Raanjhana

Raanjhana
Trapped by Cold CEO : 33. Cobalah Mengerti



Ana terbangun di pagi hari karena mendengar bunyi alarm dari ponselnya. Ia mengerjapkan mata dan menyesuaikan cahaya yang masuk. Ia menatap wajah suaminya yang masih terlelap. Semalam ia menunggu Grey pulang dari makan malam bersama Alfred. Namun karena kantuk yang teramat sangat membuat Ana tak kuasa untuk terus menunggu. Ia memilih untuk memejamkan mata mendahului Grey.


Ana turun dari tempat tidur dan beraktifitas layaknya seorang istri pada umumnya. Ia menyiapkan pakaian kerja suaminya dan memasak menu sarapan.


Saat sedang memasak, pikiran Ana tertuju pada dugaan-dugaan tentang apa yang terjadi dengan ayah mertua dan suaminya. Apakah dirinya di terima sebagai menantu atau tidak?


"Sayang, kau sedang apa? Kenapa melamun?" suara Grey membuyarkan lamunan Ana.


"Eh? Kau sudah bangun? Aku sedang memasak sarapan untuk kita." balas Ana sekenanya.


"Yeah. Aku sudah ada disini tentu saja aku sudah bangun." Canda Grey.


"Bagaimana semalam? Apa Uncle Alfred merestui hubungan kita?" tanya Ana berusaha tetap tenang.


"Menurutmu?" Grey mencoba menggoda Ana.


"Jangan bercanda! Aku serius bertanya!" Ana merengut.


"Iya, sayang. Maaf. Daddy sangat senang mendengar kabar pernikahan kita."


"Benarkah?" Ana bersorak gembira.


Grey mengangguk kemudian memeluk Ana.


"Kita akan temui Daddy nanti malam. Bagaimana?"


"Hmm, boleh."


......***......


Di tempat berbeda,


Jessline sedang merapikan barang-barang miliknya juga milik Marc. Ia memutuskan untuk pindah kota lagi setelah Ana mengetahui jika dirinya ada di Paris. Tidak akan aman baginya jika tetap tinggal di kota ini.


"Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa mengemas barang-barang?" tanya Marc saat melihat kesibukan Jessline.


"Sayang, kita akan kembali ke London." jawab Jessline.


Marc mengernyitkan dahi. "London? Kenapa tiba-tiba?"


"Tidak, ini bukan tiba-tiba. Tapi kurasa sudah saatnya kita kembali."


"Apa ini karena pria kaya itu?" selidik Marc.


"No, Marc. Jangan berpikiran buruk." Seperti biasa Jessline menggunakan jurus mautnya.


"Aku hanya memilikimu disini. Aku hanya ingin kembali ke kota kita saja. Kau bisa 'kan menyiapkan dokumennya lagi?" Jessline berusaha meyakinkan Marc.


Selama ini mereka berpindah tempat dengan identitas yang berbeda-beda. Marc adalah ahli dalam memalsukan dokumen.


"Hmm, baiklah. Aku tidak akan tinggal diam jika ternyata kau pindah ke London hanya karena pria itu!" ucap Marc dengan penuh penekanan.


"Tentu saja bukan, Marc. Percayalah padaku!" Jessline memberikan kecupan-kecupan hangat untuk Marc.


"Dasar bodoh! Tentu saja aku kembali ke London agar bisa mendapatkan Grey. Aku tidak akan rela jika Grey dimiliki oleh Ana. Grey harus menjadi milikku!!" batin Jessline menyeringai.


......***......


"Sayang, kau sudah siap?"


"Iya. Bagaimana menurutmu? Apa aku sudah sempurna?" Ana merasa gugup untuk bertemu dengan Alfred.


Meski ini bukan pertemuan pertama mereka, tetap saja ini adalah hal baru bagi Ana karena statusnya telah berubah.


"Kau sangat sempurna, sayang." Grey memuji penampilan Ana dengan gaun malam berwarna hitam yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih.


"Terima kasih. Ayo berangkat!" ajak Ana.


"Dengan senang hati, Nyonya Grey." Grey memberikan lengan kirinya untuk Ana.


Setibanya di mansion Alfred, Ana dan Grey turun dari mobil dan disambut oleh Black dan juga Simon. Ana mengernyit heran.


"Mereka sudah tahu tentang pernikahan kita." bisik Grey.


"Kau cerita pada mereka?"


"Yeah. Mereka orang-orang kepercayaanku."


Ana mengangguk paham. Ia tak menyangka jika Grey telah menceritakan tentang pernikahan mereka pada Black dan Simon. Pasalnya selama di kantor, tidak ada yang aneh dengan sikap Black maupun Simon. Jadi Ana pikir, Grey masih menutupi pernikahan mereka. Kalau begini, Ana ingin segera mengumumkan saja pernikahannya dengan Grey agar semua orang tahu.


Alfred menyambut kedatangan Ana dan Grey dengan antusias. Ia memeluk putranya kemudian memeluk Ana.


"Selamat datang di rumah, Sayang..." ucap Alfred.


"Terima kasih, Uncle." balas Ana.


"No, darla. Jangan memanggilku Uncle. Mulai sekarang panggil aku Daddy."


Ana menatap Grey sejenak seraya meminta persetujuan suaminya. Grey mengangguk.


"Baik, Daddy."


Alfred tertawa bahagia karena dalam satu waktu ini ia mendapatkan kembali cinta putranya dan juga mendapat seorang menantu idaman.


Makan malam telah usai, kini mereka bercengkerama di ruang keluarga. Ada sedikit kesedihan di wajah Ana saat ia mengingat ayahnya yang masih terbaring koma di rumah sakit. Alfred berjanji akan memberikan perawatan yang terbaik untuk Alfonso.


Di hari pertamanya tiba di London, Ana sempat menjenguk Alfonso bersama Grey seraya memohon restu darinya. Ana berharap jika ayahnya bangun nanti, ayahnya akan memberi restu seperti yang dilakukan Alfred.


"Oh ya, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Daddy minta kalian tetap merahasiakan pernikahan kalian ini."


"Eh?" Kata-kata Alfred rasanya membuat hati Ana tersentak. Sungguh ia berpikir jika dirinya sudah bebas mengatakan pada dunia jika Grey adalah miliknya.


Entah kenapa saat mendengar Alfred mengatakannya, Ana merasa dibohongi oleh Grey. Bagaimana bisa Grey tidak mengatakan apapun padanya?


Selama perjalanan pulang ke apartemen, Ana hanya terdiam. Hatinya dipenuhi dugaan kenapa Alfred meminta mereka melakukan hal ini?


Tiba di apartemen, Ana langsung mengganti gaun malamnya dengan piyama berlengan andalannya. Grey tahu jika ada yang tidak beres disini.


"Sayang... Maaf aku belum menceritakannya padamu." ujar Grey.


Ana melipat tangannya. "Jadi, kapan kau akan mengatakannya?"


"Aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Tapi cobalah mengerti, Ana. Daddy meminta kita menyembunyikan pernikahan kita demi kebaikanku dan juga dirimu." jelas Grey.


Ana terdiam.


"Baiklah, aku mengerti. Aku lelah, aku ingin istirahat." tutup Ana kemudian naik ke tempat tidur.


......***......


"Selamat pagi, Tuan."


"Pagi, Todd. Apa ada kabar terbaru?"


"Iya, Tuan."


"Apa itu?"


"Nona Jessline dan kekasihnya sudah kembali ke London, Tuan."


"Oh ya? Berani sekali wanita ja'lang itu kembali kemari?"


"Mereka kembali dengan menggunakan identitas palsu."


"Cih! Kau awasi terus mereka! Jangan sampai lolos! Kita akan bergerak bila waktunya tiba."


"Baik, Tuan!"


Panggilan berakhir.


"Kau menghubungi siapa?"


"Eh?" Grey terkejut karena ternyata Ana sudah ada di belakangnya.


"Ah, bukan apa-apa. Hanya urusan pekerjaan." balas Grey datar agar Ana tidak curiga.


"Sarapan sudah siap. Ayo makan!" ajak Ana.


"Baiklah, sayang." Grey merangkul bahu Ana dan memberikan kecupan di puncak kepala Ana.


Usai sarapan, Grey berpamitan pada Ana untuk pergi ke kantor. Karena permintaan Alfred semalam, Grey meminta Ana untuk berhenti dari pekerjaannya. Ana mengangguk paham dengan situasi ini meski ia belum memahami seutuhnya tentang dunia bisnis.


Ana menghabiskan waktu mengurus rumah dan menonton televisi. Hingga akhirnya sebuah panggilan di ponselnya membuat Ana senang sekaligus haru.


Ana segera bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Ia mendapat kabar jika ayahnya telah membuka matanya. Ayahnya sudah melewati masa kritisnya.


Ana berlarian menuju kamar ayahnya begitu tiba di rumah sakit. Kini Alfonso di tempatkan di kamar rawat biasa. Ana tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya.


"Dad!!!" seru Ana ketika melihat ayahnya telah duduk bersandar di brankar.


Ana menghambur memeluk Alfonso. Pria paruh baya itupun membalas pelukan putri cantiknya. Kamar rawat itu kini di penuhi isak tangis haru dari kedua ayah dan anak yang sedang melepas rindu.


.


.


.


"Maaf, Nona Ana. Kondisi ayah Anda memang sudah stabil tapi seperti yang pernah saya katakan, jika ada kemungkinan ayah Anda mengalami kelumpuhan."


Ana mendengarkan dengan seksama saat dokter bicara dengannya empat mata.


"Kami sudah melakukan pemeriksaan lengkap, dan ternyata ... kaki ayah Anda mengalami kelumpuhan."


Tubuh Ana melemas seketika kala mendengar penjelasan dari dokter.


"Tapi Nona tenang saja. Ayah Anda akan kembali seperti semula dengan melakukan terapi. Saran saya, Nona jangan memaksanya dulu. Sekarang yang terbaik adalah menyemangati ayah Anda agar cepat pulih."


Ana mengangguk paham. "Terima kasih, dokter. Kalau begitu saya permisi." Ana keluar dari ruangan dokter dengan perasaan tak menentu.


Ana duduk dibangku panjang rumah sakit dan memikirkan kondisi ayahnya. Karena terlalu lama melamun, Ana tak sadar jika ponselnya telah bergetar sedari tadi.


"Astaga! Aku lupa memberi kabar pada Grey." Ana meraih ponselnya yang kembali bergetar. Sebuah panggilan dari Grey. Ana memberitahu suaminya jika Alfonso telah sadar dari koma.


Tak butuh waktu lama, Grey tiba di rumah sakit. Ia dan Ana berencana meminta restu secara resmi pada Alfonso. Ia cukup gugup karena ini adalah pertemuan pertamanya dengan Alfonso.


Ana masuk ke kamar Alfonso diikuti Grey. Ana berdiri di samping brankar.


"Dad..." Panggil Ana saat melihat Alfonso melamun. Ana tahu ayahnya pasti memikirkan banyak hal terutama tentang Alonso.


"Ana? Kau sudah kembali, Nak?" Alfonso menatap Grey dengan tatapan aneh. "Siapa dia, Nak?"


"Eh? Ah dia ... dia adalah putra Uncle Alfred, teman Daddy. Namanya Grey." terang Ana.


"Putranya Alfred?" Ada rasa tidak suka yang ditunjukkan Alfonso pada Grey.


"Ada hubungan apa kau dengan putranya Alfred?" pertanyaan bernada dingin keluar dari mulut Alfonso.


"Dad, dia adalah ... suamiku. Aku sudah menikah dengan Grey." ucap Ana.


"APA?!" sorot tajam tergambar jelas dari tatapan yang dilayangkan Alfonso kepada Grey.


.


.


.


"Jangan diambil hati, ya. Aku yakin Daddy pasti bisa menerima pernikahan kita." Ana menenangkan Grey dengan mengusap punggungnya pelan.


Mereka tengah duduk di bangku lobi rumah sakit setelah memutuskan untuk keluar dari kamar Alfonso.


"Ayahmu tidak menyukaiku, Ana."


"Tidak, jangan bicara begitu. Daddy hanya perlu waktu. Dia baru saja bangun dari komanya. Cobalah untuk mengerti kondisinya." Ana memberikan pelukan hangat untuk Grey.


Grey mengangguk dan mencoba memahami situasi yang sedang terjadi.


...***...


#bersambung...


*Wah, gimana perjuangan Ana dan Grey untuk dapat restu dari Alfonso?


*Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘😘💜💜💜


*mampir juga ke 👇👇👇