Raanjhana

Raanjhana
Trapped by Cold CEO : 15. Ada Apa Denganku? (versi Grey)




......***......


Grey berjalan naik menuju kamarnya, membuka pintu kemudian menutupnya. Ia berdiri dibalik pintu sambil memegangi dadanya. Senyum tipis terbit dari bibirnya. Ia menyentuh bibir itu. Rasanya masih terasa kala tadi ia mencuri paksa sebuah ciuman dari Ana.


Jantungnya berdegup tak beraturan. Sungguh tak pernah ia bayangkan ia akan melakukannya lagi pada Ana.


"Aneh! Kenapa aku sangat menginginkannya? Apa karena dia mirip dengan Nisha?" Grey menggeleng pelan kemudian menuju tempat tidurnya.


Grey merebahkan tubuhnya yang bahkan tak merasa lelah meski dirinya baru saja melakukan perjalanan bisnis. Bayangan wajah Ana kini menghiasi otaknya.


"Aku pasti sudah tidak waras! Tidak mungkin!! Ini sangat tidak mungkin!" Grey terus mengingkari hatinya kemudian terlelap dan menuju alam mimpi.


Sementara itu, Ana kembali ke kamarnya dan beringsut diatas tempat tidur. Hatinya masih terasa sesak kala mengingat apa yang Grey lakukan padanya.


"Apa yang sebenarnya dia inginkan? Apa jangan-jangan dia akan menagih kesepakatan yang waktu itu? Makanya dia mengurungku disini?" gumam Ana.


"Tidak! Aku tidak bisa lemah begini! Aku harus mempertegas keputusanku! Aku tidak akan menjual mahkotaku padanya." Ana menggeleng cepat.


Ingatan tentang bagaimana kehidupan Grey sebagai pemilik klab malam membuat Ana tak ingin jika dirinya juga dijadikan sebagai mainan seperti wanita-wanita yang bekerja di klab Grey. Ana ingin memejamkan mata namun rasanya sulit. Ana membolak balikkan tubuhnya dan berganti posisi. Hingga sudah lewat tengah malam barulah Ana bisa memejamkan matanya.


......***......


Pagi hari kembali menyapa. Ana merasa masih merasakan kantuk karena ia tidak bisa tidur nyenyak semalam. Namun lagi-lagi ia tak bisa bersantai ria. Ia harus bangun dan menyiapkan sarapan untuk tuan muda majikannya.


Selesai membersihkan diri dan memakai baju khas pelayan miliknya, Ana segera turun dan menuju dapur.


"Hmm, masak apa ya?" Ana mengetuk-ngetukkan jarinya ke dagu. Ia berpikir sejenak.


"Ah, aku tahu! Bukankah si dingin itu lama tinggal di Indonesia? Bagaimana kalau aku masakkan makanan Indonesia saja." Ana meraih ponselnya dan membuka internet.


Ana mendapat satu ide. "Nasi goreng? Ya, sebaiknya aku buatkan saja nasi goreng. Pasti dia akan menyukainya."


Ana memasak nasi goreng dengan bantuan video tutorial di aplikasi Yutub. Cukup lama Ana berkutat di dapur. Hingga akhirnya Ana berhasil membuat tiga piring nasi goreng yang akan ia sajikan di meja makan.


"Hmm, baunya sangat harum. Sepertinya sangat enak." Ana mencicipi hasil masakannya.


"Wah memang sangat enak. Aku yakin Tuan Dingin itu pasti menyukainya."


Ana menyajikan masakannya di meja makan. Tak lupa ia menggoreng telor mata sapi sebagai pelengkap.


"Baunya harum sekali. Kau masak apa, Nona?" tanya Simon yang akan menyeduh kopi.


"Aku memasak nasi goreng. Orang Indonesia biasa memakannya sebagai menu sarapan. Bukankah si tuan dingin itu lama tinggal disana? Aku yakin dia akan menyukainya."


Simon menganggukkan kepala. "Ya semoga saja."


"Tapi, ini sudah siang kenapa dia belum juga turun? Apa dia belum bangun?"


"Tuan Grey menjadikan tempat ini sebagai tempat istirahat. Tentu saja disini tidak ada yang mengganggunya. Bahkan soal pekerjaan sekalipun."


"Begitukah? Jadi, dia akan seharian berada disini?"


"Tidak juga. Biasanya dia tetap akan bekerja jika ada yang mendesak."


"Ada apa ini?" suara berat Grey menghentikan obrolan Ana dan Simon.


"Kalian pasti sedang membicarakanku, bukan?"


"Ti-tidak, Tuan." Ana melambaikan tangan cepat.


"Kau masak apa pagi ini?" tanya Grey yang langsung duduk di kursi meja makan.


"Umm, ini Tuan. Karena Tuan pernah tinggal di Indonesia. Jadi, aku coba memasak nasi goreng."


Grey mengangguk pelan. "Baiklah. Aku akan mencobanya." Grey langsung mengambil sendok dan menyuapkan sesendok nasi goreng buatan Ana kedalam mulutnya.


Grey membulatkan mata. Ia tercengang dan menatap Ana. Ana pun terkejut karena Grey tiba-tiba menatap tajam padanya.


"A-ada apa, Tuan? Apa rasanya tidak enak?"


Grey tersenyum. Baru kali ini Ana melihat senyum yang tulus dari bibir Grey.


"Masakanmu sangat enak."


"Eh? Terima kasih, Tuan." Ucap Ana sambil kembali menunduk.


"Oh ya, Simon."


"Iya, Tuan."


"Hari ini kau antarkan Ana ke rumah sakit. Ia ingin menjenguk ayahnya."


"Baik, Tuan."


......***......


Grey melirik jam tangannya. "Sudah jam segini kenapa Ana dan Simon belum juga kembali?"


Grey menghubungi ponsel Simon namun tidak diangkat. Ia ingin menghubungi ponsel Ana namun ia takut jika gadis itu merasa istimewa dan akan besar kepala.


Grey uring-uringan tak jelas dan memaki benda-benda yang ada disekitarnya. Hingga akhirnya ia mendengar suara deru mobil memasuki area mansionnya.


"Itu pasti mereka!" Grey segera berjalan cepat kearah pintu depan.


Tak disangka apa yang Grey harapkan tak terjadi.


"Tuan? Apa tuan ingin membukakan pintu untukku?" ucap Black yang baru saja memasuki mansion.


"Percaya diri sekali kau! Aku hanya tak sengaja sedang berada di dekat sini!" elak Grey.


Black hampir saja tertawa karena melihat tingkah aneh tuannya.


"Kemana Nona Ana dan Simon? Kenapa Simon tidak berjaga di depan?"


"Simon sedang mengantar Ana ke rumah sakit. Ada urusan apa kau kesini?"


"Ada sedikit urusan pekerjaan yang ingin kubicarakan dengan Tuan," jelas Black.


"Baiklah. Ayo kita ke ruang kerjaku!"


.


.


.


Pukul tiga sore, Ana dan Simon tiba di mansion Grey. Ana merasa amat lelah dan menuju dapur untuk mengambil air es. Ia menuang air es dan meneguknya.


"Aah, segarnya!"


"Nona Ana!" sapa Black.


"Oh, Tuan! Tuan ada disini? Apa Tuan membutukan sesuatu?"


"Tidak. Aku hanya ingin menyeduh kopi."


"Akan kubuatkan!" Ana segera mengambil cangkir.


"Tidak perlu, Nona!" Black mengambil cangkir dari tangan Ana. "Aku akan membuatnya sendiri."


"Apa Tuan kemari karena ada pekerjaan dengan si dingin itu?"


"Hmm, begitulah."


Ana mengangguk paham.


"Bagaimana kondisi ayahmu?"


Wajah Ana berubah sendu. "Ayahku masih koma, Tuan. Entah kapan ia akan terbangun lagi."


"Bersemangatlah, Nona. Aku yakin Tuan Alfonso bisa kembali pulih."


"Terima kasih, Tuan. Oh ya, aku tidak tahu siapa namamu. Kau pasti memiliki nama, bukan?"


Black tertawa. "Tentu saja. Namaku Jacob Black. Kau bisa memanggilku Black."


"Black?" Ana mengernyit kemudian tertawa.


"Ada apa, Nona?"


"Apa kau tahu? Ini sangatlah lucu. Kau bernama Black, dan si tuan dingin itu bernama Grey. Hitam dan Abu-abu, hahahaha. Lalu itu berarti aku adalah Snow White diantara Black dan Grey." Ana tertawa terbahak.


Ana tak menyadari jika sedari tadi ada sepasang mata yang menatapnya nyalang bak mata elang yang siap menangkap mangsanya. Sepasang mata itu merasakan gelenyar aneh kala melihat senyum lebar Ana hanya karena lelucon aneh yang dibuatnya sendiri.


"ANA!!!" suara menggelegar Grey membuat Ana sontak menghentikan tawanya.


Ana menoleh kearah Grey yang sedang menatapnya tajam.


"Ikut denganku sekarang juga!" titah Grey yang membuat Ana menelan salivanya.


......***......


#bersambung


*waaah Grey mau ngapaen ya? 😵😵


*jangan lupa tinggalkan jejak kesayangan 😘😘😘