
"Kau benar! Aku hanya seorang asisten CEO. Dulu pun aku tidak mendapat harta gono gini karena semua adalah milik mantan istriku. Aku adalah duda miskin, Lala. Jadi, apa kau menyesal sudah menikahi duda miskin dan bukan duda kaya?"
"Eh?" Lala merasa bersalah sudah mengatakan hal buruk pada Reza.
Raut wajah Reza yang biasanya penuh canda, kini berubah masam.
Lala memutar otaknya mencari kata-kata yang pas untuk dia katakan pada Reza. Tidak seharusnya ia menyakiti hati pria yang sudah menolong dirinya.
"Reza, bu-bukan begitu. Maafkan aku. Aku hanya ... aku tidak butuh cincin berlian. Kita ... beli wedding ring yang biasa saja. Hmm?" Lala berusaha membujuk Reza.
"Ya? Aku hanya tidak ingin merepotkanmu. Maaf." Bujuk Lala lagi dengan puppy-eyes nya.
"Hmm, baiklah. Mari kita pilih wedding ring yang biasa." Reza bertanya pada pelayan toko tentang perhiasan emas biasa dan bukan berlian.
"Ada, sebelah sini, Mas, Mbak." jawab si pelayan toko.
Lala memilih wedding ring dengan model yang simpel.
Si pelayan mengambilkan cincin pilihan Lala. Dengan sigap Reza segera memakaikan cincin itu di jari manis Lala.
"Aku tahu pasti masih sulit untukmu menerimaku sebagai suami. Tapi, kita bisa memulainya sebagai teman. Bukankah kita memang berteman? Teman, tapi kita menikah. Bagaimana?"
Lala pun bergantian memakaikan cincin di jari manis Reza.
"Baiklah, teman tapi menikah. Kita mulai perlahan saja ya."
"Tentu. Tapi, bisakah kamu memanggilku dengan panggilan yang lain? Bagaimanapun juga aku adalah suamimu. Dan aku 7 tahun lebih tua dari usiamu."
"Hmm, apa ya? Bagaimana kalau aku panggil 'mas' saja? Mas Reza?"
"Yah, not bad lah!"
"Hehe, baiklah, Mas Reza. Terima kasih ya atas wedding ringnya." Lala menunjukkan jari manis yang tersemat sebuah cincin pernikahan.
"Terima kasih kembali, Lala, istriku."
......***......
Satu bulan kemudian,
Pernikahan Reza dan Lala berjalan seperti biasa. Lala masih berada di rumah orang tuanya, sedang Reza mengurus pekerjaannya di Jakarta. Tiap akhir pekan, Reza selalu mengunjungi Lala. Mereka masih bersikap layaknya seorang teman. Reza tahu Lala butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengannya.
Sebagai seorang teman, tentunya mereka bercerita panjang lebar tentang kehidupan masing-masing. Namun mereka tak pernah menyinggung soal masa lalu. Mereka sepakat untuk tidak mengungkit tentang hal yang telah lampau.
Lala sedang bersantai di rumahnya ketika ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari Reza.
"Halo, Mas..."
"Halo, La. Oh ya, aku minta maaf sepertinya akhir pekan ini aku tidak bisa datang ke Semarang. Aku sakit, La."
"Hah?! Kamu sakit? Yang benar, Mas?"
"Iya, La. Aku minta maaf ya."
"Ya sudah, tidak apa. Sebaiknya kamu istirahat saja, Mas. Semoga lekas sembuh ya."
Panggilan berakhir. Entah kenapa ada rasa kecewa di hati Lala saat tidak bisa bertemu dengan Reza.
"Siapa yang sakit, Nduk?" tanya Sinta.
"Eh? Itu, Bu. Mas Reza sakit. Makanya dia tidak bisa kesini minggu ini."
Sinta menatap tajam kearah putrinya.
"Harusnya kamu yang ikut dengan suamimu, Nduk. Ini pasti gara-gara tiap minggu Nak Reza datang kemari, makanya di sampai sakit. Cepat kamu susul dia ke Jakarta!"
"Ibu!"
"Benar apa yang dikatakan ibumu, Nduk. Istri itu harusnya patuh sama suami, nurut sama suami. Meski kamu menikah dengan Nak Reza tanpa adanya cinta. Tapi bapak yakin suatu saat cinta itu akan tumbuh, Nduk. Sekarang cepatlah berkemas dan pindah ke Jakarta." titah Broto.
"Hah?! Yang benar saja, Ayah! Ibu!"
Tanpa bisa membantah keinginan kedua orang tuanya, dengan berat hati Lala mengemas barang-barangnya.
"Bu, barang Lala 'kan banyak. Mana bisa Lala bawa semuanya."
"Bawa yang penting-penting saja dulu. Nanti ibu suruh ayahmu untuk mengirimnya kesana pakai jasa kurir."
Lagi-lagi Lala tak kuasa menolak. "Iya, baiklah."
Akhirnya Lala tiba di Jakarta. Lala menghubungi Reza dan meminta alamat tempat tinggal Reza.
Lala tiba di sebuah apartemen bernama Prince Town.
"Ini 'kan apartemen mewah. Apa iya Mas Reza tinggal disini? Apa jangan-jangan dia anak orang kaya?" gumam Lala kemudian masuk kedalam gedung bertingkat itu.
Lala masuk kedalam lift dan menekan angka 15. Tiba di lantai 15 Lala mencari nomor unit milik Reza.
"Kunci kamarnya adalah tanggal pernikahan kami." Lala tersenyum sendiri karena ternyata Reza sangat menghargai pernikahan mereka.
Pintu pun terbuka, Lala mengedarkan pandangan melihat sekeliling ruangan tempat tinggal Reza.
"Lala, kaukah itu?" dengan berjalan tertatih Reza menghampiri Lala. Wajahnya pucat dan bibirnya membiru.
Lala membawa Reza kembali ke kamarnya. Ia menyelimuti tubuh Reza.
"Mas masih demam. Apa sudah minum obat?"
"Sudah, La. Terima kasih karena sudah datang. Aku sangat senang."
"Iya, Mas. Ya sudah, Mas tunggu disini ya. Lala buatkan bubur dulu buat Mas Reza."
"Apa kamu tidak lelah, La? Kamu 'kan baru tiba."
"Tidak apa, Mas. Mas tunggu ya!"
Dengan cekatan Lala membuat bubur untuk Reza. Sambil menunggu ternyata Reza kembali memejamkan matanya.
"Mas... Mas Reza..." panggil Lala pelan.
"Eengghh!!!" Reza mulai membuka matanya.
"Mas, makan dulu. Mumpung buburnya masih hangat. Lala suapin ya!"
Reza memposisikan dirinya duduk bersandar. "Iya. Kamu yakin kamu bikin sendiri? Atau jangan-jangan kamu beli online?"
"Ish, apaan sih! Ya enggak lah! Ini aku bikin sendiri. Yuk dimakan!"
Lala menyendok sedikit demi sedikit makanan kedalam mulut Reza.
"Enak, La. Ternyata kamu pintar masak juga!" puji Reza.
Lala tersipu malu. "Ibu bilang seorang istri itu harus bisa memasak. Ya meski hanya masakan rumah. Makanya sejak remaja aku mulai belajar memasak bersama ibu."
"Terima kasih." Reza mengusap pipi Lala yang merona.
"Setelah ini Mas istirahat ya!"
"Iya. Lalu, kapan kamu kembali ke Semarang?"
"Umm, itu... Aku tidak akan kembali, Mas. Aku ... akan ikut Mas Reza tinggal disini."
"Kamu serius? Kamu mau tinggal bersamaku? Terima kasih, Lala." Sontak Reza memeluk Lala.
"Mas!!!" Lala memekik terkejut.
"Oh, maaf, maaf. Aku terlalu senang karena kamu bersedia tinggal denganku."
......***......
Dua minggu kemudian,
"La, kemeja aku warna biru ada dimana ya?" tanya Reza dengan sedikit berteriak.
"Hah? Maaf, Mas. Sepertinya belum sempat aku setrika." sesal Lala.
"Belum disetrika? Bagaimana ini?"
"Maaf, Mas." Lala tertunduk.
"Ya sudah, lupakan! Ambilkan kemeja yang lain saja."
"Iya, Mas." Lala segera berlalu dengan wajah yang di tekuk. Baru kali ini Reza marah pada Lala hanya karena sebuah kemeja.
"Akhirnya keluar juga sifat aslinya. Memangnya aku pembantu ya? Aku ini 'kan istrinya, bukan pembantunya. Dasar menyebalkan!!" Gerutu Lala dengan mengambil kemeja warna putih dari lemari.
Sepulang Reza bekerja, Lala masih memasamkan wajahnya. Kejadian tadi pagi masih membuatnya kecewa pada Reza. Hanya karena sebuah kemeja, Reza membentaknya.
Reza tahu jika Lala pasti masih kesal padanya karena kemarahannya yang tanpa alasan itu.
"La, maafkan aku. Aku tahu tadi pagi aku ... sudah keterlaluan padamu."
Lala tidak menanggapi.
"Umm, bagaimana kalau akhir pekan nanti kita pergi jalan-jalan? Aku sudah memesan tempat untuk berlibur."
Mendengar kata liburan, mata Lala langsung berbinar.
"Kemana, Mas?"
"Kepulauan Seribu. Kudengar banyak tempat yang bagus disana."
"Oke! Aku mau!" seru Lala gembira.
"Maaf ya, aku belum bisa membawamu berlibur ke Bali ataupun Raja Ampat."
"Iya, Mas tidak apa. Aku sendiri juga belum pernah berkunjung ke Kepulauan Seribu. Pasti akan menyenangkan disana."
Reza mengacak pelan rambut Lala. "Jadi, sudah tidak marah 'kan?"
Lala mengangguk. Kemudian Lala dan Reza tertawa bersama.
......***......
#bersambung
"Duh, makin uwu ajaaa 😍😍😍 pasti kalian nungguin malam pertama mereka ya, heheheh. Sabar ya genks. Masih tahap penyesuaian, wkwkkwwk."