Raanjhana

Raanjhana
Trapped by Cold CEO : 30. Kesalahpahaman



Perhatian: Cerita ini mengandung materi dewasa. Kebijakan pembaca sangat diharapkan. Terima kasih.


......***......


Hari ini Ana pulang kantor lebih cepat dari biasanya karena pekerjaannya tidak terlalu banyak. Sepertinya Grey mengurangi pekerjaan Ana sebagai kompensasi dari yang dilakukannya pagi tadi. Terdengar klise, tapi sepertinya itu benar.


Ana turun dari taksi yang membawanya pulang ke apartemen. Ia memberikan lembaran uang untuk membayar ongkos taksinya.


Ana berjalan masuk melewati lobi kemudian menekan tombol lift. Sedari tadi Ana tak menyadari jika ada yang mengikuti langkahnya. Siapa lagi kalau bukan Grey.


Ana masuk kedalam lift yang akan membawanya ke lantai 26, dimana ia dan Grey tinggal. Ketika pintu lift terbuka, Ana segera keluar dan berjalan menuju unit apartemennya.


"Ana!" Sebuah suara membuat Ana menoleh. Suaranya nampak tidak asing.


"Mike? Kau disini?" tanya Ana.


"Yeah, begitulah. Aku tinggal disini." jawab Mike.


"Oh ya?" Ana terkejut.


"Iya. Aku baru tahu jika kau juga tinggal disini."


"Aku baru saja pindah."


"Baguslah. Jadi kita akan lebih sering bertemu, bukan?"


"Eh?" Ana menyunggingkan sedikit senyum.


Ana berbincang ringan dengan Mike. Bahkan ia tak sadar jika sedari tadi ada yang sedang menahan amarah melihat kedekatannya dengan Mike.


Setelah berbincang, Ana pamit undur diri untuk kembali ke kamarnya. Begitu pun Mike yang juga kembali melanjutkan langkahnya.


"Brengsek! Ternyata dia masih belum menyerah juga, huh! Awas saja kau jika berani mendekati Ana." geram Grey kemudian menyusul langkah Ana.


Ana masuk ke apartemen dan menuju kamarnya untuk berganti baju. Ia akan memasak lebih dulu setelah itu baru membersihkan tubuhnya.


Ana terkejut melihat Grey sudah tiba di apartemen.


"Tuan? Kupikir Tuan masih ada pekerjaan."


"Tidak ada. Pekerjaanku sekarang adalah mengawasimu!"


"Maksudnya?" Ana mengerutkan dahi.


"Aku harus mengawasimu dari tatapan pria-pria lapar yang siap menyantapmu."


Ana tertawa. "Astaga! Justru kurasa kaulah yang lapar."


"Yeah, aku sangat lapar. Cepat buatkan makanan untukku. Siang tadi aku tak sempat makan karena terlalu sibuk."


Ana menggeleng pelan. "Baiklah. Ganti dulu bajumu setelahnya kau boleh makan."


"Cih, siapa kau berani mengaturku?"


"Ya ampun! Terserah kau saja, Big Baby. Aku tidak akan menang jika berdebat denganmu."


Ana memilih untuk mengalah dan pergi ke dapur. Ia membuat pasta untuk makan malam mereka berdua.


Ana dan Grey makan dalam diam. Meski sebenarnya Ana ingin bertanya kenapa Grey terlihat marah. Tapi rasa takut membuat Ana memilih bungkam.


"Oh ya, besok kau siapkan semua keperluanku untuk perjalanan dinas ke Paris. Kita akan disana selama satu minggu." Grey akhirnya memilih untuk angkat bicara.


"Hmm, baiklah. Apa ada lagi yang kau butuhkan?"


"Tidak! Aku hanya butuh kau saat disana."


"Apa maksudmu? Jadi disana sebenarnya kau tidak membutuhkanku?"


"Tentu saja aku membutuhkanmu, Ana. Kau adalah nafasku."


Ana terkekeh. "Aku bukan tabung oksigen, Tuan."


"Tapi kau bagai obat terlarang untukku. Aku sudah kecanduan denganmu, Ana."


Ana merasa tersanjung dengan kata-kata Grey.


"Jadi, berapa banyak gadis yang kau rayu selama ini?"


Entah kenapa pertanyaan Ana selalu membuat Grey tak tentu arah.


"Berapa kali aku katakan padamu, aku tidak pernah merayu seorang gadis dan aku tak pernah berkencan."


"Oh ya? Lalu bagaimana dengan gadis-gadis yang ada di klubmu? Kau bahkan sudah..."


Grey menggebrak meja makan.


"Kau tidak tahu apapun, Ana. Jadi jangan bicara yang tidak perlu."


Grey segera berlalu dari meja makan dan naik ke lantai atas.


Lagi dan lagi Ana harus memiliki stok kesabaran yang banyak untuk menghadapi Grey. Ia segera membereskan piring bekas makannya dan Grey lalu mencucinya.


......***......


Ana membuatkan secangkir kopi untuk Grey. Ia mengetuk pintu ruang kerja Grey hingga terdengar suara memersilahkan. Ana masuk dan menatap Grey yang sedang sibuk dengan lembaran kertas di depannya.


"Jika sudah tidak ada lagi yang ingin kau katakan. Kau boleh keluar!" ucap Grey dingin.


Sebenarnya Ana sangat sedih mendapat perlakuan dingin dari Grey.


"Hmm, baiklah. Kalau begitu aku permisi!" Ana memberi hormat sebelum keluar dari ruang kerja Grey.


Ana beberapa kali menguap sebagai tanda jika dirinya sudah ingin terlelap. Melihat perlkuan Grey yang kembali dingin, Ana memutuskan untuk pergi ke kamarnya sendiri dan bukan kamar milik Grey.


Ana melakukan ritual mandi seperti kebanyakan orang. Sebenarnya banyak hal yang ingin ia tanyakan pafa Grey. Tapi Grey sedikitpun tidak menunjukkan wajah sumringah sejak kepulangannya lagi.


"Haaaah! Kenapa dia sangat berubah-ubah? Apa aku bisa mengubahmu menjadi lebh baik, Grey?" gumam Ana.


......***......


Di sebuah kamar apartemen yang merupakan kamar termahal, terlihat dua orang manusia sedang berbagi kehangatan dan kenikmatan diatas ranjang king size yang hangat itu. Si pria terus meracau dan menyebut nama seorang wanita. Pria itu bergerak teratur diatas tubuh si wanita.


"Ana... Aaahhh, kau sangat nikmat." Pria itu mempercepat tempo gerakannya dan menghentak hingga tubuh si wanita berguncang hebat.


"Aaahh, Mike... Kau memang luar biasa..." Kini wanita itu ikut meracau.


"Aaah, Ana... Come to me, please..."


"Aaahh, yeah. Aku datang padamu, Mike. Persetan dengan gadis bernama Ana... Kau sedang mencumbuku, Mike. Bisakah kau sebut namaku saja?"


"Ana!!! Aaahh!!!"


"Sial! Kenapa Mike selalu menyebut nama gadis itu? Siapa dia sebenarnya?" Batin si wanita bernama Fransisca.


Ketika keduanya telah mencapai langit ketujuh kenikmatan, tubuh mereka terkulai lemas diatas ranjang dengan peluh yang membasahi tubuh .


"Siapa Ana, Mike? Kenapa kau selalu menyebut namanya saat bercinta denganku? Apa kau membayangkan jika aku adalah Ana?" Tanya Fransisca penasaran.


Mike segera turun dari ranjang dan memakai celana pendeknya. Ia meraih sebungkus rokok dan pemantik kemudian menuju balkon.


Fransisca amat kesal dengan sikap Mike. Ia memilih pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri.


Mike meraih satu puntung rokok dan menyalakannya. Ia mengepulkan asapnya ke udara.


"Ana... Kapan aku bisa memilikimu?" batin Mike.


"Aku membayangkan jika ranjangku diisi dengan desa'han dan erangan dari bibirmu. Aku akan menunggu saat itu. Tunggulah, Ana. Aku akan memisahkanmu dari si sombong Grey."


Mike terus menyesap rokoknya dengan santai tanpa tahu jika sedari tadi sepasang manik coklat tengah memperhatikannya.


"Kemarilah, Fransisca!" Panggil Mike yang tahu jika wanita itu memandanginya dari jauh.


Fransisca datang dengan menyilangkan tangannya. Mike membuang puntung rokoknya dan segera meraih tengkuk Fransisca kemudian melahap bibirnya.


"Aku tahu kau cemburu. Tapi kau harus ingat. Kau hanya seorang ja'lang yang kubayar untuk melayaniku. Tidak lebih!"


Fransisca mengepalkan tangannya menahan amarah. Jika saja ia tak butuh uang dari Mike, ia tak akan sudi menjadi wanita penghibur seperti sekarang.


"Maaf, aku tidak akan cemburu lagi dengannya." Ucap Fransisca pasrah.


"Good girl. Ambillah bayaranmu! Aku sudah menyiapkan cek untukmu." Mike mengusap wajah Fransisca.


"Thank you, Mike. Aku pergi. Jika kau butuh aku maka... Kau tahu kemana harus mencariku."


"Sure! Aku tetap membutuhkanmu hingga aku berhasil mendapatkan Ana." seringai Mike.


......***......


#bersambung dulu shay...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan. 😘😘😘


mampir juga yuks ,di 👇👇👇