Raanjhana

Raanjhana
Takdir Cinta Nisha : 06. Temu Dua Keluarga



...Halo readers kesayangan mamak👋👋👋 Raanjhana (Lover/Kekasih) is back! Dont forget to leave Like 👍 and comments 😘...


...*happy reading*...


...🍂🍂🍂...


Nisha melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Hatinya amat kesal karena harus bertemu dengan Hernan disaat ia mulai melupakan kejadian malam itu. Nisha menepikan mobilnya karena ia tak mau sesuatu yang buruk menimpanya. Ia mengatur nafasnya yang mulai terasa sesak. Kenapa juga ia harus merasa sesak? Toh uneg-unegnya pada Hernan sudah ia katakan. Dan kenapa juga ia malah menangis? Ya, Nisha menangis di atas kemudi dengan menenggelamkan wajahnya. Apa yang sebenarnya ia rasakan?


Setelah puas menangis, ia justru melajukan mobilnya kembali ke rumah. Moodnya sudah buruk dan tak berselera untuk memanjakan diri di salon.


Antonia yang melihat putrinya melenggang pergi begitu saja tanpa menyapa segera menghampirinya.


"Sayang... Kau sudah pergi ke salon?"


"Belum, bu. Salonnya sangat penuh. Antriannya panjang. Besok lagi saja aku kesana." jawab Nisha tanpa memandang ke arah ibunya. Ia takut jika ibunya tahu matanya sembab karena menangis.


"Hmm, ya sudah. Ibu akan memanggil orang saja untuk mendandanimu."


Seketika Nisha berbalik. "Mendandaniku? Untuk apa?"


"Nanti malam teman bisnis ayah dan kakekmu akan datang. Mereka akan makan malam di rumah kita. Tentu saja kau harus cantik."


Nisha memutar bola matanya malas. Dalam hati ia berkata, bukankah itu teman bisnis ayahnya, kenapa harus ia yang berdandan cantik?


Namun karena tak mau ibunya kecewa, dengan malas Nisha menjawab. "Iya, baiklah. Terserah ibu saja."


Kemudian Nisha melenggang masuk ke dalam kamarnya.


.


.


.


Di tempat berbeda, Hernan nampak kesal karena lagi-lagi harus menuruti perintah ayahnya. Baru saja kembali ke rumah, ia harus langsung berdebat dengan ayahnya.


"Kau harus ingat, jika separuh saham di perusahaanmu adalah milik mereka. Ayah tidak mau kau mengecewakan mereka." tegas Rio Hernandez, ayah Hernan.


"Sayang, turuti saja keinginan ayahmu. Lagi pula ini hanya makan malam biasa kok. Mau ya?" bujuk Adelia pada putra semata wayangnya.


"Iya, bu. Aku tidak akan bisa menolak ibu." jawab Hernan lirih. Ia memang selalu menurut pada ibunya.


"Kalau begitu, kau bersiaplah dulu, satu jam lagi kita berangkat." ucap Adelia membelai lembut wajah putranya.


Hernan mengangguk lalu masuk ke dalam kamarnya.


Rio hanya bergeleng kepala melihat tingkah putranya.


"Kau terlalu memanjakannya, sehingga dia jadi putra pembangkang seperti itu." ujar Rio.


"Justru kau yang selalu menekannya. Dia masih muda, sayang. Jangan terlalu mengaturnya. Aku yakin setelah dia bertemu dengan gadis itu, dia akan jatuh cinta. Lagipula, mereka kan kemarin liburan bersama." balas Adelia dengan mengusap lengan suaminya.


.


.


.


"Ayah yakin akan melakukan ini?" ucap Raihan pada Haidar saat mereka bicara di ruang kerja Haidar.


"Tentu saja."


"Tapi kita belum memberitahu Nisha, bagaimana jika nanti dia menolak?"


"Raihan! Kau sudah lihat sendiri apa yang mereka lakukan selama liburan kemarin. Aku tak mau menunggu lagi. Bahkan mereka telah berani melakukan... Aahh, aku tidak mau cucuku kelewat batas dalam pergaulannya bersama seorang pria. Dia putrimu, kau harus menjaganya sebelum dia melakukan hal yang dilarang sebelum menikah. Jadi, lebih baik, percepat saja rencana pernikahan mereka."


"Baiklah, jika itu keinginan ayah."


.


.


.


"Hmm, perfect!" ucap si penata rias pria yang bergaya feminim itu.


"Terima kasih," ucap Nisha.


"Nona, ayah dan ibu juga kakek sudah menunggu di bawah." ucap Bibi Delina, pengasuh Nisha sedari kecil.


"Bibi, untuk apa kakek memintaku berdandan seperti ini?"


"Sayang, tentu saja kau harus terlihat cantik dihadapan tamu penting ayahmu." balas Delina dengan mengusap lengan Nisha.


"Hmm, baiklah, ayo kita turun."


Ternyata tamu undangan yang ditunggu oleh kakek dan ayahnya sudah tiba. Ada tiga orang disana. Dua pria dan satu wanita.


Nisha menuruni anak tangga dengan anggunnya dan semua mata sontak menatap ke arahnya. Tak terkecuali mata seorang pria yang mengernyit heran karena melihat penampilan Nisha yang amat berbeda.


Nisha masih tertunduk ketika ayah dan ibunya serta kakeknya menyapa ramah tamu spesial mereka.


"Perkenalkan, Ini Nisha, cucuku satu-satunya." ucap Haidar.


Nisha akhirnya mendongakkan kepalanya dan matanya bertemu dengan sosok pria muda yang diapit ayah dan ibunya.


"Kau!!!" pekik mereka bersamaan.


"Lho! Kalian sudah saling mengenal?" tanya Haidar berpura-pura bingung.


"Wah, ternyata dunia memang sempit ya. Mereka sepertinya akan cepat akrab." balas Rio.


Dan makan malampun berlangsung dengan khidmat. Tak ada yang bersuara selama acara makan malam berlangsung. Namun kegelisahan mulai menghinggapi pria muda yang sedari tadi menatap ke arah Nisha.


Jadi, gadis yang akan dijodohkan denganku adalah dia? Apa ayah sudah merencanakan ini semua? Dan soal Nisha yang salah masuk villa... Apakah mungkin kakeknya dan ayahku sudah merencanakan ini semua?


Hernan menggeleng pelan tak percaya jika memang benar semua ini telah direncanakan oleh ayahnya.


"Nak Andro, bagaimana kabar perusahaanmu?" tanya Haidar saat mereka duduk santai di ruang keluarga.


"Panggil saja Hernan, Tuan." jawab Hernan datar.


"Oh, iya Nak Hernan. Maaf. Tapi kau juga jangan memanggilku tuan, panggil saja kakek. Biar terdengar lebih akrab."


Hernan melirik ke arah ibunya seakan meminta persetujuan. Adelia mengangguk.


"Baik, kakek. Perusahaan mulai menunjukkan hasil yang bagus, Kek. Pendapatan dari penjualan juga mulai meningkat." jawab Hernan tegas.


Sedari tadi Nisha memandangi pria yang awal ditemuinya adalah pria aneh, namun yang ada di hadapannya sekarang adalah pria yang berbeda. Hernan menyadari tatapan Nisha, dan ia segera menolah ke arahnya. Membuat Nisha segera mengalihkan wajahnya menatap hal lain.


"Kakek sangat menyukai semangatmu nak Hernan. Mirip dengan kakek dan ayah Nisha ketika masih muda dulu."


"Terima kasih, Kakek."


"Jika Ayah Haidar sudah merasa cocok dengan Hernan, putra kami, maka sebaiknya jadikan saja Hernan sebagai cucu menantu Ayah Haidar." ucap Rio mengawali kalimat yang menjurus ke perjodohan.


Sontak Haidar dan Raihan mengeluarkan tawa renyah menanggapi kalimat Rio.


"Tentu saja. Kakek sangat senang jika Nak Hernan menjadi suami Nisha."


Jawaban Haidar tentu saja membuat Nisha membulatkan matanya.


"Kakek!!" seru Nisha.


"Bagaimana Nak Hernan? Nak Hernan setuju bukan menikah dengan Nisha, cucuku?" Haidar menatap tajam ke arah Hernan.


Tentu saja kau harus setuju! Kau sudah berani mencium cucu kesayanganku ini. Jadi kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu! Batin Haidar.


"Iya, aku setuju! Aku bersedia menikahi cucu kakek."


Kalimat Hernan berhasil membuat Nisha mendelik ke arahnya. Nisha mengepalkan tangan dengan marah kemudian berlalu meninggalkan dua keluarga yang malah tersenyum bahagia karena Hernan menyetujui perjodohan ini.


...🍂🍂🍂...


#bersambung...