Raanjhana

Raanjhana
Meet Me on Facebook : 10. Forget You, Remember Love



...Berawal dari facebook baruku,...


...kau datang dengan cara tiba-tiba...


...(My Facebook - Gigi)...


...~~~...


*Bayu PoV*


Sudah lama aku menantikan ini terjadi. Bertemu lagi dengan seseorang yang pernah kutinggalkan 6 tahun lalu. Aku pikir dia akan marah padaku. Atau kecewa. Karena aku pergi tanpa berpamitan, dan tanpa sepatah kata perpisahan padanya.


Dia gadis yang baik, dan akan selalu begitu. Dimataku, dia gadis manis yang lugu. Kecantikannya memang bukan di atas rata-rata, tapi entah kenapa pesonanya mampu menarik hatiku. Hingga 6 tahun ini aku tak bisa melupakannya.


Dan kini, aku sudah ada dihadapannya. Aku tahu dia pasti terkejut melihatku tiba-tiba datang. Kulihat dia menutup mulutnya dengan tangan kirinya yang sudah tersemat cincin di jari manisnya. Semua sudah terjadi. Aku tak bisa menghentikannya. Apa yang aku harapkan? Aku sudah menghilang bertahun-tahun, tidak mungkin aku tiba-tiba datang dan membatalkan pertunangannya hanya karena egoku. Egoku ingin memilikinya.


Aku tak mau menyakitinya lagi. Aku datang kembali, karena untuk menebus kesalahanku. Kuingin meminta maaf padanya. Meski dia-- tak bisa lagi mengingatku seperti dahulu.


Ingatanku kembali ke satu jam yang lalu, saat aku datang kembali untuk menemuinya...


"Selamat malam," ucapku setelah mengetuk pintu rumah yang cukup sederhana itu.


"Selamat malam. Maaf, cari siapa ya?" seorang wanita paruh baya membukakan pintu untukku. Aku yakin ini adalah Tante Nila.


"Tante! Ini aku, Bayu, teman masa kecil Sivia. Sivia ada?" ucapku tanpa berbasa-basi. Kami sudah lama bertetangga dulu. Aku yakin Tante Nila masih ingat padaku.


"Kamu??! Untuk apa kamu datang kemari?!"


Ada nada kemarahan di wajah Tante Nila saat melihatku.


"Pergi kamu!! Untuk apa kamu datang kemari?"


Benar, Tante Nila sangat membenciku. Aku tahu aku salah, tapi-- kenapa dia terlihat semarah ini?


"Ibu... Ada apa? Siapa yang datang?" seorang gadis muda datang dan menginterupsi perbincangan kami.


"Nisa? Kamu Nisa kan? Ini aku, Bayu. Apa aku bisa bertemu Sivia?"


"Hah? Siapa? Mas Bayu?" Nisa berpikir sejenak. Ya aku tahu dia pasti lupa padaku.


"Aku temannya Sivia. Teman kecilnya. Kita pernah bertetangga saat masih tinggal di Kota Lama."


"Ooh, iya aku ingat. Kamu beneran Mas Bayu? Ya ampun Mas, kok ganteng banget sekarang."


"Nisa!! Apaan sih? Jangan meladeni dia! Sebaiknya kamu pergi, Sivia gak akan mau menemuimu."


Tante Nila masih tetap menolakku.


"Ibu, jangan begitu. Silahkan masuk, Mas. Mbak Vi belum pulang. Tunggu didalam saja."


Nisa mempersilakanku masuk.


"Tidak!!! Dia tidak boleh bertemu dengan Sivia. Kamu tahu 'kan apa yang dialami kakakmu gara-gara dia?"


"Aku tahu, Bu. Tapi Mas Bayu sudah datang kesini. Biarkan dia bertemu dengan Mbak Vi dulu. Aku yakin Mbak Vi juga ingin bertemu Mas Bayu. Dia sudah melupakan semuanya, jadi dia pasti mau bertemu dengan mas Bayu."


Melupakan? Apa maksudnya?


"Tidak! Ibu tidak bisa membiarkannya, Nisa. Ibu tidak mau melihat kakakmu kembali terluka gara-gara dia. Kamu ingat kan, bagaimana penderitaan kakakmu karena lelaki ini? Dia menghancurkan hidup kakakmu."


What? Pembicaraan apa ini? Aku tak faham sama sekali.


"Ibu--- biarkan Mbak Vi bertemu dengan Mas Bayu. Lalu kita lihat, apakah pertemuan ini memberikan dampak positif atau negatif."


Hah? Mereka bicara apa sih? Tante Nila menatapku dengan kemarahan sempurna dimatanya.


"Baiklah, terserah kamu saja. Ibu gak akan ikut campur kalau terjadi sesuatu pada kakakmu!"


Dan Tante Nilapun meninggalkan kami berdua. Beribu pertanyaan berkelebat di otakku.


"Nisa, apa yang sebenarnya terjadi? Apa terjadi sesuatu hal buruk pada Sivia?"


Nisa menatapku lekat, dan menghembuskan nafas kasar.


"Maafkan atas sikap Ibu. Ibu hanya berusaha melindungi Mbak Vi saja."


"Iya tidak apa. Aku bisa mengerti. Tapi ... apa Sivia baik-baik saja?"


Nisa mengajakku duduk di teras depan rumah dan menceritakan semuanya.


Enam tahun lalu, pada hari aku seharusnya bertemu dengan Sivia, aku tak menepati janjiku dan tak datang. Aku harus pergi karena keadaan mendesak.


Menurut Nisa, setelah Sivia tahu kalau aku pergi tanpa berpamitan padanya, ia mulai depresi. Keadaannya kacau bak tak punya pegangan. Tiap malam dalam tidurnya, Sivia selalu mengigau dan berteriak. Ia mimpi buruk hampir setiap malam.


Ibunya yang tak tega melihat keadaan Sivia makin parah, akhirnya membawanya ke psikiater. Ia menjalani beberapa terapi untuk menghilangkan kesedihannya karena kehilangan seorang sahabat.


"Aku masih 14 tahun saat itu. Aku tidak begitu ingat apa yang dilakukan Ibu pada Mbak Vi. Tapi yang aku tahu, Ibu menginginkan agar Mbak Vi lupa dengan Mas Bayu. Lupa kalau Mas Bayu meninggalkannya. Agar Mbak Vi bisa melanjutkan hidupnya, Ibu membawa kami pindah kemari dan menjual rumah lama kami. Saat ini, yang Mbak Vi tahu, Mas Bayu pergi setelah kelulusan SMA. Jadi, kalau nanti Mas ketemu sama Mbak Vi, jangan mengungkit soal kepergian Mas. Apa Mas mengerti?"


Nisa menjelaskan semuanya panjang lebar. Bagaimana aku tak mengerti? Aku sudah memahami semuanya. Sivia mengalami banyak hal buruk, dan itu semua karena diriku.


*


*


*


"Apa kabar, Dewi? Lama tidak berjumpa--" sapaku setelah sekian lama tak bertemu dengannya.


Sivia masih nampak bingung dan terkejut.


"De--wa--" ucapnya terbata. Dia mengenaliku.


Aku tersenyum padanya. Ia membalas dengan senyumnya yang hangat. Persis seperti dulu.


Kamipun berakhir dengan mengobrol di teras depan rumahnya.


"So, bagaimana pertunangannya?" Tanyaku.


"Lancar. Terima kasih sudah bertanya." Sivia tetap tersenyum manis.


"Kamu sendiri? Kemana setelah pesta kelulusan SMA?"


DEG


Apa yang dikatakan Nisa benar. Sivia tidak ingat kejadian yang sebenarnya.


"Ah, aku? Aku belajar. Haha." Aku memaksakan tawaku.


"Belajar? Maksudmu kuliah?"


"Hehe, gak bisa dibilang begitu juga sih." Aku menggaruk tengkukku.


"Lalu, apa pekerjaanmu sekarang? Apa benar kamu kerja di luar negeri?"


"Aku ... aku seorang prajurit."


"Hah? Prajurit? Maksudmu semacam polisi atau tentara gitu?" Sivia mulai bingung.


"Ya bisa dibilang begitu. Ha ha ha."


Entah kenapa aku terus memaksakan tawaku didepannya. Aku terlalu merasa bersalah padanya.


Bagaimana bisa dia ... melupakan kejadian hari itu? Aku pasti sangat menyakitinya, hingga dia memutuskan untuk melupakan semuanya.


Maafkan aku, Sivia. Maafkan aku. Hanya itu yang bisa kukatakan sekarang.


"Oh ya, kamu tinggal dimana?" tanyanya.


"Aku? Aku akan tinggal di apartemen Aryan."


"Oh, great. Raga juga pindah kesana. Kalian pasti senang akan mengenang masa lalu."


"Iya. Thank you."


Obrolan kami hanya sebatas itu saja. Karena sudah hampir larut malam, dan aku tak enak hati apabila ada tetangga yang melihat. Akan kutemui dia esok hari lagi. Terima kasih Sivia, karena sudah baik-baik saja selama ini.


*


*


*


-Apartemen Aryan-


"Jadi lo udah ketemu Sivia?" Tanya Raga padaku saat kami duduk santai bersama di balkon apartemen Aryan.


"Iya. Dia kelihatan bahagia."


"Dia mendapat jodoh yang sempurna."


"Yeah. Sepertinya begitu." Jawabku tak suka.


"Dia bosku dikantor. Dia pria yang baik."


Aku menatap gedung-gedung tinggi di depanku nanar. Entah kenapa semua ucapan Raga membuatku muak, dan marah.


"Oh ya, kapan Aryan pulang?" tanyaku.


"Palingan bentar lagi. Ini udah jam 12 malam, bentar lagi dia pulang, dan mabuk."


"Lo serius? Sejak kapan Aryan jadi suka alkohol?"


"Gak juga sih. Dia selalu bilang cuma minum sedikit. Tapi jalannya sempoyongan. Lo tahu lah dia, wajah tampannya membuatnya jadi playboy cap badak."


"What? No! Aryan gak mungkin begitu."


"Begitulah nyatanya."


"Hei!!! Gue tahu kalian lagi ngomongin gue ya!" Aryan datang tiba-tiba.


"Lo udah pulang? Tumben lo masih sadar." ejek Raga.


"Sialan lo! Udah gue bilang gue cuma minum sedikit."


"Gue balik ke kamar dulu. Besok ada meeting penting. Lo temenin Bayu disini." Raga menepuk bahuku dan melenggang pergi.


"Hey dude! Gimana tadi ketemu Sivia?" Aryan kembali bertanya pertanyaan yang sama.


"Good. She's fine and happy. Oh ya Ar, apa terjadi sesuatu sama Sivia setelah gue pergi?"


"Umm, gak tahu juga ya. Tapi yang gue dengar, dia sempat depresi gitu setelah lo pergi. Hooaaaammm, Gue ngantuk, gue ke kamar dulu ya. Lo juga istirahat."


"Ah iya, santai aja bro. Gue bisa tidur di sofa kok. Thanks udah mau nampung gue."


"No! Lo jangan tidur di sofa. Di kamar gue aja, kita berbagi tempat tidur."


"Oke. Nanti gue nyusul."


Aku kembali menatap gemerlap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip memeriahkan suasana. Namun hatiku tak bisa ikut gemerlap. Tapi terasa gelap.


Apa yang sudah aku lakukan padamu, Vi? Mengingat senyummu membuatku makin sesak. Aku sudah menyakitimu, tapi senyummu tetap manis seperti dulu. Maafkan aku. Tolong maafkan aku...


......


...Next part spoiler :...


...Bayu ketemu Adniyan!!!...


...Apa yang akan terjadi?...


"Gaya banget Mak pake spoiler segala 😆😆😆"


Sampek sini lumayanlah ya, wkwkwkwk


Sivia said, "Mak, masa kisahku hanya lumayan? Banyak tokoh asli dunia nyata lho, masa iya hanya lumayan," 😒😒


"Okey yaudah, kamu tanya aja reader, gimana reader, kisah Sivia bikin baper gak nih 😅😅😅