
Sivia kembali ke salon dengan diantar Bayu. Selama perjalanan hanya diam yang menyelimuti. Bayu tak mau membuat Sivia tambah murung, maka hanya memilih diam.
"Ada yang disembunyikan olehnya. Tapi apa ya?" Tanya Bayu dalam hati.
Andai saja aku bisa membaca hatimu seperti dulu... Kamu selalu menceritakan apapun padaku. Tapi sekarang semua benar berbeda. Aku tak mau kamu menjauh dariku hanya karena aku ikut campur masalahmu. Sivia--- tolong katakan sesuatu...
Bayu melirik Sivia sesekali. Dan gadis itu hanya bergeming. Tatapan matanya kosong. Entah nyawanya masih berada disini atau dimana.
Perjalanan hampir empat puluh lima menitpun berakhir dengan kebisuan diantara keduanya.
"Makasih ya, udah mau nganterin sampai salon." Sivia baru bicara setelah sampai di depan salon.
"Jangan sungkan, Vi. Lagipula, aku mulai hapal dengan jalanan disini, hahaha." Seperti biasa Bayu ingin mencairkan suasana dengan selalu tertawa.
Sivia tersenyum kemudian turun dari mobil. Ia melambaikan tangan pada Bayu yang semakin jauh.
"Jadi lo pergi selama hampir empat jam cuma buat ketemu sama dia?" Razona melihat semuanya dan langsung mencecar Sivia.
"Eh? Bukan kok. Gue tadi gak sengaja ketemu dia dijalan." bela Sivia.
"Hmmm, entahlah Vi. Memang banyak hal yang terjadi ya selama gue gak ada." Razona memutar badan kemudian meninggalkan Sivia.
Lagi-lagi Razona seperti menyindir Sivia. Sivia tak ingin berdebat. Batinnya sudah lelah memikirkan banyak hal. Tak ada gunanya ia membantah, karena pada kenyataannya, Bayu memang selalu tiba-tiba datang di hadapannya.
Sivia berjalan ke ruang kerjanya. Duduk di depan komputernya meski tak tahu apa yang akan dia lakukan. Tiba-tiba ia memegang dadanya.
Apa yang terjadi? Kenapa aku---? Aah sudahlah. Semua hanya perasaanku saja. Aku tak mau ambil pusing. Lupakan sejenak semuanya, Vi...
...***...
Ninna begitu bersemangat. Hari ini ia akan mulai memindahkan barang-barang miliknya dan Aditya ke rumah baru. Tak ada satupun yang bisa menghalangi apa yang jadi keinginannya. Dibesarkan dalam keluarga kaya bak putri raja, tentu saja tak pernah sekalipun keinginannya tidak terkabul.
Sementara Aditya, ia hanya berpasrah mengikuti keinginan istrinya. Ia tak suka berdebat. Masih terngiang di ingatannya soal pertemuannya dengan Sivia beberapa hari lalu. Ia harus memikirkan cara untuk bicara dengan Adniyan. Semakin dipikir semakin tak ketemu jawabannya.
Bagaimana mungkin aku tiba-tiba menceritakan semuanya pada Iyan? Ia pasti mengira aku sudah gila.
Aditya mengacak rambutnya pelan. Dilepasnya kacamata yang selalu ia pakai. Kemudian memijat ujung batang hidungnya pelan.
Masih ada waktu sebelum pernikahan Iyan dan Sivia. Apa aku sebaiknya berkonsultasi dengan Kak Martha dulu? Dia adalah orang yang bijak. Tapi--- tidak, tidak. Tidak bisa begitu. Itu hanya akan menambah beban Kak Martha.
"Mas!!! Kamu sedang apa disini? Ayo bantuin beresin barang-barang dong! Buku-buku kamu tuh banyak banget. Bikin penuh muatan saja." Ucap Ninna sedikit kesal.
"Iya, maaf. Aku akan kedepan bantu Pak Dirman."
Aditya melangkah pergi sebelum Ninna tambah kesal padanya.
.
.
.
Malam ini Ninna dan Aditya sudah menempati rumah baru mereka. Ninna hanya mengadakan pesta kecil-kecilan saja bersama teman-temannya dan para tetangga baru. Keluarga Nugraha hanya mampir sebentar. Sepertinya mereka masih berat melepas anak dan menantunya untuk hidup terpisah.
"Aku capek banget, Mas. Senangnya akhirnya kita bisa hidup sendiri." Ninna meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku.
"Kalo gitu kamu istirahat saja. Aku akan ke perpustakaan merapikan buku-bukuku."
Ninna sengaja menghadiahi sebuah ruangan perpustakaan untuk Aditya, karena suaminya memang gemar membaca. Ditambah lagi dia adalah seorang dosen, pastilah koleksi buku-bukunya hampir memenuhi seluruh bagian rumah.
Ninna cemberut saat suaminya keluar dari kamar. "Harusnya kau menikah dengan buku-bukumu saja. Kau lebih tertarik pada buku dari pada istrimu." Gumam Ninna kesal.
.
.
.
Esoknya, Ninna sengaja tak keluar rumah. Ia ingin merapikan semua barang-barangnya dan Aditya dengan tangannya sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga.
"Bi, barang-barang Mas Adit yang kemarin diturunin dari mobil ada dimana?" tanya Ninna pada Bi Inah.
"Kemarin sih Tuan taruh di gudang belakang, Nyonya."
"Hah? Di gudang? Kok taruh disana sih?"
"Kalo gitu biar Bibi ambilkan, Nyonya."
"Gak, gak usah. Biar saya aja yang kesana. Bibi rapihin yang di kamar saya aja dulu, sama cek di perpustakaan, kemarin Mas Adit katanya beresin disana."
"Baik, Nyonya."
Ninna melenggang pergi ke gudang belakang.
Untuk apa Mas Adit membawa kotak-kotak ini ke gudang? Kenapa gak langsung dirapihkan saja sih? Batin Ninna bertanya-tanya.
Ada dua kotak berbentuk persegi berdiameter sekitar 30cm. Ninna penasaran apa yang disimpan suaminya didalam kotak.
Perlahan Ninna membuka kotak pertama. Selama menikah baru kali ini ia melihat kotak milik suaminya itu.
"Apa ini?" Ninna mengernyitkan dahi.
Beberapa lembar foto terpampang disana. Ninna mengambil satu foto. Itu adalah suaminya, bersama seseorang.
"Hah? Apa ini?" Ninna menutup mulutnya tak percaya.
"Bagaimana mungkin mereka?" kaki Ninna terasa lemas. Ia pun terduduk tak berdaya.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku tidak tahu apapun tentang suamiku?
Air mata Ninna mulai mengalir. Ia meremas foto yang ada ditangannya.
...***...
Pukul lima sore Aditya tiba dirumahnya. Keadaan rumahnya tampak sepi. Biasanya ia mendengar suara Ninna dimana-mana. Namun kali ini tidak. Mobil Ninna masih terparkir di halaman, jadi dia ada dirumah. Tapi dimana?
Aditya menuju dapur. Disana Bi Inah sedang memasak. Aditya bertanya pada Bi Inah.
"Ninna mana Bi? Dia gak pergi kan?"
"Eh? Nyonya? Tidak, Tuan. Nyonya ada dirumah."
"Dimana?"
"Mmm, itu Tuan---" Bi Inah bingung bagaimana menjelaskan pada Aditya.
"Kenapa Bi? Bibi tahu Ninna ada dimana?"
"Nyonya seharian ada di gudang, Tuan."
"Apa? Di gudang? Apa yang dia lakukan di sana?" Aditya mengernyitkan dahi.
"Tadi Nyonya tanya soal barang-barang Tuan yang kemarin di bawa dari mobil. Bibi jawab kalau barang-barang itu ada di gudang. Lalu Nyonya---"
Belum sempat Bi Inah melanjutkan ceritanya, Aditya sudah berlari menuju gudang.
Ninna? Apa yang kamu lakukan disana? Apa jangan-jangan---? Tidak mungkin!!! Hatinya mulai cemas sekarang.
Aditya tertegun melihat Ninna yang bersimpuh dilantai gudang yang kotor. Disekelilingnya berceceran beberapa lembar foto. Itu adalah foto dirinya dan Sivia. Ninna sudah mengetahui semuanya.
"Ninna--- Aku bisa jelaskan semuanya!"
Ninna bangun dan menatap tajam pada Aditya. Ada kemarahan dimatanya.
Ninna melempar foto-foto itu tepat ke wajah Aditya.
"Jelaskan? Apa yang mau kamu jelaskan, Mas? Semua sudah terlambat!"
Ninna melangkah keluar dari gudang. Aditya menyusul langkah kaki Ninna. Ia berhasil menghentikannya.
"Aku tidak bermaksud membohongimu. Aku sedang mencari cara untuk menjelaskannya padamu."
PLAAKK!!
Ninna menampar Aditya. Sebuah tamparan yang cukup keras.
"Aku suamimu, Ninna!! Berani sekali kamu menamparku?!" Aditya mulai menaikkan nada suaranya. Selama ini ia selalu diam dan tak mau tahu. Tapi diperlakukan seperti ini, ia pun tak bisa menerima.
"Itu pantas untukmu, Mas. Seorang suami yang berbohong pada istrinya tentang masa lalunya, pantas mendapat hukuman. Apa kalian masih berhubungan sampai sekarang, huh? Apa kau tahu kalau dia akan jadi adik iparmu? Apa Iyan tahu soal masa lalu kalian?" Ninna mencecar Aditya dengan pertanyaan bertubi-tubi.
"Itu hanya masa lalu. Dan akan selalu begitu."
"Lalu kenapa kamu masih menyimpan kenanganmu bersamanya, huh? KENAPA?!? Apa kamu masih mencintainya? Katakan padaku, Mas!!!"
"Cukup Ninna!!! Kita bisa membicarakan ini dengan baik-baik."
"Baik-baik? Selama ini kau berbohong padaku dan setelah terciduk kau ingin semuanya dibicarakan dengan baik-baik? Aku tidak akan membiarkan ini, Mas. Keluarga besarmu harus tahu mengenai ini."
"Apa?" Aditya kalah sekarang. Ia tak bisa berkata apapun lagi.
Ninna meninggalkan Aditya yang mematung. Hal buruk yang selalu dia bayangkan, akhirnya jadi kenyataan.
Aditya menjambak rambutnya kesal.
Sudah berakhir sekarang. Sudah berakhir.
Aditya mengusap wajah dengan kedua tangannya. Ia meraih ponselnya di dalam saku. Ia mengetik sesuatu di ponselnya. Sebuah pesan.
^^^Aditya Nugraha^^^
^^^Sudah berakhir, Vi. Ninna sudah mengetahuinya. Semua hanya soal waktu sampai Iyan dan seluruh keluarga tahu soal kita.^^^
Setelah mengirim pesan, Aditya melempar ponselnya asal. Ia sangat kesal saat ini.
......
.......
.......
.......
...Apa yang akan terjadi dengan Sivia setelah Ninna mengetahui kalau Sivia pernah menjalin hubungan dengan suaminya?...
.......
.......
.......