
Di suatu tempat di belahan bumi yang lain, seorang pemuda sedang gelisah menunggu atasannya datang ke kantor. Ia sengaja datang lebih pagi karena ada hal yang ingin ia sampaikan pada sang pimpinan.
Setelah menunggu selama 15 menit, akhirnya sang atasanpun datang, dan segera masuk ke dalam kantornya. Si pemuda mengekori atasannya menuju ke mejanya.
"Ada apa pagi-pagi kamu sudah disini, Bayu?"
"Ada yang mau saya sampaikan, Pak!"
"Soal apa?"
"Saya mau meminta ijin untuk pulang ke negara saya, Indonesia. Ada hal mendesak yang harus saya lakukan."
Atasannya mengernyitkan dahi.
"Kenapa mendadak sekali? Kamu tahu 'kan berapa lama kontrak yang sudah kamu setujui? Kamu bisa kembali setelah menyelesaikan pekerjaanmu."
"Saya tahu, Pak. Tapi-- ini benar-benar mendesak." Bayu menundukkan kepalanya.
"Hmm, baiklah. Begini saja. Kamu selesaikan tugasmu dalam satu minggu ini. Lalu, sebagai gantinya, kamu akan dapat cuti selama dua bulan."
Mata Bayu langsung berbinar. "Bapak serius?!"
"Yes, of course. Lakukan tugasmu dengan baik. Dan pastikan kamu mendapat imbalannya."
"Siap laksanakan, Pak!!"
...***...
Raga sudah membawa semua barang-barangnya menuju apartemen Aryan. Hari ini ia resmi jadi tunawisma. Andai saja ia tak menceritakan apapun pada temannya itu.
Aryan putra pengusaha meubeul yang sukses. Bahkan di kota asalnya, keluarganya termasuk yang terkaya. Ia pindah ke Kota Baru untuk memperluas bisnisnya. Dan ternyata ia sukses di sini.
Raga merasa bersyukur karena bertemu lagi dengan teman-teman lamanya. Dan ini semua berkat facebook.
"Akhirnya beres juga!" Raga sudah selesai membereskan barang-barangnya di apartemen Aryan. Ia meregangkan tubuhnya sejenak.
Si empunya tempat belum pulang dari kencan malam minggunya. Maklum saja, wajah tampan Aryan membuatnya digilai oleh kaum hawa. Dan tiap minggu ia berganti teman kencan.
Terdengar bunyi kode pintu apartemen terbuka. Dan muncullah Aryan yang berjalan sedikit terhuyung. Raga menopang tubuh Aryan yang hampir terjatuh.
"Lo mabok?" Tanya Raga.
"Gak. Gue cuman minum dikit."
Raga menggelengkan kepala. "Mau sampai kapan lo mainin cewek, hah? Apa gak ada yang lo anggap serius?"
"Gue belum nemu yang pas, Ga. Lo sendiri, pake sok-sokan nyeramahin gue. Cewek juga lo gak punya!"
"Kalo gue udah ketemu sama jodoh gue, bakal langsung gue nikahin." Raga mengambilkan segelas air dan menyerahkannya pada Aryan.
"Thanks, Ga. Lo udah beberes?"
"Udah. Thanks banget ya, gue gak tahu harus kemana kalo gak ada lo."
"Jangan sungkan. Kita 'kan berteman. Oh ya, bukannya lo malam ini ada acara pertunangan bos lo ya?"
"Iya, gue cabut duluan karena mau pindahin barang kesini."
"Gimana gimana? Selera bos lo cocok gak? Pasti ceweknya cantik dan tajir 'kan?"
Raga tersenyum. "Lo gak akan nyangka siapa tunangan bos gue."
Aryan mengernyit. "Siapa? Jangan-jangan gue kenal orangnya?"
"Kenal, kenal baik malah."
Aryan makin penasaran. "Siapa?"
"Sivia--" jawab Raga datar.
"Uhuk uhuk--" Aryan tersedak saat meminum airnya. "Apa?!? Sivia?! Sivia teman kita?"
"Siapa lagi?!? Ya Sivia itu."
"Kok bisa?" Aryan makin bingung.
"Ya mana gue tahu. Waktu kita pertama kali ketemu lagi, gue nawarin dia buat naik mobil gue, tapi-- dia gak mau. Dan dia bilang dia nunggu cowoknya. Gue juga gak nyangka kalo cowoknya itu adalah bos gue."
"Hmm, jadi dia udah punya cowok? Gue pikir dia bakal nunggu si Bayu--"
"Cih. Ngapain nunggu cowok gak jelas kayak dia? Kalo disini bisa dapat pangeran kaya raya. Iya gak?"
"Sivia bukan cewek matre, Ga."
"Iya sih. Gue juga tahu. Ya udahlah, baiknya kita ikut bahagia dengan pertunangannya. Dan-- soal Bayu-- kalo menurut gue, melihat kedekatan mereka, gue yakin Bayu pasti udah tahu soal pertunangan ini."
"Bisa jadi. Apalagi sekarang mereka udah ketemu lewat facebook."
Raga dan Aryan berbarengan menganggukkan kepala.
...***...
Nisa melihat ada beberapa tumpukanย kardus di tempat sampah depan rumahnya. Ia penasaran siapa yang membuang sampah di depan rumahnya. Setahunya orang rumahnya tak ada yang membuang barang seperti ini.
"I-Ini... Ini adalah Pak Adit-- dosen dikampusku. Bagaimana bisa mereka----??" Nisa menutup mulutnya.
Nisa yang akan berangkat kuliah, akhirnya membolos dan malah menemui kakaknya, Sivia. Tidak diragukan lagi kalau kakaknya lah yang sudah membuang semua barang-barang ini.
Nisa mengendarai sepeda motornya menuju salon milik Sivia. Otaknya tak lagi bisa berpikir jernih sebelum mendapat jawaban dari sang kakak.
Nisa langsung menuju ke lantai atas dan masuk ke ruang kerja kakaknya.
"Lho, Nisa?! Kok kamu ada disini? Bukannya kamu ada kuliah?" tanya Sivia heran.
"Ada yang perlu aku tanyakan sama Mbak!"
"Tanya soal apa?"
"Ini---" Nisa melempar beberapa lembar foto pada kakaknya.
"Apa ini?!" Sivia masih belum mengerti dengan perbuatan adiknya.
"Orang yang ada didalam foto-- Dia--ย ย dia adalah dosen dikampusku 'kan, Mbak? Dan cewek disebelahnya. Dia adalah Mbak Vi, benar 'kan?"
Sivia terbelalak tak percaya. "Bagaimana bisa kamu--"
"Jawab aku, Mbak! Ada hubungan apa Mbak Vi sama Pak Adit?" suara Nisa makin meninggi.
"Ada apa ini? Kenapa berteriak Nisa?" Razona datang menghampiri kakak beradik yang sepertinya sedang berseteru.
Sivia menarik nafas kasar. "Mbak bisa jelaskan semuanya."
"Kalo gitu jelaskan!"
"Nisa!! Jangan bicara seperti itu pada kakakmu!!" Lerai Razona.
Nisa mulai mengatur nafasnya. Ia terdiam. Ia menunggu kakaknya mengatakan sesuatu.
"Vi, sudah saatnya kamu ceritakan semua pada Nisa. Itu akan lebih baik."
Nisa melirik ke arah dua sahabat yang sedang saling pandang.
"Jadi Mbak Raz sudah tahu?" Nisa tersenyum sinis.
"Maaf, Nis. Kami bukan bermaksud menutupinya dari kamu. Hanya saja-- hubungan Mbak dan Mas Adit sudah berakhir lama." terang Sivia.
"Dan selama itu pula Mbak gak pernah cerita apapun ke Nisa? Ah, Nisa tahu, apa karena Pak Adit, makanya Mbak Vi selalu mengantarku ke kampus? Mbak ingin ketemu sama Pak Adit makanya Mbak selalu antar jemput aku?"
"Tidak, bukan begitu." Sivia makin putus asa mendengar Nisa makin mencecarnya. Ia tahu tak akan bisa mengalahkan argumen Nisa. Sivia terlalu pendiam untuk bisa menang bicara melawan Nisa.
"Nisa, tolong dengar penjelasan kakak kamu dulu. Ini gak seperti yang kamu bayangkan. Aku tahu, Sivia salah karena gak pernah menceritakan apapun padamu. Aku mengetahui hubungan mereka, karena saat itu aku sedang membangun salon ini bersama Via."
"Lalu kenapa baru sekarang Mbak Vi membuang semua kenangan mbak bersama Pak Adit? Kenapa gak dari dulu setelah kalian putus?"
"Mbak gak tahu kalau akan jadi serumit ini, makanya--"
"Bicaralah dengan singkat, Mbak! Jangan berbelit-belit!"
"Biar aku saja yang jelaskan pada Nisa. Begini... Aditya-- adalah kakak kandung Adniyan. Itulah yang membuat semua ini jadi rumit."
"Hah?!? Apa?! Bagaimana bisa?!"
"Mbak juga gak tahu, Nis. Mbak baru tahu saat Mas Iyan mengajak Mbak bertemu dengan keluarganya. Disitu Mbak bertemu dengan Mas Adit."
Nisa terduduk lemas. Sivia mulai meneteskan air matanya.
"Maafkan, Mbak. Karena gak pernah cerita ke kamu. Mbak juga bingung harus gimana."
"Apa Mas Iyan tahu soal hubungan Mbak dan Pak Adit?"
"Enggak. Mas Iyan belum tahu."
"Sivia sedang cari waktu yang pas untuk mengatakannya pada Iyan." tambah Razona.
Nisa menatap kakaknya yang berderai air mata. Ia tahu kalau kakaknya tak sekuat dirinya.
"Maafin Nisa juga, Mbak. Maaf kalau Nisa marah sama Mbak."
Sivia mengangguk. "Mbak mohon, jangan sampai Ibu tahu soal ini."
"Iya, Mbak. Nisa gak akan memberitahu Ibu. Trus, sekarang Mbak Vi mau gimana? Apa Mbak yakin mau lanjut dengan Mas Iyan? Mbak sudah siap jadi satu keluarga dengan mantan pacar Mbak?"
Sivia terdiam. Yang Nisa katakan benar. Apa Sivia sudah siap menerima semua konsekuensinya? Apa Adniyan masih tetap menerimanya jika tahu dirinya pernah menjalin hubungan dengan kakaknya? Lalu bagaimana dengan istri Aditya? Kalau dia sampai tahu suaminya pernah menjalin kasih dengan adik iparnya, apa yang akan dia lakukan pada Sivia?
Sivia hanya bisa berpasrah menerima apa yang akan terjadi dengan takdirnya.
Nisa mendekati kakak semata wayangnya itu kemudian memeluknya.
......
"Thanks buat semua teman2 yg sudah menginspirasi mak thor dalam membuat kisah ini. Bayu, Ghinda, Aroem, Rosi, Razona, ๐๐๐๐
Kapan bisa ketemu kalian lagi?
2009-2021