahanku dengan Mas Iyan. Kami sudah memutuskan akan tetap melanjutkan pernikahan ini. Dan keluarga Mas Iyan juga bisa menerima keputusan kami. Walaupun aku tahu, Mbak Ninna masih belum menerima semua ini.
Mas Iyan sudah mengetahui apa yang telah Mbak Ninna lakukan padaku. Aku yakin Mas Adit sudah menceritakan padanya. Dan karena itu Mas Iyan jadi lebih protektif padaku. Ia malah ingin memberiku pengawalan bodyguard. Tapi kujawab itu tak perlu. Aku bisa menjaga diriku.
Lalu keluarga Mas Iyan? Apa mereka tahu apa yang sudah dilakukan menantu kesayangannnya padaku? Tidak. Aku tidak suka memperpanjang masalah. Itu hanya akan melukai semua orang.
Kutatapi layar ponselku. Tak ada apapun disana. Telepon ataupun pesan. Aku menunggu sebuah panggilan telepon, atau setidaknya pesan. Dan itu dari Dewa. Aku mulai cemas. Ada apa dengannya?
Atau aku harus menemuinya saja? Tidak, tidak. Aku adalah calon pengantin dari lelaki lain. Tidak mungkin aku menemuinya.
Facebook! Aku harus mencari informasi dari sana. Sudah lama aku tak membuka sosmedku.
Nihil! Tak ada apapun di facebook. Dewa tak memperbarui story apapun di berandanya.
Kuputuskan untuk mengirim pesan pribadi di inboxnya.
-Sivia Dewi
Dewa... Apa kabar? Kamu baik-baik saja kan? Kenapa tak menemuiku lagi? Kamu sudah dengar? Aku akan segera menikah. Kuharap, kamu bisa hadir dipernikahanku.
Dengan ragu akupun mengklik tanda send. Semoga Dewa mau membalasnya.
...***...
Beberapa hari kemudian, masih tak ada jawaban dari Dewa. Apa dia sudah kembali bekerja? Dia bilang dia dapat liburan dua bulan dari kantornya.
Lalu hal tak terduga tiba-tiba datang. Aryan meneleponku dan meminta untuk bertemu. Aku yakin ini pasti tentang Dewa.
Dan kamipun bertemu di Jungle Cafe, tempat nongkrong favorit kami. Aku menunggu Aryan dengan harap-harap cemas. Aku tak mau mendengar kabar buruk saat ini.
Aryan memasuki cafe, aku melambaikan tangan padanya. Dan dia menghampiriku. Aryan memesan minuman kesukaannya. Lemon tea.
"Sorry gue telat, Vi. Udah nunggu lama?"
"Gak juga sih."
Aryan menghela nafas kasar. Aku tahu sepertinya ada hal berat yang akan dia sampaikan padaku.
"So, ada apa dengan kalian berdua?" tanya Aryan.
"Eh?"
"Apa yang terjadi malam itu?"
Malam itu? Aku tahu maksud Aryan.
"Malam itu ... gue gak ketemu Dewa. Sudah beberapa hari ini dia gak ada kabar. Kenapa memangnya?"
"Malam itu dia telepon gue. Dan nyamperin gue ke club. Dia kayaknya baru pertama kali itu minum alkohol. Dan gue tahu itu terpaksa dia lakukan, karena---"
Aryan mengambil nafas. Aku sudah membulatkan mataku mendengar lanjutan kalimatnya.
"Karena ada hubungannya sama lo. Dia kelihatan stres banget. Beda dengan Bayu yang gue kenal."
Aku memejamkan mata. Mataku terasa panas. Aku tahu aku sudah menyakitinya.
"Sorry, Ar. Trus sekarang gimana keadaan dia?"
"Dia ada di apartemen. Dia cuma diam disana. Gue rasa dia patah hati."
"Gue boleh ketemu dia?"
Aryan mengangguk. Dan aku ikut dengannya untuk bertemu Dewa. Hatiku berdebar tak tenang. Apa yang harus kulakukan?
Pintu apartemen terbuka. Baru kali ini aku datang ke tempat pria. Maafkan aku, Mas Iyan. Aku hanya ingin melihat keadaannya saja.
Aryan memanggil-manggil nama Dewa, namun tak ada jawaban. Dia pasti sedang tidur. Ucap Aryan.
Aku menuju kamarnya. Kulihat Dewa sedang tertidur meringkuk. Tubuhnya nampak tak terawat. Air mata yang sedari tadi kutahan, sekarang mulai mengalir deras. Aku tak tahan melihatnya seperti ini.
Aku memilih berpamitan pada Aryan. Aku memintanya agar menjaga Dewa.
Sepanjang perjalanan aku hanya bisa menangis. Supir taksi yang kutumpangi heran melihatku terus menangis. Tapi aku tidak peduli. Aku sangat menyesal. Aku sudah menyakitinya.
I'm sorry for blaming you,
For everything i just couldn't do,
And i've hurt myself by hurting you...
Malam ini, aku tak bisa memejamkan mata. Berulang-ulang lagu milik Christina Aguilera berjudul Hurt, kuputar di headsetku.
Dan berkali-kali pula ucapan Aryan sebelum aku pergi tadi sore dari apartemennya terus mengiang di telingaku.
"Gue tahu lo bimbang. Lo bingung menentukan sikap. Tapi lo harus tetap memilih, Vi. Gue tahu lo berdua dekat sejak kalian masih kecil. Kalian tak terpisahkan. Tapi, karena sekarang lo udah milih jalan lo sendiri. Maka jalanilah. Jangan memberi beban buat Bayu. Dan biarkan dia menjalani jalannya. Gue rasa mulai dari sekarang semua udah jelas. Dan gue yakin Bayu bakal balik kayak dulu. Semua hanya butuh waktu."
...***...
Hari ini salon cukup ramai dengan beberapa pelanggan yang datang. Razona sampai harus ikut turun tangan melayani para customernya. Meski lelah mendera namun senyum mengembang terus ia hadirkan. Tentu saja, selain menambah pundi-pundi rupiah, itu juga menambah pelanggan lain yang datang karena rekomendasi dari pelanggan sebelumnya. Istilah jawanya, gethok tular. Saling memberitahu.
Razona mengelus perut buncitnya yang makin kentara. Ia duduk di sofa dalam ruang kerjanya. Bersantai sejenak sebelum ada pelanggan lain datang lagi.
Tok Tok
"Mbak, ada Mbak Nisa. Mau disuruh kesini atau Mbak Raz ketemu di bawah?" tanya Rena.
"Suruh kesini aja. Bagus deh dia datang. Biar aku suruh dia jelaskan semua yang terjadi."
Tak lama kemudian muncul Nisa dari balik pintu. Pintu yang biasanya dibiarkan terbuka, kini Nisa tutup. Razona tahu ada hal pribadi yang akan Nisa bicarakan.
"Bagus deh kamu datang. Aku pikir gak akan ada yang bisa jelasin ini semua." Nada bicara Razona agak sinis.
"Jadi, ada yang mau kamu ceritakan soal menghilangnya kakak kamu selama dua hari ini?"
"Ini, Mbak. Ini untuk Mbak Raz. Maaf baru sempat memberikannya pada Mbak." Nisa menyerahkan sepucuk surat pada Razona.
"Surat? Dari Sivia?"
Nisa mengangguk. Razona membuka surat itu. Isinya adalah permintaan maaf dari Sivia, karena selama beberapa hari kedepan ia tak bisa datang ke salon. Ia ingin menenangkan diri sementara waktu.
"Pergi kemana dia?" tanya Razona sambil berteriak.
"Aku gak tahu, Mbak." jawab Nisa takut.
"Ini pasti ada hubungannya dengan teman masa kecilnya itu kan?"
"Kenapa Mbak menyalahkan Mas Bayu?"
"Kenapa juga kamu membelanya? Kamu tahu kan sebentar lagi Sivia akan menikah dengan Iyan. Dan kedatangan si teman masa kecil ini membuat perasaan Sivia jadi bimbang. Makanya sekarang dia kabur."
" Mbak Vi gak kabur. Dia hanya akan menenangkan diri. Dia pasti kembali."
"Oh ya? Dia akan kembali? Kapan? Apa Iyan tahu soal ini?"
"Mbak Vi juga menitipkan surat untuk Mas Iyan."
"Bagus. Dia berpamitan dengan semua orang hanya dengan sebuah surat. Apa sih yang ada dipikiran kakakmu itu, hah? Apa dia mencintai sahabat kecilnya itu? Dia akan meninggalkan Iyan dan bersama lelaki lain?"
"Jangan bicara buruk tentang kakakku! Dia bukan orang seperti itu! Mbak adalah sahabatnya, bukan saatnya mengumpatinya seperti ini disaat dia sedang terpuruk." Nisa mulai naik pitam.
Rena yang mendengar keributan dari ruangan Razona akhirnya menengahi mereka berdua dan membawa Nisa pergi.
"Aku gak nyangka kalau Mbak Raz tega bicara begitu tentang Mbak Vi. Aku pikir kamu sahabat Mbak Vi, tapi ternyata bukan!" Itulah kalimat terakhir Nisa sebelum meninggalkan ruangan Razona.
...***...
Masih tidak ada kabar dari Sivia. Nomor ponselnya pun tak bisa dihubungi. Adniyan terus memandangi surat yang Sivia tinggalkan untuknya. Ia masih yakin kalau Sivia akan kembali padanya. Karena Raga sendiri meyakinkan kalau Bayu tidak pergi kemanapun. Itu artinya Sivia memang pergi sendiri.
Adniyan pun yakin dengan cinta Sivia padanya. Ia hanya perlu lebih bersabar. Persiapan pernikahan masih terus berlanjut. Tidak ada tanda-tanda kalau Sivia membatalkan pernikahan. Kini yang bisa Adniyan lakukan adalah menutupi semua masalah ini dari keluarganya. Mereka tak akan senang jika tahu kalau Sivia tiba-tiba menghilang. Berbagai macam alasanpun terus Adniyan kemukakan didepan keluarganya. Dan mereka mempercayai putra bungsu pewaris NG Group itu.
.
.
.
Di lain pihak, Nisa dan Ibunya masih kebingungan mencari keberadaan Sivia. Mereka mencari secara diam-diam agar keluarga Adniyan juga tak merasa curiga.
Nisa sudah kehabisan akal sekarang. Ia tak tahu harus kemana lagi. Dan terlintas satu nama untuk ia mintai tolong. Bayu.
Apa Mas Bayu sudah tahu soal ini? Apa aku sebaiknya ceritakan padanya saja? Dia orang yang memahami Mbak Vi. Pasti dia bisa menemukan Mbak Vi. Batin Nisa.
Dengan langkah ragu, Nisa mendatangi apartemen Aryan, tempat dimana Bayu tinggal selama di Kota Baru. Ia sudah didepan pintu. Namun ia kembali ragu.
"Lho, Nisa kan? Adiknya Sivia. Kamu ngapain disini?" Sebuah suara mengagetkan Nisa yang sedari tadi mematung di depan pintu.
"Eh? I-iya, aku Nisa. Mas Aryan ya?" Sapa Nisa canggung.
"Iya, aku Aryan. Kamu masih ingat denganku rupanya. Kamu kenapa berdiri didepan apartemenku?"
"Mmm, itu---" Nisa dengan terbata akhirnya mengatakan alasannya datang ke apartemen Aryan.
Aryan pun mempersilahkan Nisa masuk. Ia memanggil Bayu yang kerjaannya hanya mengurung diri dikamar.
Aryan tak menceritakan kalau beberapa hari lalu Sivia datang berkunjung melihat keadaan Bayu. Ia tak mau Bayu makin terpuruk bila mendengar kabar tentang Sivia.
Namun sekarang? Entah kenapa Aryan malah mengijinkan Nisa masuk bertemu Bayu.
Bayu membenahi dirinya dulu sebelum bertemu Nisa. Ia tak mau Nisa menganggapnya bucin(budak cinta) yang patah hati jika melihat keadaannya kacau.
Beberapa menit kemudian, Bayu menemui Nisa dan duduk berhadapan.
Belum sempat Nisa menceritakan apapun, tiba-tiba air matanya sudah mengalir deras. Bayu dan Aryan bingung melihat Nisa yang berurai air mata.
"Nis, ada apa? Katakan sama Mas." ucap Bayu cemas.
"Mbak Vi, Mas. Hiks hiks. Dia menghilang. hiks hiks."
"Eh? Apa? Hilang? Apa maksudmu?"
Bayu dan Aryan saling pandang.
"Mbak Vi pergi. Dan dia hanya meninggalkan surat ini..." Nisa menyerahkan surat yang Sivia tulis untuk dirinya.
Bayu sangat syok membaca surat dari Sivia. Ia tak mau berpikiran buruk. Namun otaknya berbisik berlainan. Ia merasa sesuatu yang buruk akan menimpa Sivia. Ia bisa merasakannya.
"Nisa... Kamu jangan khawatir. Mas akan menemukan kakakmu. Jangan cemas ya!"
Nisa masih menangis sesenggukan. Tapi ia percaya kalau Bayu bisa diandalkan.
...***...
......
.......
.......
.......
...Apakah Bayu tahu dimana keberadaan Sivia?...
...Stay tuned for the next chapter 😉...