Raanjhana

Raanjhana
Lala Love Song : 07. Bulan Madu 'Ambyar'



Hari itu Reza dan Lala sedang menuju ke sebuah pulau bernama Ayer yang masuk dalam wilayah Kepulauan Seribu. Lala berdecak kagum melihat pemandangan laut yang biru yang membentang di sepanjang perjalanan menggunakan kapal.



"Ternyata disini juga tidak kalah indah dengan Bali, Mas." Lala terus mengembangkan senyumnya dan itu membuat Reza amat lega karena sudah bisa membahagiakan istrinya.


Turun dari kapal yang membawa mereka ke pulau, Lala dan Reza berjalan menuju resort dan villa yang sudah di pesan oleh Reza sebelumnya.


"Terima kasih ya, Mas. Sudah bawa aku kesini."


"Sama-sama. Kamu pasti jenuh ya setiap hari hanya di rumah dan menunggu aku pulang kerja."


"Umm, lumayan sih, Mas. Tapi bukankah itu adalah tugas seorang istri. Aku melakukannya dengan ikhlas."


"Kalau begitu, berarti kamu ... Juga bersedia mengerjakan tugas yang lain sebagai seorang istri?" tanya Reza mulai memancing Lala.


"Tugas yang lain maksudnya?" Lala mengerutkan keningnya.


"Umm, tugas itu tuh..." Reza melirik ke arah ranjang yang ada di kamar villa.


DEG!


Seketika jantung Lala berdegup kencang. Sudah pasti ada tujuan dibalik acara liburan kali ini. Tentu saja sebagai seorang suami, Reza berhak meminta haknya.


"Haduh, bagaimana ini? Apa jangan-jangan Mas Reza meminta itu dariku? Bagaimana kalau dia tahu soal..." gemuruh dihati Lala makin tak karuan.


"La! Lala!!" panggil Reza karena melihat Lala melamun.


"Iya, kenapa Mas?"


"Kamu melamun?"


"Eh? Enggak kok!" jawab Lala gugup.


"Jangan dipikirkan! Aku akan menunggu hingga kamu siap. Lagipula, jika melakukannya tanpa cinta rasanya pasti hambar. Iya 'kan?"


"Hah?!" Lagi-lagi Lala tak paham dengan maksud Reza. Atau dia hanya berpura-pura tak paham?


"Aku mau mandi dulu. Tolong siapkan baju ganti untukku ya!"


"Mas mau pakai apa?"


"Apa saja yang kamu pilihkan pasti akan kupakai."


Rona merah terlihat di wajah Lala. Sungguh suaminya itu memperlakukan dia dengan baik istimewa.


"Apa aku harus mulai membuka hatiku untuk Mas Reza? Dia bukan pria yang buruk seperti yang pernah aku kira sebelumnya. Dia pria yang baik. Bodoh sekali mantan istrinya yang sudah meninggalkan pria sebaik Mas Reza." gumam Lala dalam hati sambil menata pakaian ganti suaminya diatas ranjang.


Lala berjalan keluar balkon dan menikmati hamparan laut yang amat dekat dengan tempatnya menginap. Angin laut yang sepoi-sepoi memainkan rambut panjang Lala yang tergerai indah.


Lala memejamkan mata merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya.


"Seandainya saja bisa menikmati hal ini setiap hari." batin Lala.


Tiba-tiba matanya terbuka kala merasakan sentuhan dingin menyentuh kulitnya. Lala melihat dua buah tangan kekar melilit pinggangnya.


"Mas Reza? Sudah selesai mandinya?" tanya Lala sambil menelan salivanya. Rasanya amat canggung berada sedekat ini dengan Reza.


"Hmm, sudah." Jawab Reza dengan menopangkan dagunya di bahu Lala.


"Ka-kalau begitu ... Giliran aku yang mandi ya." Lala berusaha menghindari Reza.


"Kamu nggak usah mandi juga sudah wangi kok." Reza mulai bermain nakal dengan menciumi tengkuk Lala.


"Mas..." Lala memejamkan matanya merasakan sentuhan bibir Reza di kulitnya.


Tangannya mengepal. Ia berusaha melawan hasratnya.


"Tidak! Aku tidak bisa lemah sekarang! Jika aku terbuai dan kami sampai melakukan itu, maka..." batin Lala memberontak. Namun tubuhnya bereaksi lain. Ia sangat menyukai sentuhan Reza.


Reza membalikkan tubuh Lala hingga mereka saling berhadapan. Mata mereka beradu mencari rasa yang tersirat dalam tatapan masing-masing.


Reza membelai wajah Lala. Tangan kekarnya menarik tengkuk Lala hingga mendekat. Jarak yang makin terkikis dan Lala yang tak menolak. Reza serasa mendapat lampu hijau untuk melakukan lebih.


Sebuah rasa yang tak pernah dirasakan Lala hadir saat bibir Reza menyapu bibirnya. Lembut dan hangat. Lala masih bingung apakah harus membalas atau tidak.


Bagi Reza itu tidak masalah. Asalkan Lala tak menolak. Itu artinya istrinya ini mulai membuka diri untuknya.


Bunyi dering ponsel menginterupsi aktifitas mereka. Lala segera mendorong tubuh Reza.


"Angkat dulu, Mas teleponnya. Siapa tahu penting."


Reza mengangguk kemudian masuk kedalam kamar. Mengetahui ada kesempatan untuk kabur, Lala segera berlari ke kamar mandi dan menutup pintunya.


Dibalik pintu Lala memegangi dadanya. Ada rasa tak biasa yang ia rasakan.


"Apa aku mulai jatuh cinta pada Mas Reza?" Lala menutup wajahnya dengan tangan. Ia malu pada dirinya sendiri.


......***......


Malam harinya, mereka berjalan-jalan di tepi pantai usai menyantap makan malam. Cahaya bintang dan bulan sangatlah indah menerangi malam ini yang mungkin saja menjadi saksi bersatunya dua insan yang mulai mengungkap rasa.


"Mas, aku mau beli jagung bakar disebelah sana. Kamu mau?"


"Hmm, boleh. Mau kutemani?"


"Enggak usah! Aku sendiri saja. Mas tunggu saja disini."


Lala segera berjalan kearah penjual jagung bakar. Dari kejauhan nampak seorang pria memperhatikan Lala.


"Lala? Apa yang dia lakukan disini?" pria itu segera menghampiri Lala yang ternyata sedang membeli jagung bakar.


"Lala!" panggil pria itu.


Lala membulatkan matanya. "Andreas?"


Lala segera menghindar dan membatalkan pesanan jagung bakarnya. Hatinya amat sakit mengingat apa yang Andre lakukan di hari pernikahan mereka.


"Lala, tunggu!" Andre mencekal lengan Lala.


"Lepas!" Lala berusaha berontak.


"Lepaskan tanganmu!" seru seorang pria yang tak lain adalah Reza.


"Siapa kamu?" tanya Andre.


"Harusnya saya yang nanya sama kamu. Kamu siapa? Berani sekali pegang-pegang istriku!" tegas Reza.


"Istri? Ha ha ha ha. Jadi, ini suami kamu, La? Kudengar kamu menikah dengan pria pengganti diriku karena takut menanggung malu. Jadi dia orangnya?"


Reza tak terima disebut pria pengganti oleh Andre.


"Dasar brengsek!!!" tanpa aba-aba Reza langsung melayangkan tinjunya ke wajah Andre.


Andre pun tersungkur. "Mau main kekerasan ya? Siapa takut! Asal kamu tahu, istri kamu itu sudah tidak perawan lagi. Akulah yang sudah merenggut kesuciannya. Jadi, apa salahnya jika aku menyebutmu pengganti? Karena memang itulah kenyataannya. Kamu adalah pengganti untuk memuaskan istrimu itu diranjang."


"Baji'ngan!!!" Reza tak bisa lagi mengontrol emosinya. Dengan membabi buta ia memukuli Andreas.


Sementara Lala, ia hanya bisa menangis setelah Andre mengatakan semuanya kepada Reza, suaminya. Entah apa yang akan terjadi dengan pernikahan mereka selanjutnya.


Reza berhenti setelah melihat Andreas sudah tak berdaya. Bahkan Lala tak berniat menghentikan aksi suaminya itu. Ia hanya menangis meratapi nasibnya setelah ini.


Reza merangkul bahu Lala yang bergetar. "Ayo, La. Kita pergi dari sini. Biarkan saja si brengsek itu terkapar disini."


Reza membawa Lala kembali ke kamar. Disana Lala masih menangis.


"Sudah, jangan menangis. Aku sudah memberi pelajaran pada si brengsek itu. Aku percaya padamu. Dia pasti berbohong tentangmu."


Lala mengatur nafasnya. "Tidak, Mas. Dia tidak berbohong."


Reza mengernyitkan dahinya.


"Andreas tidak berbohong. Aku ... Memang sudah tidak perawan lagi. Dia yang sudah merenggutnya." tangis Lala kembali pecah.


"Maafkan aku, Mas..." Lala amat menyesal karena harus memberitahu suaminya dengan cara seperti ini.


Reza mematung tak ingin percaya dengan apa yang dikatakan Lala. Namun melihat Lala yang begitu menyesal dan bersedih, ia akhirnya percaya jika memang Lala bukanlah gadis bersegel seperti bayangannya.


......***......


#bersambung


"Weduww, Mas Reza semoga kamu bisa menerima Lala ya. Aku jadi ikut deg2an dengan kisah mereka selanjutnya 😵😵😵"