Raanjhana

Raanjhana
Lala Love Song : Anugerah Terindah (END)



Hari ini Reza berangkat ke kantornya agak sedikit terlambat. Entah kenapa Lala bersikap manja padanya hari ini. Tidak seperti biasanya Lala meminta ini dan itu sebelum Reza berangkat kerja.


"Ada apa, Rez? Kamu terlihat berbeda hari ini." Tanya Rocky.


"Tidak apa, Pak. Saya hanya kelelahan saja."


"Oh ya, ini saya ada sedikit camilan. Tadi pagi Visha membuatnya."


"Terima kasih, Pak."


Reza membuka kotak makanan yang di berikan bosnya. Namun tiba-tiba perutnya merasakan gejolak yang tak biasa.


Reza segera menujun ke toilet dan memuntahkan isi dalam perutnya.


"Ya Tuhan! Apa yang terjadi denganku?Apa jangan-jangan aku sakit?"


"Reza, ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba lari?"


"Umm, itu Pak. Saya tidak tahu ada apa dengan saya. Tapi... saya merasa mual ketika mencium aroma makanan yang bapak bawa tadi."


"Eh? Ini makanan baru, Rez. Kamu jangan menghina makanan istri saya dong."


"Tidak, Pak. Saya tidak menghina. Hanya saja..."


"Mungkin kamu sakit. Sebaiknya periksakan kondisimu ke dokter."


"Baik, Pak."


Reza menggeleng pelan dan bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya. Saat makan siang tiba, Reza merasa tidak ingin memakan apapun.


"Sepertinya ada yang salah dengan diriku. Tapi apa ya?"


Reza berjalan malas keluar kantor untuk mencari makanan yang sesuai dengan seleranya saat ini. Reza melihat ada tukang rujak buah melintas.


"Bang, beli rujak buahnya." Reza sangat bersemangat memakan rujak buah yang memang amat di inginkannya.


Usai menyantap rujak buah, ada tukang pempek melewati dirinya.


"Wah, ada pempek. Bang! Pempeknya dong 1 porsi."


Sementara itu, Rocky sedari tadi mencari keberadaan Reza yang harusnya sudah masuk kembali ke ruangannya. Jam istirahat siang telah selesai.


"Kemana sih dia?" gerutu Rocky.


*


*


Rocky berkacak pinggang saat melihat Reza baru datang dengan memegangi perutnya yang telah terisi penuh oleh makanan yang ia inginkan.


"Dari mana saja kamu? Saya tunggu dari tadi malah enak-enakan makan." Rocky menggelengkan kepalanya.


"Maaf, Pak. Habisnya ... makanan di kantin kantor tidak ada yang sesuai dengan selera saya." jawab Reza jujur.


"Kamu ini ada-ada saja. Cepat siapkan berkas meeting siang ini!" perintah Rocky.


"Baik, Pak. Dalam lima belas menit, saya jamin semuanya beres!"


"Ck, ya sudah jangan banyak bicara."


......***......


Reza kembali ke apartemennya pukul enam petang. Ia bersiul selama perjalanan menuju ke lantai apartemennya. Di perjalanan, Reza bertemu dengan sepasang muda mudi yang sedang berdebat. Sepertinya mereka sedang memindahkan barang.


Reza tersenyum seringai karena mengenali si pria muda itu.


"Ehem! Apa yang sedang kalian lakukan? Oh kalian mau pindahan ya? Pindah kemana? Sepertinya kekasihmu ini tidak ingin pindah dari sini." ucap Reza.


Pria muda yang tak lain adalah Andreas, mengepalkan tangannya karena melihat Reza yang pernah memukulinya hingga babak belur.


"Jangan ikut campur! Pergi saja sana! Dan urus istrimu itu!" balas Andreas.


"Ha ha, tentu saja aku akan mengurus istriku dengan baik. Harusnya kamu yang perlu mengurus wanitamu ini dengan baik. Dia sudah enak tinggal disini, kamu malah memindahkannya. Tidak apa sih. Lagi pula aku senang karena tidak harus melihat wajahmu yang brengsek itu!!"


Andreas ingin sekali berurusan dengan Reza. Namun cekalan tangan Monica memintanya segera pergi dari sana.


Andreas berlalu tanpa kata perpisahan sedikitpun pada Reza.


"Pergilah yang jauh! Dan jangan pernah menginjakkan kakimu disini lagi!" umpat Reza kemudian melanjutkan perjalanannya.


Tiba di apartemennya, Reza mengedarkan pandangan dan melihat istrinya sedang memasak di dapur. Reza segera menghampirinya.


"Hmm, masak apa sayang?" tanya Reza.


"Capjay. Entah kenapa aku sangat ingin makan capjay. Kamu mandi dulu sana, setelah itu makan."


Reza memegangi perutnya yang merasa mual setelah mencium aroma masakan Lala.


Reza memuntahkan isi dalam perutnya di wastafel.


"Astaga! Mas! Kamu kenapa?" tanya Lala panik.


Reza mengatur nafasnya. Sepertinya ia tak enak badan malam ini.


"Sebaiknya Mas istirahat saja di kamar."


Reza mengangguk dan segera berjalan ke kamar tidur. Lala mengernyit heran dengan apa yang terjadi pada Reza.


Keesokan harinya, Reza terbangun karena merasakan hal aneh pada perutnya. Ia segera menuju ke kamar mandi. Lala kembali bingung dengan sikap suaminya.


"Kenapa sih dia?" lagi-lagi Lala hanya bisa bergumam.


Reza keluar dari kamar mandi setelah menuntaskan apa yang tubuhnya inginkan.


"Mas? Kamu tidak apa-apa? Apa mau ke dokter saja?" tanya Lala.


"Tidak! Tidak perlu. Sebentar lagi juga aku baik-baik saja. Jangan cemas!"


"Apa Mas yakin hari ini akan berangkat ke kantor? Wajah Mas pucat, kita ke dokter ya?"


"Tidak perlu, sayang. Mungkin aku hanya ... salah makan mungkin." Reza mencoba mengingat apa saja makanan yang masuk kedalam mulutnya kemarin.


"Tidak ada yang aneh sih. Aku makan rujak buah lalu pempek. Dan ... malam harinya aku tidak bisa makan karena aku keburu mual." Reza nyengir kuda saat menceritakan semuanya pada Lala.


"Kurasa ada yang aneh dengan kamu, Mas. Kita ke dokter saja." putus Lala.


......***......


Tiba di sebuah rumah sakit, Lala mendaftarkan Reza sebagai pasien meski Reza terus menolak jika dirinya sakit. Namun akhirnya Reza pasrah dan menuruti keinginan Lala.


"Kondisi Pak Reza baik-baik saja. Tapi mungkin ... sebaiknya ibu yang harus diperiksa." jelas si dokter.


"Kok jadi saya sih, Dok?" protes Lala.


Dokter itu tersenyum. "Ada kemungkinan suami ibu mengidap sindrom simpatik atau sindrom couvade. Itu biasa terjadi jika istri sedang dalam keadaan hamil. Suami ikut merasakan tanda-tanda kehamilan yang dialami oleh sang istri."


Lala dan Reza saling tatap.


"Tapi saya tidak hamil, Dok." ucap Lala.


"Sebaiknya ibu periksakan dulu kondisi ibu dengan dokter spesialis kandungan."


Akhirnya Lala dan Reza memutuskan untuk pergi ke dokter kandungan. Reza yang sudah merasa jika penuturan dokter umum tadi adalah benar, sudah amat gembira menyambut berita baik ini.


"Mas, belum tentu juga aku hamil. Buktinya aku tidak merasakan apa-apa."


"Sudahlah, aku sangat yakin jika kamu hamil." Reza memeluk Lala.


"Mas!!! Ini tempat umum!"


"Ibu Anggita Nirmala." seorang perawat memanggil nama Lala. Mereka berdua masuk ke ruang pemeriksaan dokter kandungan.


Lala berbaring dan dokter itu segera memeriksa bagian perut Lala dengan alat USG.


Terlihat di layar sebuah titik yang diyakini adalah janin milik Lala dan Reza.


"Selamat ya, Bu. Ibu memang benar hamil Usia kandungan ibu sudah sekitar 6 minggu."


"Enam minggu, Dok? Tapi kok saya tidak merasakan apapun?"


"Tidak semua ibu hamil mengalami gejala kehamilan. Atau mungkin belum terlihat gejalanya. Beruntung ibu mengetahuinya sejak dini, jadi ibu bisa menjaga asupan gizi untuk janin ibu." jelas dokter Thania.


"Jadi benar istri saya hamil, Dok?" Reza masih tak percaya.


"Iya, Pak."


Reza amat bahagia dan langsung memeluk Lala. Bahkan ia tak ragu memberi kecupan di seluruh wajah Lala terutama bibirnya.


"Mas!!!" sungut Lala.


"Hehe, maaf ya dokter. Saya terlalu gembira."


Dokter Thania memakluminya.


"Sayang... Ini Papa, Nak. Kamu bisa dengar papa? Papa akan jaga kamu dan juga mama kamu dengan baik."


"Ish, Mas! Dia bahkan belum berbentuk."


"Tapi dia tetap hidup, La. Dan dia anak kita."


"Iya, Mas. Dia bukan hanya anak kita. Tapi dia adalah anugerah terindah yang dititipkan pada kita."


Reza menyatukan keningnya dengan kening Lala. "Love you, honey..."


"Love you too, Mas..."


......***......


Kita belajar untuk saling mengenal,


kita belajar untuk saling menerima,


kita belajar untuk saling mencintai,


kita belajar untuk saling melengkapi,


Kita belajar untuk saling menjaga...


Kita akan tetap belajar, meski banyak hal telah menguatkan kita. Dan kita akan tetap menyanyikan lagu kita sendiri untuk mencapai kebahagiaan...


...- Lala & Reza -...


...S E L E S A I...