
Ana mendorong kursi roda ayahnya dan membawanya kembali ke kamar. Ia membantu Alfonso berpindah dari kursi roda menuju tempat tidur. Setelah ayahnya merasa nyaman dengan posisi tidurnya, Ana pamit undur diri.
"Apa suamimu tidak akan pulang malam ini?"
"Tidak, Dad. Selarut apapun Grey akan tetap pulang ke rumah." Jawab Ana diiringi senyum.
"Syukurlah kalau begitu. Itu artinya dia pria yang bertanggung jawab."
Ana tersenyum mendengar penuturan ayahnya. "Aku permisi, Dad."
"Iya, kau juga sebaiknya beristirahat saja."
Ana mengangguk kemudian mengganti lampu kamar menjadi lebih temaram.
Ana melangkah menuju kamarnya. Perasaannya mulai di gelayuti rasa yang tak nyaman. Ia segera meraih ponselnya bermaksud menghubungi Grey.
Namun yang ia dapat bukanlah hal yang ia bayangkan. Sebuah pesan tak dikenal masuk kedalam ponselnya. Ia membuka pesan itu yang ternyata sebuah video.
Ana menggeram kesal melihat video yang dikirim oleh nomor tak dikenal. Ana mendengarkan dengan seksama rekaman video itu. Ana makin kesal karena melihat Grey sedang bersama seorang gadis. Ia mengenali suara gadis dalam video itu.
"Jessline!!!" Ana mengepalkan tangannya.
"Jadi dia pergi karena ingin menemui Jessline? Tidak akan kubiarkan kalian berdua!"
Ana segera bangkit dan keluar dari kamarnya. Ia memanggil taksi karena tak ingin membuat orang di rumahnya curiga.
Ana tiba di klub 'The Devil' dan segera melesak masuk kesana. Ia mencari ruangan yang tadi di masuki oleh suami dan sepupunya dalam video.
Ana menggebrak pintu dan melihat Jessline sedang melepas kancing kemeja Grey. Bahkan jasnya sudah tak melekat di tubuh Grey.
Grey menghampiri Ana dan ingin menjelaskan apa yang terjadi. Namun Ana segera menepis tangan Grey.
"Aku kecewa padamu, Grey!" Ana segera pergi dari kamar itu dan berlari sekencangnya. Ana keluar dari klub dan berjalan gontai menyusuri jalanan di tengah malam.
"Ana!" Sebuah suara membuat Ana terhenti.
"Mike?"
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Mike, tolong antarkan aku pulang." pinta Ana dengan air mata yang mengalir.
"Tentu saja. Mari!"
Mike bermaksud membukakan pintu mobil untuk Ana, namun ternyata ia mengambil sapu tangan dari dalam saku celananya dan membekap mulut Ana. Tanpa bisa memberontak, Ana jatuh pingsan karena sapu tangan itu telah di olesi obat bius. Dengan cepat Mike menangkap tubuh Ana yang terhuyung. Ia memasukkan tubuh Ana kedalam mobil dan segera melesat pergi dari jalanan itu.
......***......
Grey menggeram karena rencananya malam ini tak ada yang berjalan sesuai keinginannya. Ia berjalan cepat mencari keberadaan Black dan Simon. Ia melihat kondisi klubnya kacau balau dan pengunjung yang berhamburan keluar.
"Ada apa ini sebenarnya?!" Grey mencari keberadaan Black.
"Tuan!" panggil Black dan menghampiri Grey.
"Ada apa ini, Black?" tanya Grey.
"Kita di serang, Tuan. Simon dan anak buahnya sedang mengurus para penyerang itu."
"Brengsek!!! Siapa yang melakukan ini padaku?"
"Tuan, dimana Nona Jessline?"
"Aku sudah mengurungnya di ruangan itu." Grey memijat pelipisnya pelan.
"Astaga, Ana!" pekik Grey yang tiba-tiba ingat tentang istrinya.
"Maksud Tuan, Nona Ana?" tanya Black.
"Siapa lagi? Dia memergokiku bersama Jessline dan dia salah paham. Aku harus segera mencarinya. Kau juga cari dia! Dan ingat, kita bawa wanita ja'lang itu ke markas dimana ayahnya berada."
"Baik, Tuan."
Grey berjalan keluar klub dan mencari sosok Ana. Namun hasilnya nihil. Tak ada yang melihat sosok Ana.
"Aarrgghh!!!" Grey mengerang kesal. Ia ingin menghubungi ayahnya namun rasanya tak mungkin karena waktunya sudah larut malam. Ia hubungi ponsel Ana, namun sudah tidak aktif.
"Sial!!!" Umpat Grey berkali-kali. Ia mengacak rambutnya dan mengusap wajahnya.
"Ana, maafkan aku. Seharusnya aku jujur padamu jika aku ingin memberi pelajaran untuk sepupumu. Maafkan aku, Ana..." lirih Grey dengan penyesalan yang amat sangat.
.
.
.
Keesokan harinya, Ana mulai membuka matanya dan memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Ia mengerjapkan matanya dan melihat sekeliling tempatnya terbangun.
Ana melihat sesosok pria sedang duduk di sofa yang tak jauh darinya.
"Grey?" gumam Ana lirih.
Ana mengenali suara berat itu. Itu bukan suara Grey.
"Mike?" Ana membulatkan matanya.
Ana segera beringsut kebelakang hingga terpentok ke kepala ranjang.
"Dimana ini? Kenapa aku bisa ada disini?" tanya Ana dengan mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.
"Bukankah aku meminta tolong padamu untuk mengantarku pulang?"
Mike tertawa menyeringai. "Ana, Ana. Apa kau pikir aku akan memulangkanmu ke rumah, huh? Tidak semudah itu, Ana. Kau harus mulai berpikir jernih."
Ana mencoba menggabungkan kepingan puzzle yang ada di pikirannya.
"Jadi ... kau bekerja sama dengan Jessline untuk melakukan ini?"
"Cerdas sekali, Ana. Tebakanmu benar."
"Tapi kenapa?"
Mike memegangi pelipisnya. "Kurasa kau tidak perlu mendapat jawabannya sekarang. Bersiaplah! Nanti malam kita akan bersenang-senang. Sekarang kau istirahat saja. Dan jangan lupa makan sarapanmu."
Mike segera keluar dari kamar itu meninggalkan Ana yang masih mematung. Kini Ana menyesali semua kebodohannya. Tak seharusnya ia percaya begitu saja dengan yang dilihatnya.
......***......
Tiga orang pria sedang berdiam diri menunggu kabar dari orang-orang terbaiknya untuk mencari keberadaan Ana. Wajah panik jelas tergambar dari pria muda yang sedari tadi tidak tenang.
"Tenanglah, Nak. Kita pasti bisa menemukan Ana." ucap Alfred.
Grey segera bersimpuh didepan Alfonso. "Maafkan aku, Daddy. Harusnya aku bisa menjaga Ana dengan lebih baik lagi. Hukumlah aku jika itu perlu, Daddy!"
Alfonso menghela nafasnya.
"Tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi. Bangunlah, Nak."
"Tidak! Aku tidak akan bangun sebelum Daddy menghukumku!"
Alfonso melirik kearah Alfred. Ia memberi kode agar Alfred bisa menenangkan putranya.
"Nak, bangunlah!" Alfred memegangi bahu Grey dan memintanya berdiri.
"Ana pasti baik-baik saja. Percayalah pada Daddy!" ucap Alfred meyakinkan Grey.
Tak lama Simon dan Black datang dengan membawa sebuah kabar.
"Tuan!" Black memberi hormat pada ketiga pria yang ada disana.
"Dalang dibalik semua ini adalah Tuan Mike Lincoln."
"APA?! Brengsek!!!" Grey amat marah.
"Sudah kuduga, jika baji'ngan itu memang menginginkan Ana. Lalu bagaimana? Apa kau mendapatkan petunjuk lain?"
"Tidak, Tuan. Nona Jessline tidak mau bicara pada kami."
Grey melirik kearah Alfonso. Ia ingin meminta ijin untuk memberi pelajaran pada adik dan keponakan Alfonso.
Alfonso menggeleng pelan. Sungguh ia tidak mengira jika saudara dan keponakannya tega melakukan ini kepadanya dan juga Ana.
"Lakukan apa yang harus kalian lakukan!" perintah Grey.
"Baik, Tuan." Black dan Simon undur diri.
Alfonso terlihat syok setelah mendapat kabar dari Black.
"Daddy..." Grey menghampiri Alfonso dan menggenggam tangannya.
"Kita pasti bisa menemukan Ana dalam keadaan selamat. Aku janji!" ucap Grey dengan penuh keyakinan.
Alfonso mengangguk dan percaya pada menantunya ini. Kemudian Grey undur diri untuk menyusuri jejak Ana melalui informasi yang didapat dari Jessline.
......***......
#bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘
👍LIKE
💋COMMENTS
🌹GIFTS
💯VOTE
...THANK YOU...