
Sepeninggal Grey, Ana melanjutkan aktifitasnya seperti biasa. Kini ia mulai terbiasa dengan kegiatan rumah tangga kesehariannya. Sungguh ia sudah seperti seorang istri untuk Grey.
"Nona!" Suara Simon menginterupsi kegiatan Ana yang sedang menyiram tanaman di kebun belakang.
"Simon? Umm, aku minta maaf atas apa yang terjadi..."
"Tidak, Nona. Aku yang harusnya meminta maaf. Aku sudah mengganggu kemesraan kalian." Simon menggaruk tengkuknya.
Ana tersenyum. "Ada apa? Apa kau membutuhkan sesuatu?"
"Tidak, Nona. Bukan itu. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih."
"Untuk apa?"
"Nona sudah membuat Tuan Grey kembali seperti semula."
"Itu bukan karena aku. Dia berubah karena dia memang ingin berubah. Begitu 'kan?"
"Hmm, Nona memang gadis yang baik. Apa hari ini Nona akan di rumah saja?"
"Umm, antarkan aku ke supermarket. Aku ingin membuat makanan spesial malam ini."
"Baik, Nona."
......***......
Ana mendorong troli belanjaannya sendiri. Kali ini ia tidak mengijinkan Simon untuk ikut berbelanja dengannya. Ia ingin menikmati waktu berbelanja sebagai seorang gadis biasa tanpa adanya pengawalan.
Ana tersenyum bahagia mengambil satu persatu bahan makanan yang akan dimasaknya nanti malam. Ia akan meminta bantuan Alvin saat memasak nanti.
Sepasang netra sedang tertuju pada Ana yang tengah asyik mencium aroma deretan parfum yang ada di etalase. Netra itu begitu kagum dengan keanggunan Ana meski hanya memakai dress dibawah lutut tanpa lengan.
"Ana!"
"Eh? Mike? Kenapa kita selalu bertemu dengan cara tak terduga?"
"Entahlah. Mungkin itu sebuah tanda."
"Tanda? Omong-omong apa yang kau lakukan disini?"
"Apa kau tidak tahu? Supermarket ini milik keluargaku."
"Oh My ... maaf aku tidak tahu. Benarkah? Mungkin sebaiknya aku tidak kemari. Jika ada anggota keluargamu yang melihatku disini pasti..."
"Mike? Kau sedang apa?" suara seorang wanita paruh baya menginterupsi percakapan Mike dan Ana.
"Oh, Mom? Kau disini?" Mike menyapa ibunya dengan gugup. Ia berharap ibunya tak menyadari kehadiran Ana.
"Siapa yang ada dibelakangmu?" tanya ibu Mike.
"Umm, hanya pelanggan biasa. Aku hanya membantunya memilih parfum terbaik yang dijual disini." jawab Mike.
Nyonya Lincoln tak percaya begitu saja dengan kalimat Mike karena gerak gerik Mike sangatlah mencurigakan. Nyonya Lincoln menghampiri Ana yang sedang berdiri tertunduk. Percuma saja dirinya pergi dari sana. Sudah kepalang basah.
"Kau!!!" pekik Nyonya Lincoln ketika melihat Ana.
Mike segera melindungi Ana. "Mom, jangan membuat keributan disini."
Ana beringsut dibelakang tubuh Mike. Ia tahu jika Nyonya Lincoln pasti sangat membenci keluarganya.
"Minggir, Mike! Aku akan memberi pelajaran pada gadis itu! Dia sudah membuat perusahaan kita merugi."
"Mom, bukan Ana yang melakukan itu. Dia juga korban!" bela Mike.
"Jangan membelanya!" Nyonya Lincoln menyingkirkan tubuh Mike dan menarik tubuh Ana.
Nyonya Lincoln menyeret tubuh Ana agar keluar dari supermarket miliknya. Para pengunjung yang melihat kejadian itu sebagian merasa iba, sebagian lagi malah mengabadikan momen kekerasan itu dengan ponselnya.
"Aaawww!!!" pekik Ana kesakitan karena Nyonya Lincoln mencengkeram lengan Ana dengan kasar.
"Kau dan keluargamu tidak berhak masuk kemari!! Dasar keluarga penipu!!"
BRUUUKKK!!!
Nyonya Lincoln mendorong tubuh Ana hingga terjerembab ke tanah. Tak sampai disitu, Nyonya Lincoln menarik rambut Ana dan menampar wajah cantiknya.
"Mom!!! Hentikan!!!" Mike berusaha memisahkan ibunya dari tubuh Ana.
Keributan yang terjadi mengundang rasa penasaran bagi Simon yang baru saja datang.
"Ada apa ini?" Simon membelah lautan manusia yang melihat pemandangan tak menyenangkan tersebut.
"Astaga!!! Nona Ana!" Simon mendengus kesal dan segera menghampiri Ana.
"Nona! Anda baik-baik saja?" Simon membantu Ana berdiri.
"Cepat bawa Ana pergi dari sini!" perintah Mike pada Simon.
Simon segera memapah tubuh Ana dan membawanya ke tempat parkir dimana mobilnya berada. Simon merasa kasihan dengan kondisi Ana.
"Nona, aku akan membawamu ke rumah sakit untuk mengobati lukamu." Simon segera melajukan mobilnya.
"Tidak perlu! Bawa aku kembali ke mansion saja!" tolak Ana.
"Tapi, Nona..."
"Tolonglah, Simon! Aku hanya ingin beristirahat saja." pinta Ana.
"Baiklah, Nona. Aku akan mengantarmu pulang."
"Terima kasih, Simon."
Selama perjalanan menuju mansion, Ana hanya terdiam dan menatap jalanan di sekitarnya. Hatinya sakit mendapat perlakuan kasar dari keluarga Mike. Tamparan yang didapatnya tak sebanding dengan sakit hatinya.
Ana kembali menitikkan air mata. Sejak kemarin ia begitu bahagia dengan kehidupannya bersama Grey. Tapi gelombang ujian hidup kembali menerpanya.
Tiba di mansion, Ana segera masuk kedalam kamarnya. Bahkan rencana untuk memasak makanan spesial pun gagal karena kejadian tak menyenangkan hari ini.
Melihat kesedihan Ana, Simon segera menghubungi Grey. Grey begitu marah dengan apa yang menimpa Ana. Ia segera meninggalkan pekerjaannya dan kembali ke mansion.
Grey tiba di mansion pukul enam sore. Suasana mansion begitu sunyi tanpa adanya sapaan dari Ana. Grey segera menuju kamar Ana.
Dilihatnya Ana sedang meringkuk di atas tempat tidurnya. Grey tahu pasti Ana menangis.
"Ana..." panggil Grey yang ikut merebahkan diri disamping Ana.
"Tuan? Kenapa sudah pulang?" Ana berusaha tegar didepan Grey.
Grey membelai wajah Ana yang terlihat bengkak. "Jangan menahannya sendiri. Kau memiliki aku disini." Grey membawa Ana kedalam pelukannya.
"Maaf karena aku tidak memasak makan malam untukmu." ucap Ana sambil terisak.
"Terima kasih. Sebaiknya Tuan membersihkan diri dulu. Aku akan siapkan air mandi untuk Tuan."
Ana segera beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar Grey. Ana menyiapkan air hangat dan wewangian untuk Grey.
"Silahkan, Tuan. Aku akan ke bawah menyiapkan makan malam."
"Ana! Jangan terus berusaha tegar. Sesekali kita menjadi rapuh itu juga perlu."
"Tuan Grey..."
"Tunggulah di kamar tidurku. Aku tidak akan lama." Grey mengusap wajah Ana.
Ana mengangguk paham.
......***......
Grey masuk ke kamar tidurnya dengan memakai kaus lengan pendek yang menempel ketat ditubuhnya dipadukan dengan celana pendek santai yang membuat aura ketampanannya tetap tercipta. Ana tersenyum menyambut Grey. Sedari tadi Ana duduk diam diatas tempat tidur.
"Kau tidak lapar?" tanya Grey.
"Apa Tuan lapar? Aku akan menyiapkan makanan untuk Tuan."
"Tetaplah disini. Biar aku yang akan membawa makanan kemari."
Ana tersenyum senang. Diperhatikan dengan istimewa oleh Grey membuatnya sedikit melupakan kesedihannya karena kejadian siang tadi.
Tak lama Grey membawa nampan penuh makanan ditangannya.
"Terima kasih. Tuan tidak perlu melakukan ini untukku."
"Kenapa? Aku melakukannya karena aku ingin."
Ana segera melahap ayam goreng yang dibawa Grey. Ternyata ia membelikan ayam goreng Wac'D untuknya.
Usai menyantap makanan dan menyesap sedikit wine sebagai pemanis, Grey dan Ana merebahkan diri di tempat tidur dan duduk bersandar. Grey ingin Ana menceritakan semua kegundahannya pada pria itu.
"Aku ingin mendengar ceritamu." ucap Grey.
"Hmm, apa ya? Aku tidak punya cerita yang istimewa. Aku hanya seorang gadis biasa yang kebetulan lebih beruntung dari gadis-gadis lain yang biasanya lahir di Mexico."
Grey menatap wajah Ana yang bercerita tentang masa kecilnya di negara asal ayahnya. Grey sangat suka ekspresi Ana saat dengan antusiasnya bercerita.
Satu kecupan mendarat di bibir Ana.
"Tuan!!!" Ana mengerucutkan bibirnya.
"Kau bukanlah gadis biasa, Ana. Kau adalah gadis istimewa. Kau gadis yang luar biasa."
"Benarkah? Aku tidak pernah merasa spesial kecuali saat menjadi putri ayahku."
"Hmm, lalu saat bersamaku? Apa kau tidak merasa istimewa?"
"Ish, Tuan! Aku hanya seorang pelayan disini!"
"Ssttt!!! Jangan pernah berkata begitu lagi. Mengerti? Dan mulai sekarang jangan memanggilku Tuan. Aku tidak suka."
"Lalu aku harus memanggilmu apa?"
"Carikan yang spesial untukku."
"Ish! Tidak ada hal seperti itu."
"Aku tidak mau tahu! Kau harus mencari panggilan yang bagus untukku."
Ana menghela nafas. "Baiklah. Sekarang giliranmu untuk bercerita, Tuan Grey."
"Kau ingin mendengar apa?"
"Semuanya, tentangmu!" Ana merangkum wajah Grey.
"Sejak dulu aku selalu ingin memiliki saudara. Menjadi anak tunggal tidak selamanya menyenangkan."
Ana mendengarkan dengan seksama.
"Aku begitu dekat ibuku karena ayah selalu sibuk bekerja. Aku bahkan mengira jika ayah tidak mencintai kami dan hanya mencintai bisnisnya saja. Dan hari itu, karena ulah salah satu musuh ayahku, ibuku celaka dan dia harus meninggal dalam sebuah kecelakaan."
Ana menutup mulutnya tak percaya. Ia mengusap punggung Grey.
"Ana, aku ingin meminta maaf padamu atas apa yang sudah kulakukan. Aku sangat menyesali kebodohanku. Tolong maafkan aku. Aku tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya karena kehilangan orang yang kucintai."
"Aku sudah memaafkanmu. Jangan merasa bersalah lagi. Aku tahu semua ini terjadi karena kesalahan Paman dan sepupuku. Bahkan keluarga Mike sangat membenciku karena aku saudara Jessline. Aku berhak mendapat semua amukan dari mereka bahkan darimu."
Grey menggeleng. "Jangan pernah berkata begitu. Kau tidak bersalah. Kita akan menghukum orang yang sudah melakukan ini padamu dan ayahmu."
Ana mengangguk. "Terima kasih karena kau memaafkan kesalahan Uncle Alonso dan Jessline."
"Aku tidak memaafkan mereka, Ana. Mereka akan tetap mendapat hukumannya."
"Baiklah. Aku mulai mengantuk. Kita sudah bercerita banyak malam ini."
Ana mulai memposisikan dirinya tidur terlentang. Grey mengikuti gerakan Ana. Setelah itu Grey membawa Ana dalam dekapannya.
"Tidurlah! Besok akan kupastikan kau tidak akan terluka lagi." Grey mengecup puncak kepala Ana.
Ana mendongak agar bisa melihat wajah tampan Grey. Seakan memasrahkan diri, Ana memejamkan mata saat Grey mulai mengikis jarak.
Kulit kenyal mereka bersentuhan dengan gerakan dan irama yang beraturan.
Satu menit,
Dua menit,
Tiga menit,
Tak ada yang mengganggu aktifitas mereka kali ini. Ana tersenyum usai menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan kembali meradukan benda ranum miliknya hanya untuk Grey.
Hingga akhirnya sebuah pernyataan keluar dari bibir Grey. "Aku mencintaimu, Ana... Hanya mencintaimu..."
Ana membalas dengan sebuah senyuman dan sebuah kecupan singkat. "Aku juga mencintaimu..."
......***......
#bersambung...
😍😍😍 babang Grey... aku meleleh karenamu...😌😌😌
Happy weekend all 🌟🌟🌟