
Lala sedang mengeringkan rambutnya di depan meja rias saat Reza keluar dari kamar mandi. Tubuh kekar nan seksinya yang hanya berbalut handuk di pinggang membuat Lala menelan salivanya. Lala mengintip dari bayangan cermin di depannya.
Reza yang berada di belakang Lala sepertinya tahu apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya itu. Ia segera menggoda Lala dengan menari-nari erotis bak penari striptis pria.
"Ih, Mas! Apaan sih?" tanya Lala tersenyum geli.
"Kenapa? Bukankah kamu tergoda denganku? Apa kita akan mengulangi permainan semalam?" tanya Reza dengan suara dibuat-buat.
"Mas! Jangan macam-macam! Bukankah kamu harus berangkat kerja?"
"Hmm, baiklah." Reza mendengus pasrah.
Lala mendorong tubuh Reza untuk masuk ke kamar ganti yang terhubung dengan walk-in-closet. Lala menggeleng pelan dengan tingkah suaminya.
Tak lama Reza keluar dengan memakai setelan kerjanya yang sudah rapi.
"Sayang, tolong pakaikan dasi untukku!" pinta Reza.
"Ish, dasar manja!"
Lala sedikit berjinjit untuk menyamai tinggi badan Reza. Kesempatan bagus ini tak dilewatkan Reza untuk mencuri ciuman dari Lala.
"Ish, Mas! Jangan mulai deh!"
"Sayang, akhir pekan nanti aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Kemana, Mas?"
"Ke rumahku, di Surabaya."
"Hah?! Ru-rumahmu?"
"Kenapa? Kamu tidak suka? Aku belum pernah mengenalkanmu pada keluargaku sejak kita menikah. Mereka juga ingin mengenal seperti apa istriku."
Lala mengangguk. Namun raut wajahnya menunjukkan hal yang berbeda.
"Jangan takut, aku yakin mereka pasti akan menyukaimu."
"Bagaimana jika mereka tidak menyukaiku?"
"Sayang, kau hanya cemas yang berlebihan. Mereka pasti akan menyukaimu. Percayalah padaku!" Reza memegangi kedua bahu Lala.
"Iya, aku percaya. Ya sudah, sudah waktunya Mas berangkat kerja."
"Aku pergi dulu ya!" sebuah kecupan di dahi didapatkan oleh Lala. Ia melambaikan tangan untuk melepas kepergian suaminya.
......***......
Tibalah saatnya, Lala dan Reza akan berangkat ke Surabaya. Lala mengepak beberapa barang bawaan juga oleh-oleh untuk keluarga Reza.
"Sayang, barang bawaanmu banyak sekali? Kita tidak akan pindah rumah."
"He he, ini untuk buah tangan, Mas."
"Hmm, baiklah. Terserah istriku saja. Sebentar lagi kita berangkat!"
"Iya, Mas. Ayo!"
*
*
*
-Surabaya-
Tiba di bandara Juanda, Reza dan Lala disambut oleh seorang sepupu Reza yang sengaja menjemputnya bernama Alman.
"Halo, Alman!" sapa Reza.
"Halo, Mas. Apa kabar?"
"Aku baik. Oh ya kenalkan ini, Lala."
"Ehem! Jadi inilah pelabuhan terakhir Mas Reza." kerling Alman.
"Iya, Al. Semoga saja. Oh ya, kok kamu lagi disini? Apa bosmu mengijinkanmu cuti?"
"Tentu saja. Tuan Dirga adalah orang yang baik."
"Dirga?" Lala mengerutkan dahinya.
"Apa kau mengenalnya, La?" tanya Reza.
"Apa nama panjangnya Dirgantara Agung?" tanya Lala balik pada Alman.
"Hmm, iya. Mbak Lala tahu dari mana?"
"Ya ampun, Mas. Ini tuh Kak Dirga, kakaknya Dewi, sahabat aku."
"Oh ya? Wah berarti kebetulan sekali ya. Dunia memang sempit ya!"
Kemudian mereka bertiga tertawa.
*
*
Tiba di sebuah rumah sederhana namun asri, Lala dan Reza segera turun dari mobil.
"Ayo! Ini adalah rumahku. Apa kau tidak suka?"
"Tidak, Mas. Aku sangat menyukainya."
Lala dan Reza disambut oleh ibu Reza, Saida.
"La, ini adalah ibuku." Reza memperkenalkan.
"Istrimu sangat cantik, Nak." Ucap Saida. "Mari masuk! Kalian pasti lelah. Raiya, ini kakakmu sudah datang!" seru Saida.
Reza menggandeng tangan Lala dan memasuki rumah yang telah lama tak ia kunjungi.
"Ciye ciye, pengantin baru inginnya gandengan terus. Sudah seperti truk gandeng saja!" goda Raiya, adik Reza.
"Raiya! Yang sopan sama kakak ipar! Cepat beri hormat!" titah Reza.
"Ish, Mas Reza! Aku hanya bercanda, Mas. Maaf ya, Mbak." ucap Raiya.
"Tidak apa kok. Oh ya, aku punya sesuatu untuk kamu." Lala membuka kopernya lalu mengambil sebuah kotak yang ia siapkan khusus untuk Raiya.
"Ini untukmu!" Lala memberikan kotak itu pada Raiya.
"Wah, terima kasih banyak." Raiya memeluk Lala.
"Hmm, apa kakakmu ini tidak akan dapat pelukan juga?" cibir Reza.
"Tentu saja. Aku sangat merindukanmu, Mas. Sudah lama sekali kamu tidak pulang." Raiya menghambur ke pelukan Reza.
"Iya, maaf ya. Mas sibuk sekali mengurus pekerjaan." Reza memeluk erat adik semata wayangnya.
......***......
Malam harinya, mereka makan malam bersama sebagai satu keluarga. Saida, ibu Reza tinggal bersama adiknya, Rida, yang adalah ibu Alman. Setelah suami mereka sama-sama telah tiada, mereka memutuskan untuk tinggal bersama.
Raiya, adik Reza kini sudah lulus kuliah dan bekerja di Zayn Building Surabaya.
"Oh, jadi kamu bekerja pada Zayn Ibrahim? Kudengar dia sudah kembali kemari, apa itu benar?" tanya Reza.
"Loh? Mas Reza kenal dengan Pak Zayn?"
"Tentu saja. Lala dulu adalah sekretarisnya." jelas Reza.
"Oh, begitu. Aku tiba-tiba dipindahkan jadi sekretaris Pak Zayn. Padahal aku sama sekali tidak tahu seperti apa tugas sekretaris itu." keluh Raiya.
"Tenang saja! Aku akan mengajarimu. Aku sangat hapal perangai Pak Zayn." kerling Lala pada Raiya.
Usai makan malam, Lala membantu membersihkan bekas makan mereka. Reza yang melihat istrinya sedang sibuk, tiba-tiba sengaja memeluknya dari belakang.
"Mas! Ish! Kebiasaan deh! Aku sedang cuci piring!" dengus Lala.
"Biarkan dulu sejenak!" Reza sangat menyukai bagian begini.
"Nanti kalau ibu Mas lihat bagaimana? Sudah sana! Tunggu saja di kamar!" perintah Lala.
"Aku ingin disini!" goda Reza dengan menciumi tengkuk Lala.
"Mas! Aaah!! Dasar mas duda mesum!" Lala memejamkan mata saat bibir Reza menelusuri lekuk lehernya. Dan ternyata tangan nakal Reza sudah menelusup masuk kedalam piyama Lala lalu mere'mas gundukan kenyal milik Lala.
"Reza! Lala!" Suara Saida membuat Reza menghentikan aksinya.
Saida menggeleng pelan dengan aksi yang dilakukan putranya. Lala menunduk malu dan melanjutkan pekerjaannya.
Reza menghampiri ibunya dan memeluknya. "Ibu ini, ganggu saja!" bisiknya.
"Kamu ini! Tahu tempat dong! Kalau adik kamu lihat bagaimana? Sudah sana kamu masuk ke kamar saja."
"He he, Maaf Bu. Lala terlihat sangat menggemaskan saat dilihat dari belakang."
"Kamu ini! Jangan bilang tiap malam kamu gempur terus istri kecil kamu itu!"
"Hehe, ya iyalah, Bu. Bukankah ibu sudah ingin menimang cucu?"
"Iya sih, ibu sudah ingin nimang cucu seperti teman-teman ibu yang lain. Tapi caranya bukan begitu juga. Kamu harus bisa menjaga Lala. Kalau dia kelelahan bagaimana?" nasihat Saida pada putranya.
"Iya iya, Ibu. Ya sudah, kalau begitu Reza ke kamar dulu ya! Ibu jangan bicara macam-macam pada Lala." Reza mengecup pipi ibunya kemudian berlalu pergi ke kamarnya.
Saida menghampiri Lala yang masih menata piring kotor.
"Sudah malam, Nduk. Besok lagi saja membereskannya." ucap Saida.
"Tidak apa, Bu. Biar sekalian beres!"
"Jika sudah selesai, duduklah kemari. Ada yang ingin ibu bicarakan denganmu."
DEG
Seketika Lala mulai harap-harap cemas.
"Apa yang ingin ibu bicarakan denganku?" batin Lala.
......***......
#bersambung. . .
"Mohon maap kemarin tidak UP 🙏🙏
Kisah Zayn Ibrahim ada di "Labuhan Cinta Sang Playboy" kali aja ada yg kepoin kisah mas duda ganteng satu itu. wkwkwkwkw.
Batas akhir GA hari ini ya genks, bertepatan dengan Millad mak thor yang ke... sekian sekiaan, wkwkwk.
Doaku di usia yg makin bertambah adalah, semoga tetap di beri kesehatan, usia yg berkah, dan inginnya tetap menghibur semua pembaca nopel halu dimanapun kalian berada.
Terima kasih Kepada Allah SWT, keluargaku (suami dan anak2), ibuku, adekku, teman2, saudara, dan tentunya seluruh pembaca yg sudah membaca karya2 aku, Terima kasih. tanpa kalian aku hanyalah remukan gorengan.
Juga terima kasih buat teman2 sesama othor yg sudah sering sharing (teh resti. dek bucin, mey, kak frida, mak tiek, mak nela, dek reema, bumil muchu, dll semuanya.) sukses selalu utk kalian semua.
Thank You